
ππππ Kemarin ada beberapa yang bertanya bagaimana Tirta dan Gabriel bertemu. Kali ini aku akan bahas sesuai permintaan, tapi maaf jika alurnya jadi lambat, atau terkesan tidak terlalu bagus ππππ Happy Reading πππππΈπΈπΈ
Beberapa undangan telah dipersiapkannya, tanpa persetujuan Daniel. Tirta menghembuskan napas kasar, mulai menulis nama untuk tamu undangan terakhir. Tidak dapat membalas jasa Doni, mungkin merupakan suatu penyesalan baginya. Bahkan putranya sendiri sempat menyakiti putri almarhum sahabatnya itu.
Gabriel, itulah nama untuk surat undangan terakhir. Entah, pria itu dapat datang atau tidak, namun yang terpenting baginya kakaknya dapat mengetahui keponakannya akan bertunangan.
"Kakak, apa kamu baik-baik saja?" gumamnya, mengingat bahkan dulu Citra tidak dapat hadir di pernikahan Jeny dan Daniel. Karena harus menyembunyikan dirinya.
***
29 tahun yang lalu...
Hidup berkecukupan? Itu bukanlah kehidupan Tirta ketika muda. Memiliki istri yang cantik dari keluarga berada, namun orang tua Gina sama sekali tidak menyetujui pernikahan mereka yang sudah terlanjur terlaksana. Atas bantuan dan biaya dari Doni yang sebenarnya adalah tunangan dari Gina, pernikahan itu terjadi.
"Kalau hidup susah, jangan pulang sambil mengemis minta uang!!" itulah umpatan yang diucapkan orang tua Gina, saat wanita itu mengatakan tentang pernikahannya dengan Tirta.
Menjalani kehidupan yang sulit, bahkan saat Gina mengandung terkadang beraspun sulit untuk mereka beli. Makan telur dan mie instan yang hanya ditambahkan sayur bayam.
Pulang ke kampung halaman? Tidak bisa, Tirta tidak ingin lebih menyusahkan kehidupan kakaknya lagi, apalagi dirinya yang terpaksa putus kuliah sementara waktu. Hasil dari memetik teh yang pastinya tidak seberapa hanya cukup untuk keperluan hidup gadis bisu yang bertahun-tahun merawatnya itu.
Hingga, seorang pemilik pabrik iba padanya yang masih muda dan cerdas namun hanya dapat menjadi tukang bersih-bersih. Meminjamkan modal yang tidak seberapa untuk Tirta.
Pemuda itu, menggunakannya untuk menjual baju buatan pabrik tersebut. Setiap potong pakaian yang laku akan dibayarkannya. Lama kelamaan beberapa toko menjadi langganan suplai barang-barangnya. Modalpun dapat dikembalikannya dalam beberapa bulan.
Tidak ada yang menyangka, dalam lima tahun roda kehidupannya berputar. Tirta yang awalnya hanya berjualan keliling dengan berjalan kaki dan tas gendong besar, mengambil satu jenis barang dari pabrik. Lahan perlahan mulai menyuplai barang ke customer besar, bahkan lambat laun menangani ekspor-impor, membawa suplai barang bukan hanya berupa pakaian. Namun juga mebel dan produk elektronik, untuk disalurkan pada beberapa perusahaan ternama, mendirikan perusahaan dengan nama belakangnya 'Ananta group'.
Memiliki rumah, putra menggemaskan yang telah berusia lima tahun, menjadi menantu kebanggaan mertua yang dulu menghujatnya. Membuatnya melupakan kakak yang membesarkannya sejenak.
Kehidupan keponakannya berbanding terbalik, dengan kehidupan Daniel, putranya yang serba berkecukupan, dibelikan apapun yang diinginkannya, memakai pakaian bersih, memakan makanan mewah, memiliki banyak mainan. Sangat berbeda dengan Lendra yang mencicipi coklat atau ice cream pun tidak pernah. Tidak pernah? Anak itu hanya dapat menonton iklan di televisi milik tetangga, atau menelan ludahnya, saat melihat anak pak Wijoyo memakan ice cream atau coklat dari jauh.
Kehidupan yang cukup bahagia bagi Tirta, hingga tepatnya saat Daniel berusia tujuh tahun. Anak itu pergi ke gudang rumahnya, datang dengan wajah penuh debu membawa sebuah foto dengan muram."Ini siapa!?" tanyanya, mengira ayahnya bersama wanita lain selain ibunya.
Tirta tertegun terdiam sejenak,"Bibimu..." ucapnya, sedikit melamun.
"Aku punya bibi? Seperti teman-temanku? Kenapa bibi tidak pernah kesini?" pertanyaan polos keluar dari mulut Daniel, sedikit merajuk.
Kenapa tidak pernah kesini? Pertanyaan konyol, bahkan Tirta tidak pernah mengirimkan kabar pada kakak yang dilupakannya. Akan menjemput? Apa kakak masih menunggunya? Kakak yang melindunginya menggantikan ayah dan ibu mereka, telah dilupakannya.
Tirta tertegun tidak dapat menjawab pertanyaan putranya. Gina menepuk pundaknya,"Kamu punya kakak?" tanyanya.
"Iya," Tirta mengangguk sembari tersenyum,"Dia seorang diri membesarkanku dengan hasil memetik daun teh," ucapnya dengan mata berkaca-kaca menahan air matanya.
"Berarti dia seperti orang tuamu, apa dia sudah menikah? Kenapa kamu tidak mengajaknya tinggal bersama kita?" Gina mengenyitkan keningnya, sembari tersenyum.
Tirta membulatkan matanya, menatap ke arah istrinya,"Kamu mengijinkannya?"
__ADS_1
"Tentu saja, bahkan orang tuaku yang dulu menghinamu. Kamu tetap menyayangi dan menghormati mereka. Kenapa aku tidak bisa menyayangi dan menghormati kakakmu..." jawab Gina, tersenyum tulus pada suaminya.
"Aku akan menjemputnya besok siang!!" ucapnya penuh semangat, berlari mengemasi barang-barangnya ingin menemui kakak yang sudah lama dilupakannya. Akibat terbuai dengan kehidupan nyamannya saat ini.
Doa orang tua lah yang membuat kita dapat berhasil. Tapi orang tuaku berkata kasar padamu, mendoakan hal yang buruk. Mungkin kehidupan kita saat ini adalah berkat doa dari kakak yang membesarkanmu. Aku akan menyayangi dia selayaknya aku menyayangimu dan Daniel...Gina tertawa kecil, menatap Tirta yang berlarian kesana kemari mengemasi barang-barangnya.
***
Dengan penuh semangat, Tirta menatap ke arah jendela mobil travel yang disewanya. Terlihat hamparan perkebunan teh, yang bertahun-tahun ditinggalkannya. Kenangan di asuh oleh kakaknya terbayang, menyuapinya yang masih sekolah dasar hanya dengan nasi aking pemberian tetangga dan sayur-sayuran.
Tangan kecil kakaknya yang dari dulu tidak dapat bicara, memetik teh. Mengumpulkan koin demi koin sehingga dirinya dapat bersekolah hingga SMU.
"Maaf, baru menepati janji hari ini," Tirta tertawa kecil, menatap beberapa tas berisikan pakaian bermerek, sepatu, bahkan perhiasan."Karena akan tinggal aman denganku, kakak tidak perlu menjadi jelek lagi..." gumamnya, membayangkan Citra melompat kegirangan memakai pakaian serta perhiasan yang dibelikannya.
Mobil travel terhenti di sebuah lahan kosong yang telah rata dengan tanah, hanya tersisa ilalang dan rumput liar. Tirta menarik koper serta paperbag yang dibawanya, menatap rumah tetangga di sekitarnya,"Seharusnya di sini..." ucapnya, heran kembali memandang pohon besar di seberang rumahnya.
"Tirta!?" salah satu tetangganya menyapa.
"Iya, saya Tirta. Maaf, saya sudah lama tidak pulang, jadi mungkin lupa, dimana rumah saya. Bisa..." Tirta menahan rasa malunya, menanyakan letak rumahnya.
Pria yang memegang cangkul hendak meladang itu memandang iba,"Jangan bicara disini, kita bicara di rumah bapak saja..." ucapnya, menyela kata-kata pemuda itu.
Tirta mengenyitkan keningnya, mengikuti langkah pak Dirjo (tetangganya).
***
Tirta minum perlahan, kemudian kembali berucap,"Maaf, saya ingin bertemu kakak saya. Tolong antar saya ke rumah..."
Sang pria paruh baya menghela napasnya"Citra dan Lendra dua tahun yang lalu sudah meninggal, karena kebakaran,"
"Kak Citra meninggal?" tanyanya memastikan pendengarannya, menahan air matanya yang hendak mengalir.
Pak Dirjo tidak menjawab lagi, hanya mengangguk membenarkan, dengan wajah murung.
Air matanya mengalir, sedikit melirik pakaian, sepatu, bahkan perhiasan mahal yang akan diberikannya. Namun, semuanya tidak berguna orang yang seharusnya memakai sudah tidak dapat mengenakannya lagi."Kakak..." gumamnya lirih dengan air mata yang terus mengalir.
"Kasihan Citra dan anaknya Lendra..." pak Dirjo menghebuskan napas kasar.
"Anak?" Tira mengenyitkan keningnya.
"Kakakmu menikah sekitar 8 tahun yang lalu. Anaknya bernama Syailendra, anak yang baik, pintar dan penurut. Bahkan dia dulu sering bantu kakakmu mengurus ladang, cabut rumput, manen kentang. Sayang harus mati muda, bahkan sampai meninggal bapaknya baru datang," jawabnya.
"Suami kak Citra dimana?" air mata masih tiada hentinya mengalir di pipi Tirta.
"Dari Citra hamil hingga melahirkan, sampai akhirnya mereka meninggal terbakar tanpa menyisakan jasad. Suaminya hanya datang saat istri dan putranya sudah meninggal," Lelaki tua itu tertunduk, menghebuskan napas kasar.
__ADS_1
Pak Dirjo mulai menangis,"Kalian, kalau sudah meninggalkan kampung sama saja!! Kamu pergi tidak pernah pulang menjenguk Citra. Ingat!! Bagaimana susahnya kakakmu yang hanya lebih besar dua tahun darimu, merawatmu. Kamu hidup enak, sedang kakakmu menjaga anaknya sambil meladang, anaknya cuma besar dengan makan alakadarnya, makan ayam goreng saja tidak pernah!!" bentaknya, menyaksikan sendiri kakak beradik itu tumbuh besar.
Tirta hanya tertunduk dan terdiam, menangis sesenggukan, tidak dapat menahan air matanya. Setelah sukses akan kembali? Seandainya Tirta kembali lebih awal, mungkin kakaknya dapat mengenakan pakaian, sepatu dan perhiasan yang dibelikannya.
Andaikan dirinya pulang lebih awal, mungkin keponakannya akan menyambutnya penuh senyuman. Mainan? Ice cream? Coklat? Apapun akan dibelikannya, menyayanginya layaknya kakaknya menyayangi ketika kecil.
"Lusa, hari peringatan kematian mereka, Gabriel juga pasti akan datang, meletakkan mainan di bekas rumah Citra. Bagaimanapun kalian sama saja, setelah sukses di kota, melupakan yang ada di desa!!" ucapnya kesal, salah sangka pada sosok Gabriel.
Tirta tertegun diam, melupakan yang ada di desa? Memang itulah kenyataannya, dirinya terbuai dengan kehidupan bahagiannya bersama keluarga baru dan kemewahan yang dimilikinya.
***
Dua hari berlalu...
Mobil hitam berhenti, benar saja sosok Gabriel datang, membawa pesawat remote control, mainan yang cukup mahal saat itu. Hendak meletakkan perlahan di bekas rumah, berjalan membayangkan letak lemari tempat putranya mungkin meringkuk ketakutan. Perlahan pemuda itu berjongkok, meletakkannya disana. Walaupun, dirinya tau mungkin mainan itu akan dipungut orang lain. Namun, setidaknya rasa rindunya sedikit terobati, membayangkan anak laki-laki, yang tidak diketahui wajahnya itu tersenyum bermain dengan pesawat kecil yang dibelinya.
"Anak ayah...," Gabriel menitikkan air matanya, sejenak kemudian diseka olehnya.
"Caranya bermain, ini adalah tombol untuk mulai menyalakannya, ada dua tuas salah satunya...." Gabriel tertunduk tidak dapat melanjutkan kata-katanya, temenung dalam tangisannya. Memukul mukul dadanya yang terasa sesak.
Semasih dirawat oleh Citra, bahkan putranya tidak pernah menyantap daging, apalagi membeli mainan. Anak itu tidak pernah meminta apapun pada ibunya yang bisu, hanya tersenyum, atau pura-pura tersenyum tidak memiliki apapun, hidup seadanya.
Cukup menyakitkan, hanya setelah anak itu tidak ada barulah ayahnya mengetahui anaknya pernah hadir di dunia ini, baru dapat membelikan mainan yang tidak dapat dimainkan putranya.
Sedangkan, seorang wanita terdiam di mobil tidak dapat keluar. Hanya dapat menangisi putranya dari dalam mobil, mengetahui hati suaminya yang sama terlukanya dengan dirinya.
Mereka tidak ingin memiliki keturunan lagi untuk menggantikan Lendra. Anak yang bahkan tidak dapat mereka rawat dengan baik. Tidak ingin menggantikan anak rakus, pelit, anak yang tidak pernah mengeluh.
Tirta menepuk pundak Gabriel yang masih tertunduk,"Kamu siapa? Kenapa berada di bekas rumahku? Apa kamu suami almarhum kakakku?" tanyanya.
Gabriel menghebuskan napas kasar, memukul pipi Tirta,"Karena menunggumu Citra dulu tidak ingin melarikan diri bersamaku!! Aku tidak dapat melihat wajah anakku karenamu!!" bentaknya dalam tangisan hendak kembali menendang Tirta yang telah tersungkur.
Citra membulatkan matanya, memegang hendel pintu mobil akan turun. Namun, Zen menggeleng gelengkan kepalanya,"Biar saya saja yang melerai..." ucapnya.
"Tuan berhenti!! Dia tidak tau apa-apa!! Ingat tujuan anda hanya membalas Hans!! Istri anda tidak menginginkan ini!!" Zen memegang Gabriel dari belakang, pemuda itu terdiam menghebuskan napas kasar.
Zen melepaskan Gabriel yang mulai tenang, menatap ke arah lain."Zen, antar adik yang sangat berbakti ini ke mobil..." ucapnya sarkasme penuh penekanan, dengan nada dingin.
"Baik..." Zen membantu Tirta bangkit, mengantarnya menemui Citra.
Sedangkan Gabriel terdiam memejamkan matanya, mulai berdoa dalam hatinya.
Tuhan jika engkau berbaik hati padaku, tolong berikan nyawa ke dua untuk putraku... doa yang tulus, dapat merasakan putranya masih ada, namun entah dimana. Tapi, tetap saja semua orang mengatakan Lendra tidak selamat.
"Doa yang bodoh!!" umpatnya,"Ayah akan selalu menyayangimu Lendra..." Gabriel berlalu pergi, menghapus air matanya.
__ADS_1
Bersambung