
......Terkadang, batu giok dapat tersembunyi dalam batu kasar bagaikan krikil tidak berguna. Alasannya? Mungkin jika batu giok dapat bicara, akan menjawab....Tidak ingin ditemukan oleh orang yang tidak pantas untuknya. Menunggu pemilik aslinya......
Author...
Pucuk daun teh terlihat masih sedikit basah akibat air hujan yang turun beberapa hari ini. Jemari tangan putih halus memetiknya, memindahkan dalam keranjang yang dipikulnya.
Caping lumayan besar menjadi pelindung dirinya dari sengatan matahari yang mungkin nanti akan menerpa tubuhnya.
"Sudah banyak!!" ucapnya kesal.
Citra tersenyum menghampiri Gabriel, menunjukkan keranjang yang dibawanya, Pria lembek, yang kalah dari wanita... umpatnya dalam hati.
"Kamu juga lelah?" pemuda itu salah mengartikan lagi, menaruh keranjangnya di samping Citra yang hanya ingin menunjukkan dirinya lebih banyak mengumpulkan daun.
"Kita makan ya?" ucapnya tersenyum membuka bungkusan nasi yang hanya berisikan sayuran daun singkong dan telur dadar."Kenapa cuma ini?" tanyanya tidak berselera.
Citra menaikan bahunya, seakan berkata masa bodoh. Kemudian memakan bungkusan miliknya.
"Apa enak?" tanya Gabriel, menelan ludahnya.
Citra mengangguk, sembari tersenyum. Gadis itu, kembali makan dengan lahap.
Gabriel memejamkan matanya sejenak, sembari mencoba makanan yang menurutnya pasti terasa tidak enak. Lebih enak dari spaghetti... gumamnya dalam hati.
Bukan rasa makanan yang membuatnya terasa enak. Namun, rasa lapar yang menderunya ditengah kegiatan yang memerlukan banyak tenaga. Serta suasana tempatnya makan saat ini. Di bawah pepohonan yang rindang, bersamaan dengan angin yang bertiup, membuat beberapa tanaman bambu di sekitarnya saling terbentur. Menciptakan harmoni yang selaras dengan alam.
"Kamu akan memakannya?" Gabriel kembali menelan ludahnya, mengamati Citra yang tengah makan. Sedangkan, makanan dirinya sudah tandas dari tadi.
Gadis itu menghembuskan napas kasar, menatap seorang pemuda yang terlihat memelas menginginkan sisa makanannya.
Citra akhirnya menyerah, menyodorkan sisa makanannya yang tinggal setengah.
"Ini untukku? Terimakasih!!" Gabriel meraih makanan milik Citra, mulai makan dengan rakus.
Ya Tuhan orang ini benar-benar menyebalkan. Aku doakan, jika dia punya anak nanti, anaknya akan sama tidak tau malunya. Seberapapun kayanya, akan menyukai makanan sisa orang lain... gumam Citra dalam hatinya, sembari menggeleng gelengkan kepalanya heran.
Entah kenapa gadis itu terdiam sejenak, mengamati wajah Gabriel, yang tengah makan dengan lahap. Untuk pertama kalinya Citra dekat dengan lawan jenis, selain adiknya.
Pemuda di desa itu, tidak memandangnya karena keterbatasannya yang tidak dapat bicara dan wajahnya yang terlihat tidak cantik. Serta badannya yang tidak harum, berbeda dengan gadis desa lainnya yang merawat dirinya dengan baik.
"Kenapa melihatku seperti itu!?" tanya Gabriel dengan mulut penuh."Jika karena tampan, aku memang tampan dari lahir," lanjutnya.
__ADS_1
Citra memalingkan wajahnya, terlihat kesal, pesona yang beberapa detik lalu dirasakannya menghilang seketika. Hanya karena kata-kata narsis yang keluar dari mulut Gabriel.
"Cici, jika dilihat-lihat, kamu sangat manis," ucap Gabriel penuh senyuman tulus.
Manis? Itu pujian yang baru pertama kali didengarnya, gadis itu membulatkan matanya. Merasa berdebar, sekaligus berbunga-bunga dalam hatinya.
"Tapi sayangnya, kulitmu hitam, rambutmu digulung bagaikan nenek-nenek. Sangat jelek..." kata-kata manis membuatnya Citra melayang ke angkasa. Kemudian tercetus kata-kata pedas dari mulut Gabriel yang membuatnya jatuh ke palung laut terdalam.
Plak...
Satu pukulan pelan mendarat di kepala pemuda itu, menatap kesal pada Gabriel, kemudian Citra mulai bangkit, hendak kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Bisu!! Kasar!! Menyebalkan!! Aku doakan jika kamu punya putra nanti, putramu akan hanya jatuh cinta pada wanita yang sering memerintah dan menghukumnya!!" Bentaknya kesal, mengusap-usap kepalanya yang kebas.
***
Hari mulai sore, kini saatnya membawa pucuk daun teh yang dipetik di kebun milik Citra pada tengkulak yang akan membawanya ke pabrik teh.
Terlihat seorang pria berusia paruh baya bernama Wijoyo, ditemani dua pegawainya. Membawa buku catatan, serta uang yang merupakan bayaran bagi setiap pucuk teh yang telah ditimbangnya. Pria paruh baya yang sudah memiliki tiga istri itu, bisa dibilang merupakan orang terkaya di desa mereka. Memiliki kebun teh yang luas, serta memiliki usaha lainnya, yaitu lintah darat berkedok bank keliling.
"Pak..." salah seorang wanita bersuami merasa risih, ketika tangan nakal Wijoyo memukul gemas bokongnya.
"Untung sudah nikah. Kalau tidak, kamu saya jadikan istri keempat," ucapnya genit, jelalatan, sambil menyerahkan uang pada buruh yang memetik di kebun teh milik pria beristri tiga itu.
"Jauh!! Jauh!! Sudah jelek, bau lagi!!" ucapnya pada Citra.
Gadis itu hanya tersenyum, menurunkan keranjang yang berisikan daun teh yang dipetik oleh Gabriel dan dirinya di kebun teh miliknya.
Walaupun, tidak begitu luas tanah tempatnya memetik teh adalah satu satunya warisan keluarganya. Tempatnya mencari penghidupan, serta tempatnya berusaha mengumpulkan uang untuk biaya sekolah adiknya, Tirta.
"Ini!! Kapan kamu berniat menjual kebunmu?" Wijoyo mengenyitkan keningnya, sembari melempar uang pada gadis yang terlihat jelek itu.
Citra memungut uangnya sembari tersenyum, menggeleng gelengkan kepalanya.
"Pergi sana!! Sudah jelek!! Miskin!! Pemandangan di sini jadi tercemar!!" ucap Wijoyo kesal.
Gabriel yang menunggu di luar tempat penghitungan menyaksikan semuanya. Menatap iba pada Citra yang dicaci tanpa sebab.
Namun, anehnya wajah gadis yang memang terlihat tidak cantik itu tersenyum, tanpa beban. Berjalan mendekati Gabriel.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya pemuda itu cemas.
__ADS_1
Citra tertawa tanpa mengeluarkan suara, kemudian menggeleng gelengkan kepalanya tersenyum.
Kenapa si jelek ini terlihat manis... gumam Gabriel dalam hatinya.
Jemari tangannya, digenggam oleh Citra, yang menariknya agar segera berjalan menuju rumahnya. Entah kenapa, Gabriel tertegun menatap kagum, entah karena ketegaran atau rasa terimakasihnya pada Citra.
Namun yang pasti, saat jemari tangan yang tidak begitu halus itu menariknya terasa, tenang, dan nyaman. Perlahan hatinya mulai berdebar. Berdebar? Ini baru hari ke empatnya tinggal di rumah gadis bisu jelek, yang menyebalkan.
Aku sudah gila... kesimpulan yang diambil Gabriel dalam hatinya dengan wajah pucat.
***
Tepatnya setelah satu minggu pemuda itu tinggal di kandang kambing. Dirinya mungkin sudah terbiasa, menghindari perasaan yang tumbuh terlalu cepat pada gadis jelek. Itulah yang dilakukannya.
Malam semakin larut, perutnya terasa lapar, perlahan Gabriel keluar dari kandang kambing. Mulai masuk ke dalam rumah, hendak mencari makanan.
Dapur di geledah olehnya, hingga hanya menemukan pisang hijau yang terlihat sudah masak. Satu persatu mulai masuk menjadi santapannya bagaikan monyet yang kelaparan.
Hingga, terdengar suara gayungan air dari kamar mandi. Pemuda itu, mulai gemetar ketakutan.
"Cici?" panggilnya pelan.
Sedangkan di kamar mandi, tubuh dengan lumpur, bercampur keringat mulai terlihat halus, putih bersih tanpa noda atau bekas luka. Bau sabun semerbak memenuhi kamar mandi, rambut panjang hitam yang basah, terlihat lurus indah. Wajah cantik tertutup keringat dan sisa asap dapur sudah mulai menampakkan rupa aslinya.
Suara air, membuatnya tidak mendengar suara pelan pemuda yang ketakutan memanggilnya dari luar.
Jantung Gabriel berdegup kencang ketakutan, membuka pintu kamar mandi yang memang tidak terkunci, setelah beberapa kali memanggil tidak mendapatkan respon dari orang di dalam sana.
Tangannya gemetaran, mendorong pintu perlahan. Hingga pemandangan indah di lihatnya."Ka...kamu siapa!?" teriak Gabriel gelagapan, memalingkan wajahnya, menutup matanya. Setelah tidak sengaja melihat seorang gadis cantik tanpa busana.
Pletak...
Gayung plastik meluncur tepat di kepala Gabriel. Bersamaan dengan Citra yang segera memakai handuknya, menutupi tubuhnya dari bagian dada hingga paha, berlari ke luar dari kamar mandi penuh rasa malu.
"Sakit!!" Gabriel memegangi kepalanya,"Wanita sialan!!" umpatnya. Mulai berdiri, kemudian berlari kecil penuh rasa malu, dengan wajah bersemu merah menuju kandang kambing.
Pemuda itu, sama sekali tidak dapat tidur. Terdiam, masih terbayang pemandangan indah yang baru saja dilihatnya."I...itu Cici jelek?" gumamnya seorang diri.
Untuk pertama kalinya, tangannya gemetaran. Memikirkan sensasi aneh di fikiran mesumnya. Ingin menyentuh? Tentu saja, tubuh dari wanita yang membuat hatinya bergetar belakangan ini.
Lekukan yang indah, kulit dan wajah yang terlihat lebih bersih dan cantik alami. Rambut panjang yang lurus, terlihat basah.
__ADS_1
Gabriel terus menerus menatap tangannya yang gemetaran seperti menginginkan tubuh gadis yang dipanggilnya Cici. Perasaan yang baru pertama kali dirasakannya."Aku sudah gila!!" umpatnya dengan suara kencang, mengacak acak rambutnya frustasi, menyembunyikan dirinya dalam kain sarung.
Bersambung