Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Farel (Secret of Tomy)


__ADS_3

Untuk pertama kalinya Tomy menginjakkan kakinya di Singapura. Mengangkat tas bawaannya dengan penuh senyuman. Ramainya orang asing yang transit di bandara membuatnya takjub menoleh ke arah sekitarnya.


Ada wanita yang berambut putih, memiliki mata biru, kulitnya putih pucat. Ada pula pria tinggi berkulit gelap, bahkan juga ada seorang pria berambut pirang dengan tubuh besar atletis, rambut-rambut halus di dagunya, mata coklat yang menatap tajam, bagaikan bintang film Hollywood yang sering disaksikannya dari TV yayasan. Matanya tidak jemu-jemunya kagum dengan keadaan di sekitarnya.


Begitu pula di dalam mobil yang melaju, remaja yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di luar negeri, tidak henti-hentinya menoleh ke luar jendela.


"Kamu senang?" pemilik yayasan yang berada satu mobil dengannya tersenyum.


"I..iya, terimakasih bersedia membawaku, aku tidak tau lagi akan kemana jika yayasan di tutup," jawabnya penuh senyuman.


"Tapi sampai akhir orang tuamu tidak mencarimu. Apa kamu kecewa?" sang pemilik yayasan kembali bertanya.


Remaja itu menunduk menggeleng-gelengkan kepalanya,"Tidak... mereka sudah bahagia, maka aku juga harus bahagia," jawabnya tersenyum, menoleh pada pemilik yayasan.


***


Sebuah gedung berlantai tiga terlihat, Tomy turun dari mobilnya, membantu pemilik yayasan membawa barang-barang mereka. Matanya menelisik mengamati tempat tinggal barunya.


Area luas bagaikan loby terlihat, beberapa orang hilir mudik, dari mulai karyawan yayasan, donatur tetap, hingga pengelola aset bergerak dari yayasan.


Aset bergerak? Beberapa yayasan yang mandiri terkadang tidak hanya mengandalkan donatur saja. Tapi memiliki usaha tersendiri yang dapat membiayai operasional yayasan mereka.


Papan besar juga terlihat disana, foto-foto dari cabang yayasan mereka di negara lain, bahkan daerah pelosok. Membantu biaya persalinan, membiayai pendidikan siswa miskin, bahkan mengadakan sistem orang tua asuh (Dimana satu donatur membiayai pendidikan dan biaya hidup seorang anak tidak mampu. Namun, masih di bawah pengawasan orang tua anak tersebut).


"Tomy, biaya hidupmu dari kecil menggunakan sistem orang tua asuh, kamu tau kan?" tanya sang pemilik yayasan. Dijawab dengan anggukan oleh Tomy.


"Orang yang memberimu sumbangan tidak pernah menengokmu karena dia donatur terbesar yayasan. Anak tidak mampu yang diberinya sumbangan terlalu banyak, tidak semua dapat di tengok olehnya. Sebuah keberuntungan dia ada di sini sekarang, sebaiknya kamu berterimakasih padanya," lanjutnya.


"Dia dimana?" Tomy mengenyitkan keningnya.


"Area berlatih judo..." pemilik yayasan menipiskan bibir menahan tawanya.


Peluh seorang remaja bercucuran, wajah dinginnya terlihat membanting latih tandingnya yang tidak ada habisnya.


Pakaian putih di kenakannya, rambutnya basah oleh keringat. Satu orang lagi naik ke atas arena, dengan dua gerakan orang yang bertubuh besar itu roboh olehnya.


"Keren..." Tomy menatap kagum dari jauh, di belakang pemilik yayasan.


"Berikutnya..." Ayana berucap penuh senyuman, memberi perintah latih tanding putra, yang baru dua tahun diadopsinya, untuk naik ke arena.


Sama seperti sebelumnya, pertarungan baru di mulai, namun kurang dari 30 detik lawan telah roboh.


Aku tidak tahan lagi, aku ingin melayani nona saja, mengayuh sepeda lebih menyenangkan... Tapi bagaimana bisa mengecewakan ibu angkatku... Farel menahan rasa lelahnya yang sudah bertarung lebih dari tiga jam.


"Lumayan, berikutnya..." Ayana kembali tersenyum. Namun, latih tanding putranya sudah habis.


"Kenapa belum maju juga, kamu cepat maju..." lanjut Ayana menunjuk pada Tomy, menyangka remaja itu adalah latih tanding berikutnya.


"Aku?" Tomy mengenyitkan keningnya.


"Iya kamu..." jawab Ayana penuh keyakinan.


"Maaf, dia ini..." pemilik yayasan hendak menjelaskan.


"Apa dia di tingkat yang lebih tinggi dari pada Farel? Tidak apa-apa, Farel harus belajar banyak, sebelum menginap di rumah kakeknya akhir bulan ini..." jawab Ayana menarik Tomy tanpa menunggu penjelasan.


"Tunggu, saya..." baru Tomy akan berucap, dirinya sudah di dorong ke atas arena.


Tangannya gemetar, keringat dingin mengucur di pelipisnya, menatap remaja yang mungkin seusia dengannya. Remaja berkulit putih, dengan rambut yang basah oleh keringat, wajah rupawan, dingin, menyeramkan.

__ADS_1


Gawat pendekar kungfu, bukan, salah ibunya orang Jepang, apa dia anggota gengster Jepang ya... mengerikan... Tomy ketakutan mengingat dua lawan sebelumnya yang dikalahkan dengan mudah.


"Hai, how're you today? (hai, apa kabarmu hari ini)" Tomy melambaikan tangannya, tersenyum canggung. Namun pemuda itu hanya terdiam.


Mungkin dia orang melayu... gumam Tomy dalam hatinya.


"Mak cik tu cakap Tomy latih tanding awak. Tapi Tomy tak nak (Bibi itu bilang Tomy latih tandingmu tapi Tomy tidak mau)...." kata-kata Tomy terhenti, pemuda di hadapannya menatap jenuh memasang kuda-kuda.


Dia terlalu banyak bicara, aku sudah lelah, ingin segera pulang... tanpa banyak bicara Farel hendak memulai pertarungan.


Tomy berusaha memasang kuda-kuda mengikuti gerakan remaja di hadapannya. Kakinya gemetar, beberapa kali bersiap mengubah posisi tangannya.


Farel masih terdiam menunggu gerakan Tomy."Aku peringatan, aku dapat menggunakan jurus terampuh hingga dapat tidak terluka sama sekali melawanmu..." ucap Tomy yakin.


Jurus terampuh... Farel mengamati dengan seksama.


"Hiaaat..." Tomy bergerak cepat ke arah Farel. Farel telah bersiap mengeratkan kuda-kudanya guna menangkis serangan, sekaligus menjatuhkan Tomy.


Namun tanpa diduga, gerakan kaki Tomy berbalik melarikan diri ,"Tolong aku...!!" ucapnya turun dengan cepat dari arena ketakutan.


Semua orang terdiam termasuk Ayana yang awalnya penasaran dengan jurus Tomy.


"Di... dia melarikan diri? Jurus langkah seribu...?" Farel tertawa lepas di atas arena judo menyaksikan lawannya melarikan diri.


***


Beberapa puluh menit kemudian, ruangan pemilik yayasan...


"Maaf sudah salah paham, aku kira kamu latih tanding putraku..." ucap Ayana tersenyum ramah.


"Tidak apa-apa, saya yang seharusnya berterimakasih karena anda sudah banyak memberikan bantuan pada saya..." Tomy menghebuskan napas kasar, senyuman perlahan terukir di wajahnya.


Ibunya seperti orang Jepang, tadi bahasa Inggris dan Melayu tidak menyahut, berarti bahasa Jepang... kali ini Tomy yang hanya bisa sedikit bahasa Jepang mulai nekat.


"Hajimemashite, watashi wa Tomy desu..." ucapnya mengulurkan tangan pada Farel yang duduk bersebrangan dengannya.


Mata Farel menatap tajam pada Tomy, bagaikan enggan berkata.


Apa dia orang Cina? Dia seperti memiliki darah keturunan Cina...sial aku tidak bisa bahasa Mandarin... batinnya, Tomy hanya tertunduk memilin jemarinya.


"Namaku Farel," Farel menoleh ke arah lain,"Tomy sebaiknya naikkan resletingmu..." ucapnya canggung.


"Ternyata orang Indonesia," Tomy menghela napasnya, namun baru menyadari kata 'resleting', "Maaf," ucapnya berusaha menaikkan resleting celana panjangnya.


Hari ini benar-benar sial!! Aku malu, benar-benar malu, aku ingin menyembunyikan diri di bawah selimut. Tidak, di bawah tanah sekalian...


***


Tomy masih menempuh SMU (Senior High School), sedangkan Farel yang beberapa kali loncat kelas kini masih menempuh S1. Kampus dan sekolah mereka bersebrangan.


Nyaman, begitulah Tomy merasa bergaul dengan orang yang berasal dari negara yang sama dengannya. Hingga dirinya sering mendatangi kampus tempat Farel belajar. Usia yang sama, namun Farel yang mendapat didikan ketat dari ayah angkatnya berada di tingkat yang berbeda.


"Two cups of coffee latte..." ucapnya mengembalikan buku menu pada waiters.


"May I arrived your order, two cup cake, and two cups of coffee latte..." sang waiters memastikan.


"Right..." jawabnya, bersamaan dengan sang waiters melangkah pergi.


"Aku tidak punya uang, kenapa memesan dua..." Tomy berbisik canggung.

__ADS_1


"Aku yang bayar..." Farel menjawab penuh senyuman.


Tomy melirik penampilan Fatel dari atas hingga bawah, menghela napas kasar,"Kamu baru datang dari berlatih judo, bagaimana bisa membawa dompet?" tanyanya curiga.


"Masih bisa bayar via transfer. Ada yang ingin aku bicarakan, aku mempunyai rencana ingin mendirikan sebuah perusahaan. Investor, modal awal, rencana bisnis jangka panjang sudah ada. Tapi hanya satu yang kurang, orang kepercayaan..." ucap Farel penuh senyuman.


"Mudah ayahmu mempunyai banyak kenalan lulusan orang berbakat, mintalah tolong padanya..." Tomy menghembuskan napas kasar, bersamaan dengan sampainya makanan dan minuman mereka.


"Aku ingin merekrutmu, jadilah orang kepercayaanku. Aku akan membiayai kuliahmu, dan membantumu meraih mimpimu," Farel mulai menyesap secangkir kopi di hadapannya. Menatap penuh harap pada makhluk di hadapannya.


"Kenapa memilihku?" tanyanya tidak mengerti.


"Orang pintar ada banyak, tapi orang setia pada orang yang berbelas kasih padanya hanya sedikit. Sebagian besar orang akan serakah, menggigit tangan orang yang memberinya makan..." jawabnya ambigu.


"Maksudnya?" Tomy tidak mengerti.


"Pertama kali bertemu, kamu sungkan untuk menolak bertarung denganku karena permintaan ibuku yang mendonasikan uangnya padamu kan?" tanya Farel dijawab dengan anggukan oleh Tomy.


"Aku sudah memohon pada ayahku, untuk menyokong biaya pendidikan dan hidupmu. Jadi selamanya kamu harus setia padaku..." lanjutnya.


"Kalau aku tidak bersedia?" tanyanya penasaran.


Farel melirik cangkir kopinya, sembari tersenyum,"Orang berbakat yang tidak mau bergabung denganmu, lambat laun akan jadi musuh yang berbahaya. Bagaimana jika ikut liburan ke Jepang denganku, kebetulan kakekku sedang mengajariku menggunakan senjata api..." ucapnya ambigu.


Senjata api? Dia ingin menjadikanku sasaran latihan tembak? Tenang Tomy tanpa pengalaman, tuan muda kaya ini dalam satu tahun perusahaan yang dibangunnya akan bangkrut. Hidupmu akan terbebas darinya... gumam Tomy dalam hati.


"Aku ikut, aku bersedia menjadi orang kepercayaanmu..." jawabnya terpaksa, meminum dua teguk kopinya."Omong ngomong apa tujuanmu mendirikan perusahaan?" lanjutnya.


Farel termenung sejenak,"Pernahkah kamu menginginkan sesuatu yang lebih tinggi darimu. Sesuatu yang tidak dapat kamu gapai?"


"Aku pernah, aku hanya anak adopsi nyonya Ayana. Sebelumnya aku adalah anak angkat rangkap pelayan. Aku menyukai putri majikanku, tapi nyonyaku berkata aku tidak akan dapat membahagiakannya. Aku ingin memiliki perusahaan sendiri, agar ketika melamarnya nanti dapat mengangkat wajahku, menunjukkan aku dapat membahagiakannya..."


Tomy ikut terdiam merenung. Dari kalangan bawah? Berjuang untuk diakui? Secara garis besar hidup mereka sama, impian yang serupa, sesuatu yang membuat hatinya yang tulus luluh. Apalagi mengingat Ayana yang selama ini memberikannya dan ibunya bantuan sekedar untuk bertahan hidup.


"Impian kita sama. Aku berjanji akan membantumu sepenuh hati. Kita akan menguasai dunia bisnis...!!" tekadnya menggebu-gebu.


"Benar, kita kumpulkan uang sebanyak-banyaknya..." Farel tersenyum, dengan cepat menghabiskan kopi miliknya.


"Kamu tau impianku adalah melamar orang yang aku sukai. Kemudian menunjukkan pada kedua orang tuaku kalau aku bukan anak yang menyusahkan..." Tomy mengungkapkan semua gagasannya.


"Cita-cita yang bagus..." Farel tersenyum, sambil menghabiskan kopi milik Tomy yang tersisa setengah cangkir.


***


Kembali ke beberapa tahun kemudian, tepatnya pembicaraan serius antara Clarissa dan Tomy....


"Pertama kali kami bertemu, dia membuatku ketakutan. Setelah itu membiayai seluruh hidupku. Karena itu aku tidak akan bisa lepas dari bos pelit sepertinya..." gumamnya.


Clarissa menghebuskan napas kasar, masih mengira Tomy adalah sepupunya."Berapa hutangmu, aku akan menebus hutangmu pada Farel dan keluarganya!!"


Tomy mengenyitkan keningnya,"Tidak bisa aku berhutang nyawa pada mereka..."


Jika tidak mendapatkan bantuan dari yayasan, mungkin aku yang terlahir prematur akan ditinggalkan ibuku...


Jika tidak ada Farel, maka JH Corporation juga tidak ada, tempatku mengumpulkan uang untuk membuktikan aku bukan anak menyusahkan juga tidak ada. Bahkan mungkin aku tidak bisa mengumpulkan uang untuk membuat rumah sebesar-besarnya untuk gadis lembut dan belasan calon anak kami...


Kakak senyumanmu bagaikan rembulan yang naik perlahan ke atas langit... Tinggal acara pernikahan dan kapal Ferry mewah, maka aku akan menemuimu...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2