Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Nonaku


__ADS_3

"Setidaknya beri tau aku namanya..." Dimas mengenyitkan keningnya.


"Namanya Ana, hanya itu informasi untuk wartawan kecil ayah..." Jony tersenyum gemas,"Nanti kita akan menengok kakakmu ya?"


Dimas tersenyum mengganguk, menatap ayahnya.


***


Jeny tengah tertidur nyenyak, tetesan infus bergerak mengalir ke pergelangan tangannya. Seorang pria berpakaian dokter memakai kacamata dan masker berjalan membawa catatan serta bolpoin, menelusuri lorong, bagaikan akan memeriksa keadaan pasiennya.


Hingga sampai di depan sebuah ruangan rawat inap yang dijaga ketat,"Kamu siapa?" tanya salah seorang penjaga.


"Sa... saya dokter Hendra, saya ber... bertugas memeriksa pasien di kamar ini. Maaf..." ucapnya memejamkan matanya, tertunduk bagaikan ketakutan.


Indra yang berjaga bersama dua orang pengawal milik Ayana, menghela napasnya, menatap jenuh pada dokter pengecut di hadapannya. Mengamati kartu ID yang memang sesuai dengan namanya 'Hendra Wijaya Sp.M'


"Apa aku boleh masuk?" tanyanya lagi.


"Masuklah..." Indra mengenyitkan keningnya.


"Tapi jika aku masuk, kalian tidak akan berbuat apa-apa padaku kan?" tanya pria yang memakai masker, tangannya gemetaran. Wajahnya tertunduk.


"Tidak, asalkan saat memeriksa nona kami, kamu tidak gemetaran seperti ini!!" bentak pengawal kepercayaan Ayana, tertawa mengejek.


Jemarinya yang berbalut sarung tangan, mulai memutar hendel pintu. Terlihat wajah cantik seorang wanita, dengan perban di matanya yang sudah terlepas. Pintu ditutupnya, kemudian dikunci dari dalam mendekati tubuh Jeny yang tertidur.


"Indah, sayang sekali tidak dapat melihat proses kematianmu..." ucapnya melepaskan masker di wajahnya.


Mati dengan mudah? Tidak ada dalam prinsipnya. Botol kecil keluar dari sakunya, beserta sebuah jarum suntik. Cairan mulai masuk perlahan dalam alat suntik itu. Racun yang dapat menyebabkan penderitaan sebelum kematian, hendak ditancapkannya pada botol infus. Hingga, terdengar suara dari luar sana, terjadi kegaduhan.


"Sial!!" umpatnya, keluar dari jendela kamar Jeny yang terbuka. Berjalan perlahan berpegangan pada celah dinding, menuju jendela kamar sebelah yang terbuka, di lantai tiga kamar itu.


***


"A...ada mayat...!!" seorang cleaning service, jatuh tersungkur, wajahnya nampak pucat, menatap seorang dokter terbaring dengan wajah membiru, mulut mengeluarkan busa, kacamata dan name tag yang sering dipakainya hilang entah kemana. Di dalam gudang tempat penyimpanan stok obat.


Benar, mayat itu adalah dokter Hendra yang asli. Kegaduhan terjadi di rumah sakit, Indra yang berjaga di luar kamar menghentikan langkah seorang suster, yang bagaikan ingin mengetahui kegaduhan yang terjadi.


"Ada apa?" tanyanya.


"A...ada mayat, dokter Hendra, dokter spesialis mata meninggal!!" ucap seorang suster yang dihentikan Indra.


"Sialan!!" umpatnya, sembari mencoba mendobrak beberapa kali pintu ruang rawat Jeny yang terkunci dari dalam.


Brak...


Pintu terbuka secara paksa...


"Ada apa?" Jeny yang baru terbangun mengenyitkan keningnya tidak mengerti. Indra berjalan cepat. Matanya, menelisik mengamati setiap sudut ruangan, bahkan kamar mandi. Hingga, perhatiannya teralih pada jendela yang terbuka.


Melihat ke arah bawah, bersamaan dengan Hans yang berhasil masuk melalui jendela kamar sebelah.


"Dia berhasil melarikan diri..." ucapnya geram, tidak menemukan kebenaran Hans, tertipu dengan dokter aneh yang terlihat pengecut.


Sejenak perhatian Indra beralih pada Jeny, terdapat jarum suntik kosong yang tergeletak di lantai dekat tempat tidurnya. Jarum selang infus wanita itu di tarik paksa olehnya. Kemudian menekan-nekan sakelar dekat tempat tidur pasien guna memanggil perawat.


"I...Indra? Kenapa infusku dicabut?" tanyanya, menahan sakit, meraba-raba ke arah sekitarnya.


Tidak lama seorang perawat datang,"Periksa keadaannya!!" ucap Indra membentak, tidak ingin teledor sedikitpun dalam tugasnya.


***


Farel memejamkan matanya sejenak, berusaha untuk bersabar,"Polonium?" ucapnya, menahan amarah.


"Benar, tapi belum sempat masuk ke dalam tubuh istri anda," Indra tertunduk penuh rasa bersalah, mengijinkan seseorang tidak dikenal masuk dengan mudah.


Farel menghela napasnya, menatap ke arah jendela cafetaria rumah sakit yang terbuka,"Aku bisa meminta tolong padamu!? Tolong bawa istriku, ke sebuah sanatorium, ini alamatnya..." ucapnya, mengetikkan alamat villa milik Gabriel, mengirimkan pada nomor kontak Indra.


"Tuan Gabriel?" ucap Indra, menatap alamat yang baru masuk di handphonenya.

__ADS_1


"Jadi kamu orang suruhan Gabriel?" tanya Farel dijawab dengan anggukan oleh Indra.


"Ternyata dia tidak begitu buruk, kemarin aku memergokinya tidur dengan ibuku..." Farel tertawa kecil, mengingat kelakuan kedua orang tuanya.


Ibu dari Farel? Ibu orang ini bukannya Ayana? Tuan Gabriel berselingkuh dari istrinya? Benar-benar scandal keluarga berkuasa. Pantas saja aku diminta melindungi calon anak tirinya... Malangnya nasib nyonya Citra... gumam Indra dalam hati, salah sangka dengan kata-kata Farel.


Senyuman mengerikian tiba-tiba menyungging di wajah Farel, menatap pantulan dirinya dalam cangkir teh di hadapannya. Jemarinya, mengelus bibir cangkir bagaikan berpikir.


"Katakan pada Gabriel, aku menunggu penjelasannya. Tapi sebelum itu, ada hal yang akan aku urus..." ucapnya.


***


"Pelan-pelan..." Farel tersenyum simpul, membimbing istrinya menuju atap rumah sakit. Sinar kemerahan nampak di langit, pertanda senja menyingsing.


Jeny hanya terdiam, tersenyum menikmati udara menerpa rambutnya."Sayang..." Farel mulai duduk di lantai, menarik Jeny ke dalam pangkuannya.


"Sayang? Tumben, biasanya nona..." tanyanya, tertawa kecil.


"Ini rayuan, karena pelayanmu ini akan berbuat kesalahan..." Farel, mengeratkan pelukannya.


"Kesalahan apa?" tanyanya.


"Berselingkuh," jawab Farel, ikut memejamkan matanya, menikmati dinginnya udara sore.


Plak...


Jeny memukul asal, tepat mengenai kepala Farel, mulai berusaha berdiri dari pangkuan pemuda itu. Namun, Farel kembali menariknya, menjatuhkan Jeny dalam pangkuannya kembali.


"Sakit, aku hanya bertanya saja ..." ucapnya tersenyum, masih memangku Jeny.


"Selingkuh saja!! Aku tidak peduli!!" Jeny membentak.


"Jika marah nona terlihat manis. Selamanya aku hanya mencintai nona, nona adalah nyawaku," ucap Farel masih duduk di lantai dengan mata terpejam, menikmati saat-saat kebersamaan mereka.


"Ren sejak kapan kamu pandai..." kata-kata Jeny terhenti, Farel membuka matanya, tanpa aba-aba, memangut bibir Jeny.


Tangan wanita itu, mulai mencari celah, mengalung pada leher suaminya. Cukup lama, bibir itu saling bersentuhan, lidah mereka bagaikan saling terbelit. Terlepas sejenak hanya untuk menghirup napas, kemudian bertautan kembali.


"Nona..." ucapnya dengan napas tidak teratur.


"Kenapa?" tanya Jeny, memundurkan sedikit tubuhnya.


"Beberapa hari ini, aku ada urusan. Bagaimana jika sementara waktu, nona tinggal di sanatorium...?" tanyanya.


Jeny menghebuskan napas kasar, sedikit tidaknya memahami kesulitan Farel mengurus perusahaannya."Baik, tapi jangan berselingkuh!! Jangan tebar pesona!! Jangan menggoda wanita lain..."


"Aku tidak berani melanggar perintah nona..." ucap Farel penuh senyuman.


Nona, aku akan melanggar perintahmu kali ini, pelayanmu ini akan memasuki sarang penyamun... ucapnya, meraih jemari tangan Jeny, menggenggam erat penuh kasih, kembali menarik tangan istrinya. Melanjutkan ciuman yang sudah seperti menjadi candu baginya.


***


Seorang pemuda tengah mengerjakan sesuatu di laptopnya, pandangannya sedari tadi tidak teralih.


"Polonium? Racun yang membunuh perlahan, dan tidak ada penawarnya. Wah, anda hampir menjadi duda kwalitas tinggi..." Tomy berucap dari kursi pengemudi.


"Tomy, bagaimana jika kita bersenang-senang tanpa sepengetahuan kakek. Kita harus menggerogoti mereka dari dalam kan?" ucapnya, bagaikan mengatakan hal yang wajar.


"Mati dengan ulat parasit dari dalam akan lebih menyakitkan dari pada mati karena ditikam pisau..." lanjut Farel terlihat antusias dengan istilah mengerikan, yang diucapkan dengan wajah tanpa dosa.


"Tapi bertindak tanpa diketahui tuan Taka ..." Tomy nampak ragu.


"Aku akan menanggung resikonya untukmu, meskipun dihajar sampai mati oleh kakekku, karena bertindak tanpa bukti. Aku akan menjadi ulat parasit yang mati dengan tenang, asalkan dapat membunuh mereka perlahan..." gumam Farel tertawa kecil, sembari meletakkan laptopnya ke dalam tas.


Dia mengerikan, bos pelitku sedang marah besar... Tomy mengenyitkan keningnya, melirik dari kaca spion dalam mobil.


Namun sejenak kemudian, Tomy tersenyum menyeringai, bagaikan menemukan kebebasannya,"Aku akan ikut menggerogoti mereka, dagingnya mungkin enak..." ucapnya ikut tersenyum simpul, bagaikan dua iblis yang baru bebas dari topeng baik hati yang mengekang mereka.


***

__ADS_1


Dentuman musik terdengar, semua pengunjung nampak menikmati suasana. Bau minuman keras menyengat, bahkan bau rokok tercium samar-samar.


Seorang wanita menari dengan beberapa rekannya bersama ramainya pengunjung club'malam. Sejenak kemudian kembali duduk di kursi mereka. Beristirahat meminum minuman keras yang mereka pesan.


"DJ hari ini, lumayan juga. Kata manajer club', DJ amatiran. Tapi lebih hebat dari profesional DJ..." ucap Ferly (teman Clarissa) yang merupakan pelanggan VIP di tempat itu, meminum seteguk minuman di gelasnya.


"Terserah, yang penting penat hilang..." Clarissa tersenyum menghela napasnya.


Sarah (teman Clarissa) menatap ke arah atas, tepatnya meja DJ, terlihat seorang pemuda rupawan, memainkan alat-alat audio disana. Earphone melekat di telinganya. Pandangan, dengan senyuman mautnya tidak teralih dari meja mereka.


"Gila!! Oh My God...!! Keren...!! Dia ngelihat kesini!! Dia ngelihat kesini!!" teriak Sarah histeris, menepuk pundak temannya.


Ferly ikut tertegun, bagaikan terhipnotis senyuman maut pemuda di atas sana,"Di...dia DJ atau selebriti!!" ucapnya ikut histeris, mengamati seorang pemuda memakai sweater dan celana jeans hitam, dengan salah satu telinganya terdapat tindikan.


"Clarissa!! Clarissa!!" teriaknya, pada temannya.


"Apa?" tanya Clarissa dengan nada malas.


"Lihat DJ-nya, that's so perfect..." Ferly berucap antusias.


"Paling juga..." kata-kata Clarissa terhenti, wanita itu membulatkan matanya menatap Farel yang berada di meja DJ. Sebelah matanya dikedipkan seakan menggoda Clarissa, yang baru menoleh.


"Astaga jantungku meleleh..." Ferly berucap, mengira Farel yang berada di lantai dua tertarik padanya.


Namun, tiba-tiba seorang pria yang terlihat mabuk menghampiri ketiga orang wanita itu, tubuhnya sempoyongan."Sayang..." ucapnya menggoda Clarissa.


Plak...


Clarissa terlihat jijik pada pria paruh baya di hadapannya, menampar dengan kencang. Farel menyerahkan perangkat audio nya pada orang lain. Mulai melangkah turun...


"Dasar wanita j*lang!! Berani-beraninya kamu!!" umpatnya hendak memukul Clarissa.


"Jika kamu berani menyentuhku atau teman-temanku. Kamu akan mati!! Ayahku adalah..." kata-kata Clarissa terhenti. Farel datang, memukul pria paruh baya itu dengan membabi buta.


"Dia adalah gadisku!! Seorang wanita terhormat!! J*lang!? jika berani mengatakannya lagi, aku tidak akan segan-segan..." Farel menatap sinis.


Pria yang tersungkur di lantai itu mulai merangkak, kemudian berlari pergi bagaikan ketakutan.


"Kalian tidak apa-apa...?" tanyanya tersenyum hangat.


"Ti... tidak apa-apa, aku Ferly..." Ferly mengulurkan tangannya, hendak berkenalan.


"Syukurlah tidak apa-apa, teman Clarissa adalah temanku juga..." ucapnya merapikan anak rambut Clarissa yang berantakan, tidak mempedulikan uluran tangan Ferly yang ingin berkenalan dengannya.


Clarissa tertegun, tidak dapat berkata-kata.


"Aku harus kembali ke lantai dua, jaga dirimu..." Farel kembali menyunggingkan senyumannya, melangkah perlahan menuju lantai dua. Earphone, kembali melekat di telinganya, pengunjung club'malam, mulai kembali berteriak, menikmati dentuman musik yang dimainkan DJ diatas sana.


Fikiran Clarissa bagaikan melayang, wajah Farel seperti lekat tersimpan. Koleksi kekasihnya mungkin sekarang bagaikan tidak ada apa-apanya, hanya setumpukan sampah.


***


Sedangkan di lantai dua club'malam, beberapa puluh menit kemudian ...


"Kamu sudah membayarnya?" tanyanya pada Tomy, sembari meminum seteguk soda kemasan di hadapannya.


"Sudah, tapi kenapa harus menyewa orang hanya untuk mendekati wanita yang sudah tertarik pada anda?" tanyanya menatap sinis, setelah membayar orang yang berpura-pura mabuk dan merayu Clarissa.


"Semakin tidak curiga seseorang pada suatu benda penghasil parasit, semakin dalam juga parasit itu dapat masuk," ucapnya meminum seteguk lagi.


Farel mulai tersenyum,"Mereka berani mengganggu nona dari seorang Ren? Aku akan memakan mereka dari dalam tanpa sisa..." lanjutnya, meremas kaleng sodanya hingga air didalamnya meluber membasahi tangannya. Kaleng sudah terlihat remuk tidak berbentuk.


"Lumayan..." Tomy tertawa kecil, seakan itu adalah sebuah candaan biasa, ikut meminum sekaleng soda miliknya.


Seteguk...dua teguk...


"Punyaku tumpah, aku masih haus...!!" tangan Farel bagaikan cekatan merebut sekaleng soda milik Tomy.


Untung saja aku masih punya cadangan, sedia payung sebelum banjir... gumamnya dalam hati, mengeluarkan sekaleng lagi dari kantongnya, meminumnya penuh senyuman.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2