
Beberapa orang mulai mencibir dari jauh, menatap kedatangan duda muda rupawan menghampiri pasangan yang sedang bertengkar.
"Kalian saling mengenal?" Daniel mengenyitkan keningnya mulai tersenyum.
"Tentu saja, dia tunanganku..."Coky menjawab penuh rasa percaya diri.
Kanaya tertunduk diam, diluar dugaan Daniel memegang tangannya erat,"Jadi karenanya kamu selama ini menolakku!?" tanyanya.
"Kamu tidak tau seberapa aku menyukaimu!!" bentak Daniel terlihat kesal.
Kanaya membulatkan matanya terkejut, menatap ke arah Daniel. Tidak mengerti dengan kebohongan atasannya itu.
"Dia mencintai dan hanya setia padaku, benar kan sayang!?" tangan Coky kembali bergerak hendak memegang tangan Kanaya, namun gadis itu refleks menepisnya.
"Kanaya?" Coky tersenyum dipaksakan menahan rasa malunya.
Daniel tertawa kecil, menatap sinis,"Aku mengerti sekarang, kamu bersama dengannya hanya untuk membuatku cemburukan?" tanyanya.
Kanaya mengangguk, "Iya..." jawabnya ragu, tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti sandiwara Daniel.
"Aku ingin pulang," lanjutnya.
"Ya sudah, ayo kita pulang, dasar gadis nakal..." Daniel merangkul bawahannya itu, tertawa kecil, berjalan menuju pintu utama, mendapatkan perhatian dari semua orang.
"Sayang? Kanaya?" ucap Coky berjalan cepat, memegang bahu tunangannya.
"Sayang!?" Daniel mencengkram tangan Coky menatap dingin, kemudian mendorongnya di hadapan umum,"Uang kuliahmu yang dibiayai olehnya, sebaiknya cepat kembalikan. Memalukan, bergantung hidup dari mantan," ucapnya, berlalu pergi masih merangkul pundak bawahannya.
Beberapa orang mulai mencibir, termasuk beberapa teman Coky yang baru saja mendengar pemuda itu mengatakan tidak pernah memiliki pacar dan hidup mandiri. Namun, tunangan? kata itu keluar dengan sendirinya dari mulut Coky.
"Sial!!" umpatnya, bangkit dari lantai meninggalkan pesta dengan wajah kesal, merasa miliknya direbut.
***
Sementara itu, Daniel masih menggenggam erat tangan Kanannya,"Pak Daniel bisa melepaskan tangan saya sekarang," ucap gadis itu.
"Masih satu jam lagi, aku sudah mengatakan menjadi kekasihku selama satu malam," Daniel tersenyum hangat, membukakan pintu mobilnya untuk Kanaya.
Bagaikan memiliki kekasih idaman bagi gadis tersebut, mungkin terasa bagaikan Cinderella satu malam, menatap wajah pemuda yang tengah fokus menyetir, sesekali tersenyum."Kamu ingin kemana!?" satu pertanyaan keluar dari mulut Daniel.
"Sungai yang ada jembatannya..." jawabnya, nampak ragu.
"Baik, hari ini aku yang akan melayanimu," Daniel menginjak pedal gasnya dalam-dalam.
Beberapa belas menit perjalanan, terlihat sebuah dermaga tua, mobil Daniel mulai terparkir.
__ADS_1
"Maaf, saya ingin berhenti di jembatan," Kanaya mengenyitkan keningnya, menatap tempat tidak terawat yang terletak di pinggir laut.
"Di jembatan banyak kendaraan lalu lalang, disini lebih sepi untuk menangis," ucap Daniel, turun dari mobil, langkah kakinya diikuti gadis itu.
Pagar pembatas dari kayu yang sudah mulai lapuk, terasa basah jika memegangnya, deru suara mesin kapal nelayan terdengar samar-samar. Terlihat, beberapa kapal kecil yang melintas dari jauh.
"Tidak ada orang disini, jadi menangislah!!" Daniel memegang pagar pembatas dari kayu. Samar-samar rambutnya terlihat diterpa angin, oleh tersorot lampu kapal nelayan yang lalu lalang.
Kanaya mulai terduduk menangis sekencang-kencangnya,"Aku sangat mencintainya..." ucapnya.
Daniel tertawa kecil,"Berteriaklah...!!"
"Aku sangat mencintai orang bodoh itu!!" Kanaya berteriak seakan ingin mengeluarkan semua beban di hatinya.
Daniel menghembuskan napas kasar, menatap ke arah laut."Jeny!! Aku mencintaimu!! Maaf, sudah menyakitimu!! Maaf, membuatmu tidur dengan pria lain!! Maaf, menjadi suami yang kasar, dan tidak becus!! Aku mohon kembalilah!!" teriaknya, menitikkan air matanya. Kembali memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.
Pria yang nampak menyedihkan, sosok bagaikan pangeran tidak terlihat lagi. Hanya pria biasa yang telah menyia-nyiakan orang yang dicintainya. Berapa kalipun menangis, rasa sakit yang dipendamnya tidak akan berkurang, rasa cinta yang tidak disadarinya, sudah mengakar terlalu dalam dua tahun ini.
Kanaya menonggakkan kepalanya, menatap atasannya yang berwibawa, pintar dan memiliki banyak penggemar terutama kaum hawa. Terlihat hancur, bahkan lebih menyedihkan dari pada keadaannya, tubuhnya tiba-tiba lemas. Duduk, menyender di pagar kayu yang lapuk, masih dalam keadaan menitikkan air matanya tanpa henti.
"Aku mencintainya, Jeny yang tersenyum mengurusku dengan sabar. Aku mencintainya, Jeny yang berusaha tegar bagaimanapun aku menyiksanya. Aku mencintainya, Jeny...." racaunya masih tertunduk menitikkan air matanya.
Nyonya Jeny, mantan istrinya!? Bukannya mereka sepakat untuk berpisah... Kanaya mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
"Sudah pukul 12 malam, waktu habis. Aku harap Cinderella dapat menghibur dirinya dan tidak bertindak bodoh lagi. Ayo kita ke rumahku..." lanjutnya mengulurkan tangannya, membantu Kanaya bangkit.
Dengan ragu gadis itu meraih tangan Daniel, mungkin dalam fikirannya saat ini. Kenapa pemuda yang paling diincar semua wanita dapat terpuruk sebegitu dalamnya? Menyakiti istrinya, dan membuat tidur dengan pria lain? Tapi pemuda yang jika di kantor terlihat angkuh itu. Malam ini tidak seperti tipikal orang yang diucapkannya.
***
Mobil terhenti di kediaman yang dahulu ditempati Daniel dan Jeny...
Atasan dan bawahannya itu masuk ke dalam, Daniel melangkah menuju kamarnya diikuti Kanaya. Saklar lampu kembali dinyalakannya.
"Ganti pakaianmu..." ucap Daniel tanpa tersenyum sedikitpun, berjalan menuju balkon kamarnya, merasakan kembali dinginnya angin malam.
Satu persatu pakaian ditanggalkannya di ruang ganti yang dipenuhi dengan pakaian wanita serta pria bermerek itu, mengganti kembali pakaiannya dengan pakaian norak yang sebelumnya dipakainya. Bahkan alas kakinya pun diganti kembali, bagaikan Cinderella yang kehilangan sebagian sihirnya.
Mata Kanaya menelisik, banyaknya pakaian wanita bermerek disana. Memang, saat berdandan sebelum berangkat menuju tempat pesta, gadis itu tidak benar-benar mengamati kamar Daniel.
Jika sudah berpisah kenapa pakaiannya masih ada di sini... tanyanya dalam hati, meletakkan minidrees yang dipakainya dalam salah satu rak.
Pemuda itu masih dalam posisi semula, wajahnya diterpa angin terlihat penuh kesedihan.
"Pak Daniel, pakaiannya sudah saya letakkan kembali di rak..." ucapnya.
__ADS_1
"Pulanglah," Daniel masih terpaku di balkon kamarnya.
Kanaya terdiam sejenak, memberanikan dirinya bertanya,"Apa mantan istri anda masih sering pulang!? Saya tidak bermaksud apa-apa, hanya saja saya meminjam pakaiannya tanpa ijin,"
Daniel menghembuskan napas kasar,"Semua itu hadiah untuknya jika dia bersedia kembali. Selama pernikahan kami, aku hanya menyakitinya. Bahkan, tidak pernah ada satupun parfum, kosmetik, ataupun pakaian yang aku belikan untuknya,"
Daniel tertawa kecil, mungkin menertawakan dirinya sendiri,"Setelah kepergiannya, semuanya baru aku sediakan untuknya, tidak ada yang kurang. Seharusnya aku melakukannya saat dia masih ada..."
"Hari ini, aku baru mengerti perasaannya. Betapa menyakitkannya mempunyai pasangan seorang pecundang..." lanjutnya tersenyum simpul, menghina dirinya sendiri.
Pak Daniel sangat mencintai mantan istrinya, mungkin terlambat menyadarinya hingga dia pergi... Kanaya menghebuskan napas kasar menatap foto pernikahan berukuran besar, terpajang disana. Terlihat pengantin wanita yang cantik, tersenyum tulus, bersama dengan atasannya. Pasangan yang terlihat serasi, seperti kekasih yang ditakdirkan.
"Nyonya rumah ini akan kembali, jika aku berusaha lebih baik," Daniel kembali menghebuskan napas kasar, meyakinkan dirinya sendiri.
"Saya yakin dia akan kembali..." Kanaya tersenyum tulus, di depan foto pengantin berukuran besar.
Orang dapat berubah, saya berharap nyonya Jeny dapat memahami hati anda...
***
Beberapa hari kemudian, gadis berkacamata itu turun dari ojek online, melepaskan helmnya, berjalan menuju tempatnya makan dengan rekan-rekanya.
Matanya menelisik, mengamati seorang wanita cantik duduk seorang diri di restauran.
Nyonya Jeny... gumamnya dalam hati, mulai duduk dengan teman-temannya.
Beberapa saat berlalu, seorang pemuda rupawan datang, terlihat memakai pakaian santai, bukan seperti orang dari kalangan atas. Tersenyum pada Jeny, bahkan sempat-sempatnya menyeka sisa makanan di bibir mantan istri atasan Kanaya itu.
Entah kenapa, tangan Kanaya mengepal kesal, apalagi menatap bill yang diberikan karyawan di restauran dibayar oleh Jeny.
Dalam fikirannya, pemuda setampan itu menyukai seorang janda? Mungkin seluruh hidup Farel dibiayai Jeny seperti hubungannya dan Coky dulu.
"Keterlaluan!!" cibirnya, sembari berjalan mendekati pasangan suami istri itu.
"Kanaya kamu mau kemana!?" tanya salah satu temannya.
"Menyadarkan wanita bodoh!!" ucapnya, mendekati pasangan yang hendak pergi.
"Sayang kamu berselingkuh!? Br*ngsek!!" bentaknya berpura-pura menangis, menampar wajah Farel.
"Hah??" Farel tidak mengerti, menatap aneh wanita berkacamata yang tengah menangis.
Aku dimana? Aku siapa? Kenapa tiba-tiba pria protagonis sepertiku dikatakan berselingkuh? Author aku ingin mencekikmu...
Bersambung
__ADS_1