
Angin menerpa rambut seorang gadis cantik dengan kulit putih terawat, menatap pemandangan dari kereta yang ditumpanginya. Terlihat jembatan besi besar, dengan sungai dipenuhi bebatuan, air yang nampak jernih memantulkan sinar matahari, terlihat berkilau bagaikan berlian.
"Kenapa dia ingin menikah denganku? Saat aku sudah menutup rapat hatiku dengan kata kakak..." gumamnya, mengeratkan tangannya, setetes air matanya mengalir di pipinya.
Tujuh tahun yang lalu...
Iri? Begitulah perasaan seorang kakak pada adiknya. Tangannya mengepal menatap semuanya, sudah cukup baginya. Kakak? Lalu kenapa adikku dianggap sebagai wanita, sedangkan aku hanya adik. Kami kembar, tapi dia tidak menganggapku sebagai seorang wanita.
Kemal, begitulah semua orang memanggilnya, anak SMU yang tumbuh dengan sepasang gadis kembar dengan karakter yang berbeda.
Wajah yang berbeda? Tidak, wajah kedua gadis itu sama hampir serupa. Namun, karakter dan cara merawat dirinyalah yang berbeda. Kanaya dan Kinara, itulah nama mereka, mencintai pria yang sama.
Cantik, anggun seperti itulah Kinara terlihat. Kanaya, kecantikan yang tertutup wajah tidak terawatnya, kacamata tebal yang menghiasi wajahnya, rambut kusam tidak terawat, begitulah dirinya. Tidak mementingkan penampilan fisik, namun kecerdasan intelektualnya tinggi.
"Kamu sedang apa?" seorang remaja berpakaian SMU mengejutkannya.
"Be... belajar..." gugup, begitulah perasaan Kanaya saat ini.
"Belajar? Sini aku bantu," ucap Kemal merebut buku yang dibaca sahabatnya. Sahabat? itulah hubungan yang memuakkan itu. Apakah hanya sahabat? Jemari tangan Kanaya bergerak hendak menggenggam jemari tangan remaja yang duduk di rerumputan di hadapan hamparan sawah nan luas.
"Ini mudah, dasar bodoh...!!" Kemal tersenyum, mengacak-acak rambut Kanaya,"Begini caranya..." sang pemuda memegang pensil, mulai menulis sembari menjelaskan.
Aku sudah menemukan cara mengerjakan dari tadi, tapi menatapnya antusias menjelaskan seperti ini ... sang gadis tertunduk malu, sesekali melirik ke arah remaja yang duduk di sampingnya. Mengurungkan niatnya, menyentuh tangan sang pemuda.
"Mengerti?" tanyanya menatap ke arah Kanaya, setelah menjelaskan panjang lebar. Namun, mata indah di balik kacamata tebal itu, diamatinya semakin dalam.
Cantik? Bukan itu, ini lebih mengesankan dari kecantikan. Mata yang seakan menenggelamkan dirinya dalam perasaan nyaman, hatinya bagaikan berdebar bahagia menatap mata gadis itu.
Jemari tangan Kemal bergerak ragu, hendak menyentuh tangan sahabatnya. Mungkin pertemanan semenjak balita merubah perasaan sedikit demi sedikit. Semakin dekat, namun...
"Kakak..." panggil Kinara pada saudari kembarnya.
Mata mereka beralih, menetralkan perasaan yang baru mereka rasakan. Gadis cantik, poni menyamping terlihat manis, rambut panjang lurus terawat. Menatap dua orang itu penuh senyuman.
"Kakak, boleh aku pinjam Kemal?" tanyanya dengan penuh senyuman pada saudari kembarnya.
Kanaya mengangguk, adik? Itulah adiknya, Kinara seorang gadis cantik, nan periang, tidak ada pemuda di desa itu yang tidak jatuh hati padanya. Kemal tersenyum, sesekali melirik ke arah belakang, meninggalkan sahabatnya di pematang sawah.
Jemari tangan Kanaya hanya melambai, membiarkan mereka pergi bersama entah kemana.
Kanaya terdiam sejenak, Kemal? Hanya Kemal pria yang ada dalam hidupnya. Apa Kinara juga menginginkannya? Entahlah, mungkin begitulah saudara kembar, merayakan ulang tahun di hari yang sama. Menyukai pria yang sama, namun haruskah sang kakak yang mengalah?
Setiap kesempatan selalu seperti ini, sekolah dasar, bermain bersama. Dirinya akan berperan sebagai penyihir, adiknya yang anggun menjadi tuan putri. Kemal? Anak laki-laki itu pangeran yang menyelamatkan tuan putri dari sang penyihir.
Apa penyihir tidak berhak memiliki pasangan? Tangan Kanaya mengepal, menahan semuanya, mulai kembali menulis guna belajar perlahan sesekali melepas kacamata tebalnya, hanya untuk menghapus air matanya.
***
"Kemal, aku menyukaimu..." dengan mengerahkan semua keberaniannya, menyatakan cinta itu yang kini dilakukannya.
"Emmm... maaf, aku dan Kinara sudah..." kata-kata Kemal terhenti, gadis berkepang dua itu melepaskan kacamatanya, menghapus air matanya yang mengalir.
"Dia terlalu cantik dan sempurna, sedangkan aku..." racaunya terisak, sudah menebak semuanya.
Tangan Kemal mengepal, Cantik? Kinara lebih cantik, bukankah aku seharusnya mencintainya... Hanya sebagai teman, itulah perasaanku pada Kanaya... gumamnya dalam hati meyakinkan dirinya sendiri.
"Bukan karena itu, perasaanku padamu hanya sebagai saudara!! Tidak lebih, kamu hanya seperti adikku..." ucapnya, tertunduk tidak yakin, dengan kata-katanya.
Kanaya menghebuskan napas kasar, "Ingatlah, selamanya aku akan menganggapmu sebagai kakakku, bukan sebagai pria lagi!! Karena kamulah yang memintanya!!" senyuman menyungging di wajahnya, menyeka air matanya, berjalan cepat meninggalkan lorong sekolah yang sepi, tempat mereka bicara.
Tidak rela? Dada Kemal kini terasa sesak, mendengar kata kakak yang berbalik pada dirinya sendiri. Punggung gadis berpakaian SMU yang berjalan meninggalkannya masih terlihat. Namun, langkahnya tidak dapat dikejar sama sekali olehnya.
***
__ADS_1
Hubungan yang hangat? Sudah enam bulan Kemal menjalani hubungan dengan Kinara. Wanita yang selalu menempel manja padanya, wajah cantik yang dengan bangga dipamerkannya pada teman-temannya.
Hambar dan kesepian? Itulah perasaannya saat ini, setiap wajah dingin gadis yang kini selalu memanggilnya kakak terlihat. Menuruni tangga, hanya tersenyum melirik kebersamaannya dengan Kinara.
Kanaya? Aku tidak menyukainya... Kinara lebih cantik... ucapnya dalam hati meyakinkan dirinya sendiri.
***
Yakin? Apakah kecantikan rupa akan sama dengan sifat aslinya? Setahun sudah hubungannya berjalan, hubungan yang sehat, tanpa adanya kontak fisik. Mungkin ada, namun hanya sekedar berciuman.
Setahun juga, hatinya terasa berat saat Kanaya selalu memanggilnya kakak. Mereka seusia bukan?...Mungkin akan lebih bahagia jika dengannya... sempat terbersit niat dalam benak Kemal. Namun, sudah terlanjur, Kinara-lah yang dipilihnya.
Segera setelah kelulusan, pesta pertunangan dari keluarga yang bertetangga sejak lama itu diadakan.
Wajah dingin yang terdiam sejenak terlihat dari seorang gadis berkacamata yang mengenakan kebaya kuning.
"Bahagiakan adikku, kakak..." ucap Kanaya pada Kemal, saat usai membantu adiknya berias di ruang ganti.
Sakit? Begitulah rasanya saat wanita yang sebenarnya kamu cintai menganggapmu sebagai kakaknya. Anggaplah Kemal egois saat ini.
"Berhenti memanggilku kakak!!" bentaknya.
"Maaf, aku salah, calon adik ipar ku..." Kanaya kembali berucap, menipiskan bibir menahan tawanya. Tidak ada lagi perasaan yang tersisa? Mungkin iya, setelah berkali-kali memergoki mereka bersama walaupun hanya sekedar mengobrol, atau berciuman. Ikhlas? Itulah dirinya saat ini, namun siapa yang tahu takdir akan mempermainkan perasaannya.
Kemal mengenyitkan keningnya, "Penyihir...!!" ucapnya kekanak-kanakan.
"Pangeran, segeralah menikah dengan tuan putri. Penyihir ini akan mencari seekor naga untuk dinikahi..." ucapnya tersenyum, menepuk pundak Kemal, berusaha seakrab mungkin. Akan menjadi keluarga? Begitulah mereka saat ini.
"Naga? Pangeran lebih tampan dari pada naga!!" Kemal yang sudah memakai setelan jasnya bersungut-sungut tidak terima. Jika Kanaya berkata akan menikahi pria lain dengan istilah naga."Apa kelebihan seekor naga hingga penyihir akan menikahinya!?" ucapnya.
"Naga lebih...naga lebih..." pertengkaran yang konyol berlanjut, Kanaya juga bingung apa kelebihan naga dibandingkan dengan pangeran.
"Apa kelebihannya?" tanyanya kembali, merasa menang dalam berdebat.
"Naga lebih besar!!" jawab Kanaya asal.
"Iya, aku suka naga yang besar, lebih besar dibandingkan pangeran..." Kanaya bersungut-sungut tidak mau kalah, yang dimaksudnya ukuran tubuh pangeran negeri dongeng berbanding dengan naga makhluk mitologi.
"Punyaku ular anaconda besar, aku keturunan timur tengah," Kemal berucap, salah sangka, menyombongkan aset berharga miliknya, yang tersimpan rapat dibalik celana panjangnya.
"A... anakonda besar? Kamu memelihara ular? A... apa hubungannya dengan naga dan pangeran?" Kanaya mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
Hingga...
"Uuuueekk..." Kinara sedari pagi pucat pasi berlari menuju kamar mandi.
Kanaya ikut berlari membantu saudarinya, mengelus-elus punggung gadis yang berkebaya putih yang akan bertunangan malam ini.
Rasa mual semakin terasa, pusing menderunya, hingga perlahan kesadarannya menghilang.
"Kinara!!" teriak Kanaya panik.
Beberapa orang masuk ke ruang ganti, termasuk orang tua Kemal membawa tubuh wanita yang tidak sadarkan diri itu menuju rumah sakit terdekat.
***
Plak...
Suara tamparan terdengar,"Anak siapa!?" Candra (ayah Kanaya) membentak putrinya yang kini sudah sadarkan diri.
Kinara tertunduk menangis, mengatakan anak dari calon tunangannya pun tidak dapat dilakukannya. Matanya memerah masih menitikkan air matanya, riasan cantik di wajahnya mulai berantakan.
"Apa anak Kemal? Kalian melakukannya sebelum menikah?" tanya Candra pada putrinya.
__ADS_1
"Bu... bukan," ucap Kinara gemetaran. Melirik ke arah Kemal yang berdiri di ambang pintu kamar rawat rumah sakit. Wajah dingin penuh tanda tanya terlihat.
Seharusnya dirinya marah bukan? Benar, Kemal hanya pernah sebatas berciuman dengan Kinara. Tapi hamil? Apa ciuman bisa membuat seseorang gadis hamil? Sungguh konyol, kekonyolan yang membuatnya melirik ke arah Kanaya.
Hanya mendengar Kanaya ingin mencari pria lain membuat hatinya panas. Namun, Kinara dihamili orang lain? Dirinya malah tidak merasakan apapun, hanya hambar.
"Saya tidak pernah melakukannya sama sekali..." Kemal menghebuskan napas kasar, masih dapat tersenyum.
"Anak siapa!?" Candra kembali membentak putrinya.
Kinara menggeleng-gelengkan kepalanya,"Tidak tau, di...dia mahasiswa yang ikut PKL di kampung. Kami bertemu beberapa kali dan..." kata-kata Kinara terhenti, wajahnya kembali di tampar sang ayah yang masih emosional.
"Ayah, maafkan aku, dia berjanji akan kembali dan menikahiku. Katanya dia anak pejabat kaya, karena itu..." kata-kata Kinara kembali disela.
"Nama lengkap? Alamat? Nomor phoncell? Apa kamu punya?" tanya sang ayah mencoba berfikiran jernih.
"Na... namanya Yogie, nama lengkap..." wanita itu tertunduk, baru menyadari dirinya tidak mengetahui apapun tentang pemuda yang hanya dikenalnya beberapa bulan. Bujuk rayu untuk hidup bahagia di kota bak sinetron? Mungkin itu yang diidamkannya hingga melupakan segalanya. Wanita itu mulai menangis merutuki kebodohannya.
"Tidak bermoral, Kemal ayo kita pulang!!" ibu kandung Kemal menarik tangan putranya, namun pemuda itu menepisnya.
"Undangan sudah disebar, tamu undangan seharusnya tiga puluh menit lagi akan sampai, keluarga kami tidak ingin menerima aib. Jadi, bagaimana jika kita lanjutkan saja pertunangan ini, tapi kandidat wanitanya diganti!?" usulnya penuh maksud, melirik ke arah Kanaya.
"Diganti?" Candra mengenyitkan keningnya.
"Kanaya yang akan bertunangan denganku, lagipula kami sudah saling mengenal dari kecil kan?" usulnya.
Kanaya membulatkan matanya, melirik ke arah pangeran yang katanya memelihara ular anaconda,"Bertunangan, kamu ingin bertunangan dengan adikmu sendiri?" tanyanya menatap heran.
"Ini situasi mendesak, kita harus bertunangan. Kamu tidak ingin ibumu yang masih di rumah, terkena serangan jantung karena menahan rasa malu bukan?" tanyanya santai.
Ibu? Itulah satu-satunya kelemahan Kanaya, dengan satu kata gadis itu takluk menurut tanpa membantah.
***
Pesta pertunangan yang sederhana, cincin pasangan mulai saling dikenakan.
"Kakak, kamu cukup gila karena mau bertunangan dengan adikmu sendiri," ucapnya berbisik, berusaha tersenyum, disela aktivitasnya menyematkan cincin pertunangan.
"Bukan kakak, calon suami. Setelah ini aku akan masuk ke akademi kepolisian. Jangan coba-coba mencari nagamu, dasar penyihir..." hujatan penuh kasih darinya, yang sudah menyadari perasaannya.
Tepuk tangan terdengar dari tamu undangan, bersamaan dengan senyuman yang mengembang dari pasangan tersebut.
"Setelah kamu datang dari akademi kepolisian, carilah tuan putri. Karena penyihir ini tetap akan mencari seekor naga..." bisiknya, tersenyum.
"Kamu suka yang besarkan? Sudah aku bilang, ular anacondaku berukuran besar. Malam pengantin kita beberapa tahun lagi, aku akan membuatmu menjerit..." Kemal membalas bisikannya.
"Kamu punya ijin? Anakonda hewan langka, kenapa kamu bisa memeliharanya?" tanya Kanaya polos.
"Bukan hewan, tapi alat tempur!! Bodoh!!" bentak Kemal, berjalan cepat menuruni panggung.
Sejenak tersenyum, menatap cincin yang tersemat di jemarinya. Melirik wanita yang merajuk, mulai turun dari panggung.
"Cinta memang gila, siapa yang menyangka, aku menyukai kutu buku bodoh berkacamata..." gumam Kemal tersenyum.
Menunggu Kemal kembali dari akademi kepolisian? Kanaya tidak akan melakukannya. Sesuai kesepakatan keluarga mereka, karena pertunangan diadakan bukan atas dasar perencanaan dan hubungan yang matang. Jika Kemal atau Kanaya memiliki kekasih sebelum pernikahan mereka, pertunangan dapat dibatalkan kedua belah pihak.
Melarikan diri? Itulah yang dilakukan Kanaya, mencari pekerjaan di kota. Memiliki Coky sebagai kekasih yang hanya memanfaatkannya, tanpa sedikitpun mencintainya. Hingga akhirnya jatuh dalam hubungan tanpa status dengan atasannya, Daniel Ananta.
***
Didalam kereta yang melaju...
"Pak Daniel br*ngsek!! Berani-beraninya dia menganggapku sebagai adik!! Dasar menyebalkan!! Dimana aku harus mencari naga untuk mengalahkan pangeran yang memiliki anakonda!!" ucapnya berteriak pada jendela kereta yang terbuka.
__ADS_1
Sejenak kemudian terdiam mulai berpikir,"Apa benar Kemal memelihara ular anaconda ya? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?" gumamnya sedikit berpikir.
Bersambung