
...... Salah dan benar? Tidak semua perbuatan baik adalah kebenaran. Dan tidak semua perbuatan salah adalah kesalahan. Dalam sinar lilin selalu ada bayangan serta cahaya. Tidak ada seratus persen orang yang benar, begitu pula tidak ada seratus persen orang yang salah......
Author...
Key menghembuskan napas kasar, sudah beberapa kali dirinya gagal mendekati Farel. Uang 1.401.000 itu juga terlanjur sudah dipergunakannya untuk pengobatan ibunya.
Bahkan dengan berhematpun uang dari gaji sebagai cleaning service rumah sakit tidak cukup untuk mengembalikan uang Nana. Pasalnya, kebutuhannya terlalu banyak, membeli keperluan dapur, serta obat yang harganya semakin mahal saja.
Hari ini, Key berjalan dengan langkah gontai, menatap gedung pencakar langit di hadapannya. Tepatnya, gedung tempat Nana bekerja, guna meminjam uang untuk membawa ibunya berobat rutin.
***
Di tempat lain, Dea membanting pintu mobilnya kesal. Berjalan menekan tombol pintu lift dalam keadaan marah besar.
Wanita paruh baya itu tidak mengerti mengapa Jony tiba-tiba ingin bercerai darinya. Hingga sebuah fakta mengejutkan ditemukannya. Detektif yang disewanya, memberikan beberapa bukti jika selama ini Jony berselingkuh dengan keponakannya sendiri, Nana.
Dengan cepat Dea berjalan menuju ruangan Jony,"Nyonya, maaf tuan Jony sedang tidak di tempat," seorang wanita yang merupakan sekertaris Jony menunduk memberi hormat.
"Minggir!!" Dea membentak, mendorong pintu ruangan suaminya berharap dapat menangkap basah perbuatan Jony dan Nana.
Namun, hanya ruangan kosong yang terlihat. Marah? tentu saja siapa yang tidak marah suaminya berselingkuh dengan keponakannya sendiri.
Walaupun dirinya bersenang-senang dengan pria sewaan di club'malam. Tapi para pria muda disewanya hanya karena Jony membencinya, tidak pernah mau tidur dengannya lagi selama 12 tahun ini. Begitulah, Dea membenarkan tindakannya.
Kehilangan Ana yang tiba-tiba akibat gagal mendapatkan donor jantung, itulah cikal bakal rasa acuh, benci, bahkan tidak simpati suaminya. Dea menempatkan Nana empat tahun yang lalu di perusahaan milik Jony, untuk diawasi agar tidak merebut kembali perusahaan milik Sam (almarhum kakek Jeny). Namun, takdir berkata lain paman dan keponakan yang tidak memiliki hubungan darah itu memiliki rencana dan ambisi masing-masing.
Cinta? Jony tidak pernah mencintai Nana, hanya menjalankan nafsunya, dan membalas rasa sakit Ana pada Dea, bahkan jika bisa dapat menikahi Nana lebih baik, agar memperdalam luka di hati Dea.
Sedangkan Nana, mencintai paman sendiri? tentunya tidak. Dengan menjalin hubungan terlarang dengan Jony, wanita itu berharap mendapatkan bantuan merebut kembali perusahaan kakeknya. Sekaligus mengungkap, kematian ayahnya dan Ren.
Namun, semua berubah, Jony mulai menyadari kesalahannya, tidak perlu mempertahankan pernikahannya. Seharusnya, dari awal fokus merebut hak asuh Dimas dan menceraikan Dea. Mungkin hubungan Farel dengan Jeny mengingatkannya untuk lebih menghargai dirinya sendiri dan menjaga hatinya untuk Ana yang telah pergi.
Untuk Nana, setelah mengetahui Ren masih hidup, tentu saja fokusnya untuk balas dendam berubah, menjadi mengejar pemuda yang tidak diketahuinya tentang keberadaannya itu.
Beberapa bulan ini, Nana dan Jony telah memutuskan hubungan dan kesepakatan mereka. Berjalan di jalan masing-masing.
__ADS_1
Dea yang baru mengetahui hubungan mereka, menyangka alasan Jony bercerai adalah mencintai keponakan yang paling dibencinya.
Dari ruangan Jony langkah Dea beralih pada ruangan Nana. Dengan kasar membuka pintu.
"Ada apa tante Dea!?" tanyanya meletakkan berkas yang dibacanya.
"Wanita murahan!!" umpatnya berjalan cepat menarik rambut Nana.
"Jadi tante sudah tau!?" tanyanya tertawa kecil, tidak melawan.
Rambut Nana masih dijambak oleh Dea, menampar keponakannya itu dengan keras.
"Jika bukan aku berbelas kasih, seharusnya aku membiarkanmu membusuk!! Tidak mencarikanmu pekerjaan dekat dengan suamiku!!" teriaknya, mendorong tubuh Nana, hingga terjatuh, kepalanya sedikit membentur sudut meja.
Para karyawan yang mendengar kegaduhan segera berkerumun menuju pintu depan ruangan Nana, menatap adegan pertengkaran antara bibi dan keponakannya itu.
"Tante!! Ayahku meninggal karena siapa, tante fikir aku tidak tau!? Perusahaan kakek juga..." bentaknya penuh amarah, masih terduduk di lantai.
"P*lacur!! Jika bukan karenamu yang menggunakan narkotika, kamu fikir aku dapat mewarisi perusahaan kakekmu(Sam)!? Kamu wanita jalang, berani-beraninya tidur dengan pamanmu sendiri!!" Dea membentak, menyiram air yang berada dalam gelas di atas meja milik Nana. Kemeja tertutup yang dipakai wanita itu, terlihat hampir tembus pandang karena tersiram air. Bahkan warna branya yang merah menyala terlihat jelas ditutupi dengan menyilangkan tangannya.
Jijik, begitulah tanggapan orang-orang pada sosok Nana, yang dengan tega menjadi simpanan pamannya sendiri.
"Apa bedanya dengan tante, yang setiap malam bergunta ganti pria muda!!" Nana meninggikan intonasi suaranya. Dea benar-benar geram kali ini aibnya di ungkit di depan umum. Wanita itu, meraih gelas air yang telah tandas, melempar ke arah Nana, yang masih terduduk di lantai.
Nana memejamkan matanya, bersiap merasakan gelas kaca dan pecahannya yang mungkin akan melukai wajahnya. Namun, pelukan hangat dirasakannya, wanita itu menonggakkan kepalanya, terlihat wajah Key yang masih memejamkan matanya, menahan rasa sakit di punggungnya.
Gelas membentur jaket yang dikenakan pemuda itu, kemudian pecah jatuh di lantai berserakan.
Key tersenyum,"Hutangku yang 1.401.000 lunas..." ucapnya melepaskan jaketnya, memakaikan pada Nana, menutupi kemeja wanita itu yang hampir transparan akibat basah.
"Ayo kita pulang..." lanjutnya, dijawab dengan anggukan oleh Nana. Perlahan Key membantunya bangkit.
"Berhenti!! Wanita keparat!!" Dea membentak.
"Maaf, tapi wanita keparat ini yang sudah membuat ibuku bertahan hidup beberapa bulan ini. Dia wanita keparat dimata anda, namun malaikat penyelamat bagi keluargaku," ucap Key, tersenyum tulus.
__ADS_1
Dea melangkah kesal, menampar wajah pemuda itu, kemudian berlalu pergi dengan penuh amarah.
***
Nana melangkah keluar tertunduk, semua orang mencibir bahkan menatap aneh padanya. Seorang wanita simpanan pamannya sendiri. Tangan Key menggenggam jemarinya, merangkul tubuh yang berbalut jaket tebal itu,"Ada aku..." ucapnya.
Tenang, begitulah perasaan Nana saat ini, walaupun dunia mencibirnya. Masih ada satu orang yang tidak jijik atau memandangnya rendah.
***
Beberapa puluh menit berlalu mereka telah sampai di rumah Key. Pemuda itu, mulai mengobati pelipis Nana yang terluka. Wajahnya nampak serius, mendekati wajah wanita yang tengah diobatinya.
"Aku adalah wanita simpanan, aku benar-benar menjadi simpanan pamanku. Jadi berhenti mengobatiku, bersikap jijiklah sama seperti orang lain," ucapnya pada Key.
"Aku adalah orang yang materialistis dan kikir. Bahkan rela melakukan apapun demi uang. Benci dan jauhilah aku..." Key tersenyum simpul masih mengobati Nana.
Nana tertawa kecil,"Untuk apa berteman dengan wanita murahan yang menghancurkan pernikahan bibinya sendiri?" tanyanya.
"Tidak setiap perbuatan orang salah, setiap orang memiliki pembenaran atas perbuatannya masing-masing. Walaupun, perbuatan jahat sekalipun," Key menghebuskan napas kasar, mulai memasang plester di pelipis Nana.
Nana tertegun diam, merasa sekilas sosok Ren kecil yang hidup kembali, orang yang bersikap lebih dewasa dari usianya, rela berkorban dan tidak memandang orang yang baik atau jahat.
Key bangkit kembali, hendak membuang kapas yang dipenuhi darah Nana. Sedikit meringis merasakan sakit di punggungnya yang sebelumnya terkena lemparan gelas.
Entah apa yang merasuki diri Nana, wanita itu memeluk tubuh Key dari belakang,"Aku mencintaimu..." ucapnya tanpa malu, atau fikir panjang. Tidak ingin sosok yang mirip Ren kecil ini lepas begitu saja.
Key membalikkan tubuhnya,"Apa benturan di kepalamu terlalu keras, sampai tidak waras seperti ini!?" tanyanya tidak mengerti.
"Aku masih waras..." Nana berjinjit menangkup pipi pemuda di hadapannya, mencium bibir Key.
Aku harus menolaknya!! Aku harus menolaknya... gumam Key dalam hati, namun tindakannya berbeda, matanya terpejam, tangannya menahan pinggang Nana, agar tetap melanjutkan ciumannya. Perlahan, tangan Nana yang berada di pipi Key mengalung pada leher pemuda di hadapannya. Merasakan debaran aneh, dan perasaan yang nyaman, saat bibir mereka bertaut, saling bergerak mencari kenyamanan tanpa henti.
"Maaf..." ibu Key yang hendak keluar ke ruang tamu, kembali masuk ke kamarnya dengan wajah memerah, menyaksikan adegan panas sepasang muda-mudi.
Key segera mendorong tubuh Nana,"Ibu!!" ucapnya pada pintu yang sudah tertutup.
__ADS_1
Bersambung