
Sinar matahari tipis, membuat pagi yang dingin menjadi terasa lebih hangat, sepasang suami istri sudah bersiap-siap turun dari mobil.
Farel mematikan mesin mobilnya, terdiam sejenak menatap Jeny,"Apa anda dulu sangat menyukainya nona!?" tanyanya.
"Sangat, dia orang yang baik," ucap Jeny sedikit menunduk, air matanya tertahan.
"Jangan menangis..." Farel membuka sabuk pengamannya, mengecup bibir Jeny sekilas.
"Dia orang baik yang bodoh, karena mati begitu cepat. Meninggalkan nona sebaik dan semanis ini," lanjutnya tersenyum dengan tulus, tidak ingin membiarkan Jeny menangis.
Jeny tertegun sejenak, belum pernah ada orang yang memperlakukannya dengan tulus sebelumnya selain Ren dan ayah kandungnya.
"Sudah, ayo kita turun..." Farel berucap penuh senyuman membuka sabuk pengaman Jeny, mengamati dua orang wanita menunggu mereka di teras depan rumah.
***
Dea masih tertegun dengan wajah pucat, sedang Nana bagaikan berpura-pura tidak mendengar perkataan Dea. Perkataan yang menimbulkan kecurigaan dan keraguan baginya.
Pasangan yang nampak serasi saling merangkul, layaknya pengantin baru yang tidak ingin terpisah keluar, berjalan mendekat.
"Ke... kenapa kamu membawanya!?" tanya Dea mengeluarkan keringat dingin, mengingat wajah Ren yang datang sekitar tiga tahun yang lalu untuk melamar Jeny.
"Perkenalkan dia asisten sekaligus suamiku Farel," Jeny bergelayut mesra pada lengan pemuda itu, berekting layaknya pasangan suami istri yang saling mencintai.
"Perkenalkan nama saya Farel...'Nyo-nya'...." ucapnya tertunduk, berucap penuh penekanan, sejenak kemudian menatap tajam. Lalu kembali tersenyum pada Jeny.
"Suamimu!?" tanya Dea memastikan.
"Iya," Jeny mengangguk.
"Kalian pasangan yang cukup serasi..." Dea menghembuskan napas kasar, mengetahui dari prilaku dan ekspresi putrinya. Jeny tidak mengetahui tentang Farel sama sekali.
"Nyonya, kalung yang anda pakai sangat bagus. Anda terlihat cantik saat memakainya..." Farel berusaha tetap tersenyum menahan amarahnya.
"Benar, aku membelinya di luar negeri dengan harga mahal. Ini edisi khusus, orang miskin sepertimu mana bisa membelinya!!" ucapnya membentak.
"Benarkah!? Edisi mana!? Seri keberapa!? Apa anda memiliki sertifikat berliannya!?" Farel menatap intens, tersenyum mengejek. Tangannya mengepal mengetahui kalung yang didisainnya khusus dipesannya dengan hati-hati untuk Jeny, tidak pernah sampai ke tangan wanita yang sekarang bersetatus sebagai istrinya.
"Aku, tentu saja aku punya sertifikatnya!!" Dea membentak, tidak ingin harga dirinya dipermalukan oleh pemuda di hadapannya.
__ADS_1
"Maaf, saya hanya ingin memastikannya saja. Agar anda tidak terjerat hukum. Sayang, aku terlalu lelah, bisa kita masuk ke dalam!?" tanyanya pada Jeny penuh senyuman.
"Tentu saja..." Jeny berucap.
Farel berjalan beberapa langkah, sejenak melirik ke arah Dea, menatap tajam. Seakan ingin menerkaamnya. Kemudian kembali menyeret kopernya bersama Jeny.
Dia benar-benar Ren atau ini hanya perangkap untukku. Wajah, sifat, tinggi, prilaku Farel berbanding terbalik dengan Ren. Farel terlihat menggoda dan mengerikan. Sedangkan Ren baik, penurut dan setia. Perbandingan antara malaikat dan iblis... gumam Nana dalam hatinya yang masih ragu dengan sosok Farel.
***
Minuman mulai dihidangkan pelayan satu persatu. Farel menghembuskan napas kasar, duduk menyender di atas sofa.
"Namamu tadi siapa!?" Dea kembali bertanya seolah tidak mengetahui nama pengganti yang diberikannya pada Ren.
"Saya rasa nyonya Dea lebih cukup tau dengan nama saya..." jawabnya penuh senyuman mengerikan mulai meminum tehnya.
Dia bukan Ren, Ren hanya akan menunduk tidak menjawab mengetahui kedudukannya yang rendah. Ini mungkin hanya perangkap yang disiapkan bibi Dea untukku. Tapi dari mana dia tau aku menyukai Ren... Nana bergumam dalam hatinya, antara yakin dan ragu.
"Jangan bergurau, omong ngomong Daniel nanti malam akan kemari. Bertingkah laku lah yang baik!!" Dea mengenyitkan keningnya bangkit dari sofa.
"Ibu aku sudah menikah!!" Jeny membentak.
"Sebuah pohon dapat menghasilkan bunga dan buah jika tidak memiliki parasit," ucapnya memperingatkan Jeny dan Farel. Seolah dapat menghancurkan Farel kapan saja.
Dea membulatkan matanya, menatap ketakutan pada sosok pemuda yang menyembunyikan kemurkaannya, dalam senyuman ramah.
"Dasar, baru satu hari menjadi menantu saja tidak tau diri!!" Dea menahan rasa takutnya, berjalan menyiram wajah Farel dengan minuman hangat yang terhidang.
"Minuman yang manis," ucapnya penuh senyuman, menarik Jeny untuk mendekatinya. Tanpa diduga, memangut mesra bibir Jeny di hadapan semua orang tanpa tau malu. Jeny hanya terdiam terpaku membulatkan matanya.
Kurang ajar dia mengambil kesempatan lagi!! Apa orang ini punya kelainan psikologis untuk tiba-tiba mencium seseorang... ucap Jeny dalam hati menahan rasa malunya.
"Benarkan sayang rasanya manis!?..." ucap Farel, ingin menyulut kemarahan Dea.
"Br*ngsek!! Kalian harus segera berpisah, camkan itu!!" Dea menampar pipi Farel dengan kencang. Memperlakukan layaknya Ren yang dulu dianiaya dengan mudah.
"Ibu!! Farel tetap suamiku!!" Jeny bangkit, menarik jemari tangan Farel, menuju lantai dua. Pemuda dengan banyak akal busuk itu tersenyum menyeringai, akan memulai dramanya sebagai pihak teraniaya sekaligus menindas dari belakang.
"Aaaakkhhh....sial!!" Dea berteriak kesal, mengambil tas dan kunci mobilnya. Pergi dengan cepat meninggalkan rumah.
__ADS_1
Nana masih terdiam setelah menyaksikan pertunjukan, senyuman menyungging di bibirnya,"Pemuda yang bisa diandalkan. Mungkin dapat menjadi pion yang lebih bagus dari Jony..." gumamnya sembari meminum secangkir teh di hadapannya.
Beberapa jam berlalu, Farel keluar dari kamar membawa beberapa botol ASI dalam box khusus untuk Rafa yang tengah dijaga Ayana ditemani beberapa baby sitter. Sembari melirik jam tangannya, guna mengurus EO milik Jeny.
Langkahnya terhenti, dihadapan seorang wanita cantik berpakaian minim,"Kamu suami atau asisten Jeny!? Apa tujuanmu kemari!?" tanyanya sinis.
Farel tersenyum acuh tidak menjawab. Kemudian hendak berjalan berlalu pergi.
"Apa kamu ada hubungannya dengan Ren atau tante Dea!?" tanyanya penuh keraguan.
Farel menghentikan langkahnya,"Ternyata masih ada orang yang menyebut nama anak yatim-piatu itu..." ucapnya menyunggingkan senyuman sembari berlalu pergi.
"Tunggu apa kamu tau Ren dimana!? Apa dia masih hidup!? Apa kamu orang suruhan tante Dea untuk mengawasi Jeny!?" tanyanya, menarik tangan Farel hingga langkah pemuda itu kembali terhenti.
"Ren!? Aku tidak tau... mungkin dia masih hidup," jawabnya ambigu menghempaskan tangan Nana kemudian berlalu pergi.
***
Malam menjelang, satu persatu pelayan tengah mempersiapkan kedatangan Daniel dan keluarganya.
Salah satu pelayan memastikan uang sudah masuk dalam rekeningnya melalui handphone. Kemudian mulai memasukkan juice strawberry ke dalam dessert dan beberapa makanan olahan lainnya. Satu satunya buah yang dapat membunuh Jeny jika penanganan alerginya terlambat.
Sedangkan, Jeny terdiam, mengamati penampilannya di cermin, pakaian dengan belahan dada terbuka, dress merah klasik yang menimbulkan kesan seksi. Tidak terasa pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka, sepasang tangan pria yang hanya mengenakan handuk melingkar di bahunya.
"Jangan keluar!!" Farel mengamati penampilan Jeny, rasa cemburu dan memendam hasratnya terasa.
"Kenapa!?" Jeny mengenyitkan keningnya.
"Nona terlihat jelek..." ucap Farel mulai mengacak-acak isi lemari. Hingga menemukan sebuah mini dress putih yang tertutup."Pakai ini!!"
"Ini disiapkan ibu, harganya juga mahal..." Jeny mengenyitkan keningnya.
"Tapi itu..." ucapan Farel terhenti, menelan ludahnya sendiri, menunjuk ke dada Jeny. Kemudian mengalihkan pandangannya dengan wajah memerah.
Ya Tuhan cobaan apa lagi ini, aku ingin mengulangi malam pertamaku... batinnya.
"Magsudmu, kamu ingin mengantar ASI lagi pada Rafa. Sebentar, aku akan mengambil pompa ASI..." ucapnya mengambil alat dari dalam laci.
Mengalihkan pandangannya memunggungi Farel, mulai melakukan kegiatan yang lumayan menyakitkan. Karena ketidak hadiran Rafa.
__ADS_1
Nona, bisakah anda lebih peka...aku adalah suami yang tidak pernah mendapatkan jatah... ucapnya dalam hati hanya dapat duduk di tempat tidur mengacak-acak rambutnya frustasi. Mengamati Jeny yang sedikit meringis sambil memunggunginya.
Bersambung