
Tirta menghembuskan napas kasar, mulai menyesap secangkir kopi yang dihidangkan office boy.
"Tau begini, ayah tidak akan bersikeras melawan Farel..." ucapnya sinis.
Daniel membulatkan matanya, menatap ke arah ayahnya."Ini tidak seperti yang ayah fikirkan kami..." kata-kata Daniel terpotong.
"Ini!!" Tirta melemparkan rekaman yang dikirim Farel ke atas meja. "Isinya, Renata mengakui semuanya, Farel ingin jatuh bersama kita, atau selamat bersama kita," ucapnya ambigu.
"Magsud ayah?" Daniel mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
"Dia ingin kamu bertunangan dengan gadis yang bernama Kanaya, jika tidak rekaman ini akan sampai ke media. Farel hanya akan dibawa ke Jepang. Sedangkan kamu? Menjual istri sendiri, selamanya orang-orang akan mengingatnya," Tirta menghebuskan napas kasar.
"Ayah, tidak bisakah ayah sekali ini meminta bantuan paman?" tanyanya penuh harap.
Tirta menggeleng gelengkan kepalanya,"Pamanmu juga memiliki masalahnya sendiri. Selain itu, Tuan Taka adalah salah satu orang yang diinginkan pamanmu untuk menjadi partnernya,"
"Ayah, kalau begitu minta bantuan bibi, untuk meyakinkan paman," usulnya.
"Tidak bisakah kamu sedikit berkabung untuk mereka!?" Tirta membentak, meninggikan intonasi suaranya ,"Yang meninggal adalah Lendra sepupumu sendiri!! Putra mereka satu-satunya!! Bibi mu juga harus bersembunyi seumur hidupnya!!"
"Lendra? Bahkan tidak ada yang tau wajahnya kecuali bibi. Sudah 22 tahun anak itu meninggal!! Apa 22 tahun tidak cukup untuk berkabung!?" ucapnya membentak.
"Seumur hidupnya dibesarkan oleh bibimu yang bisu. Tanpa kasih sayang seorang ayah, anak pintar yang tidak mengeluh, banyak orang desa yang menyesalkan kematiannya. Bahkan, mayatnya saja tidak bersisa sama sekali menjadi abu," Tirta, membuka kacamatanya, mengusap air matanya yang hampir menetes,"Andai saja, saat itu ayah ada disana, sepupumu mungkin masih hidup,"
"Tapi, aku masih menyukai Jeny!! Wanita tadi hanya pegawaiku!!" Daniel meyakinkan.
Tirta bangkit, kembali mengenakan kacamatanya menatap tajam ke arah putranya,"Kamu sendiri yang memutuskan, ingin selamat bersama Farel, atau jatuh bersamanya..." ucapnya sambil berlalu pergi, menyerah untuk menghadapi cucu tunggal Taka yang tidak tau malu.
Pemuda itu mulai berbaring di sofa ruangannya, menatap ke arah langit-langit ruangan.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya, sejenak kemudian menatap tangannya sendiri,"Andai saja aku tidak pernah menyakitinya, mungkin aku akan bisa merebut hatinya. Ren juga tidak akan bisa hadir diantara kami,"
Daniel menghebuskan napas kasar, mengambil kunci mobil, kemudian berjalan menuju parkiran. Fikirannya saat ini kosong, dikalahkan oleh seorang Farel yang bahkan tidak pernah tersorot media sama sekali? Ini adalah sebuah lelucon yang dibuat Tuhan untuknya. Apa kekurangannya hingga Jeny tidak memaafkan dan lebih memilih Farel? Apa kelebihan Farel?
Jika Jeny ingin dirinya berubah, Daniel akan berubah. Bahkan jika Jeny meminta dirinya meminta maaf dihadapan umum dirinya akan minta maaf. Menjadi suami yang baik, tidak akan pernah menyakiti hati Jeny lagi.
Hingga mobilnya berhenti di tepi jalan raya, tepatnya seberang jalan gedung EO milik Jeny. Daniel mulai melepaskan savety beltnya, namun tangannya yang hendak membuka pintu mobil terhenti. Seorang pemuda memakai celemek turun dari taksi online, menggendong tas laptop, membawa box kecil yang biasanya digunakan untuk tempat stok ASI, serta paperbag yang mungkin berisikan kotak bekal.
Siapa sangka dia adalah pemilik JH Corporation? Seekor harimau putih di kalangan pebisnis memakai celemek berkeliling, mengurus putranya dan pekerjaannya yang pastinya lebih sulit dan banyak dari Daniel.
__ADS_1
Daniel tertegun diam, beberapa menit berselang, Farel keluar. Membawa kembali kotak stok ASI yang lain, serta tas laptop yang digendongnya, hendak kembali menaiki taksi online. Tanpa di duga Jeny mengejarnya, Farel kembali turun dari mobil. Terlihat dari punggung pemuda itu membungkuk, bagaikan mencium Jeny, bahkan terlihat lama dalam posisi itu.
Daniel menutup matanya sejenak, air matanya mengalir. Apa aku harus merelakannya bahagia... tanyanya dalam hati, sakit memang rasanya menyaksikannya bahagia bersama orang lain. Orang yang mungkin lebih dapat menjaga dan membahagiakan wanita yang dengan sabar mengabdi padanya selama dua tahun.
Mungkin ini memang hukuman dari Tuhan untukku... Menyepelekan status pernikahan, menyepelekan janji yang aku ikat di altar. Sehingga Dia ( Tuhan) mengirim orang yang lebih sempurna dariku agar aku tidak congkak dan lebih menghargai anugerah-Nya...
Daniel kembali melajukan mobilnya menuju kantor, menghebuskan napas kasar. Mobil mulai diparkirkannya di parkiran bawah tanah yang berpenerangan minim.
Pemuda itu memejamkan matanya sejenak, menghilangkan penat mungkin berusaha mengikhlaskan. Tidak dipungkiri hatinya masih terasa berat. "Jeny...." satu kata yang keluar dari mulutnya.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan terdengar, Daniel perlahan membuka matanya,"Astaga Setan!!" umpatnya melihat wanita dengan rambut berantakan, bisa dibilang acak-acakan seperti sarang burung. Namun terlihat sedikit lurus karena basah tersiram air.
"Tolong..." bisiknya ketakutan.
Daniel mengenyitkan keningnya, kemudian membuka pintu mobil,"Kenapa bisa begini!? Kamu syuting film horor!? Kemarin diatap menjadi Joker versi wanita!! Sekarang menjadi Sadako (hantu wanita dengan rambut panjang yang basah, biasa keluar dari sumur, terkadang televisi)!!" bentaknya, bersamaan dengan Kanaya yang mulai masuk.
"Itu...!!" ucapnya ketakutan, menunjuk ke arah beberapa orang pegawai yang menyiramnya, sembari mengeluarkan kacamatanya yang sedikit retak dari sakunya. Kembali memakainya.
"Siapa mereka?" Daniel mengenyitkan keningnya.
"Fans anda, ada orang yang menyebarkan berita, aku menggoda anda dengan tubuhku, sehingga anda bercerai!!" Kanaya menangis dengan kencang.
"Pak Daniel!! Ukuran bagian depan dan belakangku sempurna, aku pernah mengeceknya di geogle tentang ukuran tubuh seorang wanita!!" ucapnya kesal.
"Begini, bakpao walaupun isinya daging sapi Wagyu, dengan terbungkus tepung tetap saja terlihat seperti bakpao murah," Daniel menghebuskan napas kasar.
"Jadi?" Kanaya mengenyitkan keningnya.
"Tunjukkan kamu adalah bakpao daging, rubah penampilanmu. Sebelum itu, aku akan mengurus mereka dulu..." ucapnya mulai keluar dari mobil, berjalan mendekati beberapa karyawatinya yang membawa telur, tepung, serta beberapa ember air.
"Kalian sedang apa disini? Ini sudah jam pulang kantor," Daniel mengenyitkan keningnya.
"Pak Daniel..." para karyawati itu menyapa dengan wajah bersemu merah.
"Kenapa ada air, tepung, dan telur. Kalian sedang membully orang ya?" tanyanya kembali.
"Ti... tidak kami sedang..." jawaban salah seorang karyawati itu terhenti, mereka mulai saling melirik.
__ADS_1
"Sedang apa!?" Daniel membentak, suaranya menggema di gedung parkir bawah tanah.
"Membuat pancake pisang!!" salah satu karyawati menjawab asal.
"Owh... sebanyak ini? Ini untuk semua karyawan ya?" tanya Daniel lagi, menyunggingkan senyumnya.
"I...iya... Vina (salah satu pegawai) besok berulang tahun," pegawai lainnya memberi alasan.
"Baik kalau begitu, buatkan sekalian untuk semua departemen. Semua harus dapat, termasuk security!! Selamat ulang tahun Vina," Daniel menyunggingkan senyuman mematikan, sembari mengedipkan sebelah matanya. Kelima wanita itu tertegun, terpesona, mengangguk mengiyakan.
Daniel segera berjalan kembali ke mobil. Beberapa saat kemudian, mobilnya meninggalkan parkiran.
Salah satu karyawati tersadar dari lamunannya dengan wajah pucat,"Pegawai kantor pusat ada berapa orang?" tanyanya.
"Bukannya lebih dari 800 orang ya?" lanjutnya, meninggikan intonasi suaranya.
Empat orang lainnya tertegun,"Membuat lebih dari 800 buah pancake pisang!? Kita dapat pisang dari mana!? Ini sudah jam enam sore!!" teriak orang lainnya panik.
"Pak Daniel!!" teriak mereka serempak, kelima orang wanita itu, berlari mengejar mobil Daniel yang telah jauh melaju.
***
Sementara itu, di dalam mobil...
"Anda mengatakan apa pada mereka?" tanya Kanaya penasaran.
"Jadilah, monyet yang berburu pisang semalaman..." Daniel tertawa kecil, seolah melupakan sejenak luka hatinya.
***
Hujan mengguyur daerah pegunungan yang dingin. Seorang pria berpakaian dokter, mengenakan maskernya, mulai menyuntikkan cairan, tubuh orang yang berbaring dengan mulut disumpal dan badan terikat, terlihat mulai kejang-kejang.
"Kamu ingin mengeksekusinya sendiri? Tapi bagus juga. Untuk mengabdi pada tuan Lery memang ini yang harus kamu lakukan..." Hans tersenyum, meninggalkan ruangan. Mengambil kunci mobilnya, pergi dari tempat terpencil tersebut.
Pria itu membuka maskernya,"Zen, orang ini memiliki keahlian di bidang IT, tapi di buang karena dianggap sudah tidak berguna lagi. Bawa dia ke villa!! Pastikan dia akan salah satu dari orang-orang kita..." ucapnya tersenyum, kembali menyuntikkan penawar.
Berada diantara kehidupan kematian. Hanya orang baik berguna, yang diselamatkannya dari sentuhan tangan Hans dan Lery.
Gabriel keluar dari salah satu rumah singgah milik kakaknya, hujan gerimis turun bersamaan dengan ambulance yang melaju. Gabriel mulai berusaha tersenyum.
__ADS_1
Suatu hari nanti aku mempersembahkan nyawa Hans untukmu. Lendra... gumamnya dalam hati, menitikkan air mata di pipinya yang bercampur dengan tetesan air hujan, mengamati ambulance yang melaju di jalanan rusak.
Bersambung