
......Merindukanmu, itu yang aku rasakan, berjalan menelusuri bekas langkah kakimu. Menatap jejak-jejak kebersamaan kita, melihatmu tersenyum, hanya dengan kebahagiaan kecil. Andai saja kaki ini dapat mengejar langkahmu lebih cepat. Andai saja kaki ini dapat melangkah meninggalkanmu lebih lambat. Mungkin tidak akan terasa sesakit ini, mungkin aku dapat melangkah bersamamu seperti dulu......
Author...
"Ada pertanyaan lagi?" tanya seorang pria penuh senyuman di usianya tidak muda lagi pada para mahasiswa yang diberinya motivasi, sebagai permintaan kampus tempatnya dulu belajar.
Pria itu hari ini menghadiri seminar, menjadi motivator, tidak mengetahui hal yang terjadi di kantor miliknya. Setelah kata sambutan terakhir, para mahasiswa bertepuk tangan, keluar dari aula.
Jony terdiam terpaku menatap banyak perubahan di kampus tempatnya dulu menimba ilmu.
"Jony..." seseorang menepuk pundaknya, menghentikan lamunannya.
"Dika," ucapnya penuh senyuman pada seorang pria yang seusia dengannya.
"Pengusaha sukses..." Dika memuji.
"Dasar, rektor," Jony tertawa kecil.
Dika menghebuskan napas kasar,"Ayo keluar," ucapnya, memimpin jalan mereka keluar dari aula.
"Lama tidak bertemu, anakmu usianya sekarang berapa!?" Jony menyusul langkah Dika, berjalan dengan sahabatnya yang juga merupakan rektor sekaligus alumni kampus.
"10 tahun, dia masih sekolah dasar." Dika tersenyum simpul menghebuskan napas kasar.
"Bagaimana kabar Rani?" tanya Jony pada sahabat yang sudah belasan tahun tidak ditemuinya itu.
"Dia baik-baik saja..." jawabnya.
Seorang anak terlihat seperti berdarah campuran barat. Berdiri menyender, di lorong yang hendak mereka lewati."Ayah!!" ucap sang anak berambut pirang, memeluk Dika.
"Dody, kenapa kamu disini?" tanyanya, mengacak-acak rambut putranya.
"Ibu memintaku mengantarkan berkas ayah yang ayah tinggalkan, ini..." jawab Dody memberikan map berwarna biru.
"Pak Paijo menunggu di parkiran, aku harus berangkat sekolah. Hari ini aku dapat jadwal sekolah siang. Dody pulang dulu... ayah...!!" ucap sang anak, berlari pergi sambil melempar sebotol juice buah kemasan.
"Dapat..." Dika tersenyum penuh tawa, menangkap botol yang dilemparkan putranya.
__ADS_1
"Ayah hebat..." Dody berlari pergi, masih mengenakan seragam sekolahnya, menuju tempat parkir.
"Kenapa putramu!?" Jony mengenyitkan keningnya tidak mengerti, menatap penampilan putra sahabatnya yang terlihat berdarah campuran asing. Sedangkan Dika dan istrinya, tidak berasal dari darah campuran.
"Kami mengadopsinya, dokter mengatakan aku kesulitan memiliki keturunan, karena kondisi tubuhku yang lemah dari kecil," Dika menghebuskan napas kasar sembari tersenyum.
"Awalnya aku merasa sebagai pria tidak berguna, yang hanya menyusahkan Rita saja dengan kondisi kesehatanku, bahkan pernah memintanya meninggalkanku. Kamu tau? Dia menggenggam erat tanganku. Katanya, aku orang terbodoh di dunia ini, menginginkannya menyesal jika melihat dari jauh kondisi kesehatanku memburuk, mungkin tanpaku dia lebih menginginkan mati...Rita mengucapkannya dengan serius padaku,"Dika tertawa kecil.
"Beberapa hari kemudian dia membawa bayi mungil dari panti asuhan, berkata bayi itu putraku. Rawatlah dan besarkan, jadikan dia semangat hidupku untuk sembuh, mulut Rita terus mengoceh hingga sekarang..." lanjutnya menghebuskan napas, tersenyum lembut.
"Penyakitmu apa sudah sembuh?" Jony ikut menghebuskan napas kasar.
"Kanker dapat tumbuh kembali pasca operasi, tapi ada mereka aku cukup bahagia... Hidupku terasa lebih bersemangat, aku tidak akan menyerah. Tuhan tidak akan sejahat itu kan mengambil nyawaku yang sedang bahagia?" candaannya berjalan pergi meninggalkan Jony, yang berusaha tersenyum.
***
Langkah kaki Jony berjalan menelusuri kampus, terhenti di sebuah ruangan, waktu bagaikan terulang. Fatamorgana terlihat, kondisi kampus, kembali seperti dulu, bahkan retakan lantai terlihat olehnya. Ana menunggunya di depan ruangan, membawa kotak bekal.
Jony tersenyum simpul, sejenak kemudian gadis muda itu memanggil.
'Aku membawa makanan...'Ana membimbing fatamorgana Jony muda makan di bangku, panjang yang kini sudah tidak ada.
'Aku tidak lapar!!' Jony mengalihkan pandangannya, menatap tahu, tempe tanpa bumbu sedikitpun.
'Ayolah, ini lebih enak dari ayam goreng...' Ana menyodorkan sendoknya. Jony muda sedikit melirik, memakan suapan Ana penuh senyuman.'Enak, lebih enak dari ayam goreng...' ucapnya penuh kebohongan.
'Benarkan?' Ana menggunakan sendok yang sama menyuapi dirinya sendiri, penuh senyuman. Kembali menyuapi Jony muda bergantian.
Fatamorgana itu menghilang, Jony kembali berjalan ke tempat lain. Menelusuri lorong, terlihat lapangan basket yang kini telah menjadi kolam ikan. Namun, fatamorgana masa lalunya kembali.
'Ana!! Aku menyukaimu!!' teriak seorang pemuda yang lebih kaya, tampan dan populer darinya, membawakan mawar merah pada Ana ditengah kerumunan mahasiswa di lapangan basket.
Mungkin jika dirinya yang sekarang disana, dia akan meminta Ana untuk menerimanya. Pemuda yang mungkin dapat menjaga Ana lebih baik darinya.
'Maaf, aku menyukai orang lain...' jawab gadis itu, menarik tangan Jony muda yang ikut menyaksikannya keluar dari kerumunan. Jony muda terlihat tersenyum, menatap penolakan wanita yang dicintainya.
"Jangan memilihnya, dasar Ana bodoh... pilihlah pria kaya yang menyayangimu..." racau Jony dewasa bersamaan dengan fatamorgana yang kembali menghilang, pria yang sudah tidak muda lagi itu tersenyum, dengan air mata tertahan.
__ADS_1
Jony melanjutkan langkahnya, mengikuti arah yang diingatnya saat Ana menariknya dari kerumunan 20 tahun yang lalu.
'Kenapa kamu menolaknya? Dia itu anak pemilik yayasan,' Jony menyilangkan lengannya tidak mengerti.
'Aku menyukaimu!! Bukan sebagai sahabat...' jawabnya.
Jony muda saat itu memang kesal, namun merasa rendah diri, hingga membiarkan seorang pemuda menyatakan cinta gadis yang disukainya. Apalagi status mereka yang hanya sebagai sahabat. Namun, pernyataan cinta yang diucapkan Ana membuatnya merasakan bagaikan memiliki dunia.
'Aku bersabar menunggumu menjadi lebih sukses, kita akan berjuang bersama-sama, jika gagal juga tidak apa-apa, aku akan tetap bersamamu. Jadi, apa kamu mau menjadi pacarku?' tanya Ana ragu, tangannya gemetar takut, jika perasaannya akan ditolak.
'Katakan lagi!! Kamu mencintaiku!!' Jony muda berucap antusias.
'Aku mencintai...' Kata-kata Ana terhenti, pemuda itu memegang pinggangnya memeluk, kemudian mengangkat tubuhnya, memutar-mutarnya, bersama dirinya.
'Jony!! Turunkan aku!!' teriak Ana terlihat ketakutan.
'Tidak akan!! Kamu adalah pacarku, sekarang!!' Jony muda tertawa bahagia, beban hidup tidak terasa baginya.
'Jony!!' teriak Ana nyaring, masih ketakutan.
Fatamorgana itu kembali menghilang, ingin rasanya Jony tinggal di masa lalu. Tertawa lepas dan bahagia. Menjadi mahasiswa miskin, memakai kaos yang jika sobek di jahit oleh tangan mungil kekasihnya.
Apa gunanya setelah jas seharga puluhan juta yang dikenakannya sekarang? Semuanya hanya kain buatan pabrik. Bersabar menunggu hingga sukses? Setelah aku sukses, kamu semakin jarang tersenyum, tertekan dengan penyakitmu, dan keinginanku yang berkali-kali membawamu ke dokter untuk segera memiliki keturunan. Aku tidak pernah mendukung kesembuhanmu, hanya membuatmu semakin tertekan.
Fatamorgana Ana muda terlihat tersenyum di hadapannya, kemudian berjalan berlalu menelusuri lorong kampus, menghilang perlahan.
Jony menitikkan air matanya, tertegun diam.
"Jony..." suara seseorang kembali mengejutkannya. Pria itu segera menyeka air matanya.
"Aku harus pulang, istriku sudah mengomel..." Dika berucap penuh senyuman.
"Iya, pulang saja duluan..." Jony memaksakan dirinya tersenyum. Dika melangkah pergi, menuju tempat parkir, kesehatannya nampak lebih baik dari pada ketika kuliah dulu.
Andai aku memiliki hati dan keberanian seperti istri Dika. Mungkin Ana akan hidup, tersenyum padaku... maaf...
Bersambung
__ADS_1