Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Saling Mengawasi


__ADS_3

Seorang wanita memejamkan matanya sejenak, rasanya terlalu menyesakkan baginya. Bertunangan dengan pria yang tidak dicintainya? Bahkan dulunya dirinya tidak akan menangis jika tidak sengaja tidur dengan klien ayahnya. Namun, hari ini air matanya mengalir tidak terkendali.


Mungkin karena sekarang telah memiliki seseorang yang diharapkannya dapat bersaing dengannya.


Zion... hanya nama pemuda itu yang kini ada dalam fikirannya.


Seorang pemuda rupawan, menatap penampilannya di cermin,"Sempurna," ucapnya penuh senyuman, mengenakan jam tangannya.


Tirai ruang ganti disingkapnya, tangisan pilu seorang wanita terdengar, menyeka air matanya berusaha tegar. Wanita yang nantinya akan menjadi pasangannya menaiki panggung.


Farel menghebuskan napas kasar,"Kenapa menangis? Kamu tidak bisa keluar dalam keadaan seperti ini..." tanyanya, menghapus air mata Clarissa.


"A...aku..." kata-katanya terbata-bata, mendapatkan perlakuan lembut dari Farel.


"Katakan isi hatimu..." ucapnya.


Clarissa menonggakkan kepalanya, menatap tajam pemuda di hadapannya,"Aku membencimu!! Tidak akan pernah bisa belajar mencintaimu!! Apa kamu mengerti..." bentaknya, menumpahkan rasa kesalnya.


Farel tersenyum pahit,"Aku juga, aku juga membenci orang yang sudah membuat penglihatan istriku menghilang. Aku juga membenci keluarga kalian yang sudah membuatku berpisah dengan ibuku, hidup bagaikan gelandangan, hampir di jual hanya untuk dicongkel organnya!!"


Wajah Clarissa seketika pucat pasi,"Apa maksudnya?"


"Aku adalah salah satu korban dari ayahmu. Nama asliku bukan Farel tapi Syailendra, anak kandung pamanmu..." ucapnya menyentuh dagu Clarissa,"Sepupuku tersayang..."


Jemari tangan Clarissa gemetaran, menahan perasaan takut. Takut? Tentu saja, dalam fikirannya sepupu yang menyelamatkan Zion adalah Tomy. Tapi Farel? Orang yang tidak dapat ditebak jalan fikirannya ini?


"Bagaimana dengan anak dalam kandunganku!? Lalu kenapa kamu dengan mudah bersedia tidur denganku!?" tanyanya dengan nada tinggi.


Plak...


Wajah dingin Farel terlihat jengkel, tangannya memerah, menampar wajah cantik sepupunya. "Jika bisa malam itu seharusnya aku menyewa pengawal atau preman jalanan saja untuk tidur denganmu. Tapi tidak bisa, kita tetap lahir dari darah yang sama..."


"Zion...!!" panggil Farel pada seseorang berpakaian pengawal yang berdiri di luar ruang ganti.


Pintu dibuka seorang pemuda,"Senior..." ucapnya pada Farel.


"Clarissa, aku tidak ingin membunuh ayahmu, walaupun dosa yang dilakukan menumpuk termasuk membunuh istrinya sendiri. Aku hanya ingin ayahmu ditangkap kepolisian federal, dan mempertanggung jawabkan perbuatannya. Agar, ibuku bisa menampakan dirinya tanpa dihantui ketakutan lagi. Agar, istriku tidak perlu mengkhawatirkan keselamatan suami dan anaknya lagi..."


Farel menghembuskan napas kasar, melanjutkan kata-katanya,"Sebentar lagi acara akan dimulai, kamu tau yang mana kesalahan dan yang mana kebenaran. Pilihan ada di tanganmu, jika ingin rencanaku gagal. Pergilah sekarang dan temui ayahmu..." ucapnya berlalu pergi menutup pintu, meninggalkan pasangan itu berdua.


Clarissa terdiam sejenak masih mencerna semua kata-kata Farel. Sejenak perhatiannya teralih menatap pemuda di hadapannya. "Zion?" ucapnya ragu.


"Apa kamu meragukanku sekarang?" tanyanya.

__ADS_1


Clarissa tertunduk diam, menyeka air matanya. Meragukan? Tentu saja, apa Zion hanya salah satu pion dari Farel? Apa rasa cinta yang baru pertama kali dirasakannya tidak nyata? Begitu menyakitkan, jika ini semua tidak nyata. Tapi...


Pemuda itu berlutut, di hadapan wanita cantik yang tengah memakai gaun panjang menjuntai. Menggenggam jemari tangannya, kemudian mencium perut ratanya yang tertutup gaun.


"Malam itu, bukan Farel yang tidur denganmu. Aku disewa olehnya. Anak ini adalah anak kita..." ucapnya tersenyum tulus.


Clarissa mengenyitkan keningnya, bagaikan menatap pengkhianat. Jadi perasaan cintamu tidak nyata. Ini semua hanya rekayasa Farel, apa Farel juga membayarmu untuk menggodaku... banyak pertanyaan berkutat dalam fikirannya, ragu untuk bertanya.


Zion berusaha tetap tersenyum,"Jika kamu membenciku atau tidak mempercayaiku lagi, tidak apa-apa..."


"Tapi, akan aku katakan yang sebenarnya. Kamu tau profesiku sebelumnya?" tanyanya, dijawab dengan anggukan oleh Clarissa.


"Orang tuaku meninggalkan hutang yang besar padaku. Jika tidak membayar, maka aku harus mati. Meniduri banyak wanita kesepian yang tidak aku cintai? Kamu fikir aku senang melakukannya?" tanyanya tertunduk dengan air mata yang menetes menahan rasa malunya.


"Saat itulah Farel dan Tomy datang, memberikanku uang agar aku terlepas dari jeratan dept colector. Dengan syarat menggantikannya meniduri sepupunya sendiri,"


"Maaf..." Zion berlutut di hadapan Clarissa.


Air mata Clarissa mengalir, bibirnya terasa kelu, tangannya yang gemetar dieratkannya mencengkram gaunnya, memberanikan diri bertanya,"Apa rasa sukamu juga karena Farel membayarmu? Apa perasaanku yang tumbuh terlalu dalam ini juga karena g*golo!! Pria bayaran!! Br*ngsek!!" bentaknya, mulai berteriak sembari menangis.


Zion menggeleng-gelengkan kepalanya,"Aku kebetulan melamar pekerjaan di perusahaanmu," wajahnya tertunduk sejenak, kemudian tersenyum menatap Clarissa."Ini mungkin konyol, tapi aku senang bertemu denganmu saat itu. Satu-satunya wanita yang aku tiduri dengan memakai perasaan,"


"Mengancammu, menyentuhmu, aku tidak pernah dapat menahan diri saat dekat denganmu. Farel yang baru mengetahui hubungan kita memintaku bersabar, hingga acara pertunangan usai,"


Zion menghebuskan napas kasar,"Aku tidak dapat melakukannya, karena itu aku mengkhianati Farel, melarikan diri bersamamu. Pengawal ayahmu menangkapku di bandara... Aku hanya seorang pria penghibur, pria yang bisa dibeli dengan uang, aku mengerti jika kamu tidak mempercayaiku. Aku..." kata-katanya terhenti.


"Aku juga, setelah ini hiduplah dengan tenang bersamaku dan anak kita..." tangan Zion menepuk lembut punggungnya. Membalas pelukan wanita yang tengah menangis terisak.


Clarissa hanya mengangguk, tidak menjawab, mengeratkan pelukannya. Seakan takut perasaan cinta hangat yang dirasakannya tidak nyata. Seakan takut Zion akan pergi darinya.


"Kamu mempercayaiku?" tanyanya, Clarissa kembali mengangguk, mengiyakan."Setelah ini selesai, kita pergi bersama ya?"


Zion melonggarkan pelukannya, kedua tangannya menangkup pipi Clarissa. Jemari dinginnya menghapus air mata wanita itu.


Menatap wajah cantik tersenyum tulus padanya.


......Apa sebenarnya cinta? Aku dulu tidak pernah mengetahuinya. Apakah sebuah kepuasan di tempat tidur? Apakah kecantikan atau kekayaan? Yang aku tau bukan kedua hal itu......


......Cinta yang aku kenal, perasaan kasih ketika ingin memilikimu. Perasaan tamak ketika ingin terus bersamamu. Perasaan bahagia, ketika dapat menggenggam jemarimu. Apakah kamu pernah peduli betapa kotornya aku? Betapa tidak bermartabatnya aku? Aku tau kamu tidak peduli, hingga dapat memelukku tanpa jijik sedikitpun. Namun, aku peduli bagaimana kamu menatapku, aku ingin menjadi lebih baik untukmu, itulah kekuatan cinta yang aku kenal......


Zion...


"Jadi ini putra kita?" tanya Clarissa, dijawab dengan anggukan oleh pemuda di hadapannya.

__ADS_1


"Benar, anak kita..." jawabnya.


Matanya lekat memandang Clarissa, memandang senyuman kebahagiaannya, bibir mereka saling menyentuh. Decapan halus, perlahan saling memangut, menyatukan rasa rindu mereka.


***


Farel yang telah lama menunggu di luar ruang ganti mengenyitkan keningnya, mulai sedikit membuka pintu ruang ganti.


Zion sedikit membuka matanya, disela ciuman panas mereka. Kembali mengacungkan lima jarinya bagaikan memberi kode untuk memberikan mereka waktu lima menit lagi.


Farel menatap tajam, kembali menutup pintu menunggu dengan sabar. "Lima menit...lima menit...!! Dasar!! Kenapa tidak sekalian bulan madu di ruang ganti saja!?" cibirnya kesal, mengingat nonanya tidak ada di sini saat ini, merutuki nasibnya ditinggalkan sang istri bersembunyi di Okinawa.


Sementara itu, tanpa disadari Farel, Tomy mengenyitkan keningnya mengawasi seorang pelayan yang mengawasi suaminya tengah menyender di pintu ruang ganti.


"Aneh..." cibirnya.


Aneh? Tentu saja, Farel mengawasi Clarissa, Jeny mengawasi Farel, dan kini dirinya yang mengawasi Jeny.


"Jeny, sebaiknya kita pergi dari sini..." Tomy menghebuskan napas kasar.


"Tidak mau, kamu..." kata-kata Jeny, yang sedari tadi bersembunyi di salah satu lorong terhenti. Jarum suntik dipenuhi obat bius disuntikkan Tomy.


"Sialan...!!" umpat Jeny, sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.


"Maaf, ini demi keselamatan ibu dan bayi, sebagai dokter Tomy ini harus dilakukan," Tomy mengangkat tubuh lemas itu di pundaknya, bagaikan karung beras.


"Jeny, kamu benar-benar berat!! Apa saja yang kamu makan..." keluhnya berjalan menelusuri lorong yang sepi.


Hanya Tomy yang mengetahui keberadaan istri majikannya di sana. Hal yang akan dilakukannya? Tentu saja menyembunyikan biang keladi masalah yang akan terjadi. Mungkin mengikat dan menguncinya? Apapun akan dilakukan seorang Tomy demi kapal Ferry mewahnya.


***


Beberapa speed boat mendekati kapal pesiar yang tengah berlayar. Dari geladak kapal yang sepi, tangga yang terbuat dari rangkaian tali diulurkan dua orang pengawal. Puluhan orang bersenjata menaiki tangga dari belasan speed boat yang mereka pergunakan.


Lery menatap dari jauh, wajahnya nampak tersenyum, meminum Vodka di gelasnya yang hanya terisi seperempatnya saja."Mereka tim sniper (penembak jarak jauh)?" tanyanya.


"Benar tuan..." jawab pengawal yang berdiri di sampingnya.


"Bocah, sepertinya ingin bermain-main denganku..." cibirnya, tertawa kecil,"Perintahkan sebagian dari mereka bersembunyi di geladak kapal, sebagian lagi di ballroom (ruangan pesta). Aku ingin menjadikan kematian bocah ini sebagai contoh untuk semua orang..."


"Tapi mereka juga memiliki persiapan, kita juga akan rugi besar. Ini terlalu beresiko," pengawal Lery nampak ragu.


"Dia memiliki persiapan, tentu aku juga. Aku akan membuat bocah itu menyerahkan nyawanya seorang diri tanpa perlawanan,"

__ADS_1


"Bukankah bagus menyaksikan Taka melihat kematian cucu angkatnya? Kematian karena menyerahkan nyawanya sendiri untuk nyawa orang lain. Mirip dengan kematian putrinya..." ucapnya menyaksikan, satu persatu sniper dan tentara bayarannya memasuki kapal pesiar mewah.


Bersambung


__ADS_2