Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Seorang Budak


__ADS_3

Angin malam dingin berhembus dari jendela mobil menerpa wajah rupawan seorang pemuda yang duduk menyender di kursi penumpang bagian depan.


"Tuan, bukannya bawa mobil sendiri ya?" Tomy berucap dari kursi pengemudi.


"Iya? Tapi jika menyetir mobil sendiri, aku tidak dapat istirahat..." ucapnya penuh senyuman, menatap ke arah luar jendela.


Tomy menghembuskan napas kasar, banyak pertanyaan berkecamuk dalam dirinya sedari tadi. Akhirnya, satu pertanyaan tercetus,"Tuan, keluarga anda sebelum bertemu nyonya Ayana siapa saja? Apa anda masih mengingatnya?"


"Masih, ayahku seorang polisi, dan dia mempunyai anak perempuan yang cantik..." Farel tersenyum simpul.


"Anda punya adik perempuan? Dimana dia sekarang?" tanya Tomy antusias.


"Aku tidak punya, dia hanya anak ayahku, bukan adikku!!" jawab Farel tegas.


"Anak ayah berarti adik atau kakak, anda tidak mengerti pohon keluarga ya!?" Tomy masih konsentrasi pada jalan raya, mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


"Nona Jeny bukan adikku, ayahnya adalah ayahku. Tapi dia bukan adikku, dia wanita yang aku sukai..." ucapnya dengan nada dingin.


Aku salah bertanya, jadi keluarga yang dikatakannya adalah istri dan almarhum ayah mertuanya... Tomy kembali menghembuskan napas kasar, kemudian bertekad tidak menyerah untuk memuaskan rasa ingin tahunya.


"Kalau keluarga yang memiliki hubungan darah?" tanyanya, sembari memasang telinganya baik-baik.


Farel menunduk termenung sejenak, entah apa yang ada dipikirannya, kemudian mulai menjawab,"Tidak ada, jika ada kenapa aku bisa diselamatkan ayah nona Jeny dari komplotan penculik yang menangkap anak jalanan, untuk dijual organ tubuhnya..." jawabnya, berusaha untuk tetap tersenyum.


"Benar juga ya..." Tomy menghembuskan napas kasar, mengingat cerita kisah hidup tuannya, sebagai satu-satunya anak yang tidak dijemput orang tuanya di kantor polisi, setelah diselamatkan.


Anak berusia 6 tahun tinggal selama seminggu di kantor polisi, tanpa ada pihak keluarga yang menjemput. Tidak punya keluarga? mungkin itulah kesimpulannya, sehingga almarhum Doni (ayah Jeny) mengadopsinya, karena menatap iba pada anak kurus yang mungkin tidak memiliki orang tua.


Farel terdiam, tersenyum menatap ke arah jendela. Setiap mendengar kata ayah, hanya dua orang yang ada di pikiran Farel, almarhum Doni dan Dilen yang saat ini berada di Singapura.


***


Mobil terhenti di depan kediaman milik Ayana, seorang wanita terdiam di balkon menatap suaminya yang keluar dari mobil. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi, udara dingin menusuk tulang. Namun, wanita itu enggan untuk beranjak dari balkon.


Farel, menapaki tangga satu persatu, menghembuskan napas kasar. Perlahan membuka pintu kamar. Nonanya terdiam di balkon menatap ke arah atas.


Tangan Farel yang dingin terulur memeluk tubuhnya,"Aku menepati janjiku, walaupun sedikit terlambat..." ucapnya.


Jeny terdiam tidak menjawab, tangan dingin beralih ke pundaknya, membalik tubuh Jeny agar menghadapnya."Jangan menangis, ayah tidak akan senang jika melihat anak-anak kesayangannya menangis," lanjutnya, menyeka air mata Jeny.


"Nanti, siang kita ke makam ayah..." Farel memeluk Jeny yang masih menangis terisak, hari ini tepat hari peringatan kematian ayah mereka.


***


21 tahun yang lalu...


Brak...


Cahaya menyilaukan memasuki ruangan, bersamaan dengan beberapa orang berpakaian polisi menodongkan senjatanya.


Beberapa anak terlihat dalam kondisi memprihatinkan, pakaian tidak layak. Sisa-sisa makanan berserakan tidak terurus, hampir semua anak menangis. Pada akhirnya mereka berlari ke arah polisi yang telah berhasil melumpuhkan kawanan penculikan sekaligus penjualan organ anak. Semua anak keluar dari ruangan berpenerangan minim bagaikan gudang itu.

__ADS_1


Namun, tidak dengan satu anak. Seorang anak terdiam gemetaran di pojokan, memakan roti yang telah berjamur.


"Keluarlah..." Doni berucap, mengulurkan tangannya.


Sang anak menggeleng gelengkan kepalanya, dunia luar lebih kejam baginya. Disini setidaknya dia mendapatkan makanan, tidak kelaparan selama berhari-hari. Merupakan sebuah anugerah baginya untuk diculik, makanan dan air tersedia, walau hanya nasi putih basi dengan garam atau roti kadaluarsa.


Doni menghela napasnya,"Keluar ya? Nanti paman akan memberikanmu coklat..." ucapnya tersenyum ramah.


Coklat? Makanan mewah yang tidak pernah dirasakannya. Tentu saja sang anak bertubuh kurus itu mengangguk, jemari tangannya yang kotor meraih tangan hangat sang polisi muda. Satu tangannya lagi membawa roti yang sudah berjamur, kemudian sesekali memakannya.


"Kenapa dimakan!!" Doni membentak, melempar roti yang tadinya ada di tangan kecil sang anak ke atas tanah.


Anak laki-laki itu, melepaskan tangan Doni, berjongkok menepuk-nepuk rotinya yang jatuh. Agar debu di tanah tidak menempel, kemudian kembali memakannya.


Doni hanya dapat menghela napasnya menatap jenuh.


***


Sang anak yang berbau tidak sedap akibat jarang dimandikan itu duduk di kursi panjang, dengan coklat yang dijanjikan Dony. Bersama beberapa anak jalanan, serta anak lainnya yang menjadi korban penculikan.


Satu persatu, anak-anak dijemput orang tuanya, termasuk anak jalanan. Anak jalanan? itu hanya panggilan saja, mereka memiliki rumah dan orang tua yang menjaga. Namun, karena sering berkeliaran, dan mencari uang di jalanan mereka sering dipandang rendah.


Sedangkan sang anak yang masih menggerogoti coklatnya itu, masih terdiam di bangku mengetahui dirinya tidak akan di jemput.


"Kami akan mencari orang tuamu, tenang saja..." seorang polwan berucap, namun sang anak menggeleng gelengkan kepalanya seolah ketakutan.


"Jangan..." ucapnya lirih dengan suara kecil gemetaran.


"Doni!! Mandikan dia!!" lanjutnya memberi perintah.


Polisi muda yang tengah berkutat dengan mesin ketiknya itu mengenyitkan keningnya,"Kenapa aku lagi..."


"Karena aku senior..." ucap sang polwan, tertawa kecil berlalu pergi.


Pemuda berbadan tegap itu menghembuskan napas kasar menatap anak yang terus menerus menggerogoti coklat,"Baunya menyengat, bahkan Jeny jauh lebih wangi darimu..." Doni mengibas-ngibaskan tangannya.


Pemuda itu berjalan cepat menarik lengan sang anak ke dalam kamar mandi. Tidak satupun peralatan mandi ditemukannya, hingga seringai licik terlihat di wajahnya menatap peralatan mandi beraroma apel hijau milik sang polwan, di atas meja wanita yang tengah pergi itu.


"Aku akan menyabunimu 10 kali, dan mencuci rambutmu lima kali. Kembalilah bersih dan tampan!!" ucapnya tertawa kecil, hendak menghabiskan alat mandi yang baru dibeli seniornya itu.


Tiga puluh menit berlalu, anak yang bagaikan pengemis itu hilang entah kemana, yang terlihat anak berkulit bersih dengan aroma apel hijau yang menyengat. Sang anak tersenyum senang,"Kamu suka baunya?" Doni mengenyitkan keningnya.


Sang anak hanya menggangguk sembari tersenyum,"Jika begitu aku akan membawakanmu peralatan mandi dengan bau yang sama, omong ngomong namamu siapa?" Doni mengacak-acak rambut anak kurus yang pakaiannya telah diganti itu.


"Ren..." jawabnya.


"Ren? Nama lengkap? Ini untuk mencari keluargamu..." tanya Doni kembali.


Ren kecil terdiam, tidak ingin ada yang mengetahui keberadaannya, entah apa alasannya."Tidak ingat," dua kata yang keluar dari mulutnya.


"Tidak apa-apa, kami akan berusaha mempertemukanmu dengan orang tuamu..." ucap Doni.

__ADS_1


***


Satu minggu berlalu, tidak ada laporan orang hilang, atau orang yang mengaku sebagai keluarga sang anak.


Anak itu jarang bicara, namun kecerdasannya tidak diragukan lagi. Ren yang baru diajarkan alphabet oleh beberapa polisi, sudah dapat menulis dan membaca dalam tiga hari. Bahkan menghitung perkalian yang harusnya tidak dipelajari anak seusianya.


"134 kali 3 berapa?" salah satu polisi mengujinya.


"402..." jawabnya dengan mulut penuh dengan makanan.


"Hebat, paman akan memberikanmu ice cream nanti siang, tapi jika jawabanmu benar. Jika paman membeli tiga buah permen, satu permennya seharga 8000 dan beberapa buah biskuit, dengan satu biskuitnya seharga 4000 sedangkan uang paman hanya 48000, paman bisa membeli berapa buah biskuit?" tanya sang polisi antusias.


"6 buah biskuit..." jawabnya, setelah berpikir selama sekitar dua menit.


"Benar..." wajah sang polisi seketika pucat, penuh rasa kagum.


Namun satu kata pedas keluar dari mulutnya,"Paman kenapa harga permen mahal sekali? Bukannya harganya hanya 100 rupiah ya? Paman sudah ditipu pedagangnya..."


Seketika, semua polisi disana tertawa kencang, mempunyai maskot untuk menghibur mereka di sela kesibukan menangani kejahatan.


"Doni, istrimu tidak pernah ada di rumah, bagaimana jika kamu mengadopsinya sebagai kakak atau adik Jeny agar gadis kecilmu tidak kesepian saat di rumah?" salah seorang polwan memberi usulan.


Doni berpikir sejenak, memang dirinya jarang memberi perhatian pada putrinya."Bagaimana jika calon kandidat menantu saja...!?" Doni tertawa dari meja kerjanya dengan pemikiran gilanya.


***


Anak laki-laki yang nampak kurus, hari ini dibawa masuk ke dalam rumah besar di pedesaan. Rumah besar seperti istana untuknya, matanya menatap takjub tidak pernah melihat rumah semewah itu.


Pelayan membuka pintu untuk mereka, Doni memang hanya polisi yang memiliki jabatan rendah. Suami yang sering diacuhkan Dea karena merasa Doni sebenarnya tidak pantas untuknya.


Alasan menikah? Dulunya ketika SMU Doni merupakan siswa idola yang berprestasi, Dea mengejarnya menjadikan pria yang dulu nampak sempurna itu, menjadikan sebagai kekasihnya. Setelah lulus SMU Doni yang juga berasal dari keluarga kaya melamarnya, tentu saja Dea segera menerima.


Namun, ternyata Doni bukan tipikal pria ambisius. Pemuda itu meninggalkan harta dan perusahaan keluarganya untuk dua orang adiknya, sedangkan dirinya mengejar cita-citanya sebagai polisi.


Karena kekecewaannya Dea sampai saat ini tidak pernah memandang dan menghormati suaminya. Seakan status Doni terlalu rendah untuknya.


Seorang gadis kecil yang lebih tinggi dari Ren turun menapaki tangga. Anak kecil yang terlihat manis, juga periang,"Ayah..." panggilnya berjalan turun.


"Ren dia putriku namanya Jeny. Aku akan memberikanmu makanan dan tempat tinggal. Tugasmu menjaga dan membuatnya bahagia..." Doni berucap pada anak kecil kurus yang dibawanya.


"Ayah dia siapa?" Jeny mengenyitkan keningnya.


"Ini Ren, ayah mengadopsinya..." Doni berucap penuh senyuman.


"Diadopsi? Jadi dia adik atau kakakku?" tanya Jeny tidak mengerti.


"Bukan, hanya anak yang ayah adopsi," Doni tersenyum tulus pada putrinya.


"Berarti pelayan!! Panggil aku nona!! Dan hari ini, kita akan main rumah-rumahan. Kamu jadi budaknya aku tuan putri yang mencari pangeran," Jeny menarik tangan Ren membuat kesimpulannya sendiri.


"Nona? Pelayan? Budak? Sifat sok berkuasanya seperti Dea..." gumam Doni mencemaskan sifat putrinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2