Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Tikus Mati


__ADS_3

Suara deru pendingin ruangan kantor terdengar, seiring dengan tawa Farel, agar nonanya tidak marah atau memecatnya.


"Dasar mesum!! Gaji bulananmu hanya 8 juta sesuai perjanjian kontrak kerja!! Tidak ada istilah berciuman!!" Jeny membentak kesal.


"Maaf, aku fikir ada," pemuda itu tersenyum tanpa dosa, menatap ke arah Jeny, seolah-olah kelakuannya adalah sebuah candaan.


Jeny mengenyitkan keningnya,"Aku tau dari CVmu kamu terbiasa hidup di luar negeri dengan budaya yang berbeda. Aku tidak mau tau dan tidak peduli kebudayaan dari mana yang kamu tiru. Tapi ini di Indonesia!! Ikuti aturannya!! Aku bukan wanita murahan, berciuman dengan pria yang bahkan tidak mempunyai hubungan atau aku sukai!!" teriaknya kesal.


"Baik nona, bagaimana jika kita memiliki hubungan saja!? Agar aku bisa mencium nona secara leluasa," usul Farel tersenyum tanpa dosa.


Sejenak Jeny tertegun mengenyitkan keningnya, antara rasa marah dan berdebar. Entah itu karena malu atau menatap wajah rupawan yang sulit untuk ditolak.


Ren tegarkan aku, entah datang dari mana alien tidak tau malu ini. Aku ingin menghajar wajahnya yang tersenyum menggoda tidak tau malu itu... batin Jeny, merutuki dirinya yang sulit mengelak dari pesona pemuda aneh di hadapannya.


"Bagaimana nona!? Maukah anda memiliki hubungan denganku!?" Farel bertanya penuh senyuman, menutupi rasa tegang dalam hatinya.


Jika diterima aku langsung memeluknya, jika ditolak aku akan kembali tertawa agar dia tidak menjauh atau memecatku. Cinta memang sebuah penderitaan... ucapnya dalam hati, masih berusaha tetap tersenyum.


Sejenak perhatian mereka teralih oleh dering suara handphone. Jeny mengenyitkan keningnya, menghembuskan napas kasar menatap nama pemanggil adalah ibunya.


"Halo, ada apa!?" ucap wanita itu mengangkat panggilan di handphonenya.


"Ibu ingin bicara berdua denganmu..." jawab Dea dari seberang sana.


"Dimana!?" tanya Jeny memijit pelipisnya kemudian menghembuskan napas kasar.


"Cafe dekat kantormu, di sebelah kanan jalan, datanglah sekarang. Ibu menunggumu..." jawab Dea sembari mematikan panggilannya sepihak.


Wanita itu terlihat cemas, sekilas melirik ke arah putranya yang tertidur nyenyak di kereta bayi. Teringat akan ibunya yang menginginkannya untuk membuang Rafa.


"Farel, aku ada urusan mendesak. Bisa jaga Rafa sebentar!?" tanyanya dengan ragu, tidak ingin terjadi sesuatu pada putranya.


"Ada apa!? Bisa saya ikut dengan nona, mungkin, saya dapat membantu nona..." Farel mengenyitkan keningnya.


"Tidak, ini hanya sebentar, lagi pula angin malam tidak baik untuk Rafa. Apa kamu bisa menjaganya!?" Jeny kembali bertanya.


"Tentu saja, aku akan menjaganya dengan baik..." jawabnya

__ADS_1


"Terimakasih!! Stok ASI perah ada dalam ice box. Jika bangun tolong gendong dia," Jeny meraih tasnya, berjalan pergi dengan tergesa-gesa.


Farel menghebuskan napas kasar, mendekati putranya yang masih tertidur nyenyak,"Ini saatnya untuk ayah dan anak..." ucapnya.


"Anak papa sayang," Farel mencolek-colek pipi Rafa agar terbangun. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan bersama putranya tanpa kehadiran Jeny.


***


Suasana cafe nampak sedikit lengang, seorang wanita paruh baya meminum segelas Vietnam coffee di hadapannya. Hingga perhatiannya teralih menatap putrinya yang mulai datang dari pintu depan cafe.


"Jeny sayang..." Dea berucap penuh senyuman, menyambut putrinya yang baru saja mulai duduk.


"Cukup, jangan basa basi, langsung saja apa yang ingin ibu bicarakan," Jeny menghembuskan napas kasar, mengetahui watak ibunya.


"Daniel mengatakan kamu memiliki kekasih baru!?" tanya wanita paruh baya itu, menghela napas kasar.


"Benar, karena itu jangan berusaha menyatukanku dan Daniel kembali," ucap Jeny menatap tidak suka.


Dea menghembuskan napas kasar, berusaha untuk tetap tenang,"Jangan keras kepala, Daniel tampan, kaya, pintar tidak ada yang kurang darinya. Bahkan dengan status dudanya yang sekarang pun banyak wanita mengincarnya,"


"Dia hanya menyukai Renata!! Kenapa kalian tidak mengerti!? Biarkan Daniel bersama Renata!! Dan aku hidup tenang hanya menyimpan Ren dan Rafa di hatiku!!" Jeny membentak kesal.


"Tidak, sudah aku bilang sekarang aku sudah memiliki kekasih. Aku tidak akan kembali pada Daniel," Jeny menghembuskan napas kasar menjadikan Farel asistennya sebagai tameng, berucap dengan tegas.


"Terserah kamu saja..." Dea mulai tersenyum.


"Tapi parasit di sebuah pohon harus disingkirkan. Jika ingin pohon itu berbunga dan berbuah dengan baik," lanjutnya.


"Apa magsud ibu!!" Jeny membulatkan matanya, mengepalkan tangannya sudah menduga arah pembicaraan mereka.


"Ada parasit kecil tidak tau malu 13 tahun yang lalu, bahkan saat ibu mengancamnya dia mengatakan tidak akan pergi. Berterimakasih lah karena ibu sudah menyikirkan satu parasit itu. Sehingga perusahaan kakek sekarang jatuh pada kita," Dea tetap setia tersenyum, mengaduk aduk minumannya dengan sedotan, bagaikan mengancam akan menyingkirkan pemuda yang mendekati putrinya.


Tangan Jeny gemetaran, ternyata di balik semua pesan dan janjinya atas permintaan Ren. Karena remaja yang dicintainya itu telah diancam. Senyuman tulus, dari orang yang paling memperhatikannya menghilang di tangan ibunya sendiri.


"I...ibu membunuh Ren!?" Jeny berucap dengan nada bergetar, air mata tertahan di pelupuk matanya yang memerah.


"Fikirkan lah sendiri, bukannya kamu sudah merasa sedikit curiga dari awal!? Jangan sampai hal yang sama terjadi pada kekasih barumu," ucap Dea, berjalan berlalu menuju meja kasir. Meninggalkan Jeny yang masih duduk tertegun.

__ADS_1


"Ren mati karena aku!? Dia mati karena tidak ingin meninggalkanku!!" racaunya dalam isak tangisannya. Memukul-mukul dadanya yang sesak, sudah menduga hal yang terjadi 13 tahun yang lalu. Namun, mendengar dari mulut ibunya terasa lebih menyakitkan.


Dengan langkah lemas Jeny berjalan menuju kantornya. Tetes demi tetes air mata membasahi pipi putih pucatnya.


Semuanya karena aku, seandainya aku tidak mengatakan perasaan padanya. Seandainya Ren menyerah dan meninggalkanku... ucapnya dalam hati di tengah hujan deras yang mulai turun.


Aku akan menyusulnya dan meminta maaf padanya... racaunya dalam hati menatap jalanan basah yang akan disebranginya.


Berjalan dengan langkah lemas tanpa fikir panjang, melirik mobil box dengan nyala lampu yang menyilaukan mata di hadapannya, dengan jarak yang semakin dekat. Walau suara klakson mobil itu telah terdengar, kesulitan menghindari Jeny. Jeny berdiri terdiam sedikit tersenyum, seakan hendak menebus kesalahannya. Menutup matanya dalam tangisannya.


Semuanya terasa gelap, entah apa yang terjadi, bayangan masa lalunya yang indah berputar.


'Mobilnya bau kambing,' ucap Jeny kesal.


'Semuanya original kambing...' Ren menghela nafasnya, menatap mobil yang kotor, dengan rumput berceceran. Mobil pick up yang mereka tumpangi 13 tahun yang lalu.


'Makanya kamu cari tumpangan yang bagus!!' Jeny membentak. Sembari tersenyum, bagaikan kembali ke masa lalu, mengikuti alur merindukan fatamorgana remaja yang duduk di sampingnya.


'Kita jalan kaki sebelas kilometer hingga sampai kota. Baru saya cari tumpangan, pasti dapat yang bagus...' Ren menghembuskan nafas kasar berusaha bersabar.


'Sudahlah!!' Jeny merajuk, terdiam sejenak beberapa saat hingga bau yang lebih busuk lagi tercium.


'Kenapa tambah bau...!?' Jeny mengenyitkan keningnya, sembari menutup hidungnya.


'Maaf...' Ren mengalihkan pandangannya, merasa bersalah.


'Dasar kurang ajar!! Kamu kentut ya!? Apa saja yang kamu makan!? Kamu makan tikus mati ya!? bisa sebau ini!!' ucapnya sembari kembali menyiksa Ren, memukul kecil tubuh kurusnya, bahkan sempat-sempatnya menjambak.


Jeny tersenyum penuh rasa haru, dalam mimpinya, terbangun dari tidurnya yang nyenyak di ranjang rumah sakit.


Wajah damainya seperti terusik sesuatu. Hidungnya bergerak sendiri bagaikan mendengus. Perlahan membuka matanya.


"Nona!! Syukurlah nona sudah sadar!!," Farel menggengam jemari tangan Jeny erat. Menungguinya di rumah sakit, setelah wanita itu tidak sadarkan diri di tengah jalan akibat kelelahan dan dehidrasi. Hampir tertabrak mobil box yang berhenti tepat di hadapannya.


"Bau apa ini!?" Jeny mengenyitkan keningnya, mencium bau tidak mengenakan.


"Maaf..." Farel mengalihkan pandangannya, melepaskan tangannya yang menggenggam erat jemari Jeny, antara merasa bersalah dan malu.

__ADS_1


"Dasar kurang ajar!! Kamu kentut ya!? Apa saja yang kamu makan!? Kamu makan tikus mati ya!? bisa sebau ini!!" ucapnya sembari membentak kesal, menutup hidungnya melempar Farel dengan bantal. Mirip dengan kejadian 13 tahun yang lalu.


Bersambung


__ADS_2