Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Bonus Chapter 9


__ADS_3

🍀🍀🍀🍀 Area Dewasa!! Bocil diharapkan menyingkir!! 🍀🍀🍀🍀


Wajah Kinara terlihat tidur dengan tenang, memangku putra mereka yang juga tengah tertidur. Anak manis yang tertidur dalam wajah damainya.


Orang dari bengkel sudah datang sedari tadi, muatan juga telah turun di gudang konsumen. Mobil kembali melaju menuju rumah mereka.


"Den Fahri..." ART rumah menyambut kedatangan tuannya. Menggendong Ega yang telah tertidur di pagi yang dingin. Sementara Fahri mengangkat tubuh istrinya. Perlahan meletakkannya di tempat tidur, tidak ingin Kinara terbangun. Kemudian melangkah menuju kamar putranya.


"Bik, nanti minta orang dari gudang ambil motor Kinara dekat jembatan ya..." ucapnya menyerahkan kunci pada sang ART, sejenak kemudian tersenyum, mengelus rambut putranya yang tengah tertidur, mengecup keningnya.


Fahri beberapa kali menguap, memasuki kamarnya. Mengingat waktu yang masih menunjukkan pukul 2 pagi. Pemuda itu mulai masuk ke kamar mandi membasuh dirinya, keluar dengan menggunakan celana pendek dan kaos.


Bruk....


Menjatuhkan dirinya dalam posisi tengkurap ke atas tempat tidur. Kepalanya sedikit menengok, wajah tenang istrinya yang tertidur.


"Aku memberimu kesempatan untuk pergi beberapa kali. Tapi dengan bodohnya kamu kembali. Aku mencintaimu..." ucapnya, sedikit beranjak, mengecup kening Kinara. Memeluknya erat dalam dekapannya, bersiap mengikutinya masuk ke dalam dunia mimpi.


Wanita itu menggeliat, menonggakkan kepalanya, tangan kokoh suaminya memeluknya erat. Berbalut selimut tebal yang hangat, "Fahri... Fahri... Fahri..." panggilannya membangunkan suaminya, mencolek-colek pipinya.


"Kenapa?" Fahri membuka matanya.


"Tersenyumlah..." ucap Kinara pada suaminya.


Menolak? Tidak, Fahri mulai tersenyum, memperlihatkan lesung pipinya.


"Sangat manis," Kinara mendorong tubuh Fahri, menaiki tubuhnya, menelusuri bibirnya tanpa ampun. Menyapu seluruh bagian dalam mulut suaminya. Tangan kokoh Fahri tidak tinggal diam memegang tengkuk Kinara seolah memperdalam ciumannya.


"Kinara..." ucap Fahri dengan deru napas tidak teratur, merasakan tangan istrinya menyentuh ketempat yang tidak seharusnya.


"Kita akan membuat adik untuk Ega..." Kinara tersenyum. Berusaha meningkatkan napsu suaminya.


Udara dingin yang merasuki terasa menghangatkan ruangan. Napas Fahri semakin memburu, membalik posisinya, satu persatu tubuh Kinara dicicipinya. Helai demi helai pakaian mereka terjatuh di lantai dan tempat tidur. Berusaha mencari kehangatan di pagi yang dingin.


Memiliki keturunan dari Fahri? Mungkin itu akan dapat mengikat suaminya agar tidak merasa rendah diri. Pemuda yang selalu menyayangi Ega dengan tulus.


"Egrhhhh..." erangan panjang terdengar mengakhiri kegiatan panas mereka. Fahri berbaring di samping istrinya, menatap langit-langit kamar. Tubuh Kinara memeluknya erat, merasakan kehangatan yang nyaman, saat kedua kulit itu bersentuhan tanpa penghalang. Hanya tertutup sebuah selimut tebal.


"Fahri..." panggil Kinara.


"Em..." pemuda itu tersenyum menoleh padanya.


"Maaf, dulu menyia-nyiakanmu... Aku..." Kinara tertunduk, jemari tangan dengan kulit sawo matang itu, mengangkat dagunya. Membuatnya menatap mata suaminya lekat.

__ADS_1


"Aku mencintaimu..." ucapnya, tersenyum kembali mencium lembut bibir Kinara.


...Aku mencintaimu, cinta yang membuat hatiku mengeras bagaikan batu. Tidak dapat berpaling menatap wajah wanita lain, tidak peduli dunia mencibirmu, tidak peduli betapa terlukanya diriku. Karena hati ini telah mengeras bagaikan batu untuk hanya tetap bisa mencintaimu......


Fahri...


***


Musik klasik terdengar mengalun, oleh para musisi. Tibalah hari resepsi pernikahan Daniel, pengantin wanita berjalan anggun, perlahan mendekatinya. Pengantin wanita yang nampak cantik.


Gina mendekat menghela napas kasar,"Ini hadiah dari paman dan bibimu. Mereka tidak bisa hadir, Farel baru siuman, masih harus berlatih menggerakkan tubuhnya. Selain itu, bibimu (Citra) hamil..."


"Hamil di usianya?" Daniel mengenyitkan keningnya.


"Mereka memutuskan untuk tidak memiliki anak selain Farel. Tapi siapa sangka saat pergantian jenis kontrasepsi, pamanmu Gabriel tidak sabaran. Jadi beginilah, cucu dan anak kedua mereka akan seumuran..." Gina kembali menghela napasnya, menyerahkan tiket liburan ke Eropa, hadiah dari Gabriel.


"Sebaiknya kalian juga segera memiliki anak, masak dikalahkan oleh pasangan panas yang tidak menua..." cibirnya tersenyum, berjalan berlalu beberapa langkah.


"Kanaya, aku sudah mendaftarkanmu menjadi member tetap tempat berlatih yoga. Lusa jadwal latihannya..." lanjut Gina berjalan berlalu.


Wajah Kanaya seketika pucat pasi, ketakutan... Aku akan dilipat seperti kertas origami... rutuknya ketakutan dalam hati.


"Lusa ya? Untunglah, kamu sudah pernah melakukannya (sudah tidak perawan). Jika tidak pasti akan menyakitkan berlatih yoga..." Daniel tersenyum, merangkul bahu istrinya.


"Kenapa diam saja? Kamu sakit?" Daniel mengenyitkan keningnya.


"Ti... tidak!!" jawabnya gugup.


Orang tua Kanaya hadir memakai setelan batik dengan kebaya. Salah konsep? Mungkin begitu, beberapa orang mencibir, membicarakan tamu yang salah kostum. Rendah diri, begitulah diri Candra dan Sumi, hendak berbalik keluar. Hingga, seseorang menghentikan langkah mereka.


"Kenapa anda tidak masuk?" tanya Ken, menarik pasangan suami-istri tersebut.


"Kami hanya akan membuat orang tua singkong, maksudnya Daniel malu..." Candra menghela napas kasar.


"Keluarga tuan Tirta tidak memandang status. Tapi dari nilai moral dan prilaku..." Ken terus berjalan menarik kedua orang tersebut.


Hingga seorang pria terlihat berdiri, berbicara dengan rekan bisnisnya. Candra kembali menghela napas kasar. Bagaikan enggan untuk mendekat, hingga Ken mendekati Tirta, berbisik padanya.


Tirta berjalan mendekat, "Saya Tirta, ayah Daniel. Terimakasih, sudah mempercayai Daniel untuk menjaga putri anda..." ucapnya mengulurkan tangan penuh senyuman.


Dengan ragu, Candra membalas uluran tangan tersebut, "Saya Candra, saya..." kata-katanya terhenti.


Tirta merangkul bahunya, kemudian berbisik,"Anak itu (Daniel) terkadang sewenang-wenang, jika dia berbuat hal aneh jangan ragu untuk memukulnya..."

__ADS_1


"I...iya," ucap Candra tidak mengerti.


"Daniel bilang, anda suka main catur, setelah acara selesai, kita bermain 7 ronde," Tirta, tertawa kecil, menarik Candra, tanpa ragu memperkenalkannya sebagai besannya di hadapan rekan bisnisnya.


Hidup bak sinetron, dimana jika memiliki besan kaya akan selalu dipermalukan? Putri yang menikah ke keluarga kaya akan direndahkan? Tidak begitu, Candra menyadari semuanya. Tidak ada miskin dan kaya atau tinggi rendahnya status sosial yang akan menentukan perilaku. Di dunia ini hanya ada orang baik dan jahat. Namun, orang jahat juga memiliki pembenaran karena hidupnya yang sulit. Karena itu, ketika hati orang jahat berhasil tersentuh menyadari keramahan dunia, maka orang baiklah yang tercipta.


***


Malam semakin gelap, tegang? Begitulah perasaan seorang gadis yang duduk hanya mengenakan jubah mandinya, setelah membersihkan dirinya terlebih dahulu.


Membuka lemari juga percuma, yang ada hanya bikini dan pakaian tipis bagaikan saringan tahu. Kelopak bunga mawar bertebaran dimana-mana. Duda impiannya kini tengah membersihkan diri di kamar mandi. Inilah impiannya bukan?


Namun, rasa tegang menghinggapi dirinya, entah berapa kukunya yang telah digigit, menghilangkan rasa tegangnya. Sejenak, melihat ke arah balkon dengan tubuh panas dingin.


"Ini lantai 5, kalau memanjat turun apa bisa?" gumamnya ingin melarikan diri, mulai menarik selimut, hendak dijadikannya tali. Namun, jemari tangan Daniel menghentikannya, pemuda yang hanya berbalut handuk di pinggangnya, dengan rambut yang basah.


"Mau dibawa kemana selimutnya?" tanyanya.


"Aku, mau..." kata-kata Kanaya terhenti, melihat senyuman mesum dari suaminya.


"Kamu ingin mencoba hal aneh?" tanyanya, yang menyangka Kanaya pemain cinta profesional, mengingat hubungannya dengan Kemal yang keluar entah kemana saat tengah malam. Serta perilaku agresifnya sebelum menikah.


"Hal aneh?" Kanaya mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


Daniel merebut selimut besar dari tangan Kanaya. Mengungkung tubuh mereka dengan selimut, masih dalam posisi berdiri. Bibir itu dicicipinya, menyalakan hasrat mereka.


Jemari tangannya, melepaskan tali jubah mandi yang dipakai Kanaya. Serta menjatuhkan sehelai handuk yang dipakainya.


Keterlaluan bukan? Namun itulah kenyataannya, ingin memberikan kesan berbeda dari yang Kemal lakukan. Leher itu dijelajahinya, tanpa ragu, tubuh Kanaya bergetar hebat kala, wajah itu turun, dalam posisinya yang masih berdiri. Memainkan benda yang ditemuinya, menggunakan mulut dan jemari tangannya yang dingin.


"Kamu menyukainya?" tanyanya, masih cemburu pada Kemal.


"Daniel..." racau Kanaya, membiarkan tubuhnya dipermainkan. Bergetar, pada setiap sentuhannya.


Hingga tubuh Kanaya dijatuhkan di atas tempat tidur, memangut bibirnya, masih dibalik selimut dalam tubuh mereka yang sama-sama polos.


"Kamu suka posisi yang mana?" tanya Daniel berbisik dengan nada sensual. Berharap dapat memuaskan istrinya.


Posisi?... Posisi...?... Posisi... wajah Kanaya semakin pucat saja mendengar kata-kata dari mulut Daniel.


"Pa...pak Daniel, sa...saya belum pernah..." satu jawaban itu sukses membuat Daniel menghentikan aksi gilanya.


"Kamu bilang apa?" tanyanya yang masih berada di atas tubuh Kanaya.

__ADS_1


__ADS_2