Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Halte


__ADS_3

......Pena lebih tajam dari pada pedang? Tidak, ada yang lebih tajam lagi dari pena maupun pedang. Yaitu kata yang keluar dari mulut, menemukan dan membicarakan kelemahan orang memang terasa menyenangkan. Namun, tanpa sadar kata-kata merendahkan yang keluar dari mulut dapat menikam hati dan membunuhnya perlahan......


Author...


"Sialan!!" Renata mengumpat dalam taksi yang ditumpanginya.


Senja menyingsing, wanita berpakaian bagaikan sopan itu sudah mulai meminum minuman keras di apartemennya, terdiam sejenak menghilangkan penat.


Kesal? Itulah perasaannya saat ini, berusaha mendapatkan Daniel yang bahkan sekarang membencinya. Ditambah dengan suami sempurna milik Jeny, dia sendirilah yang mengantarkan ke ranjangnya. Bahkan kedudukan Roy (tunangan Renata saat ini, direktur utama perusahaan asuransi, yang perusahaan induknya adalah JH Corporation) tidak ada apa-apanya.


"Hanya merebut suami Jeny, apa sulitnya? Tinggal menyingkirkan wanita murahan itu." gumamnya, sembari menenggak Vodka di hadapannya.


***


Farel yang memang menginap bersama Jeny di rumah Ayana mengenyitkan keningnya menatap Taka yang tengah memakan sarapannya.


"Kenapa melihatku seperti itu!?" tanyanya kesal.


"Tidak apa-apa, maaf..." Farel berusaha untuk tetap tersenyum.


Kakek, aku tidak bisa tidur semalaman, karena tidak ingin nona menangis diam-diam di belakangku. Aku mohon pahamilah cucumu ini, dasar kakek yang terlalu beretika... gumam Farel dalam hatinya, sembari memotong roti di hadapannya kesal.


"Jangan mencibir atau mengumpat dalam hatimu, jika tau kamu ada di pihak yang salah," Taka masih makan dengan tenang.


"Kakek, aku dan Jeny tidak sepenuhnya salah. Lagipula kami..." kata-kata Farel terpotong.


"Kakek kali ini tidak melihat dari sudut pandang kebenaran. Kakek juga tau kalian tidak sepenuhnya salah. Tapi hujatan masyarakat sulit untuk dihindari, mulut terkadang lebih tajam dari pada pisau. Karena itu, aku akan tetap melihat dari sudut pandang masyarakat, tugas kalian memberikan bukti nyata," ucapnya meminum air putih hangat di hadapannya.


Jeny menghembuskan napas kasar, mulai memakan sarapannya. Farel tersenyum, menyeka sisa makanan di sudut bibir istrinya.


"Omong ngomong, wanita yang bersamamu di halte, kakek sudah mencari informasi tentangnya," Taka mulai kembali bicara.


"Halte...!?" Jeny menatap geram, seakan meminta penjelasan pada suaminya.


"Siapa?" Farel mengenyitkan keningnya tidak mengerti, sembari meminum air putihnya.


"Kanaya, kamu tersenyum tertawa lepas saat di halte ketika bersamanya. Kakek fikir kamu menyukainya..." Taka masih konsentrasi pada makanannya.


"Uhkuk...!!" Farel tersedak, terbatuk-batuk mendengar kata-kata yang keluar dari mulut kakeknya.


"Jadi kamu benar-benar memiliki hubungan dengannya. Bahkan kata-katanya di restauran itu benar?" tanya Jeny lebih kesal lagi, tidak tau menahu tentang suaminya yang membebaskan Kanaya dari penjara.


"Tidak, dengar dulu penjelasanku!!" ucap Farel panik.

__ADS_1


"Kata-kata apa?" Ayana mulai tertarik.


"Farel tidur dengan gadis bernama Kanaya, kemudian melarikan uang tabungannya sebesar 10 juta rupiah..." jawab Jeny berusaha tersenyum menahan kekesalannya.


"Aku benar-benar tidak!! Nona kamu tau sendiri aku selalu di rumah..." Farel gelagapan, melirik ke arah kakeknya."Kakek, aku tidak memiliki hubungan dengan wanita itu!! Tolong jelaskan..." ucapnya.


Taka masih makan dengan tenang, kemudian tersenyum,"Dia berasal dari desa, keluarga baik-baik. Walaupun hanya memiliki gelar diploma, tapi dia cukup cerdas. Kapan kamu akan meninggalkan istrimu untuknya?"


Seketika wajah Farel pucat mendengar kata-kata kakeknya. Malaikat yang rendah diri disampingnya kini tersenyum mengerikian bagaikan iblis.


"Melekat padaku untuk selamanya? Tapi malah ingin menikahi wanita lain?" Jeny masih berusaha tersenyum.


Farel menggenggam erat tangan istrinya,"Maafkan aku, yang mulia istri!! Aku akan menjelaskannya..."


"Ibu, suamiku cukup senggang hingga dapat melirik wanita lain. Aku ingin meliburkan seluruh pelayan di rumah ini, hari ini. Dengan senang hati, suamiku akan menggantikan tugas mereka..." Jeny mengenyitkan keningnya, senyuman mulai menghilang dari wajahnya.


"Sa... sayang tugas kantorku menumpuk!! Jangan seperti ini..." ucap Farel mengeluarkan keringat dingin.


"Apanya yang menumpuk? Kamu masih sempat melirik wanita lain..." Jeny mulai bangkit, menunduk memberi hormat pada Taka dan Ayana, kemudian menarik telinga Farel,"Ambil alat pel!! Mulailah mengepel lantai!! Agar tenagamu untuk berselingkuh habis!!"


"Sakit!! Sayang jangan begini!!" Farel, berusaha melepaskan tangan Jeny yang menarik telinganya pergi menuju tempat penyimpanan peralatan.


"Farel menyukai wanita, tidur dengan Jeny dan memiliki istri merupakan sebuah keajaiban. Tidur dengan wanita lain serta mencuri uang 10 juta rupiah? Ayah, tidak mungkin Farel..." kata-kata Ayana terhenti, Taka terlihat menipiskan bibir menahan tawanya.


"Biarkan saja, itu konsekwensinya tidak jujur pada istrinya," ucapnya mulai tertawa kecil.


"Kamu lupa hal yang terjadi pada adikmu?" Taka menghebuskan napas kasar. Ayana terdiam, tersenyum lembut pada ayahnya seakan menguatkan.


"Adikmu memutuskan mengakhiri hidupnya karena cibiran orang-orang, dia hamil karena pemerkosaan. Lalu kenapa? anak dalam kandungannya tidak bersalah. Adikmu juga tidak bersalah. Tapi mulut tajam orang-orang yang membuat, ayah menemukan tubuh dingin adikmu tergantung di kamarnya!" Taka tertunduk menangis terisak, mengingat putri keduanya yang meninggal akibat bunuh diri di usia 18 tahun dalam keadaan hamil.


Bukan karena dirinya yang marah, Taka tidak marah karena mengetahui putrinya tidak bersalah. Tapi hujatan masyarakat yang membuat adik kandung Ayana itu mengakhiri hidupnya.


"Sudahlah ayah..." Ayana menghebuskan napas kasar.


Taka menyeka air matanya,"Farel adalah cucu kebanggaanku, namanya sama sekali tidak boleh tercoreng. Cucuku tidak boleh bernasib sama dengan bibinya..."


***


Dress hitam yang terlihat sopan dan elegan, riasan yang tidak terlalu tebal, terlihat natural dan cantik.


"Nona, ayo kakek dan ibu sudah menunggu..." Farel berucap penuh senyuman, tiga hari ini dia dengan sengaja menginap di rumah Ayana demi mendekatkan dua majikan kakunya. Siapa lagi jika bukan Taka dan Jeny.


Rafa yang tengah tertidur dijaga oleh pengasuh. Mobil mulai melaju menuju restauran bergaya Jepang.

__ADS_1


Makanan satu persatu ditata di atas meja oleh pelayan. Semua duduk di atas bantal kecil berbentuk kotak, suasana taman kecil ala Jepang terlihat dari pintu yang langsung menghadap taman.


"Sudah menemukan bukti?" Taka kembali bertanya sambil mengambil makanan dengan sumpitnya.


"Belum..." Farel menghembuskan napas kasar.


"Kalau begitu, bersiap-siaplah untuk bercerai," ucapnya.


"Kakek..." Farel meninggikan intonasi suaranya.


"Jangan khawatir, aku akan meletakkan kakek tua, keatas piring jika berani memisahkanku dengan Ren-ku..." Jeny menatap sinis, kemudian memasukkan sushi ke dalam mulutnya.


"Wanita di halte, terlihat lebih sopan," Taka mencibir.


Ayana menghembuskan napas kasar,"Kenapa kalian tidak berdamai saja?" tanyanya.


"Ini untuk kebaikan Farel..." Taka menjawab.


"Kebaikan apanya!? Dasar kakek kaku yang ingin memisahkan ibu dari anaknya," kali ini Jeny yang mencibir.


"Sudahlah, terserah kalian saja!! Sebagai bawahan kami hanya bisa membiarkan atasan berperang!!" Ayana yang kesal mengunyah kasar makanannya.


Sementara itu di tempat lain, Renata menyodorkan amplop yang dipenuhi dengan uang pada seorang pelayan."Taburkan ini pada makanan wanita yang berpakaian hitam," ucapnya.


"Baik, terimakasih..." sang pelayan terlihat tersenyum, berjalan mundur.


***


Beberapa saat berlalu, dessert mulai disajikan. Satu persatu berurutan. Dua porsi mochi ice cream, serta dua porsi kue ikan.


"Pelayan!!" Taka memanggil mengamati makanan di hadapannya.


"Maaf ada apa tuan!?" tanya pelayan berpakaian kimono.


"Ini terbuat dari kacang merah kan!? Kenapa ada bau kacang almond di ruangan ini?" tanyanya, menatap curiga.


"Benar, ini terbuat dari kacang merah..." sang pelayan berucap.


"Tunggu!! Jangan ada yang makan!!" Taka menggebrak meja, menghentikan tiga orang yang hendak memakan dessert mereka.


Farel meletakkan sendoknya menyadari ada yang aneh. Kemudian mengambil makanan milik Jeny dan ibunya, mulai mengendus baunya.


"Br*ngsek!!" umpatnya, berdiri menendang dada pelayan yang memakai kimono.

__ADS_1


Bersambung


Catatan: Ciri khas sianida, adalah aroma kacang almond yang menyengat. Apalagi jika dimasukkan pada makanan atau minuman hangat.


__ADS_2