Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Menyerahkan Tubuh?


__ADS_3

Beberapa piring kotor terlihat di wastafel, jemari tangan cekatan seorang pemuda mencucinya satu persatu. Piring bersih mulai berjejer di rak, sang pemuda menghela napas kasar melepaskan appronnya berjalan menuju ruang tamu, duduk di sofa dengan Tomy berdiri di belakangnya.


Taka menghebuskan napas kasar menatap ke arah Hans. Pandangannya menelisik, mengamati pria yang terlihat acuh dengan keberadaannya.


"Aku bukan ahli negosiasi atau merencanakan sesuatu. Kalian bicara saja, aku akan menunggu keputusan kalian..." ucap Hans bangkit, hendak memasuki kamar.


"Tunggu, ini juga ada hubungannya denganmu, duduklah kembali," Gabriel mengenyitkan keningnya.


Hans kembali duduk, tidak nyaman? Begitulah perasaannya saat ini. Taka? Pria tua ini identitasnya sama sekali tidak diketahui olehnya. Hanya sekedar pengusaha yang memiliki banyak jaringan di dunia gelap, memiliki anak bernama Ayana, serta cucu angkat bernama Farel, itulah informasi yang diketahuinya.


"Kenapa Hyeri bisa menyukaimu? Aku adalah ayahnya," tanya pria tua itu dengan ragu, suaranya bergetar, air mata tertahan di pelupuk matanya.


"Ayahnya..." Hans tertawa kecil, dengan raut wajah penuh kedukaan,"Dia wanita naif yang menganggap seorang pembunuh adalah pahlawan..."


"Dia saksi tunggal, saat aku membunuh Jimy, guru privat yang ingin melecehkannya. Dengan naifnya dia memanggilku pahlawan," tawanya terdengar pilu.


Taka menahan rasa sakit di hatinya, masih berusaha menanyakan kebenaran tentang kematian putrinya,"Bagaimana dia bisa mengandung di usia muda? Apa itu perbuatanmu?"


Tawanya yang miris terhenti, Hans mengangguk,"Itu anakku, dia menyukaiku dengan tulus. Tapi, memiliki kelainan kepribadian (psikopat) membuatku sulit memiliki niat berkomitmen (menikah). Beberapa kali menemui psikiater, akhirnya aku dapat memutuskan mengikat komitmen dengannya. Tapi wanita naif itu malah mati, sebelum aku melamarnya..." ucapnya, tertunduk, tidak ingin tetesan air mata terjatuh dari wajahnya, terlihat.


"Dia menginginkanmu berubah? Anak bodoh..." cibir Taka mengingat sosok almarhum putrinya. Gadis ceria dan penuh semangat, memiliki senyuman yang cerah,"Anak bodoh itu bahkan mati-matian melindungimu, mengatakan kehamilannya karena perkosaan orang tidak dikenal. Agar aku tidak mencarimu..."


Air mata kakek tua itu menetes, membasahi pipi keriputnya. Sejenak kemudian kembali menghela napas berusaha menenangkan diri.


Sakit? Tentu saja, Ayana sosok wanita dewasa yang cerdas. Sedangkan, Hyeri hangat bagaikan matahari, penuh keceriaan, bahkan dinginnya hati pria di hadapannya, dapat diluluhkannya. Kehilangan? Walaupun sudah 30 tahun berlalu, gadis kecil itu tidak akan pernah dilupakan, ayahnya yang kini sudah menua.


"Apa dia tertekan saat kehamilannya? Atau bahagia?" tanyanya lagi, membuka luka lamanya, ingin mengetahui alasan kematian putri keduanya.


"Dia bahagia..." Hans masih tertunduk, sulit untuk mengeluarkan kata-kata, menyembunyikan rasa dukanya."Saat mengetahui kehamilannya, dia ingin mempertaruhkan masa depannya, hanya untuk anaknya. Karena itu, aku berhenti mengikuti Lery belajar membalas perasaannya..."


"Ini adalah keinginan Hyeri, aku tidak akan menyalahkanmu. Anak keras kepala itu, akan memarahi ayahnya yang sudah tua ini, jika aku terlalu keras pada pria yang disukainya..." Taka terisak, kembali menghela napasnya, seakan mengikhlaskan semuanya.


"Farel, lakukan sesuai keinginanmu. Aku akan mengerahkan semuanya untuk mendukungmu..." lanjutnya, dengan mimik wajah tidak suka.


"Baik kakek!!" Farel tertunduk mengiyakan perintah Taka.


Hans menghembuskan napas kasar, memejamkan matanya sejenak berusaha menenangkan diri, matanya mulai terbuka, setelah jauh lebih tenang,"Keinginan? Kamu tetap ingin menikahi sepupumu?"


"Paman, musuh dari musuh adalah teman. Sementara waktu saat kita bekerjasama, aku tidak akan membuat perhitungan denganmu yang sudah membuat istriku tidak dapat melihat, dan berusaha meracuninya lewat infus. Karena itu, bekerjasamalah dengan baik pada ulat parasit ini..." ucapnya ambigu.

__ADS_1


Aneh? Tentu saja, menurut informasi yang didapatkannya. Farel menikah dengan Jeny karena wanita itu dijual oleh suaminya hanya untuk tender proyek. Mereka menikah setelah anak Farel lahir, dalam artian Farel menikah hanya untuk putranya saja, bukan berdasarkan rasa cinta.


Gabriel menghela napas kasar,"Farel mendekati Clarissa hanya untuk membuat Lery percaya padanya. Tentang istrinya, mereka kekasih dari semasa kecil. Anakku sepertiku, tipikal pria setia pada satu tujuan..." ucapnya tertawa membanggakan diri.


"Sudahlah, kalian berdiskusi saja, aku akan melakukan perintah kalian..." Hans kembali bangkit dari sofa, tidak ingin mendengarkan ocehan para makhluk cerewet di hadapannya.


Bruk...


Pintu dengan kunci yang sedikit rusak, karena dobrakan Tomy sebelumnya itu tertutup sempurna. Ruangan kamar dengan cat dinding putih, terlihat lampu yang belum menyala. Cahaya bulan masuk melalui pintu kaca balkon yang terbuka.


Tubuhnya mulai direbahkannya, menatap ke langit-langit kamar,"Mereka sama berisiknya denganmu," gumamnya.


Sejenak Hans menatap ke arah sinar bulan yang menembus pintu kaca balkon,"Tanganku sudah terlalu banyak berlumuran darah, jika suatu hari nanti bertemu lagi denganku. Apa kamu akan jijik pada monster ini?" tanyanya, tidak mendapatkan jawaban. Perlahan bangkit, membuka laci mejanya, mengambil tusuk konde dengan hiasan bunga terbuat dari perak di bagian ujungnya.


"Aku merindukanmu..." Hans kembali merebahkan diri, memejamkan matanya, menggenggam hiasan rambut wanita muda yang telah lama pergi itu, erat.


***


Diskusi kembali dimulai...


Tomy mengenyitkan keningnya, mengamati tiga orang yang duduk dengan ego dan rasa percaya diri masing-masing... Inikah yang terjadi jika tiga iblis sombong berkumpul... gumamnya dalam hati.


"Apa saja yang dapat kalian lakukan?" tanya Taka penuh rasa percaya diri.


Gabriel membanting sebuah map berisikan daftar nama orang-orang berbakat yang diselamatkannya dari Lery dan Hans. Beserta seluruh daftar perusahaan bonekanya yang dikendalikan oleh orang-orang berbakat tersebut.


"Aku bertaruh semuanya..." ucapnya penuh rasa percaya diri. Taka yang duduk di samping Farel meraih dokumen yang dibawa Gabriel, membaca isinya dengan wajah serius.


Tomy yang sedikit melirik dari belakang Farel membulatkan matanya... Ahli IT, ekonomi, bekas pembunuh bayaran, perakit bom, semua orang-orang rekrutannya? Dan apa itu, daftar beberapa perusahaan ternama? Itu semua miliknya? Diam-diam dokter ini sama kayanya dengan tuan... benar-benar iblis kelas tinggi.


Taka mengenyitkan keningnya menatap jenuh, melempar kembali dokumen ke atas meja,"Farel!?" panggilnya seakan meminta pemuda itu menunjukkan persiapannya.


"Aku masih terlalu muda, jadi hanya punya ini..." ucap Farel mengambil laptop serta proyektor yang disiapkannya, menyorot tembok putih, kemudian mematikan lampu. Flash disk yang selalu dibawanya bagaikan harta berharga mulai dimasukkan, kembali membobol data melalui virus yang disamarkannya sebagai sistem keamanan perusahaan milik Lery.


Terlihat beberapa data yang masuk, termasuk e-mail, pembekuan, bahkan pemesanan persenjataan serta obat-obatan terlarang.


"Sebagai ulat parasit, aku mendapatkan ini, kita dapat melaporkannya pada kepolisian..." lanjutnya penuh kebanggaan, menunjukkan hasil yang didapatkannya melalui layar proyektor.


Tuanku memang iblis kelas tinggi yang pelit, ulat parasit. Jika diserahkan pada kepolisian tidak perlu repot-repot... Tomy menghela napas kasar.

__ADS_1


"Bodoh..." Taka memijit pelipisnya sendiri kesal."Dengan kekuatan sekecil ini ingin melawan Lery? Kamu mau mati!?" bentaknya pada Gabriel.


"Jadi, kita akan melaporkannya pada polisi?" tanya Farel antusias.


"Lapor polisi...? Apa kamu anak berusia lima tahun?" Taka tertawa kecil miris,"Dia bisa melarikan diri dari satu negara ke negara lainnya. Saat itu, dalam waktu tiga hari seluruh keluargamu akan dihabisi oleh orang-orangnya, sebelum dia sempat di penjara,"


"Jika hanya mengandalkan kekuasaanku, dan kalian. Kita bahkan seluruh keluarga kita akan terkubur di neraka bersamanya,"


"Aku punya rencana lain, Farel harus tetap mendekati Clarissa...Jalin hubungan lebih dekat lagi dengannya. Pertaruhan tubuhmu, gunakan semuanya untuk memuaskannya..." ucapnya pada Farel yang membulatkan matanya kesal, mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Taka.


Pertaruhkan tubuh? Memuaskan? Tuan harus mempertaruhkan tubuhnya? Perang dunia akan terjadi antara bos pelit dengan nonanya... Tomy menghebuskan napas kasar, membayangkan perselingkuhan tanpa cinta yang harus dijalani tuannya.


***


Angin menerpa wajah seorang pemuda rupawan, menatap tersenyum terpaksa. Menyenderkan dirinya di sebuah mobil sport berwarna hijau tua. Maskulin, bebauan yang menggoda setiap wanita.


Pakaian? Jangan berharap pemuda itu memakai celemek. Visual adalah yang terpenting bagi orang yang tidak mencintaimu dengan tulus. Pakaian kasual, jeans hitam, dengan sweater yang memberi kesan simpel dan menyegarkan. Mata beberapa wanita yang berpapasan dengannya sedikit melirik. Berbisik-bisik tentunya membicarakan pemuda rupawan yang baru dilewatinya.


Clarissa? Itulah tujuannya datang hari ini, tangannya mengepal, namun wajahnya tersenyum. Hingga, wanita itu keluar dari salah satu perusahaan milik Lery.


"Farel..." ucapnya, berjalan mendekat.


"Silahkan masuk tuan putri..." Farel membukakan pintu.


Clarissa menatap penuh senyuman, mulai memasuki mobil. Iri? Siapa yang tidak iri melihatnya saat ini. Wanita cantik, kaya, memiliki kekasih yang sempurna, walaupun belum menerima pernyataan cinta secara langsung.


Beberapa belas menit perjalanan, salah satu tangan Farel menggenggam jemari tangan Clarissa,"Jika aku mengatakan, aku menyukaimu apa boleh?" tanyanya terdengar ragu.


Clarissa mengalihkan pandangannya menatap pemuda yang duduk di sampingnya. Pemuda yang tengah konsentrasi mengemudi dengan satu tangan, sedangkan tangan lainnya menggenggam tangannya erat.


Cinta? Apa sebenarnya itu cinta? Sulit untuk mengartikan perasaan yang ambigu. Namun, siapa yang tidak akan menyukai pemuda tampan, kaya, berkuasa, serta dipenuhi dengan kejutan manis.


"Kamu terlalu sempurna untukku, apa kamu tidak bersedia menerimaku..." Farel kembali melanjutkan kata-katanya tidak mendapatkan jawaban.


"Bo...boleh, aku juga menyukaimu...!!" ucapnya antusias, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.


"Malam ini, Jeny pergi ke bekas rumah lamanya untuk menenangkan diri, kakekku sudah menyetujui jika kami berpisah. Ibu dan kakek membawa Rafa ke Singapura mereka berangkat tadi siang. Agar menjauhkan Jeny dari Rafa..." Farel menghebuskan napas kasar, mulai tersenyum hangat,"Aku melakukan semuanya, agar aku pantas bersanding denganmu..."


"Aku mencintaimu..." teriak Clarissa memeluk Farel dari samping.

__ADS_1


"Bagaimana jika kita makan malam bersama di rumahku? Mintalah ijin untuk menginap pada ayahmu..." ucapnya masih berusaha tersenyum.


Bersambung


__ADS_2