
"Maaf, aku salah bicara..." Jeny tertawa kecil, kembali memakan makanannya.
Farel mengenyitkan keningnya tidak begitu memikirkan nama panggilan yang tadi disebutkan nonanya. Kemudian kembali mengalihkan perhatiannya pada makanan di hadapannya.
Beberapa belas menit berlalu kedua porsi makanan tersebut tandas. Jeny terdiam, termenung, tersenyum pahit.
"Lelah sekali!! Aku akan mandi..." ucapan Farel terpotong, Jeny memejamkan matanya sejenak, menatap tidak suka kearah pemuda di hadapannya.
"Tidurlah di kamar sebelah," Jeny mengalihkan pandangannya.
"Kenapa!?" Farel mengenyitkan keningnya.
"Aku bilang aku tidak akan pernah bisa mencintaimu..." ucapnya menatap ke arah lain.
"Aku tau, 6 bulan ini aku akan terus berusaha," Farel tersenyum, menahan rasa kecewanya. Berjalan keluar dari kamar, menyeret koper yang belum sempat dibongkarnya, sejenak melirik ke arah Jeny yang masih tertunduk.
Nona kenapa!? Apa aku terlalu buruk untukmu... gumamnya dalam hati.
Beberapa saat Jeny terdiam, isak tangisan mulai terdengar dari mulutnya. Wanita itu, berjalan dengan langkah gontai ingin rasanya mengejar pemuda yang masih dicintainya selama 13 tahun ini. Namun, yang tertahan hanya tangisan duduk meringkuk menyenderkan punggungnya pada pintu yang tertutup, menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.
"Ren, andai saja kamu kembali 3 tahun yang lalu. Aku ingin memelukmu," isak tangisnya tertahan.
"Sekarang aku terlalu kotor, aku bahkan memiliki Rafa, yang aku pun tidak tau siapa ayahnya, aku menjijikkan..." gumamnya dengan suara bergetar, melirik ke arah bayi mungilnya yang tertidur lelap.
Farel menghebuskan napas kasar, menutup pintu kamar samping. Satu persatu pakaian ditanggalkannya, perlahan menyalakan shower. Tubuh dan rambutnya mulai dibasahi air. Tidak terlihat jelas dari kaca transparan yang berembun.
Namun terdapat bayangan seorang pria berdiri disana,"Sial!!" umpatnya dengan suara terisak memukul tembok kokoh di hadapannya.
"Nona, kenapa merebut hatimu tidak semudah 13 tahun yang lalu!? Apa nona membenciku karena aku pergi...!?" tanyanya dengan pipi yang basah. Tertunduk dibawah guyuran air shower dengan nada bergetar.
***
Tok...tok...tok...
Terdengar suara ketukan pintu, perlahan pintu yang tidak terkunci itu dibukanya,"Nona, sebaiknya anda sarapan agar dapat menyusui..." Farel meletakkan nampan berisikan sarapan. Menyentuh pundak Jeny yang enggan untuk bangun.
"Badan nona panas..." ucapnya sembari menyentuh dahi wanita yang bersetatus sebagai istrinya itu.
"Biar!! Aku tidak apa-apa!!" Jeny menepis jemari tangan Farel.
Tinggalkan aku, carilah wanita yang lebih baik ... ucap Jeny dalam hati, menahan rasa yang mengganjal dalam hatinya. Ingin mengatakan 'Aku mencintaimu' namun kata-kata itu seperti sudah terlambat untuknya.
Farel menghembuskan napas kasar,"Aku akan mengganti menunya..." ucapnya tersenyum lembut.
Beberapa belas menit berlalu, aroma bubur labu kuning menyeruak. Pemuda itu masih memakai appron nya, masuk kedalam kamar Jeny.
"Nona, makan ya!?" ucapnya berusaha menyuapi Jeny.
__ADS_1
"Lidahku pahit!!" Jeny membentak, menampik tangan Farel hingga mangkuk yang dibawanya terjatuh pecah.
Maaf... Jeny mengalihkan pandangannya menahan tangisnya, seolah olah tidak peduli.
"Aku membuat lebih, akan aku ambilkan lagi..." Farel tersenyum tulus, mengambil alat untuk membersihkan tumpahan bubur di lantai.
Tidak apa jika nona tidak menyukaiku, tapi nona harus makan demi putra kita...
***
Kali ini Farel datang kembali membawa bubur labu yang baru. Duduk di tepi tempat tidur milik Jeny.
"Aku tidak mau!!" Jeny kembali membentak.
Farel memasukkan sesendok bubur ke dalam mulutnya, kemudian menarik Jeny memasukkan bubur labu lewat mulutnya.
"Pembangkang," ucapnya sembari tersenyum mengacak-acak rambut Jeny gemas,"Nona ingin aku suapi dengan mulut atau sendok!?" tanyanya.
"Aku bisa makan sendiri!!" Jeny meraih mangkuk dengan cepat. Bersamaan dengan terdengarnya suara tangisan Rafa.
"Biar aku saja..."Farel kembali tersenyum, meraih putranya yang baru terbangun. Bermain penuh senyuman dengannya.
Ren, jangan rendahkan dirimu untuk orang sepertiku. Kamu pantas mendapatkan yang terbaik... gumam Jeny dalam hatinya. Mungkin jika tidak mengetahui kenyataan lebih baik bagi Jeny. Farel yang dianggapnya sebagai playboy tidak waras, sudah mulai dicintainya, berfikir jika sosok Farel adalah Casanova yang berhati lembut. Namun, ternyata dia Ren yang mencintai Jeny dengan tulus selama beberapa belas tahun.
Aku dapat membesarkan Rafa seorang diri, aku hanyalah janda yang memiliki anak di luar nikah. Aku tidak sebaik dulu...
"Kemarikan!!" Jeny berucap dengan nada tinggi, mengulurkan tangannya.
"Tidak boleh begini terus, Ren juga berhak melanjutkan hidupnya..." air mata Jeny mengalir, menelfon Helen guna merekrut seorang baby sitter untuknya.
***
Hari kedua, wajah Jeny masih nampak pucat. Berapa kalipun dibentak, Farel tetap bersabar, bahkan tertidur di kursi samping tempat tidur Jeny.
Perlahan wanita itu membuka matanya, demamnya sudah turun. Menatap wajah pemuda rupawan yang selalu menjaganya.
"Aku tidak bisa menarik malaikat sepertimu masuk ke dalam lumpur..." gumam wanita itu, sembari menutup mulut berharap isak tangisannya tidak terdengar oleh Farel.
Terdengar suara mobil dari halaman, terlihat sebuah taksi menurunkan dua orang penumpang. Helen serta seorang wanita yang berada di pertengahan usia.
Jeny turun menuju lantai satu perlahan, mengamati Farel yang tertidur akibat semalaman menjaganya dan Rafa.
"Nona, sebenarnya ada apa!?" Helen mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
"Tidak ada apa-apa, bibi namanya siapa!?" tanyanya pada sang calon baby sitter putranya.
"Resti, bibi sudah berpengalaman 4 tahun menjadi baby sitter. Majikan terakhir, bibi berhenti karena pindah ke Taiwan," ucap Resti, menunduk memberi hormat.
__ADS_1
"Putra saya namanya Rafa, mohon bantuannya..." Jeny berucap penuh senyuman.
***
Beberapa jam berlalu, sinar matahari menyilaukan mata seorang pemuda yang baru saja beranjak terbangun dari tidurnya.
"Jam berapa ini!?" gumamnya melihat ke arah jam tangannya.
"Jam 10!? Aku belum memandikan Rafa. Jeny masih sakit..." ucapnya langsung bangkit menuju baby box. Namun, putranya tidak berada di sana.
Dengan rasa cemas yang berkecamuk, Farel berlari menuruni tangga. Mencari keberadaan istri dan anaknya.
"Kamu siapa!?" tanyanya menatap putranya digendong oleh orang asing.
"Maaf, saya Resti baby sitter Rafa..." ucapnya, tengah menggendong bayi mungil itu dengan botol susu formula di tangannya.
"Aku yang merekrutnya. Aku ingin bekerja setelah ini, kamu boleh pergi!! Karena aku yang melanggar kontrak kerja, sesuai yang tertera gajimu berserta denda pembatalan kontrak akan aku transfer..." ucapnya seperti mengerjakan sesuatu di laptopnya.
"Nona!?" Farel mengepalkan tangannya, berucap dengan nada tinggi.
"Aku sudah bilang kita tidak mungkin menjadi pasangan suami istri sesungguhnya!! Berhentilah menjadi benalu!!" ucap Jeny membentak.
Tangisan Rafa mulai terdengar pilu, bagaikan mengerti dengan situasi saat ini.
"Farel, berusaha menyukaimu adalah hal yang paling memuakkan dalam hidupku. Kamu hanya dapat membuatku menagis, bahkan mulai dari acara pernikahan kita..." lanjutnya.
"Maaf..." jemari tangan Farel yang mengepal mulai lemas, berjalan tersenyum berusaha tidak menangis hendak menyentuh Rafa.
"Jangan menyentuhnya!! Pergilah!!" Jeny kembali terlihat konsentrasi mengerjakan sesuatu di laptopnya seolah tidak peduli dengan asisten sekaligus suami sementaranya itu.
Farel berjalan menuju lantai dua, mengambil kopernya. Acara liburan, untuk meruntuhkan hati Jeny yang keras, gagal. Menyisakan lubang besar dalam hati pemuda yang kini tengah menarik kopernya itu.
Tangisan Rafa yang digendong pengasuh makin kencang. Seakan mengetahui kepergian ayahnya.
Rafa, ayah akan mencari jalan lain... bersabarlah.... gumam Farel dalam hati, menatap putranya yang menangis dari jauh. Melangkah pergi dari rumah menuju jalan besar guna memesan taksi.
Jeny menggenggam mouse yang terhubung pada laptopnya erat, air matanya mulai mengalir. Aku menjijikkan, bahkan berniat membawa Rafa yang bukan putramu untuk bersamamu. Carilah wanita baik-baik yang masih terhormat... Aku hanya wanita kotor...
***
Dalam taksi yang melaju, Farel menyeka air matanya, mengingat masa remajanya bersama Jeny. Perlahan mengambil handphone di sakunya kemudian menghubungi Tomy.
"Ada apa!?" terdengar nada kelelahan dari orang di seberang sana.
"Tolong percepat keberangkatanku ke Singapura. Dan selama aku pergi, tolong jaga istri dan putraku," ucapnya.
"Baik tuan..."
__ADS_1
Nona, apa anda tidak akan pernah bisa menyukaiku lagi...
Bersambung