Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Salju Terakhir


__ADS_3

Tomy menggenggam erat dua buah minuman kaleng yang dibawanya. Wajahnya tersenyum, menatap seorang pria yang duduk di taman, menahan amarahnya.


Pria yang menatap heran pada keluarga bahagia tengah tersenyum menghibur anak mereka.


"Paman ini..." ucap Tomy menyodorkan minuman bersoda, sembari duduk di samping Hans.


"Terimakasih," Hans tersenyum, membukanya, kemudian minum beberapa teguk.


"Sudah puas?" tanyanya dengan nada dingin, menatap ke arah depan.


"Puas?" Hans mengenyitkan keningnya tersenyum tanpa dosa ke arah Tomy.


"Paman menyembunyikan majikanku, apa sudah menghabisinya?" tanyanya dengan mata memerah, marah bercampur menahan tangisnya.


"Majikanmu? Pemilik JH Corporation?" Hans bertanya balik, terlihat tenang kembali meminum seteguk sodanya.


"Apa yang kamu lakukan padanya!! Hanya dia orang yang peduli pada anak miskin sepertiku!! Dia yang membiayai kuliahku!! Dia pelit...tapi karena belas kasihnya aku dapat hidup dengan baik...!!" bentaknya penuh amarah, dalam tangisan putus asa, memegang kerah pakaian Hans.


Majikan? Lebih dari itu, persahabatan yang terjalin lama. Bahkan, Farel sendiri yang memohon pada Dilen untuk membantu membiayai kuliah Tomy. Rasa kesal? Jengkel? Semuanya biasa dalam persahabatan mereka. Kesetiakawanan yang mendarah daging, bagaikan persaudaraan.


"Apa maksudnya? Aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya," Hans melepaskan jemari tangan Tomy yang menarik kerahnya, menatap sinis.


Mengibaskan pakaiannya seolah kotor, mulai berjalan beberapa langkah,"Jika aku memegang kartu AS, seperti tuanmu. Mungkin lebih baik aku merusaknya kemudian membuang mayatnya ke sembarang tempat. Seperti sampah lainnya," ucapnya tanpa menoleh. Meninggalkan Tomy yang tertunduk diam.


"Sial!!" umpatnya, tidak dapat berbuat apa-apa, bagaimanapun, Farel sudah meninggal atau masih hidup tidak diketahui olehnya, keselamatan tuannya ada di tangan Hans. Tidak berdaya membiarkan pria itu pergi.


***


Beberapa jam Tomy termenung, tertidur di kursi taman. Tidak dapat tidur semalaman, mungkin membuatnya kelelahan. Tidak dapat makan dan minum sama sekali, hanya keselamatan Farel yang selalu ada di fikirannya.


Hingga seorang anak menggendong tas ransel mendekatinya,"Antek-antek Jepang..." ucapnya mengguncang tubuh Tomy agar terbangun.


Sinar matahari yang menembus pepohonan menyilaukan matanya, terlihat seorang anak menatapnya dalam senyuman,"Kak Tomy terlalu lama sendiri jadi kesepian dan memilih tidur di kursi taman. Makanannya contoh kakakku!! Harusnya kamu menikah, sepatuku saja punya pasangan. Masak, kak Tomy malah tidak punya pasangan...?" cibirnya.


"Diam!! Anak kecil, sebaiknya jangan banyak komentar!!" ucapnya jengkel, kembali memejamkan matanya.

__ADS_1


"Aku baru pulang sekolah, taman ini berada di dekat sekolahku. Ayah belum menjemputku, jadi wajar aku disini. Keberadaan kak Tomy lah yang tidak wajar..." sinisnya.


Tomy menghela napas kasar, mulai duduk. Tidak memiliki teman bicara? Itulah dirinya sekarang, pasalnya jika mengatakan pada Taka atau Gabriel, Farel menghilang saat mengikuti Hans. Maka, alasan akan mereka tanyakan. Tentunya semua orang akan menyalahkan Jeny yang menginginkan Farel menyelidiki kematian ayahnya (Doni).


Jeny yang tidak tahu apa-apa, juga akan menyalahkan dirinya sendiri. Untuk itu, dirinya tidak dapat bicara lebih banyak pada orang lain.


Tidak dipungkiri makhluk materialistis yang mulai duduk di sampingnya adalah satu-satunya teman bicaranya.


"Aku memiliki masalah, tapi berjanjilah jangan katakan pada siapapun, termasuk kakakmu," ucapnya pada Dimas.


"Masalah apa?" Dimas mulai tertarik, mengeluarkan keripik kentang dari tasnya, sembari mulai mendengarkan.


"Ini tentang teman jauhku, ada seorang pembunuh profesional, temanku ingin menyelidiki kasus pembunuhan ayah angkat, sekaligus mertuanya yang berprofesi sebagai seorang polisi. Tapi saat akan menyelidiki, dia tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Si pembunuh bagaikan memberi isyarat jika dia sudah tertangkap....aku..." kata-kata Tomy terhenti, menatap Dimas membulatkan matanya terkejut, menjatuhkan kripik kentangnya.


Anak itu terlihat panik, mengambil phoncellnya terburu-buru, hendak menghubungi seseorang.


"Kamu mau apa?" Tomy membentak, merebut phonecell Dimas.


"Menghubungi kak Daniel, agar mendekati kakakku yang tengah berkabung..." ucapnya tanpa dosa.


Tomy mengenyitkan keningnya kesal, menyentil dahi Dimas."Bukan Farel!! Aku bilang temanku!!" dustanya.


"Mertua, sekaligus ayah angkat seorang polisi. Kak Farel kan?" Dimas menatap jenuh, mengetahui kebohongan Tomy.


"Iya, Farel!! Tapi, mayatnya belum ditemukan, kenapa malah menelfon Daniel!?" bentaknya.


"Aku hanya memikirkan jauh ke depan. Bayangkan saja, mungkin kakak ipar sudah mengucapkan salam perpisahan pada istrinya. Tubuhnya tidak terlihat lagi, hanya berwujud roh yang membelai putranya yang tengah tertidur. Mencium kening istrinya, menatap iba pada anak istri yang ditinggalkannya,"Dimas mulai membuka bungkus kripik kentang baru.


"Rohnya tidak akan tenang menyebrang ke alam lain. Tapi, jika kak Daniel menjaga istri dan putranya mungkin saja, kak Farel dapat kembali ke surga dengan tenang..." ucapnya dengan mulut penuh.


"Farel masih hidup!!" Tomy kembali membentak.


"Kalau begitu kenapa masih diam disini? Cari dia!! Buktikan kalau kakak iparku masih hidup..." Dimas tersenyum, kembali menyuapi bibirnya dengan kripik kentang.


Tomy terdiam masih ragu dengan pernyataannya. Namun, firasatnya dalam hati dapat merasakan radar kehidupan bos pelitnya.

__ADS_1


"Jika kak Tomy saja tidak yakin, lebih baik aku menghubungi kak Daniel. Agar dapat menenangkan kakakku saat mayat kakak ipar ditemukan. Kak Daniel, pernah berjanji akan menerima Rafa sebagai putranya..." ucapnya, merebut handphonenya dari tangan Tomy.


"Jangan hubungi Daniel!! Farel akan menyalahkanku jika Istrinya menikah lagi!! Farel masih hidup, orang pelit sepertinya ditakdirkan untuk sulit mati!!" Tomy meyakinkan dirinya sendiri, mulai bangkit.


"Aku akan mencari pangeran iblis yang pelit!!" lanjutnya penuh semangat.


"Bagus, antek-antek Jepang harus bersemangat!!" ucap Dimas sembari menadahkan tangannya,"Ongkos konsultasi..."


"Konsultasi??" Tomy mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


"Konsultasi, aku sudah membuat kak Tomy menjadi bersemangat kembali. Totalnya 100 ribu rupiah..." jawabnya.


Tomy menghela napas kasar sembari tersenyum, merogoh sakunya."Maaf, karena kamu membuatku bersemangat, semangatlah untuk mengunyah...!!" ucapnya meletakkan sesuatu di tangan Dimas.


Anak itu mengenyitkan keningnya, menatap sebungkus permen karet.


"Ambil saja kembaliannya..." Tomy tersenyum tanpa dosa, meninggalkan Dimas yang tertegun kesal.


"Antek-antek Jepang!! Kamu berhutang 100 ribu padaku!!" ucapnya mengejar Tomy, yang mulai berlari ke mobilnya.


***


Ditempat lain...


Angin yang memasuki jendela, menerpa rambut pemuda yang tengah tidak sadarkan diri di dalam mobil. Mulutnya, telah di lakban, tangan dan kakinya terikat.


Seorang pria lainnya turun dari mobil, melangkah menatap laut. Memejamkan matanya sejenak, berjalan menuju arah laut,"Aku merindukanmu..." ucapnya.


"Jangan menungguku di tengah salju lagi, karena aku sudah menurunkan egoku untuk mencintaimu..." Sang pria merasakan air laut menerpa kakinya, tetap tersenyum palsu dalam tangisannya.


Bersambung


......Aku ingin mencintaimu seperti salju terakhir yang menjatuhi bumi. Karena saat cinta itu hilang setidaknya kuncup bunga-bunga kecil akan tumbuh bermekaran, bersamaan dengan lapisan salju terakhir yang mencair. Sinar matahari akan menghangatkan jemari tanganmu yang dingin karena terlalu lama menungguku......


Author...

__ADS_1


__ADS_2