
ππππSesuai janji cerita tentang Tomy sudah rilisππππ "Extraordinary Husband"ππππ
Nah itu saja pemberitahuan hari ini,ππππ Happy Reading ππππ
Hari sudah mulai gelap, Kinara menghela napas kasar. Menatap Yogie yang masih enggan juga untuk pulang. Bermain bersama Ega? Namun, anak itu mulai merajuk pada ibunya.
"Ibu cepat pulang!! Jemput ayah!! Katanya nanti ayah akan datang kemari..." ucapnya meletakkan stik PS-nya, menarik jemari tangan Kinara.
Entah kenapa Ega saat ini benar-benar rewel. Sesuatu yang jarang terjadi, ingin bertemu Fahri, bagaimanapun bujukan Yogie untuk menahannya. Mainan? Coklat? Ice cream? Semua sudah dibelikannya, dengan dengan bantuan supirnya.
"Ega main sebentar lagi dengan paman ya?" ajak Yogie mengambil mainan lainnya.
Ega menatap mata ibunya, "Ibu berbohong, katanya ayah akan datang..." ucapnya dengan mata berkaca-kaca, ekspresi wajahnya berubah, bagaikan akan menangis."Aku ingin tidur dengan ayah..."
"Pulanglah, Fahri pasti mencarimu. Bawalah Ega menginap, dia mungkin sudah mulai dekat dengan Fahri..." Candra tersenyum, tidak tega menatap cucunya.
Yogie mengepalkan tangannya, berusaha tersenyum. Anak dan istri yang harusnya menjadi miliknya, namun mencemaskan pria lain. Pria yang bersetatus suami Kinara, sekaligus ayah dari Ega.
Andai saja pria itu tidak ada, mungkin Kinara belum menikah saat ini. Dapat menerimanya kembali dengan mudah. Memiliki Ega sebagai putra yang dimanjakannya.
"Iya pulanglah, aku akan mengantar kalian kembali," ucap Yogie tersenyum, bagaikan tidak memiliki beban atau penyesalan.
Kinara mulai bangkit, masuk ke dalam kamar, mengambil keperluan putranya yang akan menginap di rumahnya.
Candra menghela napas kasar,"Kamu dapat bertemu dengan Ega. Tapi jangan mencoba, merusak rumah tangga Kinara. Saya harap kamu paham..."
Yogie hanya tersenyum, "Aku mengerti, Kinara dulu terluka karenaku. Aku kemari hanya ingin minta maaf, dan bertemu dengan Ega..." jawabnya.
Candra menatap sinis,"Baguslah kalau begitu,"
***
Udara dingin terasa di dalam mobil yang mulai melaju. Sesekali Yogie melirik ke arah Kinara dan putra mereka. Bermain penuh senyuman, suasana yang hangat. Suasana yang ingin dipindahkannya ke dalam rumah besarnya yang kosong.
Namun, itu hanya barang dalam etalase toko. Sesuatu yang sudah dimiliki orang lain. Mobilnya terhenti di sebuah rumah yang tidak begitu besar baginya. Walaupun rumah Fahri termasuk rumah terbesar di kampung itu.
"Da...da... paman, terimakasih sudah mengantar Ega pulang," ucap anak itu sopan, dengan senyumannya yang menunjukkan beberapa giginya yang sudah mulai tanggal. Anak yang terlihat manis.
Kinara hanya terdiam, tidak tersenyum sama sekali, senyuman yang sebenarnya dirindukan Yogie setelah menatap wajah cantik itu kembali.
"Aku pamit," ucapnya, memasuki mobil.
Kinara mulai menggendong putranya, yang melambaikan tangan.
__ADS_1
Mobil mulai melaju, sesekali Yogie melirik ke arah kaca spion, sedikit menitikkan air matanya.
"Tuan?" sang supir melirik tuannya dari kaca spion bagian dalam.
"Wanita tadi seharusnya menjadi istriku. Dan anaknya adalah anak kandungku..." gumamnya.
Sang supir menghela napas kasar, tidak dapat berkata-kata. Tidak tega? Benar dirinya tidak tega menatap majikannya. Yang kini tengah mengurus surat perceraian, memiliki istri seorang model terkenal, namun bagaikan tidak memiliki istri.
Anak di luar nikah? Apa gunanya? Ibu dari anak itu kini telah memiliki suami.
"Aku akan menjadikannya nyonya rumah yang baru. Ingat, dia juga majikanmu," ucap Yogie menatap ke arah luar jendela. Menuju ke penginapan terdekat, Weed Villas and Spa? Tentu saja, lebih mudah mendekati Candra dan Sumi jika menginap disana.
***
Kinara mulai membuka gerbang besi depan rumahnya. Menatap salah satu mobil Fahri yang belum ada di garasi.
"Bik, Fahri belum pulang?" tanyanya, pada sang ART.
"Belum," jawab ART menunduk, menjawab singkat, membawa beberapa kardus, membersihkan gudang rumah.
Kinara hanya terdiam sejenak, tempat penggilingan padi dan gudang sudah tutup sedari tadi. Bayangan tentang Fahri yang tidak menoleh padanya saat memberikan ijin terlintas.
Wajah Ega dan Yogie memang mirip, tapi tidak mungkin Fahri mengetahuinya bukan?
Pesan yang ganjil, Fahri yang mengatakan pada sang suplayer dari 4 jam lalu sedang dalam perjalanan, belum juga sampai.
"Ibu, ayah dimana?" Ega semakin merajuk, tidak menemukan keberadaan ayahnya.
"Kita cari ayah ya?" Kinara mengelus pelan kepala putranya. Dijawab dengan anggukan oleh Ega.
Motor matic mulai menyala, putranya duduk di bagian depan. Jalan menuju gudang sang suplayer ditelusurinya.
Fahri tidak tau... Fahri tidak tau ...Dia tidak akan marah dan meninggalkanku... gunamnya penuh kecemasan.
Jalan ditelusurinya, hingga sampai di dekat jembatan gantung. Mobil pickup suaminya terlihat, Kinara mulai menepikan motornya. Mengintip ke arah kursi pengemudi mobil. Namun tidak seorangpun disana.
"Fahri..." gunamnya tertegun, sembari berjongkok, menangis sesenggukan, tidak menemukan keberadaan suaminya. Satu-satunya orang yang tidak menghujatnya apapun kesalahannya.
"Ibu, dimana ayah..." tanya sang anak, menepuk pundak Kinara pelan.
Perut anak itu berbunyi, mencium aroma yang membuatnya semakin lapar. Meninggalkan ibunya yang menangis sesenggukan.
Anak itu menoleh pada area bawah jembatan yang landai. Api unggun kecil terlihat disana, lengkap dengan ayahnya yang menangis sesenggukan. Membakar ubi jalar, menggunakan dedaunan kering.
"Ibu, ayah disana..." Ega menarik baju Kinara. Menunjuk ke arah bawah jembatan.
__ADS_1
"Jangan bicara yang bukan-bukan!! Ayahmu yang kaku dan tahan banting itu tidak mungkin mati...." Kinara masih menunduk sembari menangis.
"Ibu, aku lapar, ayah sedang bakar ubi. Aku boleh minta?" tanyanya meminta ijin pada Kinara.
Pandangan Kinara mulai teralih pada putranya tidak mengerti,"Bakar ubi?" tanyanya.
***
Pemandangan menjemukan terlihat, setelah wanita itu menuruni sisi jembatan. Seorang pemuda menangis sesenggukan, dengan tumpukan daun kering yang dibakarnya. Ranting menjadi alat untuk mengambil sekaligus memeriksa. Ubi jalar yang dibakarnya sudah matang atau belum.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Kinara menatap sosok suaminya.
"Kamu tidak jadi pergi dengannya (Yogie)?" Fahri yang untuk pertama kalinya ketahuan menangis di hadapan istrinya, menyeka air matanya. Menatap wajah wanita yang disangkanya telah kembali ke kota bersama putranya.
Dengan cepat pasangan ibu dan anak itu berlari mendekat. Kinara memeluk erat suaminya,"Kamu tau?" tanyanya.
Fahri hanya mengangguk mengiyakan. Kinara memeluknya semakin erat,"Maaf, sudah membohongimu, sudah memanfaatkanmu. Aku sudah bilang lebih menyenangkan menjadi istri juragan beras. Apa kamu masih mau memaafkanku? Menerimaku dan Ega," tanyanya. Fahri kembali mengangguk, membalas pelukan istrinya, air matanya mengalir tidak ingin kehilangan keluarga yang baru dibangunnya.
Bukannya pasangan ibu dan anak itu berlari bersama. Lalu dimana sang anak.
"Ayah, apa ubi bakarnya sudah matang?" tanyanya, mencolek-colek ubi menggunakan ranting.
Fahri melepaskan pelukannya, tersenyum lembut, mulai duduk memangku Ega."Sebentar lagi, sabarlah..." ucapnya. Kinara tersenyum ikut duduk membakar ubi.
Sampai akhirnya satu ubi bakar mulai matang,"Enak!! Tapi panas..." keluh Ega dipangkuan ayahnya, mulai memakan ubi yang matang perlahan. Orang tuanya hanya hanya tertawa, menertawakan anaknya yang makan sembari meniup-niup ubi jalar hangat.
Beberapa jam berlalu api masih sedikit menyala, sang anak sudah tertidur sedari tadi. Dengan kepalanya berada di pangkuan sang ayah.
"Apa saja yang kamu ketahui?" tanya Kinara penasaran menatap suaminya yang tertunduk.
"Payung kuning, aku yang menaruhnya agar kamu tidak kebasahan saat pulang. Kalian pulang bersama menggunakannya," ucapnya masih tersenyum, membelai pelan rambut Ega.
Kinara menatap intens pada suaminya, yang masih tersenyum tanpa menatapnya. Ternyata dari dulu memang hanya Fahri yang benar-benar peduli padanya.
"Setiap kali memintaku untuk pergi dengan Kemal, kalian bertemu. Kemudian di tempat penyimpanan barang sekolah kalian..." kata-katanya terhenti. Istrinya mencium bibirnya perlahan, tidak lama. Namun bagaikan gerakan bibir yang menenangkan hatinya.
"Setelah saat itu kamu masih bertahan menyukaiku? Dasar hati batu..." wanita itu tersenyum, tertawa kecil, mengecup bibir suaminya sekali lagi, hanya kecupan singkat.
"Kita adalah keluarga, aku tidak akan pernah melepaskan hati batu sepertimu," lanjutnya tersenyum tulus.
Kinara kembali menatap ke arah api unggun,"Kenapa tidak langsung pulang?" tanyanya.
"Ban mobil kempes. Disini jarang ada pemukiman, bengkel baru bisa datang besok pagi. Tidak ada yang menjaga mobil. Selain itu, aku tidak berani pulang. Tidak ingin melihatmu pergi lagi..." jawabnya jujur, sedikit tersenyum. Lesung pipinya terlihat lagi.
"Menggemaskan, tunggu saat kita pulang. Aku akan menghajarmu di tempat tidur," ucapnya mencolek-colek pipi suaminya gemas.
__ADS_1