Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Saudara (Brother)


__ADS_3

"Akhirnya mati juga..." ucapnya tersenyum, menendang tubuh yang baru roboh di hadapannya, hingga berubah posisi dari tengkurap menjadi terlentang. Wajah putih pucat berlumuran darah, itulah yang terlihat.


"Calon menantu sempurna, sayangnya tidak dapat dikendalikan..." cibirnya, masih menunggu orang-orangnya yang tengah menyiapkan speed boat untuknya.


Suara tembakan terdengar, wanita berpakaian minim serta seorang pria berpakaian cleaning service berhasil menerobos kekacauan dari atas, tepatnya melalui tali melintang yang terhubung melalui salah satu tiang penyangga. Sang pria berpakaian cleaning service rumah sakit mengangkat tubuh Farel yang dipenuhi darah, tanpa bicara sedikitpun.


"Kalian...!?" Lery terlihat kesal, menyadari seragam rumah sakit milik Gabriel.


Kedua orang itu tidak menoleh, membawa tubuh berlumuran darah itu, prioritas mereka saat ini. Lery berjalan mendekati mereka berusaha menjegal kaki sang pemuda hendak menghalangi. Tanpa disadarinya terdengar suara pelatuk senjata, di atas kepalanya.


Lery tertawa kecil, membiarkan pasangan muda mudi itu membawa tubuh sang pemuda menembus kerumunan.


"Ternyata benar-benar pengkhianat? Kalian berkerjasama untuk menghancurkanku?" tanyanya pada Gabriel yang berada di belakangnya.


"Putraku..." Gabriel tersenyum dalam tangisannya. "23 tahun yang lalu kalian membunuhnya,"


"Jadi hanya karena seorang anak berusia 5 tahun?" tanyanya, mengulur waktu mencari celah untuk menyerang.


"Anak itu sudah tumbuh besar sekarang... Farel adalah putraku..." ucapnya murka, menatap tubuh putra satu-satunya yang mengenaskan telah dibawa pergi. Jemarinya menarik pemicu, tidak memikirkan hubungan darah antaranya dan kakaknya lagi.


Dor...


Tembakan, teralih ke tempat lain, Lery berbalik dengan cepat merobohkan tubuh Gabriel, merebut senjatanya,"Adik tidak berguna..."


"Bunuhlah aku..." mata Gabriel menatap tajam pada kakak laki-lakinya. Tatapan yang bagaikan memaki.


"Apa kamu begitu membenciku!?" tanyanya membentak.


"Iya, 23 tahun yang lalu aku mulai membencimu!! Kemudian mulai memaafkanmu karena putraku. Aku hanya ingin kakak kembali seperti dulu..." Gabriel menghebuskan napas kasar."Tidak seharusnya, aku menyelamatkan pembunuh ibuku," racaunya.


"Jadi kamu mengetahuinya?" Lery kembali bertanya, masih menodongkan senjatanya.


Gabriel hanya mengangguk, menatap kakak beda ibunya,"Biarkan aku menyusul putraku jika dia tidak selamat..."


Beijing 35 tahun yang lalu...


Terlahir dari rahim wanita yang berbeda? Kedua remaja tetap tumbuh besar bersama. Rumah mewah bernuansa klasik terlihat. Dentingan suara pisau dan garpu terdengar.


"Ini untukmu, aku sudah kenyang..." ucap sang kakak pada adik satu-satunya.


Gabriel yang dari tadi menelan ludahnya menarik piring kakaknya memakan dengan lahap.


"Apa begitu enak?" tanya Lery mengupas kulit jeruk, menatap adiknya yang makan bagaikan kesetanan.


"Iya..." jawabnya dengan mulut penuh, tersenyum pada kakaknya.


Hanya dua orang? Mereka hanya tinggal berdua, kedua ibu mereka sibuk bersaing dan berdandan bersiap merebut perhatian ayah mereka yang hanya pulang ke rumah pada malam hari.


Rambut Lery nampak pirang, bola mata yang coklat keemasan, terlihat lebih tinggi dari anak seusianya, berbeda jauh dengan adiknya yang memiliki bola mata hitam pekat, rambut hitam, dengan alis yang tegas. Dua ketampanan dari sisi yang berbeda bukan?


Mobil mewah mulai terparkir, di sekolah menengah pertama banyak pasang mata menatap anak yang berselisih usia lima tahun itu. Bersaudara tapi bagaikan beda ras? Itulah mereka.


"Aku akan menjadi anak yang bodoh untuk kakak..." ucap Gabriel setelah sampai di depan ruangan kelasnya.


"Aku akan menjadi lemah untuk adikku yang manis ini..." Lery mengacak-acak rambut adiknya gemas, hendak kembali ke parkiran untuk diantarkan sang supir ke universitas.


Berpura-pura bodoh? Ibu kandung Gabriel selalu menyombongkan prestasi putranya menyulut pertengkaran dengan ibu kandung Lery. Sedangkan ibu kandung Lery akan menyombongkan putranya yang berkali-kali mewakili sekolah di bidang olahraga, bahkan mengikuti olimpiade.


Perlahan kedua anak yang saling menyayangi itu, berpura-pura menjadi bodoh dan lemah. Agar meja makan mereka tidak menjadi medan perang bagi istri pertama dan istri kedua yang berebut perhatian suaminya.


Siang itu seorang supir menjemput kedua anak konglomerat itu.


"Kakak aku lapar..." Gabriel memelas, menaiki mobil, menarik lengan pakaian kakaknya yang tengah memakan sebungkus coklat dengan mata berkaca-kaca.


"Ini, dasar..." Lery tersenyum, menyodorkan coklatnya yang baru habis setengah porsi.


"Gabriel, kamu pernah menyukai seseorang tidak?" tanyanya menatap ke arah jendela mobil.


Gabriel menggeleng-gelengkan kepalanya, masih konsentrasi memakan dengan mulut dan gigi melumber dipenuhi coklat yang harganya tidak murah.


"Bodoh, aku malah bicara pada anak kecil sepertimu..." Lery tersenyum sendiri.


"Kakak menyukai wanita? Mereka menyebalkan, lemah dan menyusahkan," mulut Gabriel masih penuh terisi dengan coklat.


"Benar, Sasha memang lemah dan menyusahkan," gumamnya dengan wajah tersenyum.


"Sasha? Anak teman bisnis ayah? Orang manja dengan tukang ambekan itu?" Gabriel mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


"Benar, dia kelihatannya juga menyukaiku. Jadi..." Lery menghentikan kata-katanya.


"Kalian pacaran!? Seperti Cinderella, seperti Romeo dan Juliet. Sasha aku mencintaimu, kamulah nyawaku," Gabriel menghebuskan napas kasar, menertawakan kakaknya.


"Sudah!! Kamu membuatku malu!! Adik tidak tau di untung!! Tukang makan banyak!!" bentaknya menarik telinga Gabriel.


"Ampuni hamba yang mulia kaisar," Gabriel meringis, berusaha melepaskan tangan Lery yang menarik telinganya.


Lery tertawa kecil,"Aku akan menjadi pengusaha besar yang bagaikan kaisar, menguasai dunia bisnis. Mewarisi usaha ayah suatu hari nanti," ucapnya tersenyum.


"Kaisar mempunyai banyak selir, tidak akan ada yang tahan hidup denganmu..." cibirnya setelah telinganya di lepaskan.

__ADS_1


"Dasar kutu buku," Lery mencibir balik, kemudian bertanya penuh rasa penasaran,"Aku tau kamu tidak menyukai perempuan manapun, maksudku belum menyukai perempuan. Tapi jika bisa memilih, perempuan seperti apa yang kamu inginkan?" remaja itu nampak antusias, memasang pendengarannya baik-baik.


"Dia harus... harus.... harus..." Gabriel berfikir sejenak, sang kakak terlihat bertambah antusias penuh rasa penasaran.


"Harus apa!?" tanyanya membentak.


"Harus hidup, aku tidak mungkin mempunyai pasangan orang yang sudah mati kan?" jawabnya tanpa rasa bersalah, kembali memakan coklatnya.


"Dasar b*jingan tengik, menjawab begitu saja tidak bisa, menyebalkan..." cibir Lery kesal.


"Baik, aku akan jawab satu saja, wanita yang bersedia berbagi setengah makanannya denganku..." jawabnya dengan mulut penuh.


"Aku malas bicara dengan tukang pungut makanan sepertimu. Tuan muda pemulung," kepala adiknya dijitak olehnya.


"Tuan muda penindas..." Gabriel kembali mengumpat balik, kemudian saling tertawa bersama.


***


Matahari semakin terik, seorang remaja berjalan menuju kolam renang rumahnya yang luas lengkap dengan handuk melilit di pinggangnya.


Matanya menelisik mendengar suara tawa seorang wanita, rasa penasaran menderunya. Wajahnya seketika memerah bagaikan tomat mengintip dari sisi lorong menuju kolam renang.


"Apa yang mereka lakukan? Kenapa bibir mereka bersentuhan? Lidahnya bertemu saling menjilat. Pacaran ternyata hal yang menjijikkan..." Gabriel segera berlari, menahan malunya mengingat, kakaknya dan Sasha yang berpangut mesra.


Tidak mengerti? Tidak higienis? Itulah yang ada di fikirannya sekarang. Anak kecil yang bahkan belum tertarik dengan wanita menyaksikan kakaknya berciuman.


Gabriel melangkah menuju kolam renang lain, tepatnya kolam renang yang biasanya dipergunakan untuk latih tanding kakak dengan ayahnya. Beberapa tali melintang, benar-benar bagaikan arena pertandingan.


"Apakah dalam?" Gabriel nampak ragu, mengingat dirinya kurang ahli dalam berenang.


"Apa sebaiknya kembali ke kolam renang satunya saja ya?" fikirnya, berniat kembali ke kolam renang yang di desain memiliki kedalaman lebih dangkal.


"Tidak, terlalu memalukan melihat mereka bertukar l*iur..." ucapnya, memberanikan diri.


Byur...


Benar saja, dirinya kesulitan untuk mengimbangi tinggi kolam. "Hup...hup...hup..." berteriak tolong pun sulit untuknya, dirinya saat ini tidak dapat bernapas.


Hingga seseorang melempar jasnya, berenang dengan masih menggunakan setelan kemeja. Tubuh Gabriel di bawa ke daratan dadanya di tekan berkali-kali mengeluarkan air dari paru-parunya.


Air akhirnya di muntahannya, bersamaan dengan kesadarannya yang kembali. "Ayah..." ucapnya menangis ketakutan memeluk tubuh ayahnya menyangka dirinya akan mati.


***


Plak...


"Kakak apanya!? Seorang kakak seharusnya menjadi contoh!! Lindungi adikmu, bukannya sibuk sediri..." ucapnya dengan nada dingin,"Berfikirlah lebih dewasa,"


Pria yang masih mengenakan jubah mandinya itu berjalan berlalu meninggalkan putranya. Tatapan tajam penuh kemarahan? Pertama kali dilihat Lery dari mimik wajah ayahnya.


Tangannya mengepal, air matanya mengalir. Apa salahnya? Apakah dia tau Gabriel akan berenang? Apa Gabriel meminta ijin padanya untuk berenang di kolam latih tanding.


Suara sang adik terdengar di lorong kamar. Menghentikan pria berdarah Cina itu.


"Ayah, maafkan kakak. Ini salahku, aku tidak meminta ijin..." kata-katanya disela sang ayah.


"Kamu terlalu baik, kewajiban kakakmu adalah melindungimu. Ini kesalahannya, bagaimana jika kita memakan ice cream? Kamu boleh meminta sisa makanan ayah..." ucapnya tersenyum hangat.


"Benarkah?" Gabriel tersenyum senang, menarik jemari tangan ayahnya. Tertawa kecil meninggalkan lorong.


Apa karena dia lebih muda, ayah hanya menyayanginya... gumam Lery mengepalkan jemari tangannya.


***


Suasana makan malam nampak kurang baik, sang kepala keluarga yang merasa hampir kehilangan putra bungsunya mengambilkan beberapa jenis lauk ke piring Gabriel.


"Ayah ini terlalu banyak..." remaja itu mendorong piring yang diisi penuh oleh ayahnya, melirik ke arah Lery yang terlihat makan dengan tenang. Sementara ibu kandung Lery menatap sinis padanya.


Tangannya mengepal ketakutan akan situasi saat ini.


"Remaja jaman sekarang kalau dibebaskan ibunya jadi sulit diatur. Ini pasti suruhan ibunya agar putraku tersingkir..." cibir ibu kandung Gabriel, (istri kedua dalam keluarga itu berdarah Indonesia).


"Kamu jangan asal bicara ya? Jika bukan karena penyatuan perusahaan melalui perjanjian pernikahan yang sudah terlanjur di sepakati keluarga mana mungkin aku rela di duakan!!" bentaknya.


"Karena itu putraku yang berhak atas kasih sayang ayahnya. 35% harta keluarga ini berasal dari perusahaan almarhum ayahku," sindir ibu kandung Gabriel.


"Sayang, kau dengar kan dia mengungkit-ungkit harta keluarganya lagi..." ibu kandung Lery memeluk suaminya, seakan lemah dan ketakutan.


"Diam tidak boleh berdiskusi di meja makan..." ucapnya dingin, melepaskan pelukan ibu kandung Lery.


"Mulutmu menyebalkan," ucap ibu kandung Gabriel menatap sinis, kembali memakan makanannya.


Setiap hari selalu seperti ini. Kenapa ayah bisa tenang tinggal dengan dua wanita mengerikan? Ayah dapat makan dengan tenang... Gabriel menatap kagum.


"Ayah... hebat..." Lery terlihat kagum melihat kedua wanita itu menurut kembali makan dengan tenang.


Hebat apanya? Malam ini aku harus tidur di kantor. Jika tidak, mereka akan melakukan trik menggoda agar aku tinggal di kamar salah satu dari mereka. Paginya salah satu akan memamerkan tanda merah di lehernya. Kemudian satunya akan merajuk lagi, siapa bilang mempunyai dua istri itu menyenangkan... pria itu menghela napas kasar.


***

__ADS_1


Tidak terima jika Lery yang nantinya akan memimpin perusahaan? Itulah yang ada di fikiran ibu kandung Gabriel. Pagi ini wanita itu tidak pergi merawat dirinya, menatap iba pada putranya. Serakah? Itulah yang ada di dalam hatinya.


Supir, serta beberapa orang di bayarnya. Menyewa orang untuk menculik Lery.


Berhasil? Rencana itu memang berhasil. Sekitar seminggu pemuda itu ditahan dalam gudang gelap terpencil entah dimana. Kadang diberi makan, terkadang tidak, bahkan setetes airpun sulit didapatkannya. Terlalu mengerikian? Lery bahkan sempat meminum urinenya sendiri, akibat tidak tahan dengan rasa dahaganya.


Tangisan yang menyakitkan, mati atau depresi perlahan-lahan itulah yang diinginkan ibu kandung Gabriel. Masih menganggap kejadian di kolam renang adalah kesengajaan Lery, untuk membunuh putranya.


Hingga samar-samar di dengarkannya percakapan ibu kandung Gabriel dengan sang penculik. Suara ibu tirinya? Lery sudah cukup sabar, menyayangi Gabriel dengan tulus. Lalu apa yang kurang? Kenapa dirinya harus diperlakukan seperti ini. Dendam mulai tersimpan dalam hatinya, masih dikurung dalam ruangan gelap.


***


Malam semakin larut, sudah seminggu lebih kakaknya menghilang. Gabriel hanya dapat menangis seorang diri, sarapan seorang diri. Seluruh pengawal di kerahkan ayahnya, namun tidak membawakan hasil.


Hingga, Gabriel remaja yang merasa kesepian, tertidur di kursi terbelakang mobil ibunya, tidak ingin kesepian di kamarnya, kamar tempat biasanya sang kakak menginap jika Gabriel tidak dapat tidur.


Tidak menyadari mobil ibunya menyala saat tengah malam. Sang ibu tidak menyadari putranya berada di belakang mobil, mengendarai mobilnya menuju gudang tempat Lery di sekap.


Pukul dua dini hari, Gabriel terbangun, mengamati situasi di sekitarnya. Area terpencil dengan sebuah bangunan. "Dimana ibu?" gumamnya mengusap-usap matanya.


Sang remaja turun dari mobil, memasuki area gudang yang berliku, mencari keberadaan ibunya.


Tong... tong....tong...


Suara lemah besi dipukul terdengar, remaja itu menatap sebuah ruangan dengan kunci rantai bergembok dipasang erat.


"Si... siapa?" tanyanya ragu.


"Gab... Gabriel? Apa itu kamu? Tolong aku..." suara lemah kakaknya terdengar dari dalam.


"Kakak..." Gabriel membulatkan matanya, mendekati pintu.


"Tolong aku..." ucap Lery lirih menemukan secercah harapan.


"Sebentar, aku cari cara dulu..." ucapnya mulai berfikir, menatap gembok besar di hadapannya.


"Aku akan minta bantuan pada ibu," Gabriel hendak berlalu pergi.


"Jangan, tolong curi kunci dari ibumu dan orang-orang yang bersamanya..." ucapnya.


Tanpa banyak bicara, Gabriel mengikuti kata-kata kakak yang seminggu ini dirindukannya. Berjalan menelusuri gudang, hingga terlihat ibunya berbicara dengan beberapa orang.


Tempat tinggi untuk menggantung kunci terlihat di atasnya yang tengah merangkak agar tidak dapat terlihat. Tangannya gemetar, mengikuti perintah kakaknya agar tidak diketahui olehnya ibunya.


Kunci diraihnya, segera membuka ruangan yang mengurung kakaknya selama lebih dari seminggu.


"Kakak tidak apa-apa?" remaja itu bertanya.


"Aku tidak apa-apa. Apa kamu berpihak padaku?" tanyanya, dijawab dengan anggukan oleh Gabriel. "Bagus..." lanjutnya tersenyum, dengan jalan fikiran yang sudah berubah, setelah mendapatkan berbagai siksaan dan dikurung selama seminggu lebih.


Tubuh kecil adiknya memapahnya keluar dari gelapnya gudang. Rasa kasih pada adiknya tidak tersisa lagi. Hanya kesetiaan, apa yang akan membuat orang berkhianat padamu, harus disingkirkan.


Tangannya mengepal, bibirnya yang putih pucat sedikit tersenyum masih dalam papahan adiknya. Mencari orang-orang yang setia adalah tujuannya saat ini, menyingkirkan ibu tirinya yang membuatnya merasakan sakit pada jiwa dan raganya.


***


Tidak melaporkan pada ayahnya? Itulah keputusan yang diambil Lery. Tersenyum pada adiknya bagaikan semua baik-baik saja.


Trauma, dendam, membuatnya memutuskan pergi kuliah di negara lain. Mengumpulkan kekuatan, membangun kekuasaan, merekrut orang-orang royal yang berguna, bahkan termasuk Hans yang seusia dengan adiknya.


Tiga tahun berlalu...


Tikaman berkali-kali dilakukannya pada tubuh ibu tirinya, dalam kamar wanita tersebut. Semua orang kini tengah berada di pesta kedatangan Lery di area kebun rumah."Kita impas..." ucapnya pada mayat wanita yang mendingin.


Gabriel tidak melihat semuanya, hanya saja saat kakaknya menyerahkan pisau berlumuran darah pada Hans untuk dibuang, saat itulah Gabriel merasakan hal yang janggal. Berlari dengan cepat ke kamar ibunya.


Pemuda itu menjerit ketakutan, mengguncang tubuh ibunya. Tidak melaporkan atau mengadukan pada ayahnya? Gabriel tidak melakukannya. Membiarkan kasus itu ditutup tanpa diketahui siapa pelakunya.


Hingga terdiam melihat pemakaman ibunya. Bingung harus melakukan apa, anggota keluarga yang kini masih dimilikinya hanya kakak dan ayahnya.


Wajah Lery diam-diam tersenyum, rasa kasih pada adiknya tidak ada lagi. Sama dengan semua orang, jika diketahui berkhianat, maka harus mati.


***


Geladak kapal...


"Putramu? Jika sudah berkhianat tidak ada gunanya..." Lery tersenyum, masih menodongkan senjatanya.


Dor...dor...


Tangannya ditembak seseorang, senjatanya terjatuh di lantai.


"Sampah," ucap orang itu tersenyum, setelah memberikan Jeny pada pengawal Taka. Menembus kerumunan yang masih saling menembak, terlibat perkelahian.


"Kamu juga berkhianat?" tanya Lery tertawa lepas.


"Penghianat? Iya, seharusnya aku hidup tenang di Jepang dengan kekasih kecil dan anakku. Hutangmu, aku akan menagihnya sekarang..." Hans tersenyum menyeringai, rambutnya yang terikat rapi terkena terpaan angin laut.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2