
Tiga hari sebelum hari Clarissa akan melarikan diri...
Langit mulai berwarna kemerahan nampak cerah, tidak satupun awan terlihat. Pemuda itu menatap matahari sembari keluar dari gedung kantornya. Farel menghela napas kasar, memasang earphone nya mulai memasuki mobilnya. Menghubungi seseorang di tengah kegiatannya mengemudikan mobil, tidak lama nomor yang dihubunginya tersambung.
"Nona, maaf aku akan pulang terlambat beberapa menit. Apa Helen (pegawai kepercayaan Jeny, orang yang kini membantunya mengelola EO) sudah datang?" tanyanya.
"Sudah, aku sedang memeriksa beberapa dokumen..." jawab Jeny dari seberang sana.
"Jangan lupa istirahat, mau aku belikan sesuatu?" tanya Farel kembali.
"Tidak..." kata-kata Jeny terhenti sejenak,"Aku mau bibirmu!! Cepatlah pulang!! aku mencintaimu...!!" ucap Jeny menahan rasa malunya, menutup panggilan sepihak.
Farel mengenyitkan keningnya, mulai tertawa kecil. Anak yang berpihak pada ayahnya? Mungkin itulah yang dikandung Jeny, tidak pernah meminta apapun. Hanya saja, istrinya menjadi lebih ingin diperhatikan, bahkan ditinggal ke kantor, bagaikan antara rela dan tidak rela.
Mobil Farel terhenti di parkiran sebuah gedung pencakar langit. Pemuda itu menghela napas kasar menatap arlojinya. Kemudian melangkah dengan tidak sabaran, mencari keberadaan sepupunya.
Suara langkah sepatunya di lorong kantor yang sepi terdengar samar-samar. Hingga sampai di depan ruangan Clarissa. Pintu sedikit terbuka, terlihat sepasang kekasih tengah berciuman. Clarissa yang menutup matanya, membelakangi pintu tidak menyadari keberadaan Farel.
Namun, berbeda dengan Zion, pemuda itu membuka sedikit matanya. Salah satu tangannya yang memeluk punggung Clarissa, mengacungkan kelima jarinya, seolah berkata untuk memberi mereka waktu lima menit.
Farel mengenyitkan keningnya, menatap jengkel, mengetuk-ngetuk jam tangannya seolah memberi kode untuk tepat waktu. Kemudian, kembali mundur, membiarkan pintu sedikit terbuka.
"Antara maklum dan kesal, mereka seharian bersama. Apa belum cukup..." gumam Farel menghela napas kasar. Berlalu kembali ke parkiran.
"Sudah sore, pulanglah Farel pasti sudah menunggumu di parkiran..." Zion tersenyum, setelah pangutan bibirnya terlepas.
"Iya... tapi aku..." kata-kata Clarissa terhenti.
Zion berbisik padanya, agar Farel yang belum pergi jauh tidak mendengar."Apa kamu yakin akan meninggalkan semuanya untukku?" tanyanya.
"Iya, beberapa minggu ini aku sudah memikirkannya. Aku tidak bahagia menjadi seorang wanita karir kaya yang terlihat sempurna dari luar, tapi dikurung dan dikendalikan. Harus menikah dengan pria baik (Farel) yang tidak mencintaiku apa adanya,"
"Seumur hidup harus menyimpan banyak rahasia, hanya demi usaha ayah. Aku bahagia jika denganmu, walaupun hidup sederhana," ucapnya tegas, membuat keputusan untuk hidupnya sendiri.
"Kita akan pergi secepatnya, rumahku sudah terjual. Ada perumahan murah di luar pulau, tapi lumayan terpencil, mungkin kita bisa aman disana," Zion tersenyum memeluk Clarissa erat, perlahan berlutut, mengusap perut rata wanita itu.
"Aku adalah ayahmu, namaku Zion..." ucapnya tersenyum tulus, seakan bicara pada janin yang bahkan belum terbentuk sempurna.
Iba? Mungkin itulah yang ada di fikiran Clarissa, masih menduga ayah dari anak di kandungannya adalah Farel. Menatap Zion yang tersenyum tulus padanya, seberapapun menyakitinya, pemuda ini akan kembali dan menunggunya dengan sabar.
Zion mulai berdiri, mengecup kening Clarissa, "Pulanglah, jangan lupa minum susu dan vitamin. Segera setelah kita pergi dari sini, kita akan menikah dan hidup bersama. Aku akan berusaha sekuat tenaga membahagiakanmu..."
__ADS_1
Clarissa tersenyum, sembari mengangguk, berjalan beberapa langkah, sedikit menoleh kebelakang. Seperti tidak tega meninggalkan pemuda yang tersenyum padanya.
Segera setelah meninggalkan ruangan, senyuman di wajah Zion menghilang, pemuda itu menghela napas kasar mengikuti langkah Clarissa, hingga parkiran bawah tanah.
Berjalan menuruni tangga, terlihat senyuman di wajah Clarissa, kala Farel membukakan pintu untuknya. Zion berusaha bersabar, menatap mobil sport berwarna hijau tua melaju meninggalkan parkiran.
Mengkhianati Farel, mungkin itulah yang dilakukannya. Ingin memiliki dan bertanggung jawab pada wanita yang dicintainya. Sepupu? Walau seorang sepupu pun, mereka terlihat serasi bersanding.
Mengganggap Farel akan mengingkari janji, atau Lery memberi tugas lagi pada Clarissa untuk menemui pria lain. Itulah yang membuat Zion ingin membawa pergi wanita yang dicintainya, tidak ingin berpisah walau nyawa taruhannya sekalipun.
Dalam mobil yang melaju, suasana terasa hening. Farel tersenyum, setidaknya dengan kehadiran Zion, Clarissa tidak berusaha menggodanya lagi. Namun, ada hal ganjil yang dirasakannya, tangannya berkeringat, mencengkram erat stir mobil.
***
Lery menghela napas kasar, "Apa saja perkembangan yang kamu dapatkan?" tanyanya pada Hans.
"Tidak ada yang istimewa tentang Gabriel. Dia masih seperti dulu, mengunjungi tanah kosong bekas rumah almarhum istrinya. Membawa mainan dan bunga, selain itu dia hanya pergi ke rumah sakit, sanatorium dan ke rumah ini. Tidak ada tempat yang aneh," Jawab Hans, dengan raut wajah tanpa ekspresi.
"Lanjutkan penyelidikan! Tentang Clarissa?" Lery menghela napas kasar.
"Orang lain yang bertugas mengikutinya. Ini laporannya..." Hans menyerahkan map hijau, tanpa membaca atau peduli.
Lery membanting map dihadapannya setelah membaca dengan cermat."Sialan!! Ibu dan anak sama saja!! Pengkhianat!!"
Clarissa pulang terlambat, beberapa minggu ini. Jika Farel tidak menjemput dari kantor, Clarissa tidak akan pulang, menginap di rumah Zion, menikmati kebersamaan mereka yang sederhana.
Memasak bersama, atau tidur berpegangan tangan. Melakukan hubungan layaknya suami-istri? Bukan menjadi hal utama untuk mereka. Lebih banyak saling memperhatikan, belajar mengikat hubungan yang lebih dewasa.
Tersenyum bersama dalam suka dan duka, lebih memperhatikan dan mencintai pasangannya. Berkencan layaknya anak yang baru pertama kali pacaran. Itulah yang sering mereka lakukan, membuat banyak kenangan indah.
"Fokuskan menyelidiki Gabriel, untuk Clarissa aku akan mengutus orang lain..." perintahnya pada Hans.
"Baik tuan..." ucapnya tertunduk, sejenak kemudian tersenyum.
Tangannya mengepal, memendam semua amarah. Penjagaan yang ketat, selalu diikuti pengawal, membuat Hans tidak leluasa, melakukan sesuatu pada Lery. Ingin rasanya mencabik-cabik pria tempatnya mengabdi selama puluhan tahun.
Menjadi *njing setia, walaupun mempertaruhkan nyawanya. Hanya untuk pria yang membuat kekasih kecilnya harus mati bersama bayi dalam kandungannya.
***
Udara masih terlalu dingin, Farel memakai piamanya, menggeliat mengeratkan pelukannya pada Jeny. Hingga, sebuah panggilan membuatnya terbangun.
__ADS_1
"Ada apa?" tanyanya pada Tomy dengan nada malas.
"Zion dan Clarissa melarikan diri!! Rencana Tuan besar (Taka) akan hancur!! Rumah Zion sudah kosong, dari data transaksi kartu kredit Clarissa, mereka akan kabur ke luar pulau..." ucapnya panik, sembari berjalan cepat menuju mobil.
"Dia kabur naik apa?" Farel masih menguap setengah sadar,"Pesawat, kapal laut, atau baling-baling bambu?"
"Kenapa tidak sekalian menggunakan kereta labu Cinderella saja..." cibir Tomy, namun bukannya omelan bos pelitnya yang terdengar, malah dengkuran halus, pertanda Farel kembali tertidur.
"Tuan!! Clarissa dan Zion kabur!! Aku akan menunggumu di bandara 15 menit lagi!! Jika project besarku untuk mendapatkan kapal Ferry mewah dan pernikahan megah gagal!! Aku akan merusak rumah tanggamu, menjadi orang ketiga!!" bentak Tomy penuh amarah dan kepanikan, mematikan panggilannya sepihak.
"Siapa yang telfon...?" Jeny membangunkan suaminya.
"Tomy, katanya ingin menjadi orang ketiga..." racau Farel tanpa membuka matanya.
"Orang ketiga? Orang ketiga dari siapa? Tomy berani juga ya? Tapi dia terlihat bukan seperti pria tidak laku. Tomy lumayan lucu dan pintar, enak diajak bicara, semoga saja dia..." kata-kata Jeny terhenti, Farel segera bangkit dari tempat tidurnya. Mungkin karena insting suami protektifnya.
"Aku akan pergi ke bandara, menghentikannya menjadi orang ketiga..." ucapnya mengambil kunci di atas meja, masih memakai piamanya yang berbentuk kimono. Rambutnya acak-acakan, tidak dipedulikannya.
***
Zion menyunggingkan senyumannya, membaca pesan dari Clarissa yang tengah berkemas. Duduk menunggu dengan sabar, didekatnya sudah lengkap sebuah koper besar.
Perlahan mengenakan headsetnya, memutar MP3 menunggu kedatangan Clarissa.
Hingga terlihat tiga buah mobil hitam terparkir, beberapa orang pria keluar dari sana. Ditengah pagi buta seperti ini, ada segerombolan orang memasuki bandara? Ini bukan hal biasa. Zion melepaskan headsetnya, berlari bersembunyi di sebuah sudut bandara yang tersembunyi. Tepatnya lorong dekat tempat penyimpanan barang sitaan.
"Clarissa, cepatlah datang..." gumamnya dengan suara kecil, berharap dapat menaiki pesawat tepat waktu, dapat membangun keluarganya bersama wanita yang dikasihinya.
"Dia disini...!!" salah seorang pembunuh profesional suruhan Lery, melihat sekilas seseorang yang bersembunyi meringkuk.
Zion segera berlari meninggalkan kopernya, menuju ke area loby bandara. Namun, belum sempat sampai, bahunya tertembak oleh salah satu pembunuh profesional. Pistol dengan peredam suara yang digunakan mereka, tidak ingin mencuri perhatian orang-orang.
Darah pemuda itu mulai mengalir, Zion jatuh dalam kondisi tengkurap.
Menunggumu hanya berakhir seperti ini saja? Aku mencintaimu, apa itu salah? Aku hanya ingin berusaha menjagamu... darah mengalir dari bahunya ke lantai mengotori wajah rupawannya.
Hidup bahagia selama-lamanya hanya untuk putri dan pangeran. Tidak untukku yang hanya makhluk kotor dipandang rendah oleh semua orang...
Samar-samar terlihat cahaya terang menuju lobby. Seseorang datang menginjak kepalanya, terlihat kesal, penuh kemarahan.
Bersambung
__ADS_1