Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Psikopat


__ADS_3

...... Tuhan menciptakan setiap manusia tanpa kesempurnaan. Menganggap diri paling sempurna? Menertawakan rasa sakit orang lain? Kehilangan rasa empati? Saat itulah dia tidak akan menyadari sisi kelam dirinya yang keluar. Haus akan rasa sakit orang lain. Mungkin begitulah pemikiran makhluk yang berada di rantai makanan teratas, manusia bagaikan predator. Terdiam dengan rasa sombongnya, haus akan bau amis darah, menyepelekan Tuhan. Hingga akhirnya, mendapatkan hukuman dari orang-orang yang tersakiti, karena rasa sombongnya. Jadilah rendah diri, cintai diri sendiri, orang-orang disekitarmu dan bahkan cintailah Tuhan mu......


Author...


Terbalut perasaan malu dan kesal, saat ini itulah yang dirasakan Renata. Berjalan dengan langkah cepat meninggalkan pesta.


"Kamu tidak apa-apa!?" Clarissa tersenyum cerah, ke arah Jeny yang tertegun kagum padanya.


"Tidak apa-apa, hanya sedikit basah, terimakasih..." jawabnya sungkan.


"Perkenalkan, namaku Clarissa..." Clarissa mengulurkan tangannya.


Jeny nampak ragu mulai berniat membalas jabatan tangannya. Namun, maskot pesta ini tiba-tiba, berdiri diantara mereka berdua. Memberikan cemilan yang dibawanya pada Jeny dan Clarissa. Kemudian menarik tangan Jeny seolah menuntunnya pergi, sembari berjalan dengan sedikit melompat-lompat ceria.


"Maskot sialan..." Clarissa memaksakan dirinya tersenyum, menatap Doraemon yang ingin rasanya di tendang olehnya.


Jeny terus mengikuti sang maskot, sejenak kemudian, tertawa kecil,"Ren?" ucapnya, dengan jemari tangan masih ditarik.


"Aku ketahuan..." ucap sang maskot tanpa melepaskan kostumnya.


"Tentu saja, seleramu tidak berubah, bau apel hijau..." Jeny tersenyum menatap ke arah suaminya.


"Kamu sedikit basah..." sang maskot mengeluarkan tissue basah dari kantong ajaibnya, menyeka sisa minuman tidak berwarna yang sedikit mengotori rambut Jeny.


"Tidak apa-apa," Jeny menggeleng gelengkan kepalanya.


Lampu tiba-tiba mati, sorot lampu tertuju pada seseorang di atas panggung. Tomy tersenyum pada seluruh undangan. Kemudian mendekatkan bibirnya pada microfone,"Kami sangat berterimakasih atas kehadiran kalian di acara pembukaan cabang perusahaan kami. Saya tidak akan berlama-lama, karena masih ada beberapa acara lagi selanjutnya. Inilah saatnya acara pengguntingan pita, yang untuk pertama kalinya akan dilakukan pemilik perusahaan kami, dan keluarganya,"


Mata semua orang tertuju pada bayi mungil yang baru masuk dalam gendongan Ayana, serta diikuti Taka."Beliau adalah Tuan Taka, kakek dari pemilik perusahaan kami, serta nyonya Ayana, ibu dari pemilik perusahaan kami. Anak yang ada di gendongannya, merupakan anak tunggal pemilik perusahaan JH Corporation," Tomy tersenyum, diikuti tepuk tangan undangan yang hadir. Untuk pertama kalinya, orang-orang ini muncul di hadapan media bersamaan. Wartawan yang sebagian besar dari majalah bisnis, mulai mengambil gambar, moment langka yang baru saja terjadi. Taka? tentu saja sudah cukup terkenal, namun cucunya tidak pernah terekspos media.


"Dan terakhir, pemilik JH Corporation, berserta istrinya..." sorotan lampu beralih ke arah Doraemon yang berdiri berdampingan dengan Jeny.


Sang maskot berjalan melompat lompat ceria, membawa Jeny menaiki panggung. Bleach lampu kamera wartawan beralih ke arah Jeny, yang mulai menaiki panggung.


Hingga salah satu wartawan mulai bertanya,"Maaf, pemilik JH Corporation dimana?" tanyanya mengingat sosok misterius, yang wajahnya tidak pernah disorot media. Bahkan diisukan hanya seorang kakek tua.


Namun, ibunya saja ternyata masih muda, menurut logika pemilik perusahaan yang cukup besar itu tentunya berusia muda.


Doraemon mulai mendekati Rafa, mengeluarkan kotak perhiasan dari kantung ajaibnya, memakaikan kalung pada putranya.


Sejenak kemudian, melepaskan kepalanya. Salah, magsudnya kepala Doraemonnya. Meraih microfone yang dibawakan Tomy, sejenis microfone yang dapat melekat di telinga menjulur hingga bagian bibir kemudian memakainya,"Saya adalah Farel pemilik JH Corporation, maaf baru dapat menunjukkan diri pada media," ucapnya menunduk memberi hormat.


Beberapa wartawan tertegun diam, seakan ini bukanlah kenyataan. Masih muda dan tampan? Bahkan berwajah bagaikan selebriti muda yang digilai para remaja? Bisa dibilang berwajah menawan bagaikan play boy? Benar-benar di luar imajinasi.


Greet...


Kostum Doraemon mulai dibuka olehnya, sembari mengambil kotak lainnya, terlihat setelah jas berwarna putih, menambah menawan penampilannya.


Pemuda itu berlutut, memasang gelang di kaki Jeny."Jangan pernah berusaha melarikan diri dariku..." ucapnya penuh senyuman mematikan, membuat mungkin semua wanita menginginkan untuk mendapatkan hati tulus pemuda yang tengah berlutut di hadapan semua orang.


Farel mulai berdiri, tersenyum di hadapan media yang tiada hentinya mengambil gambar mereka. Seorang wanita datang membawa beberapa gunting, diraih oleh Farel, Taka, Ayana, serta Jeny, menggunting pita tebal melintang di hadapan mereka bersamaan, diikuti tepuk tangan dari tamu undangan. Menyempurnakan acara pembukaan, hotel, serta perusahaan travel, anak cabang perusahaan JH Corporation.


***


Clarissa yang berada di lantai dua berusaha untuk tersenyum,"Ayah memilihkan orang yang tepat untukku. Aku sempat berpikir apa yang menyenangkan dari dekorasi Doraemon, benar-benar kekanak-kanakan. Namun, ternyata bahkan sesuatu yang lebih indah dibandingkan di berikan cincin berlian, dilamar di hadapan para musisi di menara Eiffel..." gumamnya kesal, berharap dirinya yang menggantikan posisi Jeny dipakaikan gelang kaki di hadapan media, oleh sosok pemuda yang memiliki kekuasaan berwajah rupawan tersebut.


"Benarkan? Cucu angkat dari Taka, tentu saja bukan orang yang mengecewakan. Merintis perusahaannya dari nol, bahkan tanpa bantuan Taka. Dia benar-benar rubah licik yang pintar, akan bagus jika dapat berada di pihak kita..." Lery tersenyum, mengambil segelas cocktail, menghabiskannya sekali teguk. Kemudian berjalan meninggalkan putrinya yang masih menatap kesal ke arah lantai satu.


***

__ADS_1


Beberapa wartawan mulai bertanya tentang keluarga pemilik perusahaan yang cukup besar tersebut, termasuk usia Rafa dan menggunjingkan tentang Jeny yang bersetatus mantan istri Daniel.


Namun, senyuman menyungging di wajah Tomy,"Putra tuan kami lahir dalam keadaan prematur, di usia kehamilan 7 bulan. Tuan muda kami (Rafa) memang anak di luar nikah. Nona Jeny mengajukan gugatan cerai, namun terkendala proses yang menelan waktu tiga bulan lebih. Karena ada masalah di perusahaan kami di Singapura, tuan Farel harus mengurusnya selama beberapa bulan. Hingga dengan sangat menyesal harus menikah saat anak mereka sudah lahir," dustanya, sesuai naskah yang disusunnya dan Farel.


Satu pertanyaan lagi yang keluar dari mulut wartawan,"Bukannya mereka menjadi pasangan berselingkuh? Walaupun beberapa hari sebelum palu pengadilan diketuk, mereka melakukan... maaf...." kata-kata wartawan terhenti tidak ingin mengucapkan hal yang tidak sopan.


"Nona Jeny, dan tuan Daniel bercerai karena tidak ada kecocokan. Setelah memutuskan untuk bercerai, tuan Daniel memiliki kekasih, begitu pula dengan nona Jeny. Namun, putusan pengadilan telalu lamban. Karena itu untuk menunjukkan kebenaran ucapan kami, bahwa sama sekali tidak ada pihak yang bermusuhan atau tersakiti. Hari ini acara pertunangan tuan Daniel dilaksanakan bersamaan, beliau dan calon tunangannya sudah hadir..." Tomy tersenyum menatap ke arah pintu masuk, menatap kehadiran Daniel bersama Kanaya.


Lampu sorot beralih ke arah dua orang makhluk tidak tahu apa-apa yang baru datang. Keduanya, tertegun diam, karena undangan yang mereka dapatkan hanya pembukaan cabang perusahaan JH Corporation.


Wajah Daniel seketika pucat, melirik ke arah Gabriel yang meminum minumannya, menyangka pamannya datang atas permintaan Tirta untuk membantunya. Namun, pamannya itu seakan acuh, malah matanya tidak beralih dari sosok pemuda yang berada di atas panggung.


"Aku terkena perangkap..." ucapnya, melirik ke arah Kanaya yang berdiri di sampingnya.


"Pa...pak Daniel?" Kanaya tidak mengerti.


Tirta yang mengamati dari jauh, mengenyitkan keningnya, menggelengkan kepalanya ke arah panggung. Seakan memberi isyarat pada Daniel untuk naik dan menyetujui semuanya.


Daniel menghembuskan napas kasar,"Sudah seperti ini, kita ikuti saja dulu. Aku akan membayarmu, jadilah tunangan palsuku..." ucapnya menggandeng tangan Kanaya sembari tersenyum. Tidak ingin Tomy menampilkan rekaman percakapan Farel dengan Renata.


Kanaya nampak ragu, namun akan lebih memalukan jika menyangkal di depan umum, perlahan meraih tangan Daniel memegang siku tangannya. Terlihat anggun berjalan bagaikan pasangan kekasih.


Kamera semua wartawan teralih pada pasangan yang baru datang, sehingga Farel dan keluarganya dapat turun, tanpa kembali mendapatkan sorotan dari kamera wartawan.


"Ayo kita pulang..." Farel menyunggingkan senyumnya.


Jeny hanya mengangguk, mengikuti langkah suaminya berjalan ke parkiran. Sedangkan Ayana telah membawa Rafa, cucu kesayangan entah kemana bersama Taka.


Renata telah mengganti pakaiannya di dalam mobil, membenahi riasannya. Segera bergegas turun menatap ke arah pemuda yang baru memasuki parkiran.


"Farel..." ucapnya hendak memeluk sang pemuda.


"Berhenti!!" Farel meninggikan intonasi suaranya, meraih pinggang Jeny yang berdiri di sampingnya.


Renata terpaku diam, mencerna semua hal yang terjadi, hingga kesadarannya kembali,"Apa magsudnya?" tanyanya.


"Aku hanya memerlukan pengakuanmu untuk mengancam Tirta memperbaiki namaku di hadapan media, terimakasih untuk malam itu..." Farel menuntun istrinya menuju ke dalam mobil.


Hingga satu kalimat tercetus dari Renata yang mulai tersenyum,"Malam itu kita berhubungan, bagaimana jika aku hamil. Ini tetap saja anakmu kan?" ucapnya.


Bodoh, malam itu makhluk tidak tau malu ini, membuat pinggangku sakit di kamar lain... Jeny mati-matian menahan tawanya.


Farel menghentikan langkahnya,"Aku tidak akan menikahimu, dan kamu tidak akan pernah mengandung anakku, aku memiliki empat alasan..."


"Pertama, kelihatannya sebelum berhubungan dengan Daniel kamu memiliki kekasih lain, bahkan setelah berpisah dengan Daniel sempat menjalin hubungan dengan beberapa orang pria, tapi kenapa tidak pernah hamil? Mungkin kamu harus memeriksakan kandunganmu..." ucapnya mengatakan informasi yang didapatkannya dari Tomy.


"Kedua, aku tidak ingin anakku, memiliki ibu yang berkepribadian buruk. Aku tidak mungkin memilihmu bahkan hanya untuk berselingkuh,"


"Ketiga, malam itu aku tidak tidur denganmu, hanya membiusmu saja. Pelayan hotel yang membuka pakaianmu. Kamu boleh bertanya pada resepsionis hotel..." senyuman di wajah Renata memudar, wajahnya nampak pucat.


"Terakhir, nama kecilku Ren. Nonaku tidak mungkin, tidak pernah membicarakanku," ucapnya melanjutkan langkahnya memasuki mobil. Mengendarai mobilnya meninggalkan parkiran bawah tanah di hotel tersebut.


Ren? Renata mencoba mengingat nama yang pernah didengarnya itu. Hanya satu yang ada di ingatannya, foto lama remaja yang terjatuh saat Jeny meninggalkan rumah Jony,"Kekasih kecilnya, yang dibunuh ibunya..." gumamnya, berusaha mengingat pertengkaran ibu dan anak itu, ketika Daniel dan Jeny akan bercerai.


Seorang pria tersenyum menyeringai dari dalam mobil menatap mangsa tidak berdaya. Seseorang yang mungkin menyukai calon suami yang dipilih Lery untuk Clarissa.


Pria itu menatap pantulan wajahnya penuh senyuman, kemudian menginjak pedal gasnya pelan.


Brak...

__ADS_1


Tabrakan pertama, Renata roboh dengan kaki mengeluarkan darah segar. "Sialan!!" umpatnya berusaha untuk bangkit, hendak mencaci orang yang ada di dalam mobil.


Namun, mobil itu mundur, kemudian maju seperti hendak menabraknya kembali.


Renata, mulai panik, menarik-narik kakinya yang pincang, berusaha melarikan diri,"Tolong!! Ada yang ingin membunuhku," teriaknya lirih.


Brak...


Tabrakan ke dua tubuh Renata terpelanting, terseret. Hans tersenyum, memejamkan matanya menikmati bau darah.


"Tolong..." wanita yang tidak dapat berdiri dengan kepala mengeluarkan darah itu, kembali di tabrak, kali ini dengan kecepatan tinggi. Tepental, hingga jatuh dengan tubuh mendingin berlumuran darah. Matanya masih terbuka.


Tempat parkir yang sepi, CCTV telah dicabut olehnya. Hans tersenyum, memasukkan paksa anggur ke dalam mulut Renata yang telah tidak bernapas. Kemudian memasukkan tubuhnya ke dalam mobil milik wanita itu.


Tiga botol anggur di pecahkan Hans agar bercampur dengan darah yang berceceran di tempat parkir. Mulai menggati penampilannya menjadi cleaning service. Perlahan membersihkan darah yang bercampur anggur, serta pecahan kaca.


Salah seorang tamu melintas,"Maaf, disini tadi ada pelayan yang memecahkan minuman mahal. Saya tengah membersihkannya," ucap Hans tersenyum ramah memasang wajah palsunya.


"Pasti sulit membersihkannya ya? Ini tips untukmu..." sang tamu memberikan selembar uang kertas 20.000 rupiah.


Hans meraihnya penuh senyuman,"Terimakasih..." ucapnya kembali membersihkan darah bekas kejahatannya.


Psikopat? Mungkin itulah dia, dapat membunuh Renata dengan satu tabrakan, atau dengan belati. Namun lebih memilih menabrak tiga kali dengan kecepatan sedang. Menikmati saat-saat orang merasakan kesakitan dan ketakutan dalam keputusasaan bagaikan suatu kesenangan tersendiri untuknya.


Malam semakin larut, mobil Renata di setirnya menuju apartemen milik wanita itu, membawa tas koper berukuran besar, kemudian mematikan CCTV depan apartemen. Melempar tubuh tidak bernyawa itu dari lantai 13.


"Karena mabuk menjatuhkan diri... kematian yang tidak buruk..." gumamnya tersenyum menyeringai, berjalan meninggalkan apartemen tanpa meninggalkan jejak.


Dalam siklus hidup ada yang namanya rantai makanan, orang yang terkuat, berkuasa di puncak. Itulah aku, makhluk paling sempurna diatas segalanya... Hans tersenyum menatap pantulan wajahnya di spion mobil yang mulai melaju.


***


Di tempat lain...


"Ki...kita bertunangan? Benar-benar bertunangan?" Kanaya mengenyitkan keningnya tidak percaya menatap cincin yang tersemat di jemari tangannya.


"Sudah aku bilang, aku akan membayarmu!!" Daniel membentak kesal, di belakang panggung, seusai acara yang tidak mereka duga.


"Bukan itu masalahnya, banyak wartawan yang merekam. Jika pria tampan di seluruh negeri melihat ini, maka mereka tidak akan ada yang berani mendekatiku..." ucapnya menghela napasnya.


"Kamu masih memikirkan pria tampan dengan wajah jelekmu itu!? Bagaimana dengan fansku di kantor? Mereka mungkin sudah menyiapkan bumbu untuk memasakmu..." Daniel berucap penuh senyuman, mulai tertawa kecil.


Wajah Kanaya seketika pucat pasi,"Aku harus menyembunyikan diri di luar kota, jika perlu lubang semut..." ucapnya.


Tomy ikut tertawa kecil, menatap pasangan atasan dan bawahannya itu,"Lubang semut?" pemuda yang tadinya menjadi MC acara itu mulai mendekati Kanaya,"Dari pada bersembunyi di lubang semut, bagaimana jika di apartemenku saja?" tanyanya.


Daniel segera menarik Kanaya ke belakang tubuhnya, menghalangi pandangan Tomy,"Dia ini wanita baik-baik!!" bentaknya.


"Aku adalah pria baik-baik," Tomy terkekeh kecil sengaja memancing insting kecemburuan dalam diri Daniel.


"Kamu pernah mencelakai Renata!! Kenapa tidak bisa kejam pada Kanaya!?" ucap Daniel memberi alasan.


"Kamu pernah kejam pada Jeny dan Renata, lalu kenapa Kanaya harus berlindung padamu!?" cibirnya menahan tawa.


"Karena... karena... karena..." kata-kata Daniel terhenti sejenak, kemudian kembali membentak Tomy,"Pokoknya jangan dekat-dekat!!" pemuda itu melangkah kesal berjalan pergi menarik tangan Kanaya.


Tomy tertawa lepas memegangi perutnya,"Dasar pria sok-sokan menjadi bos sombong!! Di depan bilang tidak suka, di belakang malah ditarik paksa, sebentar lagi dipojokkan, lalu dicium,"


Sejenak kemudian Tomy menghela napasnya, menatap ke arah phoncellnya. Terdapat notifikasi berita terbaru.

__ADS_1


"Renata terjatuh dari gedung apartemennya, karena mabuk!?" gumamnya, tertegun mengingat wanita itu tidak terlihat menyentuh minuman keras. Hanya pergi terburu-buru membersihkan dirinya saat pesta berlangsung.


Bersambung


__ADS_2