Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Mengetahui Perasaan Jeny Bagian 1


__ADS_3

Andai saja waktu dapat terulang. Masa waktu dua tahun dapat merubah hati seseorang. Jika dapat mengajari istrinya untuk mencintainya, mungkin kebahagiaan bersama keluarga kecilnya yang didapat Daniel. Farel tidak pernah dapat hadir atau berada diantaranya dan Jeny.


Anak mungil yang memanggilnya 'papa' akan terlihat, berjalan menyambutnya setiap pulang dari bekerja, menghapus rasa lelahnya. Ren!? mungkin akan hanya menjadi nama kenangan masa kecilnya bagi Jeny. Tersenyum merawat anak mereka, yang dulu tidak pernah diinginkan Daniel untuk ada.


Namun, semuanya sudah terlambat, waktu tidak dapat terulang, menyakiti dan tidak menginginkan keturunan dari istrinya adalah sebuah penyesalan terbesar untuknya. Nama dirinya tidak pernah ada dalam hati Jeny, karena dengan bodohnya melewatkan satu kesempatan...


**


Sebuah mobil sport berhenti di depan sebuah rumah yang tidak begitu besar. Seorang pemuda melangkah keluar, berjalan mulai memasuki rumah tersebut. Terlihat sosok seorang pemuda berbadan tegap yang tengah berduka, terdiam dengan wajah murung.


Daniel menghebuskan napas kasar, menatap Zoya yang masih berkabung,"Kenapa kamu melepaskan Renata!?" tanyanya.


Zoya tersenyum pahit, menatap ke arah Daniel,"Aku sudah memukulinya, tapi hatiku masih terasa sakit. Wina, adikku tidak dapat hidup lagi, bahkan ayahku sekarang menyusulnya," ucapnya menyeka air matanya yang hendak mengalir.


"Jadi, apa rencanamu sekarang!?" Daniel mengenyitkan keningnya.


Zoya menghebuskan napas kasar,"Aku akan menata hidup lebih baik lagi, agar seluruh keluargaku bahagia disana,"


"Bagaimana jika begini saja, bekerjalah di perusahaanku. Belajar pelan-pelan saja, bagaimanapun jika Wina tidak menyukaiku, maka dia tidak perlu mati karena Renata," Daniel memberikan kartu namanya berucap tersenyum tulus.


"Aku akan memikirkannya..." jawabnya.


***


Hari ini tepat 7 tahun hari kematian Wina, sahabat satu jurusan dengan Daniel. Gadis periang yang selalu mengerjakan tugas Daniel tanpa mengeluh. Bahkan jika di fikir-fikir, dalam pertemuan yang singkat dengan sosok Wina. Seorang gadis berpakaian kampungan yang bunuh diri dengan menjatuhkan dirinya dari gedung kampus karena pelecehan itu, Daniel lebih akrab dengannya dibandingkan dengan Renata.


"Dasar bodoh, kenapa harus seputus asa itu," gumamnya menatap foto lama, kenangannya ketika masih kuliah. Menyenderkan punggungnya di kursi putar kantornya, menatap ke arah jendela, terlihat gedung perkantoran dan apartemen dengan lampu yang menyala.


"Tapi orang yang terbodoh adalah aku, dapat menyia-nyiakan waktu untuk membuat Jeny mencintaiku. Membuang istri yang baik, untuk wanita menjijikkan," gumamnya.


Waktu telah menunjukkan pukul 9 malam, lampu ruangan mati satu persatu. Terkecuali ruangan Daniel yang masih terdapat seseorang di dalamnya.


Terdengar suara tangisan seorang wanita terisak. Daniel mengenyitkan keningnya, mengambil senter di laci mejanya.


Berjalan perlahan keluar dari ruangannya dengan tangan gemetar, mencari sumber suara, di gedung pencakar langit itu.


Tak...tak...tak...


Terdengar suara langkah kaki dari tangga darurat, disertai tangisan yang memilukan. Daniel mengambil handphonenya mulai merekam ketakutan, akan sosok yang mungkin akan di jumpainya.


Pemuda itu, mendongakkan wajahnya, menapaki tangga satu persatu.


Angin bertiup menerpa wajah seorang wanita berpakaian minim, memakai baju bermotif macan tutul yang mencolok. Sepatu boot berhak tinggi menghiasi kakinya.


Wanita itu kembali menangis terisak, berjalan menuju pagar pembatas, hendak menjatuhkan dirinya.


Daniel kembali memasukkan handphone ke saku. Teringat dengan sosok Wina yang bunuh diri dengan melompat dari gedung beberapa tahun yang lalu. Teman yang menangis di atas atap, terlambat di selamatkannya.


"Berhenti!!" Daniel berlari, menarik tubuh wanita berpakaian norak itu.


"Pak Daniel..." ucapnya menoleh.


"Setan!!" Daniel melepaskan pelukannya, menatap sosok wanita yang diselamatkannya. Make up tebal berwarna putih mencolok pucat, bagaikan bedak bayi, alis yang terlalu tebal memanjang, lipstik yang meluber, serta perona pipi merah menyala dengan penggunaan kontur yang membuatnya terlalu tirus bagaikan zombie.


"Maaf, ini saya Kanaya!!" ucap sang gadis, memberi hormat pada atasannya.

__ADS_1


"Kamu mau ikut acara misteri!?" Daniel mengenyitkan keningnya, menatap penampilan salah satu karyawatinya yang berprestasi.


Kanaya menangis semakin kencang,"Orang jelek, memang seharusnya mati!!" ucapnya putus asa, kembali berjalan menuju pagar pembatas.


"Jangan mati disini!! Atau saya akan menagih hutangmu pada perusahaan ke keluargamu!!" ucap Daniel menghentikan langkah gadis frustasi itu.


***


Lampu pantry sudah menyala, dua cangkir teh dibuatkan Kanaya selaku bawahan Daniel.


"Sebenarnya ada apa!?" tanya Daniel, menatap mengintimidasi.


"Masalah pribadi..." jawabnya tertunduk.


"Ceritakan!!" Daniel membentak.


"Beberapa bulan lalu saya bertunangan, setelah kekasih saya wisuda..." kata-katanya di sela oleh Daniel.


"Pria benalu yang kamu biayai kuliahnya!?" tanyanya mengetahui karyawati kepercayaannya yang terlalu sering kasbon. Kanaya mengangguk dengan wajah penuh riasan aneh.


"Lalu!?" lanjut Daniel, mulai meminum teh di hadapannya.


"Aku melihatnya tidur dengan wanita lain yang lebih cantik. Dia memilihnya, karena aku jelek..." tangisan Kanaya terdengar lebih nyaring lagi.


Pemuda itu menghembuskan napas kasar, mungkin bagaikan menatap cerminan dirinya sendiri yang tidur di kamar pengantin dengan Renata, di malam pertama hari pernikahannya dengan Jeny.


"Kenapa kamu berpenampilan seperti ini!?" Daniel mengenyitkan keningnya, mengingat karyawatinya yang awalnya berpenampilan bagaikan orang desa, rok panjang dan baju kemeja kebesaran.


"Wanita yang disukainya berpenampilan seperti ini, jadi aku ingin berubah untuknya..." ucapnya menunduk, tidak mengerti cara berdandan sama sekali.


"Lalu apa yang terjadi setelah penampilanmu berubah!?" Daniel, kembali meminum teh di hadapannya.


"Dia berkata aku seperti badut. Tidak pantas untuknya. Hanya membuatnya dan pacarnya jijik, jadi dia memintaku untuk menjauh..." ucapnya tertunduk.


Daniel terdiam, menatap pantulan wajahnya pada teh di cangkirnya. Memintanya menjauh!? Aku selalu menyalahkan Jeny karena kepergian Renata ke luar negeri. Dia selalu mengurusku dengan sabar, bagaimanapun aku melukainya. Air mata Daniel jatuh menetes, kemudian di seka olehnya.


"Pak Daniel!?" Kanaya mengenyitkan keningnya.


"Maaf, aku hanya merindukan mantan istriku," ucap Daniel kembali tersenyum, "Omong-ngomong, kamu tidak membencinya!?" lanjutnya.


"Tidak, aku terlalu menyukainya, aku yakin perasaannya hanya teralih sementara. Tapi, entah kenapa hatiku terlalu sakit, sampai ingin rasanya aku mati..." Kanaya menghebuskan napas kasar.


"Jadilah pacarku hanya untuk malam ini, aku akan merubah fikiranmu tentangnya..." Daniel tersenyum simpul.


Kanaya membulatkan matanya menatap aneh pada sosok Daniel. Menyilangkan lengannya, menutupi area dada, mengira Daniel memiliki niat buruk.


***


Deru mesin hairdryer terdengar, rambut panjang tertata rapi. Riasan tipis terkesan natural, kulit wajah Kanaya yang memang sudah halus terlihat putih merona.


Mini dress berwarna pich dengan aksesoris anting simpel yang terkesan modern, sebuah tas tangan terlihat berkelas, high heels simpel berwarna senada, dengan hiasan kristal. Wanita itu melangkah keluar dari ruang ganti.


Terlihat sosok Daniel menunggu sembari memainkan phonecellnya.


"Tuan, sudah selesai..." ucap stylish yang disewanya.

__ADS_1


Daniel menghebuskan napas kasar,"Lumayan," ucapnya.


"Saya undur diri dulu..." sang stylish panggilan, memohon pamit dari kediaman Daniel dan Jeny.


Kanaya menghebuskan napas kasar menatap kagum ke arah cermin, tidak percaya dengan penampilannya yang sekarang,"Pak Daniel apa magsudnya dengan menjadi pacar satu malam anda!? Saya bukan wanita murahan!!" tanyanya ketakutan, dengan bayangan akan menjadi mangsa atasannya.


"Kamu akan mengerti nanti..." ucapnya.


***


Mobil sport milik Daniel mulai berhenti di sebuah hotel berbintang, tepatnya acara reuni semua angkatan jurusan manajemen bisnis kampusnya. Kanaya turun dari mobil, Daniel menunduk, mengulurkan tangannya agar digandeng oleh wanita itu. Kanaya menggandeng tangan Daniel dengan ragu.


Berjalan tertunduk menuju area private party."Malam ini kamu adalah pacar seorang Daniel, angkatlah kepalamu!! Tunjukkan egomu!! Jangan membuat atasanmu ini malu!!" perintahnya.


Kanaya menghebuskan napas kasar, berhenti menunduk berjalan penuh percaya diri. Pintu besar mulai dibuka dua orang karyawan hotel.


Alunan musik klasik terdengar, suara harpa, piano, dan biola mengalun senada, membentuk harmoni yang indah. Makanan buffett kelas atas terhidang di atas meja panjang. Beberapa pelayan terlihat menawarkan minuman untuk para tamu.


Mata semua orang tertuju pada sosok Daniel yang masuk bersama seorang wanita. Hampir semua orang mulai membicarakan kecantikan wanita yang dibawa oleh pemuda yang kini bersetatus duda incaran para wanita muda itu.


Kanaya gugup dalam hatinya, menatap sekilas Coky, mantan kekasihnya yang berbicara akrab dengan beberapa wanita.


Daniel sedikit berbisik,"Kamu boleh mendekatinya, tapi diam jangan bicara. Aku akan mengambil minuman dulu," ucapnya meninggalkan Kanaya yang mulai berjalan mendekati tempat pemuda yang beberapa tahun dicintainya itu.


"Coky, kamu hebat dapat lulus dengan nilai tertinggi. Kuliah dari hasil jeri payah sendiri lagi..." ucap salah seorang wanita menatap kagum.


"Benar, sudah tampan, bermasa depan cerah," alumni lainnya berucap.


"Rahasianya aku adalah orang yang fokus, pulang kuliah aku langsung bekerja, tanpa memikirkan urusan wanita. Karena itu, aku belum pernah pacaran sampai sekarang..." ucap Coky penuh kebohongan.


"Coky!!" Salah seorang alumni yang terlihat cantik datang, mencium pipi Coky tanpa malu atau mendapatkan penolakan dari pemuda itu.


Tidak pernah pacaran!? Kamu yang mengatakan menyukai wanita baik-baik sepertiku, akan menikah denganku ketika sudah sukses. Aku membiayai kuliahmu dari semester satu, bahkan membantumu mengurus ibumu yang menderita alzheimer, sepulang kerja. Apa yang kurang!? Ternyata memang pacar yang hanya status, bahkan kamu dulu mungkin terlalu jijik menciumku... gumam Kanaya dalam hati mengurungkan niatnya menemui Coky.


Mata Coky menelisik, mengamati wanita yang awalnya datang bersama pengusaha ternama, alumni kampusnya. Wanita cantik, dengan tubuh indah tanpa celah, pakaian yang terlihat mahal, bagaikan putri dari keluarga kaya.


"Maaf, boleh berkenalan!?" tanyanya, menghampiri Kanaya, tidak mengenali sosok tunangannya.


Wanita itu terdiam tidak menjawab, mengepalkan tangannya penuh rasa kesal."Nona!?" ucap Coky memegang pundak Kanaya.


Namun, reaksi aneh didapatkan Coky, wanita itu menepis tangannya, berjalan berlalu meninggalkannya. Hingga dengan beraninya, Coky menarik tangan gadis itu.


Wanita cantik yang dibawa Daniel Ananta, pasti dari kalangan keluarga konglomerat. ucapnya dalam hati tidak melepaskan mangsanya begitu saja.


"Apa maumu!? Lepas!!" Kanaya membentak kesal.


Coky mengenyitkan keningnya mengetahui suara wanita yang bertahun-tahun menjadi ATM berjalannya,"Kanaya!?" ucapnya memastikan.


"Kita putus!!" Kanaya berucap tegas.


"Kamu hanya berpenampilan cantik di depan atasanmu saja!? Di hadapan pacarmu tidak pernah. Apa kamu sudah mulai menjadi salah satu wanita simpanan penggoda!? Aku akan menerimamu kembali, minta maaflah padaku..." ucap Coky penuh senyuman, tidak dapat membiarkan ATM berjalannya yang kini berwajah cantik lepas begitu saja. Walaupun, dirinya mengetahui Kanaya hanya wanita yang merantau dari desa, bukan berasal dari kalangan atas.


Daniel tertawa kecil, kemudian kembali berusaha berwajah serius, berjalan menghampiri pasangan yang tengah berdebat...


"Sayang, dia siapa?" tanyanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2