
Jemari tangannya terulur namun, hal yang sama terjadi lagi. Bahkan tidak dapat menyentuh tubuhnya sendiri. Farel duduk di lantai punggungnya menyender pada tempat tidur, menonggakkan kepalanya menatap sinar matahari yang menembus celah-celah tirai ruang rawatnya. "Apa Kamu menginginkanku pergi atau tinggal?" tanyanya pada sinar cahaya matahari yang dilihatnya.
Hari ini juga sama, wanita cantik dengan perut yang membuncit itu juga datang. Tidak ada yang dapat dilakukannya, hanya berbicara pada tubuh yang tertidur, membersihkan tubuh yang terbaring perlahan. Farel hanya dapat berusaha tersenyum tidak tega menatap istrinya.
Seorang nona muda, kini melayani suami yang bahkan tidak diketahui akan hidup atau mati. Suami yang tidak dapat menjaganya.
"Ren, cepatlah sadar, aku ingin makan bersamamu lagi..." ucapnya tersenyum, mengambil paperbag miliknya. Perlahan wanita itu bangkit, berjalan menuju cafetaria rumah sakit.
Sebuah meja dengan empat kursi yang kosong, Jeny mulai duduk seorang diri membuka kotak bekalnya. Tidak menyadari Farel duduk di kursi berhadapan dengannya, menatapnya masih berusaha untuk tersenyum. "Makanlah yang banyak, agar anak kita sehat..." kata-kata yang tidak dapat didengar oleh Jeny.
Isakan kecil terdengar, wanita di hadapannya mulai menitikkan air mata dengan mulut penuh. Jemari Jeny menyekanya dengan cepat, tidak ingin ada yang melihatnya menangis. Kembali mengunyah makanannya, berpura-pura tegar.
"Maaf..." ucapnya lirih, tidak dapat menyentuh wanita di hadapannya. "Apa seharusnya aku pergi saja? Jika pergi, kamu perlahan akan melupakanku, bangkit, menemukan kebahagiaan yang baru..." tanyanya, tanpa mendapatkan jawaban.
Dengan merelakan Jeny mungkin lebih baik, tidak membiarkan istrinya kesulitan menunggunya lagi, jemarinya perlahan kembali berusaha menyentuh pipi istrinya. Namun, tetap tidak bisa.
"Apa gunanya aku sebagai seorang suami?" keluhnya, kembali hanya terdiam menatap istrinya yang makan sembari sesekali menyeka air mata.
"Apa kamu dapat menjaga dirimu dengan baik?" tanyanya kembali, tidak mendapat tanggapan sedikitpun dari wanita dihadapannya. Setetes air matanya mengalir, nada suaranya bergetar,"Temukan cinta yang lebih baik dari pada pelayanmu ini. Nona harus menemukan pangeran seperti drama yang sering kita mainkan ketika kecil. Aku hanyalah pelayan yang bermimpi menjadi pangeran... Nona muda..." ucapnya lirih.
Jika dipanggil-Nya mungkin akan lebih mudah, tidak perlu melihat istrinya kelelahan, terus menjaganya penuh harap. Jeny hanya akan menangis sekali kemudian dapat bangkit.
Berharap dapat terbangun kembali? Farel selalu berharap, namun seperti harapan yang kosong. Hatinya perlahan menyerah, tidak tega melihat istrinya yang terus-menerus mengurusnya dalam keadaan hamil.
Jeny menutup kotak bekalnya, menghela napas kasar, berusaha tidak menangis di hadapan tubuh suaminya yang masih terbaring. Air mata diseka olehnya, bangkit dari kursi tempatnya duduk. Meninggalkan Farel yang tidak dapat dilihatnya."Kamu melakukannya lagi, berpura-pura tegar. Tidak ingin menangis di hadapanku..." ucapnya, menatap kursi kosong tempat Jeny duduk sebelumnya.
***
Mulut wanita itu tidak hentinya bicara, menggenggam tangan suaminya penuh senyuman, bagaikan tidak memiliki beban sama sekali.
Terkadang mengarahkan jemari tangan suaminya untuk menyentuh perutnya. Merasakan tendangan halus dari janin kecil yang mereka cintai."Dia menendang lagi..." ucapnya dengan wajah ceria.
Ceria? Apa dalam hatinya juga sama? Wajah putih pucat yang dicintainya, satu-satunya orang bodoh yang melakukan apapun untuknya. "Segeralah bangun, Rafa merindukanmu..." ucapnya.
Hingga seorang dokter muda masuk memeriksa keadaan pasiennya.
"Bagaimana?" tanya Jeny penuh harap.
Sang dokter menggeleng-gelengkan kepalanya, pertanda belum juga ada perkembangan. "Ini, coklat untukmu, dapat sedikit menenangkan fikiran," sang dokter merogoh sakunya memberikan sebungkus coklat pada Jeny.
"Terimakasih..." Jeny menghebuskan napas kasar, masih setia tersenyum.
"Apa dia suamimu?" tanyanya.
"Bukan hanya suami, dia adalah saudara laki-laki, sahabat, pelayan, kekasih, serta keluarga yang paling dekat denganku..." jawabnya menatap wajah rupawan yang masih terhubung peralatan medis.
"Sudah tiga bulan kita bertemu, tapi tidak saling mengenal. Perkenalkan, namaku Sean..." ucap sang pemuda mengulurkan tangannya.
"Jeny," jawaban singkat, tidak membalas uluran tangan Sean. Kedua tangannya tetap, menggenggam erat jemari suaminya.
"Jeny, semoga kita dapat berteman..." ucapnya penuh senyuman, menurunkan tangannya canggung."Anakmu ada berapa?" tanyanya kembali.
Jeny tersenyum mengelus perutnya yang membuncit,"Satu, ini anak kami yang kedua,"
Sean nampak ragu, perlahan mengeluarkan sapu tangan dari sakunya,"Jangan terlalu sering menagis..." menyodorkan sapu tangan, mengetahui air mata Jeny yang mengalir saat di cafetaria.
"Terimakasih..." Jeny meraihnya.
Hup...peeet...
Semua ingus yang tertahan dikeluarkannya, kemudian mengembalikan kepada sang dokter.
"Virus..." ucap Sean dengan suara kecil tidak dapat didengarkan oleh Jeny. Mengambil sapu tangannya dengan dua jari, kemudian melempar dalam tempat sampah.
"Jam praktekku hanya sampai pukul lima. Mau aku antar pulang?" tanyanya.
"Tidak nanti dia cemburu..." Jeny tersenyum simpul, mengingat tingkah menggemaskan suaminya jika merajuk.
"Aku harus menemui pasien lain, aku pergi dulu," ucapnya undur diri, sesekali melirik kearah Jeny yang tidak memperhatikannya.
Pemuda itu berjalan cepat menelusuri lorong, sesekali tersenyum.
__ADS_1
"Sean..." panggil seorang pemuda yang juga berpakaian dokter.
"Aku berkenalan dengannya!! Aku memberanikan diri seperti saranmu!!" ucap Sean antusias.
"Jadi nama wanita yang kamu sukai siapa?" tanyanya penasaran.
"Jeny..." Sean tertunduk, tersenyum sendiri.
"Jeny? Wanita hamil yang menjaga suaminya di ruangan VVIP?" tanyanya memastikan, dijawab dengan anggukan oleh Sean.
"Wah... kalau aku menjadi suaminya yang koma. Tidak tau bagaimana sakitnya perasaanku, melihat istriku berkenalan dengan pria lain. Sementara aku berjuang di situasi hidup dan mati..." ucap William (sahabat Sean).
Plak...
Satu pukulan pelan mendarat di bahu William, "Kan kamu yang menyarankanku!!" bentaknya.
"Tapi tidak dengan wanita hamil juga. Memang kamu mau menjadi ayah tiri?" tanya WiIliam.
"Bukan hanya satu, jika menikah aku akan memiliki dua anak tiri..." jawabnya, dengan khayalan tingkat tinggi.
"Suaminya masih hidup, dia juga kelihatannya sangat mencintai suaminya..." Wiliam menghela napas kasar.
Sean menghentikan langkahnya,"Itulah, setiap kali gerakan refleks terjadi, matanya selalu penuh harap menginginkan kesadaran suaminya. Aku tidak tega mengatakannya, karena itu aku hanya mengatakan pada pihak keluarga yang lainnya..."
"Mengatakan apa?" tanya Wiliam penasaran, menghentikan langkahnya.
"Semakin lama berada dalam kondisi koma, akan semakin mengancam nyawanya, walau dapat pula terjadi koma menahun. Bagaimana kemauannya untuk tetap bertahan hidup, mungkin penentu segalanya sekarang," jawabnya melanjutkan langkahnya.
***
Jeny tetap tersenyum, berbicara lebih banyak lagi. Hingga hari semakin sore, wanita itu menepuk-nepuk lututnya, berjalan perlahan bagaikan kelelahan
Farel menghela napasnya, "Apa jika mencintai, harus bersedia melepaskan?" tanyanya tertunduk, menatap istrinya yang semakin kesulitan bergerak.
Menjenguk dirinya, mengurus Rafa, semua dilakukan seorang wanita hamil. Istrinya yang terlihat kelelahan, wanita yang seharusnya dibahagiakannya.
Hujan turun dengan deras, mobil yang terparkir di tempat parkir bawah tanah tiba-tiba mogok, sang supir tengah menghubungi mobil derek. Jeny terdiam, sesekali mengelus perutnya dengan wajah yang pucat, menatap hujan yang turun.
Tubuhnya tiba-tiba lemas, "Nyonya..." ucap sang supir, memapah Jeny, menjaga keseimbangannya.
***
Selang infus terpasang, Jeny terbaring lemas tidak sadarkan diri akibat kelelahan.
"Bagaimana kondisinya?" Ayana bertanya penuh kecemasan.
"Dia kelelahan dan dehidrasi, tolong katakan padanya untuk lebih banyak beristirahat. Jika tidak, lambat laun janinnya dapat terancam..." ucap dokter spesialis kandungan, melirik ke arah Sean seperti menunggu dalam kecemasannya.
Tidak ada yang menyadari keberadaan seorang pemuda disana. Terdiam dalam keputusasaan dan ketidakberdayaannya.
Tangannya mengepal penuh penyesalan, namun tetap berusaha tersenyum, "Jeny, maaf... Jika ini yang terbaik, tolong relakan aku..." ucapnya tidak ingin istrinya lebih menderita lagi, mengecup kening wanita satu-satunya yang dicintainya.
Air mata wanita yang tengah tidak sadarkan diri itu menetes, bagaikan dapat mendengar dan merasakan sentuhan suaminya.
Farel perlahan berjalan keluar, menelusuri lorong, mencari sesuatu, tepatnya seseorang.
***
"Michael, meninggal akibat..." ucap sang pria berjas.
"Aku tau..." pria bernama Michael itu bangkit, menyeka air matanya, menatap tubuhnya yang mendingin. Memasuki pintu tanpa melawan sedikitpun, perlahan pintu di samping pria berjas menghilang.
Langkahnya yang menelusuri lorong, hendak menjalankan tugasnya kembali, terhenti.
Seorang pemuda berdiri menyender di dinding, bagaikan telah menunggunya. "Apa jika aku melewati pintu itu, aku akan mati?" tanyanya.
"Kenapa?" sang pria berjas mengenyitkan keningnya, menatap wajah tertunduk yang semakin murung saja.
***
Hujan deras menerpa tubuh mereka, yang bagaikan tidak dapat basah olehnya. Duduk di bangku halaman rumah sakit.
__ADS_1
"Kamu menyerah?" tanyanya.
"Iya..." Farel berusaha tetap tersenyum,"Istri dan anakku akan semakin menderita karenaku..." ucapnya.
"Berada diantara hidup dan mati ternyata sulit juga ya?" sang pria berjas menghela napasnya, "Kehidupan tergantung tekad dan kehendak Tuhan... tapi jika sudah tidak memiliki tekad aku akan membantumu,"
Tangan Farel menadah air hujan, yang menembus kulitnya,"Setidaknya, setelah hujan deras yang turun. Tunas-tunas kecil akan tumbuh, bunga akan bermekaran. Dia dapat kembali tersenyum,"
***
Udara terasa hangat, hari mulai siang, Farel masih berjalan menatap pepohonan di area rumah sakit. Di ujung jalan, sang pria berjas telah menunggunya. Serpihan api perlahan membentuk pintu putih yang berdiri kokoh di sampingnya.
"Tidak ingin menemui istrimu dulu?" tanyanya menatap wajah Farel.
"Tidak, akan terasa lebih menyakitkan jika melihatnya terpuruk..." ucapnya.
Lima langkah di hadapan pintu, Farel berusaha tetap tersenyum. Sekeras apapun dirinya mencoba, tidak pernah dapat membuatnya kembali dalam tubuh itu, mungkin inilah jalan yang dapat ditempuhnya. Menginginkan Jeny dan kedua malaikat kecilnya menjalani kehidupan yang baik, melupakannya perlahan, sebagai luka di hati yang menyakitkan.
Ruang rawat Farel...
Terjadi kepanikan, "Dokter, pasien mengalami kejang..." ucap seorang perawat.
Sean yang baru tiba, memberikan suntikan pada infus, namun tubuh itu seakan menolaknya. Kejang tetap terjadi, detak jantungnya terpantau monitor semakin tidak stabil.
Nona, aku berharap dapat menghilangkan kesedihanmu seperti hujan yang turun bersamaan dengan sinar matahari. Setidaknya, pepohonan akan terlihat tersenyum karenanya. Tunas-tunas kecil akan hidup dengan baik, walaupun hanya dapat merasakan kehadiranku yang hanya sekejap, memberikan harapan yang tidak pernah ada...
Jeny yang masih lemas di ruang rawatnya, mencabut paksa jarum infusnya. Berusaha berjalan dengan tubuhnya yang lemah, mengetahui keadaan suaminya dari perawat yang ada di ruangannya. Air matanya mengalir tidak terkendali, berusaha mencapai ruang rawat suaminya.
Ren bertahanlah, aku mohon, jangan pernah meninggalkanku lagi...
Tubuh lemah itu masih terlihat kejang menerima penanganan. "Nyonya sebaiknya anda keluar..." seorang perawat menariknya.
"Tidak!!" Jeny memberontak, mendekati tubuh suaminya, menggenggam jemari tangannya dalam tangisannya.
"Ren, jangan mati aku mohon. Jika kamu mati aku akan memohon pada Tuhan, agar dapat menyusulmu, saat melahirkan anak kita nanti..." busiknya menangis putus asa, berlutut menggenggam jemari tangan suaminya.
Farel menghentikan langkahnya tepat di depan pintu, entah kenapa suara Jeny terdengar olehnya. "Aku..." kata-katanya disela.
"Aku tau..." pria berjas tersenyum, menatap Farel yang perlahan menghilang.
Tekadnya untuk hidup kembali, karena kata-kata Jeny? Kehendak Tuhan? Entah apa penyebabnya.
"Sudah aku duga..." ucap sang pria berjas, ketika Farel menghilang dengan sempurna. Pria itu, menjentikkan tangannya, bersamaan dengan menghilangnya pintu bagaikan serpihan api. Perlahan menonggakkan kepalanya tersenyum ke arah datangnya sinar matahari. Bagaikan tersenyum kepada-Nya.
***
Detak jantung pasien pada monitor mulai stabil, kejang tiba-tiba tidak terjadi lagi.
Silau? Begitulah yang dirasakannya saat mulai membuka mata, merasakan sesuatu yang basah di jemari tangannya. Benar? Wanita hamil itu berlutut, menggenggam tangan suaminya, air matanya menetes tidak terkendali.
Lemah setelah tubuh itu lama tidak bergerak, dengan gemetar, berusaha menyentuh pipi istrinya, guna menyeka air matanya.
"Pasien sadar...!!" seorang perawat, menyadari mata Farel yang terbuka. Jeny menonggakkan kepalanya, menggengam jemari tangan yang hendak menyentuh pipinya.
"Ren...!!" ucapnya menangis berteriak bagaikan anak kecil. Seakan melupakan rasa malunya di hadapan dokter dan perawat.
Sosok Jeny yang berpura-pura tegar kembali menghilang, mirip seperti dulu. Jeny yang manja pada pelayannya.
Seorang dokter yang tiga bulan ini menangani Farel menghela napas kasar, tersenyum tulus, penuh haru, bagaikan melupakan rasa sukanya pada sosok Jeny.
Apa lihat-lihat!! Mau modus lagi mendekati nonaku, dengan alasan memeriksa keadaanku? Berharap menjadi ayah anakku... umpat Farel dalam hati, menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, setelah kembali sadar. Menatap penuh dendam pada dokter yang menanganinya.
"Dok, kenapa kalian saling menatap begitu?" tanya seorang perawat.
"Aku hanya terharu melihat mereka..." jawab Sean.
"Bukan itu, maksud saya pasien yang baru sadar dari koma. Seharusnya hanya menatap istrinya bukan? Kenapa menatap anda? Jangan-jangan..." sang perawat menatap curiga.
"Jangan-jangan apa?" Sean membentak.
Perawat yang terkejut, refleks menjawab dengan keras,"Pasien menyukai anda...!!" ucapnya, menutup mulut dengan kedua tangannya. Mendapatkan perhatian dari semua orang.
__ADS_1
Jeny menatap sinis pada Sean, "Berani-beraninya merayu Ren-ku, dengan berkedok dokter..." cibirnya dengan suara kecil geram. Kembali ke sifat tidak masuk akal dan protektifnya.
Bersambung