
......Kebahagiaan, bukanlah sesuatu yang mewah. Namun, hal sederhana yang terkadang sulit kita sadari. Sulit juga kita hentikan, ketika kebahagiaan itu menginginkan untuk tinggal atau pergi......
Author...
Hujan gerimis melanda, Gabriel tersenyum meninggalkan tempat pernikahan bersama pengantinnya, walaupun hanya mengenakan jas dan gaun sewaan yang kebesaran. Hidup yang sulit? Tentunya sudah siap dijalaninya, menggenggam tangan gadis yang dicintainya.
Citra menghebuskan napas kasar, melirik ke arah Gabriel. Menikah secara sah? Benar, memang secara sah, namun Gabriel meminta keringanan, pada catatan sipil karena tidak membawa kartu keluarga, hanya kartu tanda pengenal saja. Membuat kartu keluarga baru yang hanya dengan Citra sebagai anggota keluarganya.
Ragu? Tentu saja, siapa yang ingin menjadi istri yang tidak mengetahui satupun anggota keluarga suaminya. Namun, Citra hanya dapat terdiam, ada orang yang mencintainya dan menjaganya dengan tulus, sudah cukup.
Keduanya melangkah masuk ke rumah dengan ragu. Hatinya berdebar senada, Citra melangkah terlebih dahulu menuju kamarnya. Pemuda yang bersetatus suaminya itu, mulai melangkah mengikutinya.
Brak...
Pintu tertutup, wajah Gabriel terbentur pintu."Cici!" panggilannya, menggedor dari luar kamar.
Sementara Citra terdiam di dalam kamar, menyenderkan tubuhnya di balik pintu, jantungnya terasa mau meledak, Aku belum siap... Bagaimana caranya malam pertama? Apa yang harus dilakukan ketika tidur sekamar... banyak pertanyaan dalam fikirannya, yang membuatnya, merasa tidak tau apa-apa, jika harus berhadapan dengan Gabriel saat ini.
Beberapa kali mengetuk pintu, mengusap-usap hidungnya yang sakit akibat terbentur pintu sebelumnya,"Akhirnya seorang Gabriel ditolak di malam pertamanya," pemuda itu menghembuskan napas kasar, berjalan ke kandang kambing, mengambil handuknya.
Gayung demi gayung air membasahi tubuhnya, pemuda itu berkali-kali menghela napasnya. Tidak mengerti dengan penolakan Citra, Apa karena aku melakukan cara licik untuk menikah ya? Tapi apa salahnya...
Gabriel menghembuskan napas kasar, keluar dari kamar mandi, bersamaan dengan Citra yang keluar dari kamarnya dengan hanya sehelai handuk melilit menutupi bagian dada hingga pahanya.
Gabriel tertegun diam, membulatkan matanya, bagaikan serigala menatap kelinci kecil yang tidak dapat melarikan diri. Tangannya gemetaran lagi, namun dengan cepat Citra melarikan diri ke dalam kamar mandi.
Entah apa yang ada di fikiran pemuda itu. Gabriel terdiam duduk di ruang tamu, masih hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Menunggu mangsa? Mungkin itulah fikiran liciknya, mendengar suara guyuran air dari dalam kamar mandi.
Pintu perlahan terbuka, Citra menengok ke kiri dan ke kanan, matanya menelisik mengamati Gabriel yang terdiam duduk di ruang tamu, menatap ke arah lain.
Dengan cepat, kelinci lincah yang hanya berlapiskan handuk itu melarikan diri, berlari ke dalam kamarnya. Dengan debaran jantung yang berdetak cepat, seakan bingung dan takut akan dimangsa.
Hendel pintu di pegangannya, Aku selamat, aku selamat, aku selamat... gumamnya lega dalam hati, hingga bahunya ditarik.
"Kenapa menghindar?" Gabriel tersenyum, berhasil memojokkan mangsanya.
Aku tertangkap, harus bagaimana sekarang? Bagaimana caranya melakukan malam pertama... Citra tertunduk memilin jemarinya berpikir.
Gabriel menghebuskan napas kasar, berusaha untuk tersenyum, tidak tega menatap wajah mangsanya yang ketakutan,"Aku akan tidur di luar, maaf sudah memaksamu menikah menggunakan cara yang salah. Apa kamu tidak menyukaiku lagi?," ucapnya.
Citra membulatkan matanya. Bukan itu magsud hatinya, membuat Gabriel meragukan perasaannya. Hanya saja, cara untuk malam pertama, apa yang harus dilakukan? Gadis itu masih bingung.
Gabriel tertunduk kecewa, hendak meraih pakaian gantinya di kursi rotan.
Dia kecewa? Tidak boleh, aku hanya tidak mengerti, bukannya tidak mencintai, atau menginginkannya...
Citra spontan memeluk tubuh Gabriel, memeluknya erat bagaikan kukang. Menonggakkan kepalanya menatap mata pemuda itu memelas, bagaikan anak kecil merengek mengatakan jangan pergi.
Gabriel mengenyitkan keningnya tidak mengerti, alasan dirinya ditolak. Serta dipeluk dengan kaku dan terlalu erat hingga kesulitan bergerak.
"Jangan-jangan kamu tidak mengijinkanku masuk, karena takut tidak mengetahui apa-apa tentang malam pertama?" tanyanya meyakinkan asumsinya.
Citra mengangguk dengan mata berkaca-kaca, masih memeluk erat, bahkan semakin erat, membuat lengan Gabriel tertahan bertambah kesulitan bergerak.
__ADS_1
"Dasar," umpatnya tersenyum kecil."Aku juga tidak tau apa-apa, bagaimana jika kita belajar bersama?" tanyanya.
Citra melonggarkan pelukannya, mengangguk tanda setuju, lalu tertunduk kakinya hendak bergerak ke kamar tapi diurungkan. Bagaikan ragu apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Gabriel tertawa kecil gemas, menatap mangsanya yang bingung, harus di cakar dulu, atau langsung masuk ke mulut serigala.
"Diam, dan ikuti... Kita akan belajar bersama-sama," ucap Gabriel, memegangi bahu Citra. Mulai memejamkan matanya, mendekatkan bibirnya, Citra mengikuti memejamkan matanya. Lidah nakal Gabriel mulai bermain-main di mulutmya. Saling bertaut, seolah olah bermain penuh hasrat.
Gabriel membimbing tubuh Citra melangkah menuju kamar, tanpa melepaskan tautannya. Hendel pintu dibuka olehnya, kemudian ditutup tanpa menguncinya.
"Cici..." ucapnya menatap mata sayu istrinya, melepaskan handuk yang melilit di tubuh Citra, serta di pinggangnya.
Tubuh yang sama-sama polos saling bergesekan, menimbulkan sensasi aneh bagi keduanya. Citra hanya menutup matanya, merasakan sentuhan yang membuat dirinya nyaman.
Napas Gabriel sudah tidak teratur, merebahkan tubuh Citra di atas tempat tidur. Menatap wajah gadis itu lekat, bibirnya kembali bertaut, menjalar perlahan menuju leher.
Tubuh Citra gemetaran, menahan sensasi aneh, sesuatu yang baru pertama kali dirasakannya.
Satu persatu tubuhnya seperti dicicipi Gabriel. Rasa gemas? Ini lebih dari itu, menikmati sesuatu yang membuatnya tidak pernah puas. Geleyar hasrat terus menerus menjalar dalam diri pemuda yang baru pertama kali merasakan getaran aneh, yang membuatnya tidak berdaya, tergila-gila untuk terus menyentuh, memainkan tubuh wanita yang menggeliat di bawahnya.
Bibir nakalnya, dan pijatan tangannya, membuat Citra menggenggam kain sprei. Sesekali menjambak halus rambut Gabriel.
"Aku tidak dapat menahannya lagi... ugghhh..." Gabriel menyesap bibir Citra, bersamaan dengan air mata mengalir di sudut mata wanita yang kini bersetatus istrinya itu.
"Maaf..." Gabriel, merasakan perih di punggungnya terkena kuku cakaran, dari wanita di bawahnya, yang tengah terlihat menahan rasa sakit.
Kegiatan panas itu berlanjut, tidak dapat dihentikan olehnya, menatap mata wanita di bawah kungkungannya, sesekali menikmati bibirnya. Tempat tidur kayu dengan kasur kapuk diatasnya itu berdecit pelan.
***
Sejenak kemudian, mulai menyibakkan selimutnya pelan, Sakit... satu kata yang tertahan saat dirinya mulai turun dari tempat tidur.
Melangkah perlahan, walaupun terasa sedikit perih, mengambil handuknya yang teronggok di lantai. Hingga sampai di kamar mandi, membersihkan tubuhnya dengan air yang memang cukup dingin. Rasa perihnya mungkin sudah sedikit berkurang setelah terkena air.
Hingga wanita itu, mulai menginjakkan kakinya di dapur, membuat api dari ranting dan dedaunan kering. Harum aroma melati tercium, bercampur aroma teh hangat. Dua cangkir teh terhidang, Citra mejulurkan tangannya pada tungku, menghilangkan rasa dingin, setelah membersihkan wajahnya kembali yang kotor akibat asap.
Rambut panjangnya nampak setengah kering, tiba-tiba di sampingnya tangan putih seorang pemuda juga ikut menjulur menghangatkan diri,"Kenapa tidak membangunkanku? Kamu pasti kesulitan ke kamar mandi. Apa masih sakit?," tanyanya cemas.
Citra menggeleng gelengkan kepalanya, tersenyum ke arah Gabriel.
"Jangan menjual teh pada pak Wijoyo lagi, bagaimana jika kita menanam kentang? Aku akan berusaha mencarikan suplayer, jika menemukan yang tepat, kentang kwalitas terbaik, bisa dijual dengan harga tinggi..." tanyanya. Walaupun, pak Wijoyo tidak akan mengganggu atau berusaha menikahi wanita bersuami. Namun, prilaku genitnya cukup membuat Gabriel cemas.
Citra tersenyum, sembari mengangguk...
***
Empat bulan kemudian...
Ladang teh yang tidak begitu luas, milik Citra tidak terlihat lagi, berganti dengan kentang yang siap panen. Pasangan suami istri itu, berhemat selama empat bulan, memakai semua tabungan, bahkan Citra menggadaikan gelang warisan orang tuanya.
Namun, hasilnya sepadan, gelang berhasil ditebusnya, bahkan memiliki modal kembali, lebih menguntungkan dibandingkan menjual daun teh pada tengkulak teh yang membeli dengan harga rendah.
Tangan Gabriel nampak kotor memegangi cangkulnya, membersihkan lahan, hendak menanam bibit tanaman baru.
__ADS_1
Citra tersenyum, menyodorkan rantang makanan. Sedangkan, pemuda itu membalas senyumannya, mulai menarik tangan Citra menuju tempat yang teduh. Bersendra gurau menikmati makanannya, bekerja di ladang bersama istrinya, serta tetangganya yang diminta membantu menggarap ladang baru yang mereka beli.
Hidup damai, sesuatu yang membuat hati Gabriel menghangat...
Hingga, deretan mobil hitam kembali melewati jalan perkampungan mereka. Beberapa saat kemudian, suara tembakan terdengar samar-samar.
Wajah Gabriel pucat pasi,"Kita pulang sekarang..." ucapnya menarik tangan Citra.
Citra menghebuskan napas kasar tidak mengerti.
***
Dengan panik Gabriel mengemasi barang-barang mereka ke dalam tas besar. Tangan Citra memegang lengan suaminya seolah-olah meminta penjelasan.
"Kita harus pergi..." ucap Gabriel panik, seakan tidak sempat menjelaskan.
Namun, wanita itu menggelengkan kepalanya, menggeledah isi laci, menunjukkan foto adiknya Tirta."Kamu tidak ingin pergi, karena memiliki keluarga di sini?" tanyanya.
Citra mengangguk,"Begini, jika aku tinggal disini bersamamu, nyawamu bisa ada dalam bahaya, kita harus pergi bersama..." ucapnya meyakinkan Citra.
Citra bersikukuh menggeleng gelengkan kepalanya, Bagaimana jika ketika Tirta pulang aku tidak ada dirumah? Aku bahkan tidak memiliki alamatnya di kota... pertimbangannya dalam hati.
Gabriel menghembuskan napas kasar, menunduk memikirkan sesuatu, kemudian memeluk Citra erat,"Aku akan kembali, setiap bulan aku akan mengirimkan biaya hidup untukmu. Aku berjanji..." ucapnya menitikkan air mata.
Gabriel berusaha tersenyum, kemudian mencium bibir Citra. Ciuman perlahan dengan hati yang terluka dengan rasa takut akan perpisahan."Ingat, aku akan kembali..." lanjutnya.
Mata wanita itu berkaca-kaca tidak dapat meminta penjelasan dari suaminya. Namun, satu hal yang diyakininya, Gabriel tidak ingin meninggalkannya. Senyuman yang terpaksa, dalam tangisannya, mengemasi barang-barangnya.
Kenapa di saat aku sudah bahagia, mereka datang mengejarku hingga kemari...Sial... umpatnya dalam hati, menatap wajah istrinya, yang juga berusaha tersenyum, membantunya berkemas, tanpa meminta penjelasan.
***
Gabriel berjalan cepat menggendong ranselnya, mendekati rumah kepala desa. Tempat orang-orang itu mencari informasi keberadaannya. Kemudian menunjukkan keberadaannya, sekilas pada salah seorang pria yang memakai jas hitam.
"Dia disini!!" salah seorang pria memberi informasi melalui walky talky, mulai mengejar Gabriel yang berlari ke arah hutan.
Seorang pria dengan rambut panjang terikat dan tato barcode di tangan kirinya, tengah menatap seorang anak wanita berusia 12 tahun.
Sang anak menangis gemetaran, mengguncang tubuh dingin kedua orang tuanya.
"Seharusnya, mereka memiliki informasi. Dasar tidak berguna!!"
Dor...
Suara letupan senjata terakhir, sang anak mengeluarkan darah segar dari dadanya. Berbaring di dekat tubuh dingin ayahnya yang merupakan seorang kepala desa.
"Tuan, beliau sudah di temukan, sedang dalam pengejaran..." orang di belakangnya memberi hormat, setelah diberi informasi.
"Berikan perintah, untuk menangkapnya hidup-hidup," pemuda itu mulai tersenyum, berjalan pergi menuju tempat Gabriel terlihat.
Gabriel berlari menuju arah sungai. Hujan gerimis mulai turun, pemuda itu menatap ke arah langit yang mendung. Beberapa orang terdengar sudah mulai dekat.
Aku tidak ingin pulang, Apa itu salah... pemuda itu menitikkan air matanya. Mungkin kebahagiaan kecil bersama Citra, hanya itulah kenangan terindah untuknya.
__ADS_1
Menyerah, tidak melarikan diri lagi. Agar pencarian berakhir, sehingga mereka tidak mendekat ke rumah keluarga kecil yang baru dibangunnya.
Bersambung