Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Samurai


__ADS_3

Tidak terasa, injakan yang tidak menyakitkan, hanya sekedar injakan. Mata pemuda itu, sedikit melirik ke arah atasnya.


Aku selamat... gumamnya lega dalam hati.


Tomy yang berdiri di belakang tuannya, mengedipkan matanya, seolah memberi isyarat agar Zion berpura-pura tidak sadarkan diri, setelah menerima tembakan.


Matanya mulai terpejam, kaki Farel yang ada di kepala Zion, sedikit menendangnya pelan. Hingga tubuh pemuda itu, berubah posisi dari tengkurap, menjadi terlentang.


"Kamu siapa!?" salah seorang pembunuh profesional membentak, mengacungkan senjatanya pada pemuda yang masih terlihat mengenakan kimono sebagai pakaian tidurnya.


"Wajah begini saja ingin melarikan diri dengan Clarissa," Farel sedikit membungkuk menepuk-nepuk pipi Zion, penuh senyuman menghina.


Punggungku sakit, kenapa posisinya harus dirubah. Apa maksudnya dengan 'wajah begini saja?' Andai saja kamu tidak ada, dulu mungkin julukan idola kampus akan ada di tanganku... gerutu Zion dalam hati menahan rasa sakit di punggungnya.


"Aku adalah Farel, calon tunangan Clarissa. Jika ingin memastikan, hubungi tuan Lery sekarang. Katakan aku meminta penjelasan darinya..." pemuda dengan rambut acak-acakan itu menatap tajam, bagaikan samurai zaman edo yang siap menebas mereka.


Salah seorang pembunuh mengenyitkan keningnya, mulai menghubungi Lery. Beberapa saat kemudian panggilannya diangkat.


"Tugas sudah selesai?" tanya seseorang dari seberang sana.


"Maaf tuan seseorang bernama Farel ingin meminta penjelasan dari anda. Apa..." kata-kata sang pembunuh profesional terhenti.


"Berikan telfon padanya!!" bentaknya.


Handphone diserahkan oleh sang pembunuh pada Farel."Kenapa bisa ada kejadian seperti ini?" tanya Farel, meminta penjelasan.


"Farel, Clarissa bersikap tidak dewasa, kali ini dia bertindak kekanak-kanakan. Dia..." kata-kata Lery terhenti, terdengar suara Farel menghela napasnya.


"Clarissa tidak mencintaiku, itulah intinya..." ucapnya.


"Tidak, bukan begitu dia..." kata-kata Lery kembali disela.


"Rasa cinta bisa tumbuh seiring waktu, Clarissa sudah terlanjur mengandung anakku. Untuk itu, pria yang berani menggoda calon tunanganku ini. Biar aku yang mengurusnya," Farel tersenyum menyeringai, bagaikan tidak akan mengampuni pria yang terbaring di hadapannya.


"Sebenarnya aku ingin mengurus hal ini sendiri..." Lery menghela napas kasar, namun ada hal ganjil mengganjal dalam benaknya,"Kamu tau ini darimana?" tanyanya, penuh selidik.


"Kakek akan mengawasi ketat calon cicitnya. Jadi, katakan pada Clarissa untuk menjaga sikapnya..." Farel memutuskan panggilan sepihak.


Alasan? Tentu saja agar Lery tidak banyak bertanya, dan meyakinkan pria itu bahwa dirinya sangat menyukai Clarissa dan kecewa dengan insiden hari ini.


"Orang ini akan aku bawa, tuan Lery sudah setuju," Farel mengembalikan dengan cara melempar phonecell sang pembunuh profesional,"Tomy...seret dia!!" perintahnya, berjalan berlalu, sambil sesekali menguap.


Ke bandara memakai pakaian tidur? Benar-benar santai sekali hidupnya. Aku yakin, jika tidak mengatakan akan menjadi orang ketiga, dia tidak akan datang. Lain kali jika ada peristiwa genting lagi, mungkin aku mengatakan akan menaruh obat tidur pada minuman Jeny, kemudian membantunya mengerjakan tender proyek... Tomy menghela napasnya, menatap bos pelitnya yang hampir membiarkan Zion terbunuh.


Pemuda itu menatap jenuh, mengambil salah satu kaki Zion, kemudian menyeret tubuhnya."Menyebalkan, merepotkan, kenapa hidupku sesulit ini..." gerutunya, berjalan mundur masih menyeret Zion.

__ADS_1


"Perlu kami bantu?" salah seorang pembunuh profesional mendekat.


"Bantu aku bersihkan ceceran darahnya!! Biarkan orang tidak tau malu ini, terbentur atau tergores karena diseret!! Ini pantas untuk pria murahan pembuat masalah..." gerutunya, menyeret tubuh Zion. Kesal? Tentu saja, hanya perlu menunggu dengan sabar, hingga situasi terkendali, apa sulitnya.


Sakit! Jika begini, bukan hanya bahuku yang cidera. Tapi juga seluruh tubuhku, Tomy, kamu sengaja ya... Zion menipiskan bibirnya menahan rasa sakit.


***


Tidak menggunakan obat bius? Farel kali ini benar-benar murka. Jeritan lirih terdengar dari mulut Zion, kala Gabriel mengangkat peluru yang tidak tertancap begitu dalam.


"Dokter, tidak bisakah memberikanku obat bius?" tanyanya dengan wajah pucat, disela kegiatan Gabriel, yang baru berhasil mengangkat peluru.


"Maaf, ketika kamu punya anak, anakmu lah yang menjadi rajanya. Walaupun kamu raja, dialah kaisarnya. Jika kamu kaisar, dialah dewanya dan jika kamu dewa dia adalah kaisar langitnya..." ucap Gabriel, menghela napas kasar, mengikuti permintaan tidak berprikemanusiaan putranya, mulai mengambil mengambil jarum dan benang khusus untuk menjahit luka.


"Aaaaa...." pekik Zion kembali menjerit, merasakan lukanya dijahit tanpa anastesi.


***


Beberapa puluh menit berlalu, pemuda itu telah beristirahat memakai pakaian pasien. Farel memasuki ruang rawat dengan pakaian yang lebih rapi besama Tomy.


"Pukul wajahnya..." perintahnya pada Tomy.


"Terimalah amarahku!! Karenamu kapal Ferry mewahku, hampir tenggelam, bersama rancangan upacara pernikahanku yang megah...!!" geramnya tersenyum, memukul sekuat tenaga wajah Zion, menyisakan memar keunguan.


"Kenapa memukul, wajahku!!" ucapnya dengan nada tinggi."Omong-omong, upacara pernikahan? Kamu sudah mempunyai mempelai?" tanyanya.


"Aku masih hidup!!" bentak Zion tidak rela.


"Ikat dia..." Farel tersenyum, Tomy memaksa Zion duduk di kursi. Sedangkan Farel mengambil phonecell Zion, dari pakaian bekas pemuda itu. Mengambil gambar Zion dalam keadaan terikat.


"Apa yang kalian lakukan?" tanyanya.


"Mengancam Clarissa..." Farel menghela napasnya."Awalnya, aku ingin berperan menjadi calon tunangan baik, yang tidak mengetahui perselingkuhan pasangannya. Tapi keadaannya sudah seperti ini, aku hanya harus berubah menjadi pria pemaksa," ucapnya, melepaskan ikatan Zion.


"Tomy, beri perintah kepada pengawal untuk menjaganya agar tidak melarikan diri. Ulat parasit ini harus kembali ke sarang penyamun..." perintah Farel, berjalan berlalu menuju pintu, hendak pergi.


Zion tertunduk sejenak, keadaannya masih lemah karena kehabisan banyak darah,"Terimakasih..." ucapnya, mulai tersenyum.


"Lain kali bersabarlah, aku akan menyatukan kalian..." Farel melanjutkan langkahnya, meninggalkan ruangan.


Tomy mengenyitkan keningnya,"Kenapa kamu melarikan diri? Itu membahayakan dirimu sendiri dan juga kami!!" ucapnya kesal, mulai duduk di tepi tempat tidur pasien berdampingan dengan Zion.


"Jika jatuh cinta, kewarasanmu akan menghilang. Kamu tidak akan pernah bisa bersabar, bahkan walau hanya hanya semenit melihatnya pergi bersama orang lain," jawabnya.


"Tidak waras, membahayakan nyawa hanya untuk orang lain," Tomy menggeleng-gelengkan kepalanya heran,"Jika tuan tidak datang tepat waktu, kami bahkan tidak akan tau mayatmu dibuang dimana..." cibirnya.

__ADS_1


"Sudah aku bilang, untuk anak, dan wanita yang aku cintai. Matipun aku tidak akan menyesal..." Zion kembali tersenyum tulus.


"Jika aku jatuh cinta nanti, wanita yang akan mengejarku dan berkorban untukku!! Tidak sepertimu dan Farel, budak cinta, pria murahan..." ucapnya penuh kebanggaan.


"Kami hanya seorang budak!? Semoga saja, saat kamu jatuh cinta nantinya, kamu akan takluk bagaikan pengemis. Agar tau kenikmatannya saat mengemis cinta darinya..." kata-kata Zion diiringi suara petir dari luar, seperti ucapnya itu akan terwujud.


***


Rumah besar dengan penjagaan ketat, Farel menghebuskan napas kasar mulai memasukinya. Menelusuri beberapa lorong, hingga Lery terlihat.


"Dimana Clarissa?" tanyanya.


"Kamarnya, sulit untuk membujuknya, hubungan kalian..." kata-kata Lery terpotong.


"Aku menyukai Clarissa dengan tulus, jika dia tidak menyukaiku, perasaannya dapat tumbuh perlahan, setelah pernikahan. Aku tidak akan melepaskannya..." Farel meyakinkan Lery, sembari berjalan menuju kamar Clarissa.


Terdengar isakkan tangis pilu dari dalam sana. Farel memulai sandiwaranya, membuka pintu kamar dengan raut wajah tanpa ekspresi.


Clarissa terlihat meringkuk di tempat tidur menangis terisak. Koper besar masih berada di sebelah tempat tidurnya.


"Jangan berharap aku akan memelukmu, dan menenangkanmu yang sedang menangis..." ucapnya dingin, menutup pintu kamar Clarissa, menguncinya dari dalam.


Farel memaksa wanita itu duduk, menampar wajahnya,"Kamu kira bisa lari dariku, setelah mengandung anakku!!" bentaknya menahan tawanya dalam hati.


Maaf, yang mengandung anakku adalah Jeny. Kamu mengandung anak kekasihmu... gumamnya dalam hati.


"Bunuh aku!! Aku mencintainya!! Kenapa kalian membunuhnya..." teriaknya, nyaring terdengar.


"Pertunangan kita akan tetap diadakan apapun yang akan terjadi..." Farel menatap tajam, sedikit tersenyum bagaikan geram.


"Bunuh aku!! Aku tidak bersedia bertunangan dengan..." kata-katanya terhenti.


Farel mengeluarkan phoncell Zion,"Dia ada di tanganku, saat ini masih hidup. Ini foto terbarunya. Jadilah calon ibu dan istri yang baik, mungkin akan aku pertimbangan untuk tidak membunuhnya..."


Wajah Clarissa pucat pasi, merebut handphone Zion yang berada di tangan Farel. Menatap pemuda dengan luka pukulan di wajahnya itu.


"Jaga kandunganmu dengan baik..." Farel tersenyum menjijikkan, layaknya seorang antagonis, bangkit dari tempat duduknya.


"Jika sekali lagi, mencoba menentang pertunangan kita. Dia akan mati..." lanjutnya menatap tajam, berjalan berlalu meninggalkan kamar.


Clarissa kembali berbaring meringkuk, mengelus foto dilayar phoncell itu pelan. "Zion..." lirihnya penuh rasa bersalah memeluk foto itu dalam dekapannya.


Matanya beralih, menatap matahari yang menembus celah-celah pepohonan rindang, di dekat jendelanya.


Terimakasih mengajarkanku untuk menghargai diri sendiri. Tidak semua hal dapat dibeli dengan harta. Kedudukan tidak dapat membuat bahagia. Orang-orang yang mengasihi dengan tulus adalah sumber kebahagiaan. Terimakasih untuk tetap hidup, satu-satunya sumber kebahagiaanku...Aku mencintaimu...

__ADS_1


Clarissa meneteskan air matanya, merindukan pemuda yang dapat menaklukkan hatinya. Merindukan senyuman hangat, yang selalu mencintainya dengan kesabaran.


Bersambung


__ADS_2