
Taka mengenyitkan keningnya menatap curiga,"Kenapa menanyakan tentang cucuku?"
Gabriel mulai tersenyum,"Aku hanya mengaguminya saja..."
"Mengenai kerjasama yang aku magsud, kita akan membicarakannya setelah anda yakin dengan kebenaran kata-kata saya ..." lanjutnya.
"Ini resep vitaminnya," Gabriel menuliskan sesuatu, kemudian menyodorkan kertas kecil pada Taka. "Anda kekurangan vitamin B1..."
Taka menghela napasnya, meninggalkan ruangan Gabriel, yang masih tersenyum cerah padanya.
Penasaran? Itulah yang masih terngiang di benak pria itu. Tes DNA merupakan cara termudah. Namun, Taka akan marah besar jika dirinya ketahuan mengusik salah satu anggota keluarganya.
Gabriel menyenderkan kepalanya di meja, jemarinya mengetuk-ngetuk meja berpikir,"Aku harus menemuinya secara pribadi..." gumamnya.
***
Di tempat lain...
Seorang pria dewasa memakai kacamata, lengkap dengan dasi kupu-kupunya menatap ke arah kamar mayat.
"Kamu siapa?" seorang pria mengenyitkan keningnya, menatap Tomy yang hendak memasuki kamar mayat.
Tomy terdiam sejenak, mulai berpikir. Beberapa saat kemudian menangis meraung-raung,"Renata..." lirihnya, mulai menitikkan air matanya.
"Renata, dia satu-satunya orang yang aku cintai...Aku ingin mati bersamanya..." ucapnya terlihat lemas, terduduk di lantai, dengan wajah menunduk, pria yang terlihat benar-benar hancur karena kematian wanita yang dicintainya.
Penjaga kamar mayat terlihat iba padanya,"Apakah kamu fansnya? Lebih baik doakan saja dia, supaya dia tenang disana,"
Tomy menggeleng gelengkan kepalanya, mencengkram kain celana panjang sang penjaga kamar mayat,"Dia cinta pertamaku, kami berjanji akan selalu bersama ketika SMU. Dia pergi ke kota dan menjadi selebriti, aku berusaha keras mengumpulkan uang agar dapat menemui dan melamarnya, tapi setelah bertahun-tahun..." Tomy kembali menitikkan air matanya, terlihat berusaha tegar. Melepaskan kacamatanya sejenak, guna menghapus air matanya yang terlanjur tumpah.
"Maaf, aku hanya ingin menemuinya untuk terakhir kali, untuk mengatakan aku masih memegang janjiku bahwa aku hanya mencintainya..." Tomy mulai bangkit, terlihat lemas, berjalan terhuyung.
Inilah yang dinamakan cinta sejati... mata penjaga kamar mayat berkaca-kaca, menatap punggung seorang pemuda yang melangkah lemas, setelah kehilangan kekasihnya.
"Aku sungguh jahat pada cinta sejati mereka," gumam sang penjaga kamar mayat, mengejar langkah Tomy, "Tunggu!! Kamu boleh mengatakan kata-kata perpisahan padanya. Tapi hanya lima belas menit..." ucapnya, menatap haru.
"Terimakasih..." Tomy menunduk, terlihat berusaha tegar. Masih menitikkan air matanya.
__ADS_1
Pintu kamar mayat mulai terbuka, Tomy mulai melangkah masuk perlahan, melangkah dengan gentar, seakan tidak mempercayai gadis yang dicintainya sudah tidak ada di dunia ini lagi.
"Ini adalah mayat artis film Renata..." sang penjaga kamar mayat mengantarnya ke hadapan sebuah mayat yang tertutup kain putih.
Tomy menutup mulutnya, tangisannya terdengar memilukan,"Renata..." lirihnya, memegang tangan putih halus yang mulai mendingin.
Kukunya menguning, terlihat seperti pecandu alkohol. Jika dari waktu kematiannya, dari saat bertemu tuan Farel dalam keadaan sadar tanpa pengaruh alkohol. Dari jeda waktu itu, seharusnya hanya dapat meminum sekitar dua gelas anggur. Untuk pecandu alkohol, hanya dua gelas tidak akan membuat mabuk... dugaannya dalam hati.
Tangan Tomy gemetar, mulai membuka wajah cantik yang tertutup kain putih,"Sayang, aku merindukanmu. Kenapa kamu pergi begitu cepat!?" ucapnya dalam tangisan terisak, menyentuh pelan pipi putih dingin yang halus, bagaikan lotus.
"Jika aku bisa memilih. Aku ingin mati bersamamu..." lanjutnya mencium kening Renata.
Sang penjaga kamar mayat menangis sesenggukan, menatap cinta tulus seorang pemuda yang bahkan mengalahkan kematian,"Inilah cinta sejati..." gumamnya menatap haru.
Luka di kepalanya, berada di tiga sisi. Jika jatuh dari gedung. Seharusnya, jika tanpa halangan menyentuh tanah seperti apartemen Renata, paling banyak hanya melukai dua sisi berdampingan... fikirnya, menemukan banyak kejanggalan.
"Renata... tunggu aku di surga..." Tomy, kembali menutup mayat yang masih berlumuran darah segar. Melepaskan kacamatanya sejenak, hanya untuk mengusap air matanya.
"Sudahlah, biarkan dia tenang disana," penjaga kamar mayat menepuk pundak Tomy berusaha menegarkan, sembari mengusap air matanya sendiri.
Tomy hanya tertunduk, terisak seakan tidak dapat mengendalikan perasaan dukanya."Apa sebaiknya aku ikut mati bersamanya saja?" tanyanya.
Tomy menghela napasnya, berjalan terhuyung meninggalkan kamar mayat. Sang penjaga menangis lebih terisak lagi mencemaskan pemuda yang berjalan dengan langkah lemas penuh kedukaan.
Ya Tuhan, tegarkan anak muda itu ... doanya dalam hati, membayangkan Tomy akan termenung di jurang pinggir laut, kemudian melompat bunuh diri. Atau menggores pergelangan tangannya, menatap dengan raut wajah tanpa gairah, menanti kematiannya di tengah darah yang terus mengalir dari pergelangan tangannya.
***
Tomy yang kini berada di atas mobilmya, mengambil tissue basah, mengelap mulutnya berkali-kali,"Sialan!! Karena penjaga kamar mayat menyebalkan itu, aku harus mencium kening Renata!!" umpatnya kesal.
"Apa aku harus vaksin Rabies?" gumamnya menatap pantulan dirinya di cermin. Kemudian mulai tersenyum merapikan rambut, serta mengelap kacamatanya.
"Catat kejanggalan dulu! Pertama korban pecandu alkohol, namun mabuk hanya dengan wine yang diminumnya dalam selisih waktu sekitar dua puluh menit. Kedua benturan di kepala yang menunjukkan lebih dari dua sisi," Tomy menghela napasnya, mulai melajukan mobilnya menuju apartemen milik Renata.
Terlihat rombongan wartawan yang ramai di sana. Serta garis polisi di tempat dimana wanita itu jatuh. Tomy memarkirkan mobilnya di bahu jalan, tidak dapat melakukan penyelidikan.
Terdiam menemukan jalan buntu, matanya menelisik ke arah kiri dan kanan penuh kewaspadaan. Seakan takut akan sesuatu yang mungkin tiba-tiba muncul.
__ADS_1
Krak...
Minuman kemasan dibukanya, mulai meminum tegukan pertama, tegukan kedua.
Tuan Farel tidak ada disini, saatnya minum dengan tenang...
Hingga, handphonenya berbunyi, Tomy menyemburkan minuman sodanya.
"Sial!! Dia tidak ada di sini, tidak bisa meminta minumanku!! Tapi masih saja mengganguku minum!! Dasar bos gila!!" umpat Tomy sembari mengangkat panggilan Farel.
"Tomy, berkas yang kemarin kamu kirim lewat e-mail..." kata-kata Farel dari seberang sana terpotong.
"Maaf, asisten Tomy sedang tidak ada!! Detektif Tomy sedang bertugas saat ini..." ucap Tomy penuh ketegasan.
"Detektif Tomy? Kamu ingin bermain detektif-detektifan?" Farel terdengar kesal.
"Ini perintah tuan Taka, aku harus menyelidiki kematian Renata..." jawabnya.
"Baik, kerjakan tugas dari kakek dengan baik. Tapi tolong kirimkan berkas dari Simmons, susun langkah kerjasama dengan Queen Cosmetics. Kemudian malam ini...."
Tut....Tut...Tut...
Tomy mematikan panggilan Farel, mulai mengumpat.
"Dasar Firaun!! Aku bilang sedang libur menjadi asisten!!" cibirnya membentak handphonenya, dengan panggilan yang telah diputuskannya sepihak.
Beberapa pesan kemudian masuk ke handphone Tomy lanjutan dari kata-kata Farel,
'Malam ini wakilkan aku menemui pemilik Queen Cosmetics. Aku harus mengerjakan beberapa dokumen yang dikirimkan ayah, Jeny juga pulang larut. Jadi, aku yang menjaga Rafa. Terimakasih detektif Tomy, membantu bapak rumah tangga ini...'
Kurang lebih begitulah isi pesan Farel, Tomy berusaha tersenyum."Firaun!!" kemudian menonaktifkan telfonnya melempar ke kursi belakang mobil, tidak peduli dengan pesan majikannya.
***
Di luar kamar mayat, penjaga masih sedikit menangis, merasa terharu, terus menerus mendoakan agar Tomy tidak melakukan tindakan gegabah.
"Aku harus memposting cerita menyedihkan ini di media sosial, judulnya 'Cinta Tulus Hingga Kematian'..." ucapnya mengetik sedikit demi sedikit, sembari menitikkan air matanya.
__ADS_1
Bersambung