Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Sebuah Mimpi


__ADS_3

Geladak kapal...


Senyuman tetap menyungging di wajahnya, mengarahkan senjata ke dada kirinya. Namun, jemarinya yang hendak menekan pemicu terhenti.


Tangannya mengepal mendengar kata-kata yang keluar dari mulut pria yang telah berdiri, berjalan menjauhinya, mulai memakai earphone menghubungi seseorang.


"Ledakan villanya..." ucapnya tersenyum, memberikan instruksi, kemudian membuang earphonenya, ke lautan luas. Mengingkari janji? Lery memang berniat mengingkari janjinya.


"Ke... kenapa...?" Farel tertunduk, menjatuhkan senjata yang sebelumnya diarahkan pada dada kirinya.


"Aku berubah fikiran, bunuh diri atau mati oleh orang-orangku apa bedanya."Lery tersenyum simpul,"Tembak dia..." ucapnya memberi interupsi.


Pengawal Taka mulai bergerak menyelamatkan cucu majikannya yang masih tertunduk, mendengar pernyataan Lery.


Nona... air matanya menetes, tangannya mengepal, masih terduduk diam di lantai kapal yang dingin.


Jemari tangannya menggenggam erat senjata yang seharusnya dipakainya mengakhiri nyawanya.


Dor...


Satu tembakan seorang tentara mengenai punggung pemuda yang masih tertunduk. Beberapa tentara mendekati Farel, pengawal Taka masih terlibat baku tembak dan perkelahian, berusaha mendekati Farel yang berjarak beberapa belas meter dari mereka.


Tangan Farel mengepal, menatap Lery yang tersenyum berusaha melarikan diri di tengah kekacauan.


Tubuhnya yang terasa sakit akibat tembakan dan pukulan bertubi-tubi bagaikan tidak dirasakan olehnya. Istri, yang tengah mengandung anaknya sudah tidak ada. Nona yang selalu dilayaninya, satu-satunya wanita yang menyukai seorang pelayan pendek.


Matanya memerah menahan tangisnya, dendam? Semua harus tuntas saat ini juga.


Biarlah aku mati saat ini, tapi harus mati bersamamu... batinnya tersenyum menatap punggung Lery.


Brak...


Farel yang masih duduk di lantai kapal menjegal kaki salah seorang tentara didekatnya. Akan di bunuh? Benar dirinya akan dibunuh, lalu apa pedulinya jika tubuhnya terluka. Tidak menyelamatkan diri dengan mendekati Taka.


Berjalan dengan cepat ke arah Lery tujuannya.


Dor...


Tubuhnya, kembali terkena tembakan, tepatnya di bagian lengan. Tentara di dekatnya dibanting oleh Farel, merebut senjata, menembak siapapun yang menghalanginya, tidak mempedulikan dua luka tembakan di tubuhnya.


"Menyebalkan..." ucapnya dengan wajah dingin, memegang lengan kirinya. Sembari menendang tentara yang mendekatinya. Tembakan diarahkannya sembarang, membunuh semua tentara yang mendekatinya.


Tidak mempedulikan apapun lagi, tidak mempedulikan derasnya darah yang mengalir dari punggung dan lengannya. Lery? Hanya itu tujuannya saat ini. Pria yang telah mengingkari janjinya.


Nona... racaunya dalam hati, menyerang membabi buta.


"Aku akan membuatkanmu ice chocolate..." lirihnya sembari menangis, masih menembak ke sembarang arah. Tidak mempedulikan, rasa sakit di lengannya.


Brak...


Tubuh yang lebih besar dari tubuhnya di bantingnya, kemudian di tembaknya.


Seorang tentara menikamnya, pisau yang berhasil di tancapkan sang tentara dicabut Farel. Darah segar semakin deras mengalir dari perutnya.


"Nona, aku akan memenuhi semua keinginanmu, setelah menghabisinya. Walau aku berakhir mati sekalipun..." Farel berucap, menikam balik tentara dengan pisau yang berhasil dicabutnya.


Darah menetes semakin banyak, tubuhnya terasa lemas. Namun, batinnya mungkin tidak, istri yang dicintainya, nona manja yang tidak mengetahui apa-apa. Kenapa dia yang harus mati?


Jika hari ini aku mati, aku tidak akan apa-apa asalkan dapat ke neraka bersamamu... batinnya semakin mendekati Lery.

__ADS_1


Sepatu kulitnya meninggalkan jejak darah yang mengalir dari tubuhnya sendiri. Mengotori lantai kayu yang kokoh.


Brak...


Beberapa tentara yang berada di dekat Lery kembali dirobohkannya. Menembak, membanting, tanpa belas kasih, tidak mempedulikan luka di tubuhnya yang semakin banyak.


"Ren...!!" suara Jeny terdengar, pemuda itu tertegun melirik ke arah asal suara.


Dor...dor...


Dua tembakan lagi bersarang di tubuhnya, matanya menatap ke arah wanita yang tengah hamil muda. Senyuman menyungging di wajahnya yang berlumuran darah mengetahui istrinya masih hidup.


Tubuhnya roboh tepat di hadapan Lery. Mata yang masih terbuka, terlihat wajah wanita yang selalu menyiksanya berada di belakang Hans.


Andai 14 tahun yang lalu aku melarikan diri bersamamu, apa takdir ini akan berubah? Mungkin kita akan menjadi gelandangan, tumbuh dewasa di lingkungan kumuh. Namun, aku memiliki kesempatan lebih banyak untuk tumbuh dewasa denganmu. Mengarungi dunia menjadi pecundang dan tertawa bersama.


Tapi aku tidak akan melakukannya. Kamu tau kenapa? Nona harus selalu bersinar seperti matahari, walaupun sinarku akan padam. Kita dapat bersinar bersama-sama, walaupun aku hanya dapat bersinar dalam hatimu.


Farel memejamkan matanya, mimpi yang sama mungkin itu yang dilihatnya....


Doni menunggunya, di ambang pintu. Tubuh Jeny remaja di guncangnya. "Ini untukmu..." ucapnya, penuh senyuman.


"Enak..." ucap Jeny remaja yang baru terbangun, tersenyum meraih sebungkus coklat yang diberikan Farel.


Senyuman nona sangat manis, dapatkah aku merasakan tumbuh hingga dewasa bersamamu...


"Ren... sekarang sudah siang, ayo kita berangkat," Doni tersenyum menatap dari luar, seakan akan menjemput kepergiannya.


"Sebentar lagi, bolehkah aku bermain sedikit lebih lama dengan nona?" tanyanya pada Doni dijawab dengan anggukan oleh pria yang memakai seragam dinasnya itu.


"Kalian akan kemana?" Jeny mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


Mimpi yang indah, aku tidak ingin ini segera berakhir. Nona, tumbuhlah dewasa bersamaku, walau hanya dalam mimpiku saja...


Sepasang remaja berjalan menelusuri lorong rumah, posisi barang mirip dengan 14 tahun yang lalu.


Farel remaja terus menarik tangan nonanya dengan cepat. Tidak ingin waktunya berakhir. Ingin tumbuh dewasa bersama? Itulah keinginan saat ini.


"Ren, kita akan kemana?" tanyanya.


"Aku ingin tumbuh besar bersama nona..." jawabnya jujur, tersenyum.


Pintu utama rumah mulai terbuka, jemari tangan Jeny ditarik. Tubuh Farel terlihat sedikit lebih tinggi, kulitnya semakin bersih,"Aku membuatkan sarapan..." ucapnya penuh senyuman, duduk di bangku taman halaman rumah lama mereka.


Tumbuhlah dewasa bersamaku, makanlah yang banyak. Mungkin ini kali pertama dan terakhir aku dapat menyuapimu...


Satu suapan demi satu suapan dimasukkannya ke dalam mulut Jeny yang tersenyum padanya. Aneh, sekaligus bahagia, Jeny hanya tersenyum menikmati semuanya saja.


"Nona, bagaimana jika kita setelah ini ke sekolah?" tanyanya.


Melewati masa SMU bersamamu? Apa berpacaran saat SMU akan terasa berbeda... Mungkin berbeda tapi rasa kasihku akan tetap sama...


"Sekolah? Bukannya kamu sudah..." kata-kata Jeny terhenti, Farel remaja berlari meninggalkannya ke area belakang rumah. Tubuhnya sedikit lebih meninggi lagi, kacamata juga sudah tidak dikenakannya. Memakai seragam SMU.


Jeny terdiam, piyama yang dikenakannya juga berubah menjadi seragam SMU."Naiklah..." ucap Farel menepuk kursi belakang sepeda tuanya.


***


Angin menerpa wajah kedua orang remaja itu, Farel tersenyum tanpa banyak bicara, mengamati Jeny memeluk erat punggungnya, menyenderkan kepalanya di punggungnya.

__ADS_1


Menyenderlah di punggungku, hapuslah rasa lelahmu walau hanya sekejap saja. Maaf... Air mata mengalir di pipinya, di tengah senyuman hangatnya


Jalanan menurun penuh tikungan dilalui mereka, guguran daun kering terjatuh di sepanjang jalan.


"Ren...aku menyukaimu..." ucap Jeny.


Aku juga. Akankah jika aku tidak ada nanti kamu dapat melupakanku? Hiduplah dalam senyuman bersama kedua anak kita...


Farel hanya tersenyum, tanpa membalas kata-kata nonanya. Sepeda mereka terhenti di sebuah sekolah SMU, tempat Jeny bersekolah dulu. Masa SMU dimana seharusnya Farel tidak ada di dalamnya.


Guru menjelaskan beberapa materi yang tidak mereka dengarkan. Duduk berdampingan dengan remaja yang dicintainya. Jeny menatap wajah itu tanpa berkedip sedikitpun, wajah yang nampak lebih rupawan. Tangan Farel, menggengam jemari Jeny di bawah meja, seakan takut akan kehilangan.


"Ren kenapa kamu menyukaiku?" Jeny kembali bertanya dengan suara kecil.


Ren menggeleng-gelengkan kepalanya,"Tidak memerlukan alasan untuk mencintaimu..." jawabnya, tersenyum tulus.


Aku mencintai semua yang ada padamu...


Bel berdering...


Para siswa keluar dari ruangan. Remaja itu kembali menarik tangan Jeny, seolah-olah terburu-buru tidak ingin waktunya yang sedikit habis.


"Kenapa buru-buru?" Jeny mengenyitkan keningnya.


"Kita akan berkencan," jawabnya, menarik jemari Jeny keluar dari kelas.


***


Suasana kembali berubah, koridor sekolah lenyap berganti hamparan lahan kosong luas dengan rumput dan beberapa pepohonan. Jeny menoleh menatap remaja di sampingnya, namun bukan remaja lagi, kali ini sosok Ren yang sudah dewasalah yang terlihat.


Sosok yang dikenal dengan nama Farel, tersenyum padanya, membawa keranjang piknik. Pakaian yang dikenakan Jeny juga berubah, menjadi pakaian santai, dengan tubuh sudah terlihat dewasa.


Alas duduk diletakkan Farel di bawah pohon, keranjang piknik diletakkan di atasnya. Duduk menyender dengan pohon menyangga punggungnya. Jeny mulai duduk berdampingan dengannya, menyenderkan diri pada dada bidang Farel. Headset yang dikenakan Farel salah satu ujungnya dikenakan pemuda itu pada telinga Jeny.


"Apa nona senang?" tanyanya pada Jeny.


Jeny mengangguk, menikmati udara sore yang segar, serta musik yang mereka dengarkan dari earphone.


"Aku mulai serakah, ingin menghabiskan masa tua dengan nona, menggenggam tangan keriput nonaku..." ucapnya tersenyum pahit.


Bolehkah? Seharusnya aku tidak berfikiran serakah kan? Menikmati mimpi ini, sudah cukup indah bagiku...


Jeny menonggakkan kepalanya, menggengam erat jemari tangan Farel. Senja berganti gelap, seiiring kunang-kunang yang terbang terkena terpaan angin.


Waktuku tidak banyak lagi...


"Nona, terimakasih sudah mencintaiku, terimakasih membalas perasaanku yang pengecut ini," Farel mengeluarkan darah dari pelipis serta mulutnya.


"Ren..." Jeny terbata-bata, meraba pelipis suaminya. Tidak satupun kata dapat keluar dari mulutnya.


"Aku mencintaimu..." air mata Farel mengalir. Luka di tubuhnya bertambah, darah mengalir dari kemeja putih yang dikenakannya bagaikan luka tembakan yang menembus dari dada hingga punggungnya.


Pemuda itu, meraba wajah Jeny, "Jika aku tidak ada nanti, anggaplah aku hanya menyatu dengan udara. Agar kamu dapat menemuiku di semua tempat, agar nona tidak merindukanku lagi..." ucapnya.


Lupakanlah aku perlahan, jika aku tidak dapat kembali...


Samar-samar terlihat Dony berdiri di belakang Farel, bagaikan menanti putra angkatnya, lengkap memakai seragam dinasnya. Jemari tangan Farel, berusaha meraih wajah Jeny, namun tubuh itu berubah menjadi ribuan kunang-kunang yang beterbangan. Sama halnya dengan tubuh Dony yang menghilang bersama tubuh Farel.


"Ayah bolehkah aku menemani nona lebih lama lagi...?" tanyanya dalam dunia yang gelap. Hanya seorang pria berpakaian polisi yang berdiri di hadapannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2