Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Anaconda


__ADS_3

Rumah yang tidak begitu luas, tidak dapat dibilang kumuh, juga tidak dapat dikatakan mewah. Koper besar diseretnya, beberapa paperbag besar dibawanya, melangkah perlahan menghebuskan napas kasar.


Tok...tok...tok...


Pintu diketuknya,"Kanaya!?" Sumi (ibu kandung Kanaya) mengenyitkan keningnya, memeluk putrinya."Cantiknya anak ibu sekarang..." ucapnya melepaskan kerinduan pada putrinya yang jarang pulang ke kampung halamannya.


Kanaya melepaskan pelukannya, menyodorkan beberapa paper bag,"Ini untuk ibu, Ayah, Kinara, dan Ega (anak Kinara),"


"Ayo masuk, duduk, minum dulu..." Sumi meraih semua bawaan putrinya.


Berubah? Begitulah penampilan Kanaya saat ini semenjak dekat dengan atasannya yang membuat hatinya kembali kandas dengan kata adik, satu kata yang benar-benar menyakitkan, diucapkan oleh duda incaran kalangan atas.


Memakai celana panjang, dengan atasan pich, riasan tipis melekat di wajahnya menambah kesan cantik alami pada dirinya. Kacamata yang dikenakannya berganti softlens. Rambut hitam terawat, sedikit bergelombang di bagian bawahnya. Bentuk tubuhnya memang sudah terbentuk yang indah, penampilan yang benar-benar mencerminkan gadis kota dengan segala perawatannya.


Selang beberapa lama, teh disuguhkan Sumi."Ibu bertambah keriput, aku membawakan ibu satu set cream perawatan wajah..." anak itu tersenyum, membuka paper bag untuk ibunya.


"Kinara dan Ega mana?" tanyanya dengan mata menelisik.


"Kinara sudah menikah dengan orang desa seberang beberapa minggu yang lalu. Maaf, ibu tidak cerita, ibu tidak ingin kamu merasa dilangkahi oleh adikmu..." jawab Sumi ragu.


"Tidak apa-apa, Kinara sudah terlalu lama menjadi orang tua tunggal. Ada yang menjaganya sekarang, bukannya itu bagus?" Kanaya tersenyum, pada ibunya, menyisihkan dua buah paperbag untuk adik dan keponakannya. Mungkin akan diantarkannya jika berkunjung ke rumah baru, saudari kembarnya.


Sumi menghela napasnya, menatap wajah cantik putrinya, memberanikan dirinya bertanya,"Bagaimana dengan calonmu yang ada di TV ...?"


Teh yang telah berada di mulut Kanaya sedikit disemburkannya, terkejut mendengar pertanyaan ibunya.


Bagaimana mengatakannya? Pak Daniel hanya menganggapku adik. Sama seperti Kemal, mereka hanya memberikanku harapan palsu...


"Pak Daniel..." kata-kata yang hendak keluar dari mulutnya disela.


"Dia tidak menyukaimu?" Sumi menghebuskan napas kasar, sudah menduga semuanya. Seseorang dari kota dengan status tinggi, menyukai gadis kampung? Menjadi mainan di tempat tidur? Terbersit sedikit rasa traumanya mengingat nasib Kinara.


Sumi kembali ragu, namun dirinya harus bertanya pada putrinya,"Apa kalian pernah tidur bersama?" tanyanya, dengan mata memerah, menahan air matanya yang hendak mengalir.


"Tidak, hubungan kami hanya sebatas atasan dan bawahannya. Pertunangan di TV hanya salah paham..." jawabnya berusaha tersenyum, bibir itu memang terlihat tersenyum. Namun, siapa yang dapat membohongi hati seorang ibu?


Sumi merentangkan tangannya, memeluk erat tubuh putrinya."Kamu menyukainya?" membiarkan hati dan tubuh yang lelah itu beristirahat sejenak.


"Aku menyukainya..." Kanaya mulai menitikkan air matanya, menangis terisak, jemarinya memeluk erat tubuh kurus sang ibu. Sakit? Tentu saja untuk kedua kalinya dirinya ditolak dengan kata adik. Adik? Apa dirinya tidak pantas dicintai layaknya seorang wanita?


"Relakan saja, statusnya lebih tinggi darimu. Mengejar sesuatu yang sulit di gapai akan lebih menyakitkan lagi..." ucapnya menepuk pelan punggung putrinya, berusaha menenangkan tangisan gadis yang tidak pernah berhasil dalam hubungan asmaranya.


"Iya... aku akan menyerah..." Kanaya menangis lebih kencang lagi, menumpahkan rasa sakit dan kesalnya.


***


Beberapa kali melirik jam tangannya, gadis nan cantik kini duduk di sebuah kubu kecil tempat biasanya petani beristirahat. Jemari tangannya mulai mengaktifkan handphonenya. Memasukkan kembali ke dalam sakunya, semilir angin membuat matanya bertambah berat.


"Penyihir... penyihir..." seseorang terasa mengguncang tubuhnya.


"Emmgghhh... sebentar lagi, Farel..." racaunya dalam tidur, tersenyum-senyum sendiri, memimpikan suami orang lain.


"Penyihir bangun!! Farel siapa!?" bentak orang yang mengguncang tubuhnya.


Kanaya terbangun dengan kesal,"Sial!! Tidak bisa lihat orang mimpi indah ya!!" bentaknya, langsung terduduk.


"Farel siapa?" Kemal berusaha tersenyum, memendam rasa geramnya.

__ADS_1


"Kakak, kenapa membangunkanku? Jarang-jarang aku bisa memimpikan pria idolaku...aaahhhem..." ucapnya kembali berbaring, mencari posisi yang nyaman untuk tidur, berharap dapat kembali memimpikan pemuda yang bersama dengannya di halte bis. Pemuda baik hati yang memberikan payungnya pada seorang nenek bisu.


Kemal bersungut-sungut kesal, menarik telinga Kanaya,"Berani memimpikan pria lain? Mau aku keluarkan anacondaku dan memakammu hingga tidak dapat bangkit!?" ucapnya jengkel.


"Sakit!!" Kanaya mengusap-usap telinganya yang kebas.


"Dasar penyihir genit," Kemal menghebuskan napas kasar.


"Omong-omong, aku masih penasaran. Kakak memelihara ular anaconda? Ada dimana?" tanyanya penuh rasa penasaran.


"Saat malam pertama nanti aku akan menunjukkannya. Anaconda kesayanganku, yang akan membuatmu tidak bisa berpaling," Kemal tertawa kecil, mengacak-acak rambut Kanaya.


"Aku ingin melihatnya sekarang, apa boleh?" Penasaran? Sangat, seumur hidupnya Kanaya tidak pernah melihat ular terbesar di dunia itu secara langsung.


Wajah Kemal memerah, bingung harus berkata apa pada gadis polos di hadapannya. Ingin melihat anacondaku? Apa dia sudah gila? Tidak, tingkah polosnya yang membuatku gila...


"Kakak, kenapa diam?" tanyanya, duduk mendekat, "Kakak sakit ya?" tanyanya, meletakkan tangannya di kening Kemal, menatap wajah yang memerah itu.


Mata mereka bertemu, Kemal menatap cukup lama mata yang selalu dapat menenggelamkan hatinya. Berdebar? Perasaan itu masih ada di dalam hati Kemal tersimpan rapat selama bertahun-tahun.


"Kanaya..." ucapnya lirih, menelan ludahnya.


"Apa?" sang gadis mengenyitkan keningnya.


"Ki...kita akan segera menikah, dan..." kata-katanya disela. Menatap mimik wajah gadis di hadapannya.


"Kenapa mau disuruh menikah denganku oleh ibumu? Kita hanya sebatas adik, kakak kan?" tanyanya terlihat murung.


Jemari tangan Kemal bergerak, ingin menggengam erat tangan gadis yang dikasihinya. Memberanikan dirinya? Benar, kali ini harus bisa.


Tersenyum dalam rasa kasih yang disimpannya. Mencintai penyihir ini? Dalam wujud apapun aku akan mencintainya.


***


Hari mulai sore, sebuah ember kecil dipenuhi keong dibawa Kemal. Menggengam erat jemari tangan Kanaya.


Mata indah yang terkena sinar matahari sore, hatinya semakin berdebar. "Tidak bisakah berhenti memanggilku kakak?" tanyanya, ingin menghentikan rasa sakit dengan satu kata itu.


"Kakak!! Kakak!! Kakak!!" Kanaya tertawa menggoda.


"Sudah berhenti!! Jika tidak anacondaku akan mengubrak-abrikmu nanti," ancamnya.


"Aku tidak takut..." Kanaya kembali tertawa lepas, berjalan perlahan di depan Kemal, melewati pematang sawah yang sempit.


"Benar tidak takut?" tanyanya, menarik tubuh Kanaya, agar menghadapnya. Tangannya berada di belakang kepala sang gadis. Tersenyum menatap mata yang diidamkannya selama menjalani pelatihan di akademi kepolisian.


Bibirnya mengecup singkat bibir Kanaya. Perlakuan tiba-tiba, tidak sempat di tolak atau dihindari.


"Aku menyukaimu, jangan mencari seekor naga lagi," ucapnya tersenyum,"Jika kamu mencari naga lagi. Saat malam pernikahan kita, anacondaku tidak akan beristirahat. Membuatmu tidak bisa tidur, menyemburkan bisanya berkali-kali..." bisiknya sensual.


Berjalan dengan cepat menahan malu dan debaran di hatinya. Itulah yang dilakukan Kemal, tidak tahan lagi, ingin rasanya bersembunyi di dalam lubang semut. Setelah mengucapkan kata-kata erotis nan menggoda, mempercepatkan langkahnya untuk pergi secepat mungkin. Meninggalkan Kanaya yang tertegun diam, meraba bibirnya.


"Anaconda?" wajah gadis itu memerah, baru mengetahui arti sebenarnya dari anaconda. Arti erotis yang baginya memalukan, untuk dibayangkan.


"Menyemburkan bisanya berkali-kali!? Kamu berani berkata seperti itu padaku!?" Kanaya memaki, mengejar Kemal yang telah melarikan diri dengan cepat.


"Berani, kenapa tidak? Mau tidak mau kita harus menikah!!" ucapnya berteriak melarikan diri dengan cepat.

__ADS_1


"Menikah apanya? Aku belum setuju!!" Kanaya melemparkan sandal jepitnya.


Plak...


Tepat mengenai kepala Kemal, bersamaan dengan pemuda itu terpeleset, terjatuh di kubangan lumpur.


***


Matahari semakin tenggelam, seorang gadis memapah seorang pemuda. Membimbingnya perlahan, kaki sang pemuda terlihat sedikit bengkak.


"Jangan cemas, nanti aku ke tukang urut..." Kemal tersenyum, menatap wajah cemas gadis yang memapahnya dengan sabar.


"Iya, biar sekalian mengurut anacondamu!!" ucap Kanaya bersungut-sungut kesal.


"Ini hanya boleh dipegang olehku dan oleh istriku..." Kemal tertawa kecil sejenak, menatap mata indah dari gadis yang memiliki hatinya.


Masih sama seperti dulu, kamu selalu membuatku tidak dapat berkutik. Penyihir, sihir apa yang kamu miliki? Tapi apapun itu, hal itulah yang membuatku ingin memilikimu. Jadilah ibu dari anak-anakku...


***


Harum aroma kopi tercium, kaki Kemal sudah jauh lebih baik. Mendekati calon mertuanya? Itulah yang dilakukannya kini.


"Skak..." Kemal tertawa, menatap Candra menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Satu kali lagi..." ucapnya, mulai menyusun ulang papan catur.


"Kemal, pulang sana!! Aku ngantuk, ingin memimpikan Farel lagi..." Kanaya menguap, dengan lugunya berkata jujur, ingin kembali memimpikan suami orang.


"Diam disini, saksikan aku mengalahkan paman!! Farel lagi!? Berani memimpikan pria lain, anacondaku tidak akan membiarkanmu istirahat saat kita menikah nanti!!" ucapnya menatap tajam.


"Siapa yang mau menikah denganmu...?" Kanaya menghebuskan napas kasar, masih kelelahan akibat perjalanan jauh yang ditempuhnya.


Sejenak perhatiannya teralih, menatap tetangganya yang berlari. Diikuti riuh tetangga lainnya. Suara mobil yang jarang melewati jalan perkampungan terdengar.


Sumi? Wanita itu yang baru datang dari warung itu berlari dengan cepat menemui putrinya yang masih duduk di teras.


"Kanaya ada..." kata-katanya dengan napas terengah-engah terhenti, menatap mobil mewah yang mulai terparkir di jalanan desa sempit dan rusak.


Kabar yang lebih cepat menyebar, dari pada mobil yang melaju lambat, bahkan dapat disalip pejalan kaki saat memasuki banyak jalan rusak, itulah yang terjadi. Mencari alamat Kanaya? Cukup sulit untuk pemuda yang baru dibukakan pintu oleh asistennya. Bertanya beberapa kali, di warung atau warga yang ditemuinya, hingga gosip berantai menyebar dengan cepat ke penjuru kampung.


Memakai jas? Tentu saja, dihadapan calon mertua harus rapi bukan? Buket mawar merah dibawanya, beserta, dua paperbag yang disiapkan asistennya.


Mata belasan ibuk-ibuk yang mengintip, atau sekedar pura-pura lewat membulat sempurna. Tampilan CEO sombong, layaknya sinetron atau drama yang mereka saksikan di TV terlihat. Bahkan pria dengan barang branded yang membalut seluruh tubuhnya itu terlihat lebih tampan dan berkharisma dari selebriti di TV sekalipun.


"Tukang selingkuh, ini untukmu..." ucapnya tersenyum, hendak memberikan bunganya.


Beberapa tetangga berbisik-bisik, mengetahui identitas Daniel yang pernah sesekali tampil di TV, sebagai putra pengusaha yang cukup terkenal.


Seorang gadis tertegun mengintip dari tembok rumahnya yang berbatasan dengan rumah Kanaya,"Ibuk, duren sawit...!!" gumamnya histeris.


"Mana ada duren? Kan bukan musimnya," sang ibu yang merupakan tetangga Kanaya mengenyitkan keningnya.


"Bukan itu, duda keren sarang duit!! Aaa... Daniel Ananta!! Kalau Kanaya tidak mau, saya mau..." ucapnya berteriak dari tembok rumahnya, mengetahui identitas salah satu pengusaha idola itu.


Sang ibu menarik anaknya dengan perasaan malu. Karena tempat persembunyiannya untuk mengintip ketahuan, akibat tingkah narsis anaknya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2