Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Merindukanmu


__ADS_3

Gabriel menghela napas kasar, mulai memeriksa keadaan pasiennya."Ada apa?" tanyanya menempelkan plester pereda nyeri pada punggung putranya.


"Sasha meninggal, tidak menutup kemungkinan ayah dan Hans juga ada dalam bahaya. Tidak bisakah ayah melarikan diri sementara? Aku akan menyediakan tempat persembunyian yang aman..." usulnya.


"Kamu mencemaskan ayah tuamu ini?" Gabriel mengenyitkan keningnya, dengan senyuman tertahan.


Farel menghebuskan napas kasar, jenuh."Aku tidak mencemaskan ayahku yang terlihat terlalu muda dari usianya. Aku mencemaskan ibuku, bagaimana jika pak Wijoyo datang melamarnya? Mungkin aku harus belajar menerima ayah tiri baru..."


Plak...


Gabriel memukul punggung putranya dengan kencang,"Sakit!!" pekik Farel.


"Kamu masih ingat pada bangkot tua itu, apa selama lima tahun berpisah denganku, dia masih mendekati ibumu!?" tanyanya dengan nada protektif.


"Tidak, hanya saja dia sangat baik pada anak-anaknya. Apa setiap orang tua kandung akan menyayangi anak mereka?" Farel menghela napas kasar.


"Tidak tau, aku tidak dapat memastikan hati setiap orang kan?" Gabriel, kembali memasang pelan beberapa plester pereda nyeri.


"Ayah, apa kamu tidak keterlaluan pada Deren dan Clarissa? Mempersiapkan mereka untuk menjadi sampah..." tanyanya.


"Aku tidak akan bisa bertindak, jika kedua orang tua mereka memberikan kasih sayang yang cukup. Apa kamu menganggapku keterlaluan?" Gabriel balik bertanya, dijawab dengan anggukan oleh Farel.


"Anak yang terlalu baik," pria yang hampir menginjak usia paruh baya itu tersenyum bangga, mengacak-acak rambut putranya,"Jika kamu ingin, kita tidak perlu terlalu tegas pada kedua sepupumu..."


Bangga? Tentu saja putra yang tidak didiknya menjadi anak yang bahkan diluar harapannya.


"Ayah, apa Tomy atau Jeny sempat kemari? Aku mencari di apartemennya, kantor, bahkan rumah ibu. Tapi dia tidak ada..." Farel mulai kembali mengenakan kemejanya.


"Tidak, dia tidak kemari..." jawab Gabriel jujur.


"Ja... jadi mereka benar-benar pergi bersama..." wajah Farel nampak pias.


"Memangnya kenapa?" Gabriel kembali merapikan peralatannya.


"Tomy akan menidurinya!! Aku sudah tau dia itu penghianat!! Satu-satunya tender proyekku ingin digarapnya," ucapnya penuh kemarahan.


"Tenangkan dirimu dulu, duduk dan minumlah air..." Gabriel menuangkan air dari dispenser ruangan periksanya pada gelas kaca. Menyodorkan pada putranya.


Farel meminum beberapa teguk, mencoba berfikir jernih. Hingga terdengar kata-kata menjengkelkan dari Gabriel.


"Bujangan tanpa kekasih dan istri tidak dihargai, entah berapa kali permainan mereka malam ini..." gumamnya.


Farel menyemburkan air dari mulutnya, membulatkan matanya.


"Aku dikirimi pesan oleh mereka, mereka sedang berdua, menikmati malam yang hangat di villa milikmu. Sungguh suami yang malang..." cibir Gabriel.


Sementara itu di villa...


"Jeny!! Tuan akan membunuhku!! Aku hanya seekor ulat hijau kecil, iblis kelas tinggi itu akan menginjakku!!" Tomy membentak, ingin merebut handphonenya yang dilarikan Jeny.


"Tidak akan..." Jeny tersenyum meremehkan.


***


Notes tempel berwarna biru tertempel, dengan rinci ruangan luas itu dibersihkannya. Senyuman menyungging di wajahnya yang rupawan, berbalut seragam office boy.


Bunga Lily putih sebagai pajangan ditatanya, menempelkan notes lagi. Pemuda itu, menghela napas kasar, berjalan meninggalkan ruangan menuju pantry guna membuat coffee untuk karyawan lain yang sebentar lagi akan tiba.

__ADS_1


***


Clarissa memejamkan matanya sejenak, 'Ibu kembali ke California,' hanya itu pesan yang didapatkannya dari nomor phoncell Sasha yang kini sudah tidak aktif.


Wanita itu, menghela napas kasar. Menjaga jarak, membangun dinding pembatas, mungkin lebih baik baginya dan Sasha, hanya itu yang membuat perasaannya yang mengganjal menjadi terasa lebih baik.


Berjalan perlahan menuju ruangannya, jemari tangannya memegang hendel pintu. Perlahan terlihat tirai ruangannya telah diganti, tidak sedikitpun debu berada di pajangannya.


Notes tempel, dicabutnya dari atas meja,'Berhentilah menangis,' itulah tulisan tangan yang berada di kertas kecil dengan perekat di belakangnya.


Clarissa tersenyum tanpa disadarinya, membuka laptopnya yang berada di atas meja. Kembali menemukan notes tempel yang melekat disana,'Jika tersenyum kamu sangat menawan,'


Hingga pandangannya teralih, menyadari vas kaca yang biasanya tertata tiruan daun dan batang. Kini berhiaskan bunga segar, terlihat dari jauh notes tempel juga melekat disana,'Perasan kasihku, mirip seperti bunga ini. Cinta kasih yang akan diingat hingga di surga nanti,'


Hatinya kembali tergugah, Clarissa tersenyum, namun perlahan tangannya mengepal memegang ketiga notes tempel tersebut.


"Aku, tidak mungkin menyukainya, dia hanya pria miskin yang..." Clarissa meyakinkan dirinya, hingga, Zion mengetuk pintu, masuk tanpa permisi. Wajah rupawannya tersenyum.


"Kali ini coffee latte, aku baru belajar membuatnya, aku harap kamu," kata-katanya terhenti, di tengah kegiatannya meletakkan cangkir kopinya yang masih hangat.


"Jangan lancang menyentuh barang-barangku. Sudah aku bilang, aku tidak menyukaimu!!" bentaknya melempar ketiga notes ke wajah Zion. Pemuda itu menghela napas kasar, menatap tiga buah kertas kecil berceceran.


Sejenak kemudian pemuda itu, berusaha tersenyum,"Jangan cintai aku, cukup aku yang menjalani cinta sepihak. Aku akan menunggumu dengan sabar, saat kamu kesepian, datanglah padaku..." ucapnya, mendekati Clarissa, mencium keningnya.


"Aku mencintaimu, kamu tidak perlu menerima atau menolaknya..." lanjutnya.


Zion tetap berusaha tersenyum, memunguti ketiga kertas, membuangnya di tempat sampah, berjalan sedikit tertunduk, berlalu meninggalkan ruangan.


Ingin menghentikannya? Namun, tidak bisa calon tunangannya adalah Farel. Pria yang ditetapkan ayahnya. Pria idaman yang baik hati, tanpa celah.


"Kenapa terasa aneh...?" gumamnya, menepuk-nepuk dadanya yang terasa sakit, menatap punggung pemuda yang sedikit menunduk terlihat bagaikan kecewa. Setetes air mata mengalir di pipinya."Bodoh..." umpatnya, menyeka air matanya.


***


Pemuda berpakaian office boy, memesan makanan yang paling murah. Wajah dinginnya menggoda hati wanita manapun untuk menaklukkannya. Tidak tersenyum, menatap ke arah jendela gedung, sembari memakan makanan yang baru disajikan.


"Untuk bahan baku, kita akan..." kata-kata Clarissa terhenti. Wanita dengan wajah dan body menggoda, yang sudah menjadi janda dua anak di hadapannya, terlihat tidak fokus.


"Maaf..." panggil Clarissa, sembari menepuk bahu sang wanita.


"I...iya, maaf aku minta waktu sebentar," ucapnya, berjalan berlalu. Menuju seorang pemuda yang duduk diam seorang diri.


"Zion?" sang wanita memastikan.


Pemuda itu tertegun, menatap sang wanita yang dulu merupakan salah satu customernya.


"Kamu sekarang jadi office boy? Kenapa tidak hubungi saya saja? Lebih baik, jadi asisten pribadi saya. Saya bisa membayarmu lebih mahal,"


Wanita itu mendekatkan wajahnya ke leher Zion, sedikit berbisik,"Apalagi kamu kasih service, menikahpun saya mau..." ucap wanita yang mungkin lebih pantas di panggil bibi oleh pemuda itu.


Zion memejamkan matanya sejenak, merasa jenuh,"Maaf, aku sudah berhenti..." ucapnya tersenyum.


"Berhenti? Bagaimana jika nanti malam aku berikan uang jajan, 12 juta. Khusus untukku, jangan pernah berhenti ya..." sang wanita mulai duduk, berusaha menyender pada Zion.


"Aku bilang aku sudah berhenti..." pemuda itu berdiri, menatap tajam, hendak berjalan pergi.


Senyuman menyungging di wajah sang wanita,"Bagaimana bisa seorang pegawai tidak bermoral bekerja disini? Hanya seorang gigolo, tapi dapat bekerja di perusahaan. Standar yang rendah, aku jijik menginjakkan kaki di tempat ini..." ucapnya dengan keras, mengundang perhatian orang-orang yang berada di sana. Termasuk Clarissa, yang sedari tadi hanya diam menyaksikan.

__ADS_1


Sengaja? Tentu saja, tujuannya agar Zion berhenti bekerja. Setidaknya, pemuda itu dapat mengemis pekerjaan padanya atau mungkin bersedia menerima bayaran untuk kegiatan malam yang dilakukannya.


"Terimakasih sudah membuat pengumuman..." Zion berlalu pergi dengan tenang, tanpa ingin menjelaskan apapun pada Clarissa yang menatapnya dari jauh.


***


Tik...tok...tik...tok...


Wanita itu tertegun di ruangannya, kepalanya menyender di atas meja. Menanti ice coffee yang selama ini dibawakan seorang pemuda? Mungkin yang dilakukannya, lebih tepatnya, menunggu penjelasan dari Zion.


Suara ketukan pintu terdengar, Clarissa merapikan rambutnya, berpura-pura bersikap dingin. Menjaga imagenya,"Masuk," ucapnya.


Raut wajah dinginnya, berubah kecewa, terlihat seorang office girl lah yang datang,"Nona..." sang office girl menunduk, meletakkan ice coffee. Berjalan beberapa langkah hendak pergi.


Clarissa menghela napas kasar, akhirnya kata-kata yang tertahan keluar juga dari mulutnya,"Dimana Zion?"


"Zion hari ini ingin di gantikan, dia sedang bertugas di lantai dua..." sang office girl, kembali menunduk, kemudian berjalan pergi dari ruangan.


Clarissa menatap gelas ice coffee di hadapannya, menyentuh sisa lelehan es yang terdapat di kaca gelas. Ada yang kurang? Mungkin itulah perasaannya saat ini.


Udara sore terasa mulai dingin, hujan gerimis turun. Clarissa mulai menghidupkan mesin mobilnya di gedung tempat parkir. Wanita itu terdiam, lidahnya terasa kelu untuk memanggil, terlihat Zion menggunakan tas ranselnya sebagai payung, berlari di tengah hujan yang mulai deras.


***


Entah apa yang ada di fikirannya pagi ini, dengan penuh harap membuka pintu ruang kerjanya. Berharap kembali ada notes tempel? Tidak ada kali ini, hanya ruangan yang nampak rapi saja. Bunga Lily putih telah kembali di ganti dengan daun dan akar pajangan imitasi.


"Ini lebih baik..." gumamnya, merasa kesepian.


Beberapa hari dilaluinya, Farel setiap hari datang hanya untuk sekedar menjemputnya, dan mengantarkannya pulang. Zion? Clarissa hanya dapat melihat pemuda itu sekilas.


Bahkan, Zion seperti menghindarinya. Sudah hampir satu bulan berlalu. Ada yang kosong, bahkan Farel yang selalu tersenyum setiap kali menjemputnya tidak ada dalam fikirannya.


Hanya pria aneh, yang seenaknya sering melecehkannya saja. Senyuman, sentuhan dan debaran aneh yang dirindukannya. Itulah yang selalu ada di fikirannya kini.


"Hari ini tetap hujan..." Clarissa menghela napas kasar, menadahkan tangannya seusai kerja lemburnya, menyambut tetesan air hujan. Tidak ada niatan untuk pulang? Hanya ingin merasakan kembali, hangatnya tempatnya untuk menangis.


Zion, berdiri jauh di sampingnya, mungkin menunggu hujan petir di hadapannya terhenti. Pemuda itu, belum menyadari keberadaan Clarissa, hingga matanya sedikit melirik ke arah samping.


Pemuda itu berjalan meninggalkan gedung, menerobos hujan bagaikan menghindari wanita yang berdiri jauh di sampingnya.


Langkah, demi langkahnya di tengah hujan bagaikan diikuti. Pakaiannya telah basah kuyup tidak di pedulikannya.


Hingga sampai di sebuah gang sempit yang sepi, berpenerangan minim. Suara wanita yang mengikutinya akhirnya terdengar,"Berhenti..."


Zion berbalik, mendengar suara seseorang yang dikenalnya, di tengah hujan petir yang deras.


"Kenapa menghindariku!? Kenapa tidak memberi penjelasan!?" Clarissa mengejarnya, membiarkan seluruh tubuh dan pakaian yang dikenakannya basah.


"Bodoh!!" Zion menarik tangan Clarissa, memojokkannya pada tembok bata, di bawah lampu remang-remang, tidak mempedulikan kedua bibir mereka yang telah memutih akibat kedinginan."Aku terlalu menjijikkan untuk dekat denganmu. Tapi dengan bodohnya aku merindukanmu...!!" meninggikan intonasi suaranya, mengeluarkan hal yang dipendamnya.


Zion mulai memejamkan matanya, menautkan bibirnya ditengah derasnya air hujan, hangatnya sentuhan bibir mereka, bertukar saliva yang perlahan terasa menyatu dengan hambarnya air hujan,"Aku ingin menjagamu!! Aku ingin melindungimu? Apa manusia menjijikkan sepertiku terlalu serakah?" tanyanya menatap manik mata pada Clarissa.


Wanita itu tertegun diam, bibirnya kelu untuk menjawab. Air mata Zion yang bercampur tetesan air hujan tidak terlihat olehnya, pemuda itu tersenyum,"Aku melepaskanmu..." ucapnya.


Clarissa membulatkan matanya, kali ini hatinya yang mengendalikan tubuhnya. Wanita itu, berjinjit, mengalungkan tangannya pada leher Zion. Memangut bibir pemuda itu agresif, menikmati setiap sentuhan bibir mereka, yang saling berbalut rasa hangat.


"Jadilah pacar rahasiaku, wanita itu membayarmu kan? Aku akan membayar berapapun yang kamu inginkan..." Clarissa terlihat putus asa, menatap mata pemuda yang tersenyum bahagia padanya.

__ADS_1


"Bayarlah dengan hatimu, itu sudah cukup," Zion, memeluk Clarissa erat, pelukan yang tidak terasa hangat di kulit dingin mereka. Namun, berbeda dengan hati mereka yang bagaikan terasa lengkap.


Bersambung


__ADS_2