
Tirta menatap ke arah gedung pencakar langit, menghebuskan napas kasar. Dimejanya terlihat paket yang telah terbuka. Pria paruh baya itu, segera merogoh sakunya menghubungi seseorang.
Tidak lama panggilannya diangkat, terdengar suara pemuda dari seberang sana,"Ada apa mertua tidak becus?" tanyanya.
"Langsung saja, apa maumu!?" bentaknya segera setelah panggilannya diangkat.
"Aku adalah orang yang murah hati, jadi tidak akan memberikan paket ini pada media. Tapi dengan satu syarat adakan acara pertunangan Daniel dengan kekasih barunya, bertepatan dengan hari pengumuman ahli warisku. Aku akan mengatur semuanya..." ucapnya.
"Jangan berpikir untuk memaksa putraku dekat-dekat dengan Renata lagi," Tirta menghebuskan napas kasar.
"Siapa bilang Renata? Karena itu perhatikan putramu baik-baik. Orang yang aku maksud, seorang gadis dengan kacamata tebal, jika tidak salah namanya Kanaya, ini hanya tawaranku. Tapi jika tuan Tirta tidak bersedia, rekaman asli akan jatuh ke tangan wartawan, biarkan nama kita sama-sama jatuh dan tercemar..." Farel menyunggingkan senyuman di wajahnya. Dengan pertunangan Daniel, mungkin sorotan media pada putranya dan Jeny akan berkurang. Isu sepenuhnya akan teralih, menyoroti Daniel serta calon istri barunya.
Tirta memejamkan matanya sejenak, berusaha untuk tenang,"Begini, aku bersikeras dengan hubungan Jeny dan Daniel karena rasa terimakasihku pada almarhum Doni, telah mempersatukanku dengan Gina, jadi..." kata-kata Tirta terpotong.
"Jika ayah Doni tidak menyelamatkanku, sekarang aku tidak ada di dunia ini. Dulu, aku adalah anak yang diculik untuk diperdagangkan organnya. Jika masalah rasa terimakasih, Jeny menyuruh, aku mati sekarang pun, aku akan mati, karena sisa nyawaku hasil kebaikan ayahnya..." Farel mematikan telfonnya sepihak.
Tirta tertegun diam, sejenak kemudian berjalan menuju ruangan kerja putranya, membawa rekaman percakapan dan video yang dikirimkan Farel. Namun, hal aneh disaksikannya...
***
Beberapa jam sebelum kedatangan Tirta...
Seorang pemuda menatap gedung pencakar langit di hadapannya. Hari ini, hari pertamanya bekerja, lulusan terbaik di universitasnya? Tentu itulah Coky.
Dengan bantuan koneksi dari pacar barunya yang menjabat sebagai manager personalia, pemuda yang baru lulus S1 itu mendapatkan pekerjaan di perusahaan milik keluarga Ananta.
Daniel? Nama itu tidak ditakuti olehnya, karena satu hal yang akhirnya diketahui olehnya dari orang tua Kanaya yang tinggal di desa. Mantan kekasihnya tidak memiliki hubungan dengan pemuda itu.
Memanfaatkan? Tentu saja, dengan mantan yang mungkin masih menyukainya dapat dijadikan batu pijakan. Serta kekasihnya saat ini Meli, memiliki jabatan tinggi, walaupun wanita dengan bibir tebal, bentuk wajah besar, serta berat badan mencapai 96 kg, akan cukup untuk dapat membantunya, walaupun tanpa rasa suka samasekali.
Mesin fotocopy, sudah beberapa kali menggandakan berkas yang sama. Gadis yang menekankan tombolnya kini tengah melamun, mengingat malam dinginnya di halte bersama pemuda yang sudah memiliki istri.
Pemuda berwajah rupawan, mapan, perhatian, memberikan payung pada seorang nenek-nenek bisu dan cucunya. Wajah rupawan, hati yang baik, membuat Kanaya melupakan kelemahan Farel, 'Pelit'. Dengan tidak tahu malunya, memakan makanan sisa Jeny di restauran. Tapi semua itu seakan termaafkan oleh kesempurnaan rupa dan sifat tulusnya.
Pelakor? Kanaya menampik istilah itu, lagipula pengabdiannya pada Coky selama bertahun-tahun juga dibalas dengan pengkhianatan. Selain itu, pemuda sesempurna Farel kenapa harus mendapatkan seorang janda beranak satu yang sepertinya bersifat penindas? Dirinya yang masih singgel, perawan segelan dan berwatak lembut tentu lebih baik.
"Kanaya? Kenapa tidak berdandan? Saat pesta kamu sangat cantik..." Coky berucap hendak merayu mantan pacarnya.
Namun, otak Kanaya seperti sedang memutar ulang ingatan tentang sosok Farel. Pemuda rupawan dengan ribuan pesona, kecuali kepelitannya tentunya.
"Kamu tau, beberapa bulan ini, kamu terus ada dalam pikiranku. Kebersamaan kita, semuanya seakan tidak bisa aku lupakan," Coky menghebuskan napas kasar, mengeluarkan kata-kata rayuannya. Tanpa sedikitpun mendapatkan respon.
"Wajah cantikmu selalu menghiasi hari-hariku. Wajah yang aku rindukan, ingat tidak saat kamu membelikanku kue ulang tahun?" Coky melirik ke arah Kanaya yang masih terdiam, tertegun menatap jendela dalam lamunannya.
"Kita merayakannya bersama..." ucapnya menunduk penuh senyuman.
"Tampan dan baik," gumam Kanaya melamun tentang suami orang lain.
"Aku memang tampan dan baik, tidak perlu memuji begitu," Coky salah tingkah menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Namun pemuda itu baru menyadari kejanggalan, Kanaya melamun ke arah lain,"Kanaya? Kanaya!? Kanaya..." panggilnya.
Wanita yang tengah melamun itu menatap kesal,"Apa!?" ucapnya membentak, sejenak kemudian menatap tumpukan kertas foto copy-nya yang sudah mencapai 65 lembar.
"Sial!! Jadi banyak begini kan!? Ini semua salahmu!! Dasar mantan pembawa sial," umpatnya, mengambil hasil foto copy-annya.
"Hah, ke...kenapa aku!?" tanyanya heran.
Kanaya menatap tajam, kesal lamunannya di hentikan, kesal karena hasil foto copy-annya menjadi 65 lembar. Berjalan menelusuri lorong sambil terus mengumpat,"Kenapa aku bisa sesial ini pagi-pagi sudah bertemu mantan busuk!! Menyebalkan!! Tuhan sungguh jahat padaku!! Kenapa tidak bertemu dengan suami ibu Jeny saja? Agar pemandangannya lebih segar..." gumamnya kumat kamit bagaikan dukun yang tengah membaca mantra.
__ADS_1
"Jadi rayuan yang aku pelajari semalaman tidak didengar olehnya? Hanya karena melamun..."Coky diam tertegun.
***
Taukah kalian bagaimana taktik gadis berkacamata itu mencari informasi tentang Farel? Tentunya dari satu-satunya kalangan atas yang dikenalnya Daniel.
Tok...tok...tok...
Terdengar suara ketukan pintu,"Masuk!!" ucap seseorang di dalam sana.
"Pak Daniel, saya sudah memfotokopi berkasnya. Dan ini coffee latte, serta kue buatan saya..." ucapnya tersenyum menunduk penuh hormat.
"Terimakasih, omong ngomong beberapa minggu ini kamu kenapa jadi office girl?" tanyanya meraih segelas coffee latte, dengan lambang icon hijau itu.
Office girl? Jika tidak untuk menjadi orang kepercayaannya. Agar dapat menemui mantan istrinya, kemudian menemui suami mantan istrinya. Aku tidak akan seagresif ini...Tuan Daniel sangat mencintai mantan istrinya, sedangkan aku sangat mencintai suami mantan istrinya... jika aku memanfaatkannya, akan sangat bagus... gumam Kanaya dalam hatinya, tersenyum-senyum sendiri bagaikan orang gila.
Membayangkan, Jeny berpisah dengan Farel. Dan pada akhirnya kembali pada Daniel, sedangkan dirinya, berjalan di altar dengan Farel. Penuh senyuman, bersama pemuda rupawan yang pelit, mendapatkan selamat dari Daniel dan Jeny.
"Kanaya!?" Daniel membentak, membuyarkan lamunan gadis itu.
"Tidak apa-apa, saya hanya ingin menjadi bawahan yang baik. Pak Daniel tidak ada paket atau apapun yang ingin dikirim pada mantan istri anda? Saya siap mengirimnya," Kanaya tersenyum antusias.
Istri dari Farel, hanya janda beranak satu, yang terlihat suka memerintahnya. Sama sekali tidak cocok, dalam drama atau novel, seharusnya Jeny kembali pada suaminya. Dan Farel menjadi sadboy mendapatkan jodoh yang pantas sepertiku... Kanaya menghebuskan napas kasar, mengagungkan dirinya sendiri.
"Tidak ada, pergilah..." Daniel mulai membuka kotak kue buatan Kanaya, mencicipinya sesendok.
Kanaya yang mulai melangkah, tiba-tiba dipanggil,"Tunggu, kue buatanmu lumayan juga. Besok tolong buatkan lagi..." Daniel tersenyum, kembali memakan kuenya.
Gadis itu menelan ludahnya, Pantas saja pak Daniel mendapatkan predikat duda incaran. Tidak boleh!! Dia menyukai mantan istrinya, karena balas budi atas bantuannya...Aku akan mengembalikan nona Jeny padanya... ucapnya dalam hati menampik pesona Daniel, kemudian pergi sambil terus mengingat wajah Farel.
***
Suara jemari yang menari diatas keyboard terdengar. Kanaya tengah konsentrasi mengerjakan tugasnya, hingga waktu makan siang tiba.
"Sayang, kita makan bersama ya?" Coky tiba-tiba hadir di hadapannya.
"Tidak bisa," Kanaya mengenyitkan keningnya tersenyum, menatap manager personalia di belakang Coky.
"Coky? Kamu kenal dengannya?" tanya Meli, kekasih Coky saat ini.
"Lumayan kenal..." ucapnya merangkul pinggang wanita yang bersetatus pacarnya. Berjalan pergi, tidak ingin mereka terlalu lama saling mengenal.
"Selera Coky lumayan juga, gajah protektif..." ucap Kanaya tertawa kecil, mulai bangkit, merenggangkan otot-ototnya yang kaku.
Namun, siapa sangka, Meli menatap tidak suka pada kedekatan kekasihnya saat ini dengan wanita beda departemen dengannya itu. Sayang? Wajahnya tersenyum dalam bimbingan Coky berpura-pura tidak mendengar kata-kata yang keluar dari mulut kekasihnya, namun penuh rasa cemburu saat sedikit melirik pada Kanaya.
***
Tangga darurat yang terlihat sepi, seorang gadis berjalan menuruninya. Menghindari lift yang penuh dengan antrian.
Meli menyunggingkan senyuman di bibirnya. Satu satunya, orang yang dicintainya adalah Coky, terpengaruh mulut pemuda itu, yang berkata panggilan sayang yang sebelumnya didengarnya. Akibat Kanaya sebagai mantan pacar yang sering menggodanya, hingga walaupun putus panggilan sayang itu tetap berlaku.
Terjerat kemarahan sesaat, tangan Meli respon mendorongnya. Tidak menyadari seseorang tengah melintas dari lantai bawah.
Brak...
"Aduh sakit!!" Kanaya bangkit memegangi pinggangnya. Menyadari hal yang aneh, tubuhnya mendarat di atas tubuh seorang pemuda.
Darah mengalir dari pelipis sang pemuda,"Pak Daniel" ucapnya gelagapan, bangkit dari atas tubuhnya.
__ADS_1
"Aku selalu sial, tau begitu aku membiarkanmu mati bunuh diri!!" umpatnya, memegangi kepalanya yang berdarah terbentur pegangan tangga.
"Maaf, tadi ada yang mendorong..." Kata-kata Kanaya terhenti, tidak terlihat satu orangpun dari atas sana.
***
"Sakit!!" Daniel menjerit, Ken (asisten Daniel) mengobatinya perlahan.
"Maaf, tuan..." Ken tertunduk.
"Ini semua karenamu!! Bertanggung jawablah!!" Daniel membentak.
"Benar, tuan Daniel tidak pernah terluka sedikitpun," Ken berucap dengan nada datar.
"Mungkin ini karma, karena sering berbuat kasar pada mantan istrinya dulu," cibir Ken dengan suara kecil.
Daniel memandang sinis,"Itu karena aku belum sadar, kebusukan Renata dan perasaanku pada Jeny!!" bentaknya.
"Owh... berarti karena karma KDRT, bukan salah saya..." Kanaya menyunggingkan senyuman di bibirnya.
"Ken!! Keluar!!" bentak Daniel pada asistennya.
Pemuda itu, segera undur diri meninggalkan ruangan.
Segera setelahnya, Daniel mengenyitkan keningnya,"Apa tujuanmu berbuat baik? Kemudian hari ini hampir membunuhku?" tanyanya menatap tajam.
"Tolong percayalah aku tidak berusaha membunuh anda," Kanaya tertunduk memilih jemarinya.
"Lalu?" Daniel mengenyitkan keningnya meminta penjelasan. Menatap penuh intimidasi.
Kanaya menghebuskan napas kasar, berucap dengan cepat,"Aku menyukai suami nona Jeny...!!"
Farel lagi? Rasanya Daniel sudah muak mendengar nama itu."Apa kelebihannya?" tanyanya seakan menatap Kanaya bagaikan Jeny yang berada di hadapannya.
"Dia tampan, baik, pintar, sejuta pesona. Dapat membuat jantung wanita berdebar lebih cepat hanya dengan kebaikan hatinya," jawab Kanaya jujur, dengan mata berbinar-binar.
"Membuat jantung wanita berdebar-debar. Jika begitu aku juga bisa..." Daniel senyuman tersenyum mengerikian, tidak ingin kalah dari sosok Farel, hanya karena emosi sesaatnya saja.
Kanaya yang terduduk di sofa, dikunci pergerakannya oleh Daniel. Menyentuh dagu Kanaya agar menatapnya. Jantung gadis itu mulai berdebar lebih cepat.
"Jantung berdebar lebih cepat, ada beberapa kemungkinan, rasa haru? jatuh cinta? atau rasa takut. Bagaimana? Apa kamu merasa takut padaku?" tanyanya berbisik di depan wajah Kanaya dalam jarak dekat, seakan hembusan napasnya dapat membelai wajah gadis itu.
Takut? Ini bukan takut, gadis itu merasa ingin Daniel lebih mendekatinya. Cinta? Lalu apa perasaannya pada Farel? Apa hanya kagum? Mungkin begitulah pertanyaan-pertanyaan dalam diri Kanaya.
"A... aku tidak takut pada anda. Mungkin aku...aku... menyukai..." kata-kata gugup keluar dari Kanaya.
Brak...
Pintu terbuka tanpa permisi...
"Menyukai...tuan Tirta!!" Kanaya mendorong tubuh Daniel dengan cepat, menatap ke arah pintu.
"Kamu menyukai ayahku!?" Daniel membentak, salah mengartikan.
Tirta mengenyitkan keningnya, menatap dengan tatapan kosong.
Cintamu pada mantan istrimu, hanya seperti daun yang berguguran. Sekarang malah cemburu menuduh pacarmu menyukai ayahmu... Dasar plin plan...
Bersambung
__ADS_1