Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Teori


__ADS_3

Setengah jam berlalu Jeny terlihat cemas, tidak satupun pernyataan polisi yang diakuinya. Hingga akhirnya seorang wanita berbadan gemuk datang.


"Jadi ini pencurinya!!" ucapnya membentak, dengan dandanan tebal, dan pakaian terbuka, menarik rambut Jeny.


"Maaf, anda siapa!?" sang polisi mengenyitkan keningnya.


"Okta, pemilik butik Beauty. Saya beberapa kali kehilangan barang. Jadi ini pencurinya!!" wanita yang tidak lagi berusia muda itu menampar Jeny sembari menarik rambut panjangnya.


"Lepas!! Sakit!!" Jeny mencengkram tangan wanita itu.


"Buk!! Hentikan!!" dua orang petugas kepolisian melerainya.


"Jalang!! Wanita memalukan!! Berapa lusin pakaian saya yang sudah kamu curi!?" Okta bertambah bringas hendak kembali mencoba menyerang.


"Saya tidak mencuri!! Untuk pertama kalinya saya pergi ke butik anda!!" Jeny meninggikan intonasi suaranya.


"Karyawati saya mendengar, salah seorang pelanggan mengatakan kamu itu janda miskin yang hamil di luar nikah. Dasar!!" ucap Okta mencemooh."Ganti rugi 450.000.000, atas lusinan baju yang kamu curi!! Saya akan membatu keringanan hukumanmu!!" lanjutnya.


Okta diam-diam menyunggingkan senyuman di bibirnya. Dalam fikirannya, dapat mengambil keuntungan dengan mudah dari seorang wanita yang bahkan terlihat tidak memiliki perlindungan.


"Maaf, tapi saya bukan pencuri, saya masih dapat menghidupi putra saya!! Dan sebelum ini, saya tidak pernah mengunjungi butik anda!!" jawab Jeny tegas.


"Mana ada pencuri yang mau mengaku, apalagi seorang jalang dengan anak haramnya!!" Okta berjalan cepat kembali mendekati Jeny hendak kembali mencaci dan menghina wanita itu.


Namun, seorang pemuda mendorongnya, menatap intens penuh kebencian,"Ini adalah istri saya, dan anaknya, yang anda sebut anak haram adalah putra saya..." ucapnya tenang.


Wanita itu berdiri, menampar Farel."Saya akan menuntutmu atas penganiayaan, karena mendorong saya!! Suami keponakan saya adalah kepala polisi!!" Okta mengancam, tersenyum merasa dirinya sudah menang.


Farel tertawa kecil,"Pantas saja polisi disini tidak melerai. Baik, karena kita di kantor polisi dan ini negara hukum. Aku mulai saja,"


"Farel..." Jeny menggeleng gelengkan kepalanya, menggenggam jemari suaminya. Tidak ingin Farel terkena masalah akibat dirinya.


"Tidak apa-apa, aku adalah suamimu ..." ucapnya tersenyum lembut.


"Istriku adalah pemilik EO, dia kesana untuk mencari gaun. Berhubungan dengan perusahaan kecilnya. Mencuri syal!? Itu adalah sebuah lelucon. Anda memiliki CCTV!?" Farel mengenyitkan keningnya.


"Punya kenapa!?" sang pemilik butik membentak.


"Pak, bolehkah saya meminta ijin untuk meretas sistem keamanannya, untuk mempercepat proses penyelidikan!?" Farel meminta ijin.


"Boleh, tapi dengan pengawasan kami, dan ijin nyonya itu. Karena ini termasuk melanggar hukum..." salah seorang polisi berucap.


"Bagaimana nyonya, apa anda mengijinkannya!?" Farel mengenyitkan keningnya.


"Ti... tidak CCTVnya rusak," ucapnya gelagapan sudah mengetahui isi rekaman CCTV tentang kelakuan pegawainya. Mencoba, mencari keuntungan, sebenarnya hal yang ingin dilakukan wanita itu, walaupun mengetahui Jeny tidak bersalah.


"Kebetulan sekali... berarti istriku harus masuk penjara," Farel menghembuskan napas kasar, terlihat kecewa.

__ADS_1


"Tentu saja, dia seorang wanita jalang miskin yang pintar mencuri," ucap Okta.


"Syalnya pasti berharga mahal!?" Farel terlihat prihatin."Di pajang dimana syalnya!?" tanyanya penasaran.


"Awalnya di etalase pajangan depan butik..." jawabnya.


Farel tiba-tiba tersenyum menatap dengan wajah dingin,"Jeny pengang handphoneku rekam semuanya," ucapnya.


"Saya ingin meminta ijin, meretas CCTV jalan raya..." lanjutnya pada salah seorang polisi.


"Silahkan..." jawab sang polisi.


"Bodoh!! Jangan biarkan dia meretas, jika tidak akan aku adukan pada atasan kalian!!" Okta membentak panik.


"Tuan..." salah seorang polisi hendak menghentikan.


"Istriku sedang merekam, kalian mau viral di media sosial!? Sebagai polisi yang takut dengan atasan, kemudian melakukan penyelidikan secara tidak adil!? Kekuatan media sosial, lebih mengerikan dari pada kekuatan atasan," Farel berucap penuh senyuman, mulai duduk di kursi. Mengutak-atik laptop di hadapannya.


Hingga, akhirnya, terlihat semuanya dari jarak jauh,"Warna pakaian orang yang mengambil syal adalah kuning. Istri saya memakai pakaian hitam. Dari warna pakaiannya, mirip dengan orang yang lalu lalang, kelihatannya seperti pegawai anda,"


"A...aku..." ucap pemilik butik gelagapan.


"Pencemaran nama baik, penganiayaan, penipuan, tuduhan palsu, menghalangi penyelidikan," Farel tersenyum menyeringai.


"Sayang, kamu masih membutuhkan stok pakaian untuk EOmu kan!?" tanyanya pada Jeny.


Jeny yang tengah memegang handphone Farel sembari merekam, mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


"Aku tidak mau!! Suami dari keponakanku adalah kepala polisi!!" ucapnya pergi menahan rasa malunya.


"Maaf, sudah menyita waktu dan menuduh anda..." salah seorang polisi berucap.


Farel menghebuskan napas kasar, menarik Jeny ke dalam pelukannya,"Tidak apa-apa..."


Pemuda itu berjalan berlalu menggandeng tangan Jeny, beberapa langkah sedikit melirik ke belakang,"Hati-hati dengan CCTV di ruangan ini. Mungkin saja ada yang akan mengirim perbuatan kalian yang tidak adil, ke media sosial," ucapnya.


Ketiga polisi yang ada di ruangan itu mengeluarkan keringat dingin menatap ke arah CCTV, "Dia bisa meretasnya!?" tanya salah seorang polisi, saling melirik.


***


Jeny mengutak-atik phonecellnya guna memesan taksi online, pasalnya mobilnya masih terparkir di depan butik. Namun, tangan Farel menghentikannya.


"Aku bawa kendaraan..." ucapnya, menunjuk ke sebuah sepeda.


"Ta...tapi," Jeny mengenyitkan keningnya.


"Ayo, naik!!" Farel, sudah bersiap beranda di atas sepeda. Jeny menghebuskan napas kasar mulai tersenyum, ikut naik ke atas sepeda. Memeluk pinggang Farel dengan ragu.

__ADS_1


"Kenapa nona jadi pemalu begini!?" tanyanya, membimbing tangan Jeny agar mengeratkan pelukannya.


Sepeda mulai dikayuhnya, mungkin pemandangan aneh dua orang dewasa berboncengan dengan sepeda, diantara ramainya hiruk-pikuk kendaraan bermotor.


"Kamu dapat ini dari mana!?" Jeny tertawa kecil mengingat masa remaja mereka.


"Aku meminjam dari tetangga, karena taksi online yang aku pesan datangnya terlalu lama. Jalanan macet, akibat kecelakaan. Jika bisa aku ingin memakai pintu kemana saja untuk segera ke kantor polisi," Farel tersenyum simpul, rambut hitamnya tertiup angin, tersenyum sembari mengayuh sepedanya.


"Aku suka punggungmu..." ucap Jeny mengeratkan pelukannya, menyenderkan kepalanya di punggung suaminya. Waktu bagaikan kembali terulang, masuk ke dalam masa bahagia mereka tanpa masalah.


Bayangan perkotaan berubah menjadi ilusi pedesaan. Ren dewasa, kembali menjadi Ren remaja, yang mengayuh dengan susah payah.


"Aku bahagia dimana pun, asal berada denganmu..." Jeny tersenyum bahagia, menutup matanya, merasakan angin menerpa wajahnya.


***


Hari semakin sore, hari ini Jeny tidak lembur lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan suami dan putranya. Satu persatu hidangan hangat disajikannya.


"Aku dilayani nona lagi," ucap Farel penuh senyuman.


"Ka...kamu ambil sendiri!!" Jeny yang hendak mengambil lauk untuk Farel, mengurungkan niatnya menahan rasa malunya.


Nona jika malu sangat manis, istri yang sangat baik... gumam Farel dalam hati, menghembuskan napas kasar penuh senyuman.


Hingga tiba-tiba, handphonenya berbunyi, Farel mengenyitkan keningnya, menatap ke arah Jeny kemudian tersenyum."Setelah makan malam aku harus pergi sebentar, mengambil sesuatu di tempat temanku..." ucapnya.


"Jangan pulang terlalu larut...!!" Jeny menjawab ketus, tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya.


"Tentu saja, aku harus meminta bayaran..." ucap Farel mendekati Jeny mencium keningnya.


"Bayaran!? Dasar mesum!!" Jeny mengalihkan pandangannya.


Ren, dari dulu hingga sekarang kamu tidak pernah berubah. Menyayangiku dengan tulus, bahkan menerima Rafa yang bukan darah dagingmu... Bagaimana aku tidak bisa tidak mencintaimu!? Dasar Ren-ku... gumam Jeny dalam hatinya, tersenyum menatap pemuda yang belasan tahun dicintainya.


***


Beberapa jam berlalu di tempat terpisah, Tomy sudah cukup jenuh mendengar tangisan dua orang wanita.


"Merepotkan!! Bisa diam tidak!!" umpatnya, menendang meja di hadapan dua orang wanita yang duduk berseberangan dengannya.


Aku baru pulang dari kantor, dan harus mengurus cacing sok berkuasa... Tomy mengenyitkan keningnya. Menatap pemilik butik dan pegawainya.


"Suami dari keponakanku adalah kepala polisi!!" ucap Okta mengancam.


"Malaikat kematian adalah bawahanku!! Kamu mau apa!?" umpat Tomy membentak kesal, asal bicara.


Kedua wanita itu terdiam, dengan tangan gemetaran, bahkan cairan berbau pesing keluar dari salah satu celana panjang wanita itu.

__ADS_1


Orang jahat harus licik dan pintar. Orang baik harus ceroboh, begitulah teorinya. Tapi ketika orang baik memiliki suami iblis... Nasib orang jahat adalah mengeluarkan bau pesing menjijikkan... Tomy menghebuskan napas kasar, menyadari salah seorang dari mengeluarkan bau pesing dengan celana yang basah.


Bersambung


__ADS_2