
Seorang pria berpakaian dokter keluar dari salah satu cabang rumah sakit milik Gabriel, berjalan sendirian menuju asrama. Derap langkahnya melewati gang berpenerangan minim, hingga keluar gang melewati jalan kompleks pemakaman Cina yang sepi.
Berjalan sendiri? Memang, tempat tinggal yang disediakan Gabriel dekat dengan rumah sakit miliknya. Memiliki rumah sakit di beberapa negara, dengan asrama khusus. Pasalnya 90% pegawainya adalah orang-orang yang seharusnya sudah mati di tangan Lery atau Hans, karena ingin berhenti atau berkhianat.
Rupa mereka dirubah, menjalani sedikit bedah plastik.
Langkah pria itu diikuti, diawasi seseorang. Bukan hanya Hans, masih banyak pembunuh dan orang-orang profesional yang dimiliki Lery. Walaupun, Hans bisa dibilang salah satu pion andalannya.
Derap langkahnya terasa diikuti, hingga akhirnya dokter itu berjalan cepat. Pria di belakangnya mengikuti langkahnya, membawa sebuah tongkat bisbol, berjalan cepat, menyamai kecepatan mangsa buruannya.
Debaran jantung sang dokter terasa lebih cepat, sudah mengira apa yang akan terjadi padanya. Dengan cepat bersembunyi di belakang sebuah batu nisan besar di kompleks pemakaman Cina.
Matanya sedikit melirik, keringat dinginnya keluar, jemari tangannya gemetar. Memeluk erat tas yang berisikan laptop dengan beberapa data perusahaan boneka milik Gabriel.
"Willy... dimana kamu?" suara ramah, terdengar dari sang pembunuh profesional. Tentunya, Hans yang menunda-nunda memberikan hasil penyelidikannya tentang Gabriel, membuat Lery mengirim orang lainnya sebagai bantuan. Tanpa sepengetahuan Hans.
Willy? Orang yang baru diberi perintah untuk menyelidiki Gabriel oleh Lery sudah mencurigai nama asli sang dokter. Namun, tidak memiliki bukti. Lebih baik membunuh, kemudian menggeledah bukti seorang diri kan? Cukup mencocokan ciri-ciri fisik tahi lalat di bagian tersembunyi atau ambil sampel darahnya, itulah yang ada di fikiran orang kiriman Lery.
"Willy, aku beri waktu untuk keluar!! Aku akan mempertimbangkan kematian yang tidak menyakitkan..." gumamnya seorang diri, tersenyum memikirkan bagaimana mangsanya gemetar ketakutan.
Sang pria berpakaian dokter berhenti mengintip meringkuk balik di batu nisan besar, masih memeluk erat tasnya. Beberapa menit suara itu tidak terdengar lagi, sang dokter kembali mengintip. Sosok pemuda yang membawa tongkat bisbol itu, tidak terlihat lagi.
Willy menghela napas lega, mengamati sekitarnya. Mulai berdiri keluar dari persembunyiannya.
"Willy...?" pria yang membawa tongkat bisbol itu tersenyum, muncul sekitar empat meter di belakang sang dokter, menemukan mangsanya yang terlihat gemetar.
"A...aku bukan Willy," ucapnya ketakutan, melangkah ke belakang.
"Kalau bukan tidak perlu bersembunyi," pemuda itu mendekat, tepat saat Willy terjatuh di tanah, akibat kakinya oleng menyenggol sebuah batu."Bagaimana jika kita sedikit bermain main..." ucap sang pemuda pada ahli IT yang memakai pakaian dokter itu.
"Aku bukan... aaaagghhh..." pekiknya jemari tangannya diinjak kuat, hingga mungkin tulang jarinya patah. Tangan sang pemuda menjambak rambut sang dokter.
"Gabriel, penghianat itu menyelamatkanmu kan? Aku sendiri yang akan menghabisinya, hingga mendapatkan posisi di dekat tuan(Lery)..." sang pemuda, tersenyum.
Tanpa di duga jemari tangan Willy menggenggam pasir, melempar pada mata sang pemuda. Mengambil kesempatan lari saat pemuda itu membersihkan pasir dari wajah dan matanya.
"Sialan...!!" sang pemuda murka, berlari mengejar sang dokter. Dengan cepat memukul punggungnya dari belakang hingga roboh.
"Kamu masih memeluk tas itu, apa isinya...?" tanya sang pemuda meraih tas yang terjatuh.
"Jangan..." ucap sang dokter ingin meraih tas yang terjatuh di tanah, namun jemarinya kembali diinjak dengan kencang.
Data-data kerjasama, daftar nama rekannya di rumah sakit, semuanya ada dalam laptop. Melindungi teman-temannya adalah prioritasnya saat ini.
"Sampah..." umpat sang pemuda, menginjak lengan Willy yang masih tersungkur dengan posisi tengkurap di tanah.
"Agggrhhhh..." teriakannya, bersamaan dengan mulutnya yang di sumpal menggunakan sarung tangan.
"Sebagai seekor kambing, kamu hanya makanan bagi serigala sepertiku. Menyusahkan..." cibir sang pemuda, menginjak kaki Willy.
"Akulah orang yang berada di puncak rantai makanan..." lanjutnya, tersenyum penuh keangkuhan, meletakkan tas Willy sembarang. Tangannya terangkat ke atas ingin memukul kepala pria di bawah kakinya sekuat tenaga.
Tanpa disadarinya, tubuhnya tiba-tiba terasa lemas, darah mengalir dari perutnya. Hans menikamnya dari belakang. Darahnya mulai mengalir.
__ADS_1
Wajah pemuda itu pucat, menatap ujung belati yang menembus perutnya. Wajahnya berbalik sedikit menengok, menatap Hans.
"Ke... kenapa?" tanyanya lirih.
"Puncak rantai makanan? Jangan bercanda..." Hans tertawa kecil, mencabut belatinya, bersamaan dengan darah yang semakin banyak keluar, ciptaannya bahkan mengotori sedikit wajah Hans.
Tubuh sang pemuda roboh, tatapannya tidak beralih dari Hans yang menghabisinya. Hans mengayunkan kakinya, menggoyang tubuh itu menggunakan kakinya."Baru sekali sudah mati? Serigala? Puncak rantai makanan? Bodoh..." cibir Hans.
Sang pria berpakaian dokter gemetaran, jemari tangannya yang sudah patah tidak dipedulikannya. Meraih tas yang tergeletak sembarang itu dengan pergelangan tangannya, memeluknya erat ketakutan.
Pemangsa dari seorang pemangsa, itulah predator di hadapannya, sosok Hans yang cukup ditakuti. Membunuh tanpa fikir panjang, melakukan semuanya dengan rapi.
Wajah putihnya kontras dengan warna darah yang merah menghiasi wajahnya.
"Bunuh aku, aku tidak akan memberikan informasi apapun..." ucapnya, mengeluarkan laptop di dalam tasnya, kemudian membantingnya, tidak mengetahui Hans berpihak pada Gabriel.
"Cukup setia, aku senang jika dapat membunuh tikus kecil sepertimu. Tapi sayangnya, kali ini aku sudah kenyang. Pergilah...Katakan pada Gabriel untuk segera menemukan solusi..." ucapnya, mulai duduk di batu nisan berukuran besar.
Sang dokter bangkit, berlari terburu-buru hingga jatuh berulang kali. Dalam kepanikan dan ketakutannya, tidak mengerti dengan hal yang terjadi.
Wajah dan tangannya masih berlumuran darah, tusuk konde yang puluhan tahun lalu pernah menancap di lengannya dikeluarkan dari sakunya. Menghela napas menatap bintang seorang diri sembari tersenyum, "Aku tidak berbakat melindungi orang, tanganku yang kotor akan sulit untuk bersih. Apa jika kita bertemu kamu akan bersedia, jika aku ingin menggenggam tanganmu?" tanyanya menatap ribuan bintang yang menyebar, terlihat jelas di tengah gelapnya kompleks pemakaman itu.
Pantulan sinar bintang terlihat di matanya, mengeluarkan setetes air mata kembali. Ini mungkin lebih baik, dari pada menahan semuanya, menyembunyikan kerinduannya.
Jemari tangannya yang berlumuran darah menadah ke atas, bagaikan ingin menggapai bintang. "Apa kamu baik-baik saja disana?" tanyanya yang merasakan memiliki emosi sesaat.
"Haruskah aku mengotori tanganku lagi, atau berhenti? Bisakah kamu menemuiku, suatu saat nanti? Aku ingin kita makan bersama, berdoa pada Tuhan yang kamu percayai ada. Jika sudah saatnya nanti, tolong tunjukkan keberadaan-Nya padaku..." Hans memejamkan matanya sejenak, menghela napas kasar, kembali memasukkan satu-satunya benda peninggalan kekasih kecilnya yang berlumuran darah akibat tangannya yang kotor.
Handphone orang suruhan Lery diambilnya. Mengirim pesan pada salah satu suplayer narkotika, untuk bertemu di makam. Meletakkan sekantung penuh narkotika kualitas terbaik pada kantong jaket jenasah pemuda itu. Menjebaknya sebagai tikus pencuri dari gudang milik Lery, itulah yang dilakukan Hans.
***
Teriakan orang-orang di taman hiburan terdengar, seorang pemuda menunggu dengan sabar, menggenggam dua buah soda.
Hingga wanita yang dinanti-nantikannya tiba,"Ini untukmu..." ucapnya penuh senyuman.
"Terimakasih..." Clarissa tersenyum dengan wajah sedikit pucat.
"Kamu kenapa? Jika tidak enak badan sebaiknya kita pulang," Zion masih tersenyum, menghela napas kasar.
"Tidak apa-apa, hanya saja..." Clarissa tertunduk, menghela napas kasar,"Beberapa minggu lagi aku akan bertunangan dengan Farel. Sebaiknya jangan temui aku lagi..." ucapnya dengan hati yang terasa berat.
Zion tersenyum tulus,"Aku tau, tapi walau sudah menikahpun. Hanya menjadi pacar rahasia, aku akan tetap menunggumu..."
Clarissa tertegun diam, sejenak mengepalkan tangannya, berusaha melepaskan pria di hadapannya, jujur dengan keadaannya saat ini,"Aku hamil!! Usia kandunganku 4 minggu. Ayah kandung dari anakku adalah Farel. Tinggalkan aku dan..."
Zion membulatkan matanya. Ayah? Dirinya akan menjadi seorang ayah? Tangannya mengepal, menahan semua perasaan nya.
Perlahan menghela napasnya, mengecup bibir Clarissa,"Aku mencintaimu, sudah aku bilang untuk memilikiku, hanya perlu membayar dengan hatimu. Aku tidak peduli dengan Farel atau pria lainnya, aku akan mencintai Clarissa dan anak dikandunganmu..." ucapnya tulus.
"A...aku..." kata-kata Clarissa terhenti, Farel yang mengantarnya, baru datang setelah memarkirkan mobilnya.
"Jadi kamu temannya Clarissa? Perkenalkan aku Farel..." Farel mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Zion..." ucap Zion menyebutkan namanya, membalas uluran tangan Farel. Seolah-olah ini kali pertama mereka bertemu.
"Calon istriku sedang tidak enak badan. Maaf, dia membatalkan janji. Ayo Clarissa, kamu harus banyak istirahat..." senyuman menyungging di wajah Farel, membimbing Clarissa menuju mobilnya.
Sesekali, wanita itu menengok ke belakang, seakan tidak rela untuk pergi bersama Farel.
Zion menghela napasnya, setidaknya anak dan wanita yang dicintainya berada di tangan yang benar. Farel yang dulu merupakan seniornya ketika kuliah memiliki citra yang baik, apalagi status aslinya sebagai sepupu Clarissa.
Plak...
Tomy menepuk pundaknya, menarik Zion ke tempat lain untuk bicara.
Cafe yang tidak begitu ramai, Zion meminum ice coffee di hadapannya, menatap ke arah Tomy.
"Kenapa mendekati Clarissa?" tanya Tomy pada pemuda di hadapannya.
"Aku adalah office boy di kantornya, dia hanya atasanku, tidak lebih..." jawabnya tersenyum.
"Seorang bawahan berciuman dengan atasannya..." cibir Tomy.
"Ka...kamu tau dari mana?" tanyanya penasaran, mendengar pria yang pernah menjadi seniornya di kampus itu mengungkapkan rahasianya.
"Dengar, Farel tau masalah hutangmu, karena itu dia memberimu bayaran tinggi. Andai saja keluargamu tidak mengalami kebangkrutan, dan kamu tetap kuliah di Singapura, Farel mungkin sudah merekrutmu menjadi karyawannya di kantor pusat,"
"Karena itu, dia memberimu kesempatan untuk melanjutkan kuliah, tapi di negara ini bukan di Singapura. Dengan syarat, setelah masalah ini berakhir, tolong jaga sepupunya. Bagaimanapun kamu tau yang dikandungnya anakmu kan...?" Tomy berucap penuh senyuman.
"Apa rencana kalian?" tanyanya, menatap tajam.
"Kami tidak tau apa yang akan terjadi," Tomy terlihat berpikir sejenak,"Sangat berbahaya bagimu berdekatan dengan Clarissa saat ini. Menjauhlah, hingga kami dapat mengendalikan keadaan..." jawabnya.
Zion mengenyitkan keningnya, menghela napas kasar,"Maaf seniorku, usiamu sudah hampir 30 tahun. Tapi mencium wanita saja tidak pernah, kamu tidak akan tau rasanya jatuh cinta. Merindukan seseorang, ingin menyentuh tubuhnya. Mencemaskan, anakmu yang dikandungnya..."
"A...aku pernah mencium wanita!! Bahkan leherku pernah dijilat wanita...!!"
Renata pernah menjilat leherku, karena menyangka aku Farel. Aku juga pernah mencium kening mayat Renata, itu dihitung kan... batinnya
"Aku setidaknya masih bersih!! Bukannya aku tidak laku!! Hanya saja, belum bertemu tipeku!!" bentak Tomy kesal.
"Apa berfungsi?" tanya Zion menatap aneh.
"Apanya?" Tomy balik bertanya.
"Tidak pernah jatuh cinta, apa karena itu tidak berfungsi?" tanya Zion curiga, menatap sinis ke arah celana panjang Tomy.
"Sangat berfungsi!! Hanya saja belum menemukan tempat yang cocok!! Tidak sepertimu yang memiliki moto service memuaskan..." racau Tomy kesal.
"Aku sudah memutuskan berhenti setelah hutangku lunas. Tapi kenapa seniorku ini masih menjadi pertapa, apa tidak ada wanita cantik di dunia ini yang dapat menggodamu?" tanyanya penasaran.
"Akan ada, mungkin dia dulu sedang dipinjam orang lain!! Dan sekarang menangisi pria yang meninggalkannya!!" bentaknya kesal.
"Semoga benar-benar ada..." Zion tertawa lepas.
Sementara itu...
__ADS_1
Di sebuah kamar, seorang gadis menjatuhkan beberapa benda pajangan yang berada di mejanya. "Pria br*ngsek!! Penghianat!! Aku berjanji, tidak akan jatuh cinta lagi...!!" kata-katanya menggema, menangis terisak, terduduk di lantai.
Bersambung