
......Ibu? Sebuah kata yang menurutku hanya ilusi. Pernahkah aku mencintai mereka? Hingga sekarang aku meragukannya. Tolong jelaskan, arti sebuah keluarga yang dulu kamu katakan untuk meyakinkanku. Berbaliklah sejenak, agar aku dapat melihat senyuman bodohmu, dengan seragam kebanggaanmu itu......
Dea...
"Maaf, penyanyi kecilku memiliki jadwal yang padat..." Jony menyunggingkan senyumannya, menarik Dimas, ke belakang punggungnya. Seolah menyembunyikan putranya dari Dea.
Apakah Dea semenakutkan itu? Ibu yang dapat menjadikan anaknya batu pijakan, setidaknya itulah yang ada dalam fikiran Jony. Dea menghela napasnya sedikit tersenyum,"Bayaran dari ibu 500.000 perfotonya..."
Dimas melepaskan paksa tangan ayahnya. Air matanya mulai mengalir, memeluk tubuh ibunya erat. Tulus? Mungkin karena ikatan darah, anak itu mengenal bagaimana isi hati ibu yang mengandungnya selama 9 bulan.
"Ibu..." lirihnya, merasakan perasaan yang aneh. Bagaikan ibunya akan pergi jauh, meninggalkannya.
"Dimas sayang, maaf ibu tidak pernah ada di rumah. Bagaimana nilaimu di sekolah?" tanyanya, melonggarkan pelukannya, mengusap air mata putranya.
"Dimas masih terlalu kecil, sesekali nilainya turun...!!" Jony hendak membentak, namun kata-katanya di sela putranya.
"Peringkat tiga ..." ucapnya penuh senyuman, seakan tidak takut akan kemarahan Dea jika tidak mendapatkan peringkat pertama. Mengerti dengan wajah penuh kasih ibunya yang jarang terlihat.
"Sudah cukup, Dimas sudah cukup berusaha..." ucapnya, kembali memeluk putranya, untuk pertama kalinya Dea menangis dengan tulus.
Rasa kesepiannya beberapa bulan ini membuatnya menyadari kenapa almarhum suaminya bertahan bagaimanapun prilakunya. 'Yang terpenting adalah keluarga,' itulah yang selalu diingatkan polisi bodoh yang meninggalkannya mati dalam menjalankan tugasnya.
Hari ini Dea menyadarinya, terdiam dalam pelukan putranya.
"Ibu jangan menangis, aku tidak akan meminta bayaran jika ibu ingin berfoto..." ucap Dimas melonggarkan pelukannya, merasakan isakan tangis ibunya.
Namun, Dea malah memeluknya semakin erat, menangis terisak, tidak membiarkan pelukannya terlepas,"Biarkan seperti ini, sebentar saja..." bisiknya pada putranya.
Jony menghela napas kasar, untuk pertama kalinya melihat sisi manusiawi dari Dea. Dendam? Memang sesuatu yang dipendamnya, namun rasanya terlalu lelah setelah belasan tahun saling melukai.
Dea melepaskan pelukannya tersenyum menatap ke arah Jony,"Aku tidak pernah dapat menjadi ibu yang baik. Hak asuh Dimas tidak akan aku perjuangkan lagi, tolong rawat putraku baik-baik," ucapnya menghapus air matanya.
"Maafkan aku tentang Ana, aku berjanji akan berlutut meminta maaf padanya..." lanjutnya penuh senyuman.
Jony tertegun diam, sejak kapan ego Dea jatuh serendah ini? Mungkin itulah pertanyaan yang berkecamuk dalam hatinya.
"Kamu tidak menyukaiku selama bertahun-tahun, aku juga begitu. Karena itu setidaknya kita harus tersenyum tulus saat berfoto..." Dea berusaha tersenyum, merebut kamera milik Jony. Menghentikan seorang guru untuk mengambil foto keluarga itu di depan sekolah.
Foto digital yang langsung dicetaknya...
***
Mobilnya melaju meninggalkan area sekolah, tangannya mengusap pelan foto yang baru tercetak. Senyuman Dimas dengan wajah yang jernih, dikelilingi orang tua yang tidak pernah memperhatikannya.
"Setidaknya Jony akan menjaganya dengan baik..." ucapnya tersenyum pada sebuah koper yang berada di sampingnya.
Cukup jauh perjalanannya, sebuah sanatorium mulai terlihat. Dea menghela napasnya, memasuki sanatorium, menelusuri lorong demi lorong.
Hingga, sampai di area belakang sanatorium yang cukup luas. Terlihat hamparan tanaman yang berbunga, entah itu tanaman apa, namun wajah putrinya yang duduk menghadap hamparan bunga dilihatnya. Duduk tidak berdaya, memegang tongkat penuntun, dengan tatapan kosong. Namun, senyuman tetap nampak di bibirnya.
__ADS_1
Dea meneteskan air matanya, perlahan diseka oleh jemari tangannya.
Penampilan yang lumayan elite, terlihat dari kalangan menengah keatas. Terlihat berbeda dengan putrinya yang duduk mengenakan baju pasien. Dea mulai duduk di sampingnya,"Jeny..." panggilnya.
"Si... siapa?" tanyanya gelagapan, tangannya menelisik area sekitarnya.
Bahagia? Seharusnya dirinya sekarang mencemooh putrinya karena membuat pilihan yang salah untuk meninggalkan rumah. Namun, melihat putrinya tidak berdaya, dunianya seperti ikut runtuh,"Ini ibu..." ucapnya lirih.
"I...ibu, a...aku tidak menyesali..." kata-kata Jeny terhenti.
"Ibu tau, ibulah yang salah. Omong-ngomong kenapa kamu lebih memilih dan mencintai Ren dari pada Daniel?" tanya Dea, tersenyum duduk di samping putrinya menatap hamparan bunga.
"Dia mirip dengan ayah. Sama tulusnya seperti ayah pada ibu. Ibu tau? Saat aku mengetahui, aku tidak dapat melihat, aku mengusirnya, mengumpat, bahkan mencaci-maki dirinya. Tapi dia dengan bodohnya mengatakan aku adalah nyawanya, dan jangan membuangnya. Mirip dengan ayah yang selalu menunggu ibu pulang..." jawabnya penuh senyuman, wajahnya menghadap ke arah depan.
"Benar-benar pria bodoh..." Dea tertawa kecil, sedikit menitikkan air matanya.
"Ibu memiliki rahasia, beberapa bulan sebelum pernikahanmu dan Daniel, Ren datang untuk melamarmu. Ibu tidak ingin pernikahanmu dan Daniel gagal, jadi ibu mengatakan kamu sudah lama menikah dan tinggal di Australia. Orang bodoh itu, hanya menitipkan kalung padamu, dan doanya agar kamu bahagia..." Dea tersenyum menghela napasnya, melepaskan kalung berbentuk matahari yang berharga fantastis dari lehernya.
"Karena ibu, aku harus menjadi istri teraniaya selama 2 tahun..." Jeny mencibir, bersamaan dengan kalung yang mulai dipasangkan Dea pada putrinya.
"Biarlah nona sombong menjadi pelayan tuan Daniel yang arogan selama 2 tahun," Dea tersenyum merapikan anak rambut putrinya.
Sejenak senyumannya menghilang, memeluk putrinya erat."Jangan maafkan ibu!! Merebut milikmu, menjauhkan kebahagiaan darimu, bahkan pernah hampir membunuhmu. Ayahmu akan sangat membenci ibu..." tangisnya terisak.
Bukan ibu yang baik? Itulah dirinya, hal yang belum begitu terlambat untuk disadarinya.
Jeny menitikkan air matanya, membalas pelukan Dea,"Orang bodoh itu (Doni) tidak akan pernah bisa membenci ibu, begitu pula aku, itu hanya kemarahanku sesaat," ucapnya.
Dea menghapus air matanya, suaranya masih sedikit bergetar,"Bentuknya seperti matahari, dengan berlian kecil yang dipasang hati-hati di setiap cabang sinarnya..."
"Ibu, Ren mengatakan jika bunga kentang di belakang sanatorium sangat cantik. Bisa ibu jelaskan padaku bagaimana bentuk bunganya?" tanyanya tersenyum tulus. Tidak terlihat sedikitpun beban di hatinya lagi.
"Baik ibu akan menjadi matamu..." Dea tersenyum tulus, mulai menceritakan.
"Bunganya berwarna putih, terlihat bulat...dan...dan..."Dea terdengar berpikir cukup lama.
"Dan apa? Bulat bagaimana?" Jeny mengenyitkan keningnya.
"Begini saja..." Dea membimbing tangan putrinya, menyentuh bunga tanaman kentang terdekat.
"Ibu adalah mata yang tidak berguna karena mulut ibu sulit untuk menjelaskan. Jadi, lebih baik kamu menyentuhnya sendiri saja..." ucapnya.
Jemari tangan Jeny meraba-raba ke arah sekitarnya, memegang salah satu bunga, merasakan tekstur dari benda yang dipegangnya.
Tanpa disadari wanita itu, ibunya mendekatkan diri, mengeluarkan kamera handphonenya. Tangannya terangkat, memotret kebersamaannya dengan Jeny.
Terimakasih tidak membenci dan tetap memaafkan ibu... Ibu akan memiliki hadiah untuk putri ibu ini...
***
__ADS_1
Tiga jam perjalanan dari sanatorium, Dea membawa buket bunga Lily putih, meletakkannya di makam Doni. Wanita itu tersenyum tulus untuknya,"Maaf terlambat mengakuinya. Dengan seragam itu kamu tetap keluargaku, tolong jangan memalingkan wajah dariku nanti..."
Matahari sore semakin tenggelam mengiringi perjalanannya yang entah dari mana. Mobil akhirnya terparkir di garasi rumahnya, Dea membawa paperbag kecil serta beberapa dokumen, berjalan menapaki tangga menuju kamarnya.
Beberapa dokumen di tandatanganinya, beberapa buah surat ditulisnya. Terlahir tidak membawa apa-apa ke dunia ini, dunia yang sepi...
Jemarinya gemetaran mengirim pesan pada bawahannya,'Satu setengah jam lagi, tolong datang mengambil dokumen di kamar saya...' begitulah isi pesannya.
Dea tersenyum, duduk di lantai, menyenderkan punggung tepi tempat tidurnya. Segelas minuman keras ditenggaknya.
Koper yang dari pagi selalu berada di kursi sampingnya, terlihat terbuka. Seragam kepolisian milik Doni terlipat rapi di dalam koper, itulah isinya.
Pisau kecil tajam dipegangnya penuh senyuman. Fatamorgana jemari tangan yang dikenalnya bagaikan ingin menghentikannya. Pria itu, menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa? Aku dengar jika seseorang yang bunuh diri akan tinggal di neraka. Kesalahanku padamu sudah terlalu banyak, aku hanya ingin memberikan hadiah pada putri kita..." racaunya yang sebenarnya hanya berada seorang diri, hanya bertemakan sebuah koper.
Srash...
Darah mengalir dari pergelangan tangannya, rasa sakit di tahanannya. Rasanya mulai lemas, "Aku baru menyadari dunia ini ramai ketika kamu ada. Aku baru menyadari dunia ini sepi, ketika kamu menghilang. Tapi setidaknya jangan menghujatku karena memberikan hadiah untuk putri kita," gumamnya dengan tubuh yang mulai lemas, menatap seragam polisi pada koper yang terbuka.
Namun, dalam pengelihatannya bukanlah hanya seragam. Doni kali ini tidak tersenyum, menatap iba padanya. Pandangan Dea mulai kosong, matanya terpejam mengeluarkan air mata perlahan. Menyambut mimpi terakhirnya...
Mimpi yang mungkin menghangatkan hatinya...
Doni yang berpakaian SMU di hukum berdiri, hormat pada bendera, bersamanya...
"Kenapa kamu membohongi guru, mengatakan kamu tidak mengerjakan tugas!!" Dea mengenyitkan keningnya.
"Kamu tidak membawa tugas kan? Aku ingin kita dihukum bersama-sama..." ucapnya tersenyum.
Awan hitam yang sedari tadi menutupi langit, perlahan berubah menjadi guyuran hujan. Pasangan itu masih memberi hormat, menunggu guru mereka, mencabut hukuman.
"Kamu tau? Aku ingin mencintaimu seperti hujan pertama yang turun di musim kemarau," ucap Doni penuh senyuman.
"Hujan pertama di musim kemarau?" tanyanya penasaran.
"Bau tanah basah yang dirindukan hujan akan tercium, sama seperti aku yang bahagia jika bertemu denganmu,"
"Aku ingin menjadi sesuatu yang sabar menunggumu merindukanku. Seperti tanah musim kemarau yang akan merindukan hujan. Hingga ada saatnya hujan akan turun, menghapus kerinduannya..."
***
Suara teriakan dari karyawan Dea terdengar menatap atasannya dengan pergelangan tangan teriris. Darahnya mengalir membasahi lantai.
Dokumen transplantasi kornea, beserta beberapa dokumen lainnya di berada dekat tubuhnya yang mulai mendingin...
...... Bunuh diri, bukan jalan satu-satunya dalam hidup, jangan pernah melakukannya!! Pesan yang ingin aku tunjukkan dalam novel ini, hargai dan sayangi orang yang menyayangimu. Karena ketika mereka sudah tidak ada, hidupmu akan terasa lebih kesepian dari kematian......
Author...
__ADS_1
Bersambung