
Kegaduhan terjadi, seorang pemuda diikuti tiga orang pengacara ternama yang sering tampil di televisi, datang ke rumah sakit. Beserta seorang pengawal yang bertugas membawa beberapa berkas.
Beberapa orang merekam dengan kamera handphonenya tidak percaya, tiga orang pengacara terkenal yang sering viral, apabila menangani sebuah kasus disewa dengan harga fantastis itu hadir bersamaan. Mengikuti seorang pemuda rupawan yang memiliki tatapan tajam mematikan.
Satu notifikasi pesan masuk di handphonenya, pemuda yang tengah berjalan di lobby rumah sakit. Menghentikan langkahnya, mengenyitkan keningnya, membaca sebuah pesan. 'Ingat ancam dia untuk menikah minggu ini. Dengan dalil akan merebut hak asuh Rafa,'
Tomy menghebuskan napas kasar, kembali berjalan masuk... Orang-orang yang melihat tiga pengacara ini akan mengira mereka menangani kasus besar tentang perusahaan berbasis internasional, atau kematian orang ternama, bahkan pejabat negara. Siapa sangka mereka adalah pengacara yang aku sewa hanya untuk menakut-nakuti seorang singgel parent (orang tua tunggal) untuk segera menikah. Jika begini kasus pencurian seekor ayam terasa lebih penting...
Pemuda itu kembali menelusuri lorong dengan keren. Mata semua orang menelisik, menyangka akan ada sebuah kasus yang menjadi viral atau menyangkut orang ternama.
***
Sementara itu, Farel segera memasukkan handphonenya seusai mengirimkan pesan pada Tomy
Perlahan Jeny mulai menetralkan nada bicaranya, menatap pemuda yang duduk di kursi tepi tempat tidurnya. Setelah, menerima serangan tiba-tiba dari Farel. Wanita itu, memiliki ambisi lain, yang tercetus dalam benaknya. Ingin menyelidiki kematian Ren 13 tahun yang lalu, kematian orang masih dikasihinya hingga sekarang.
"Farel, aku ingin meminta tolong padamu," ucap wanita itu, dengan mata berkaca-kaca.
"Apa!?" pemuda itu mengenyitkan keningnya.
"Menikahlah denganku..." Jeny menutup matanya, menahan rasa malunya. Hanya demi ambisi, dan rasa bersalahnya pada Ren.
Aku tidak mimpi kan!? Tomy belum datang, kenapa dia bisa seperti ini... batin Farel masih terdiam mencerna kata-kata Jeny.
"Kamu pasti tidak mau ya!? Maaf, tapi aku janji akan membayarmu. Menjadi suamiku selama enam bulan, aku akan membayarmu dengan rumah dan mobilku, bagaimana!?" Jeny berucap dengan cepat, berharap pemuda aneh di hadapannya tidak menolak tawarannya.
Tidak dibayarpun aku mau, tapi apa ini...
"Rumah dan mobil!?" Farel mengenyitkan keningnya, tidak mengerti.
"Kurang ya!? Maaf, tapi hanya itu yang aku punya saat ini, selain EO yang sepertiga sahamnya dimiliki oleh ibu Ayana..." Jeny tertunduk.
"Aku..." Kata-kata Farel terpotong.
"Aku berjanji tidak akan menyentuhmu!! Menikahlah denganku ya!? Selama enam bulan saja, setelah itu kita buat perjanjian cerai. Aku hanya ingin pulang ke rumah ibuku tanpa harus kembali pada Daniel..." Jeny menggenggam tangan Farel penuh harap. Mengeluarkan ekspresi manis memohonnya.
Tahan Farel, tunggu kedatangan Tomy maka kamu akan menjadi suami sesungguhnya. Tidak perlu menjadi suami pura-pura yang akan bercerai setelah enam bulan... tekadnya dalam hati, menahan pesona wajah memelas dari Jeny.
Dia akan menolak ya!? Tapi ini untuk menemukan bukti kematian Ren. Aku harus pulang ke rumah menjadikan Farel sebagai tameng, agar tidak dipaksa kembali dengan Daniel... Jeny terlihat putus asa, terdiam sejenak menemukan sebuah ide gila, mengingat tingkah mesum Farel yang sering menciumnya tiba-tiba.
"Aku akan menjadi murahan untukmu!! Jika kamu mau, kamu boleh menciumku kapan saja!!" ucapnya, mengubur rasa malunya. Yang ada di fikirannya saat ini, hanya ingin mengetahui sebenarnya tentang kematian kekasih kecilnya. Tidak peduli pada apapun lagi, hanya menebus rasa bersalahnya pada Ren.
__ADS_1
Farel membulatkan matanya, godaan terberat baginya terdengar. Memejamkan matanya sejenak, berharap Tomy segera sampai. Namun, bagaimana rasanya jika kekasih yang dirindukannya selama belasan tahun mengatakan dapat menciumnya dengan bebas, tanpa di dorong atau mendapatkan amarah!?
Singa lapar yang disuguhkan tumpukan daging. Persetan dengan Tomy... ucap Farel dalam hati, tiba-tiba bangkit dari kursinya duduk di pinggir tempat tidur Jeny.
Memegang belakang kepala wanita itu, menikmati bibir Jeny dengan ganas. Jeny menutup matanya. Entah kenapa wanita itu tidak merasa jijik atau risih sama sekali, mirip dengan saatnya bersama Ren belasan tahun yang lalu. Namun, segala perasaan berdebar ditepisnya dengan kata-kata... Aku tidak akan bisa dan belajar mencintai orang lain, hanya menyimpan hatiku untuk Ren... kata yang tersimpan dalam hatinya, setelah disakiti secara mental dan fisik terlalu dalam oleh Daniel, rasa trauma masih ada dalam dirinya.
"Aku terima tawaranmu..." ucap Farel dengan deru napas memburu, kembali memejamkan matanya. Tidak menyia-nyiakan kesempatan menumpahkan rasa rindunya walaupun hanya dengan ciuman.
Jeny ikut memejamkan matanya, membalas tautan bibir Farel. Gerakan bibir yang lembut dan pelan menggoda dirinya untuk membalas, saling memilin dan membelit, bertaut seakan tidak pernah puas.
Jeny bodoh, tidak ada pria yang tulus padamu selain Ren. Jangan membalas gerakan bibirnya... ucap Jeny dalam hatinya, namun kenyataannya berbeda. Bibir dan mulutnya seakan tidak dapat dikendalikan oleh otaknya.
Nona aku mencintaimu dari dulu hingga sekarang. Tidak akan aku biarkan ada orang yang menyakitimu sedikitpun. Dengan identitas Farel, aku akan selalu ada dan melindungimu... janji Farel dalam hatinya, menikmati bibir Jeny penuh hasrat.
Brak...
Suara pintu dibuka,"Kami ingin menyerahkan surat peringatan pengambilan hak asuh..." kata-kata Tomy terhenti, mengenyitkan keningnya jengkel. Sedangkan mata ketiga pengacara di belakangnya menelisik, kemudian mengalirkan pandangannya sejenak. Menahan rasa malu menatap adegan ciuman panas dua orang anak muda.
Jeny membuka matanya, mendengar suara seseorang, dengan refleks cepat mendorong tubuh Farel.
Memalukan... gumam Jeny dalam hatinya, memasukkan dirinya ke dalam selimut saking malunya.
"Katanya boleh mencium kapan saja, kenapa masih di dorong!?" Farel membentak, berusaha bangkit dari lantai.
Tomy masih terlihat kesal, namun berusaha untuk netral. Ketiga pengacara di belakangnya yang juga hanya dapat menahan tawanya,"Nona Jeny, sesuai janji saya. Saya datang untuk memberikan peringatan pada anda agar segera ke Singapura bersama kami. Atau menikah dengan kekasih anda. Jika tidak, tuan muda kecil (Rafa) akan kami perkarakan hak asuhnya, karena tuan kami tidak ingin putranya besar tanpa ayah," ucapnya pada wanita yang bersembunyi di bawah selimut.
Jeny membulatkan matanya, keluar dari selimut, mungkin hanya kebetulan atau dewi Fortuna sedang berpihak padanya,"Aku akan menikah dengan kekasihku!! Iya kan sayang..." ucapnya dengan nada manja pada Farel.
Farel menghembuskan napas kasar wajahnya nampak tersenyum,"Benar kami akan menikah..." ucapnya.
Pernikahan dengan perjanjian perceraian. Sial!! Kenapa aku tergoda hanya dengan iming-iming ciuman... Farel memendam rasa kesalnya, yang dengan mudah dapat tergoda oleh Jeny.
"Ingat tiga hari lagi kalian harus sudah menikah," Tomy menatap tajam penuh tanda tanya, tidak mengerti pada Jeny yang seharusnya sulit untuk dibujuk.
"Baik!!" ucap Jeny dengan wajah ceria.
Tomy hanya dapat menghembuskan napas melirik ke arah ketiga pengacara di belakangnya, yang seharusnya berdebat dengan Jeny membuat wanita itu ketakutan. Tapi malah tertunduk menahan tawa bagaikan seusai menonton sebuah pertunjukan.
"Saya undur diri..." Tomy menghela napas kasar.
"Besok undangannya akan sampai," ucap Jeny sedikit berteriak, mengamati pintu yang mulai ditutup Tomy.
__ADS_1
Jika kalian sudah saling menyukai dan akan menikah kenapa membuatku malu di hadapan tiga pengacara busuk ini...Aku masih ingin berkata... Tuan apa anda masih waras... Tomy melangkah pergi dengan wajah datar, sedangkan tiga pengacara senior di belakangnya hanya dapat menahan tawanya. Mengingat mereka yang dibayar tanpa perlu melakukan apapun.
***
Di dalam kamar pasien, Jeny mulai tersenyum senang. Bukan hanya dapat menyelidiki kematian Ren dengan leluasa, dirinya juga dapat menghindari pemilik JH Corporation dengan mudah.
Farel menyilangkan lengannya di depan dadanya menatap jenuh,"Bayaranku mana!?" tanyanya.
"Tadi kan sudah!!" Jeny tertawa kecil mengeluarkan keringat dingin.
"Omong ngomong, kenapa hanya 6 bulan saja!? Bagaimana jika selamanya!!" Farel masih berusaha menjadi suami sesungguhnya, yang tidak terikat perjanjian akan bercerai.
"Tidak, aku masih mencintai seseorang. Besok aku akan mengantarmu menemuinya..." Jeny menghela napas kasar.
"Kenapa dia tidak menikah denganmu!?" Farel mencengkram erat sprei di tangannya menahan rasa cemburu dan amarah.
"Dia tidak bisa, jika bisa kami mungkin sudah bersama dan membesarkan anak-anak kami dengan baik. Saat ini aku hanya ingin menyimpan hatiku untuk dia..." ucap Jeny penuh senyuman.
Farel mulai mendekat,"Aku boleh minta imbalan kapan saja!?" ucapnya, mulai tertekan rasa cemburu dan emosi, menatap bibir Jeny intens.
Farel mendekatkan mulutnya, hendak kembali mencium Jeny. Namun, tanpa aba-aba, mulutnya disuapi bubur oleh wanita itu,"Kamu boleh minta bubur kapan saja!!"
Nona waktuku hanya 6 bulan!! Bagaimana caranya agar kamu menyukaiku, jika kamu selalu menghindar seperti ini!? Setampan dan sekaya apa sebenarnya tikus yang kamu sukai sampai sekarang!! Aku ingin melihat wujudnya, kemudian menginjak-injak wajah memuakkannya... Farel kesal dalam hati, sembari mengunyah bubur yang terlanjur ada di mulutnya.
***
Sebuah mobil sport keluaran terbaru mulai terparkir. Seorang wanita cantik, berpakaian minim memasuki rumah.
"Nana sayang!!" Dea tersenyum menyambut keponakan yang paling dibencinya.
"Paman Jony menyuruhku tinggal sementara di sini. Apartemenku sedang di renovasi," ucapnya penuh senyuman, menyusun banyak rencana untuk menyatukan Daniel dan Jeny. Berniat menggunakan tangan pemilik JH Corporation menghancurkan sepupunya.
"Kamar Jeny dimana bibi!? aku merindukannya, jadi selama aku disini aku ingin tinggal di kamarnya" tanyanya.
"Di lantai dua kamar paling kiri," jawab Dea, mengingat tidak ada barang penting yang tersisa di kamar itu.
***
Mata Nana menelisik setelah diantarkan sang pelayan, mulai menghidupkan sakelar lampu kamar bekas Jeny.
"Antara menikahi kakek tua dan tuan muda yang senang menganiaya istrinya. Mana yang akan kamu pilih!?" gumamnya, mengamati kamar Jeny yang beberapa bulan ini tidak tersentuh. Kamar yang akan ditempatinya.
__ADS_1
Bersambung