Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Bridal Style


__ADS_3

Bagi yang suka action fantasi, aku rekomendasikan novel adik Ella. Rajin update yang adikku tersayang...πŸŒΈπŸŒΈπŸŒΈπŸ€πŸ€πŸ€



Bagi yang suka horor, mungkin bisa mampir di novel kak aing...πŸ€—πŸ€—πŸ€—



πŸŒΈπŸ€πŸ€πŸ€πŸ€ Maaf promosi novel teman dulu... happy reading...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Pisau yang berlumuran darah masih berada di dagunya. Tidak dikenalnya? Jeny tidak pernah bertemu Hans sama sekali.


Pisau turun melepaskan ikatan tangan dan kakinya. Lakban di mulutnya dicabut Hans, "Kenapa bisa ada disini? Bukannya seharusnya tuan putri lemah sepertimu bersembunyi di Okinawa?" tanyanya.


"Kamu mengenalku?" Jeny merangkak mundur ketakutan.


"Tidak, tapi kita ada di pihak yang sama. Akhirnya aku memiliki alasan untuk naik ke ballroom..." jawabnya tersenyum, mencengkram tangan Jeny. Berniat menjadikan wanita itu sebagai alasannya untuk naik dan menyaksikan kematian Lery.


Aku akan mati...Aku akan mati... Jeny berusaha melepaskan tangannya, yang ditarik paksa oleh tangan pria yang kini masih berlumuran darah.


"Jangan melawan, lantai atas belum aku bersihkan. Jika tidak dapat membantu, sebaiknya jangan menghalangi," ucapnya dengan nada dingin.


Ruangan dekat lambung kapal mulai ditinggalkan mereka. Menapaki tangga yang terbuat dari besi, lantai berikutnya terlihat, ceceran darah serupa yang belum di bersihkan.


"Ka...kamu siapa?" Jeny mengenyitkan keningnya ketakutan.


"Yang jelas bukan musuh, aku hanya ingin menyaksikan kematian Lery. Tapi malah ditugaskan di lantai dasar..." keluhnya, masih menarik tangan Jeny.


Kematian Lery? Jadi dia salah satu orang-orang kami... Jeny menghela napas lega.


Lantai berikutnya mulai dinaiki mereka, mulai terlihat ruangan dengan banyak kamar. Beberapa orang ber jas mendekat, "Hans, kenapa kamu disini?" tanyanya menyangka pria itu masih ditugaskan di negara lain.


Hans tersenyum,"Berisik..." ucapnya mengeluarkan senjata api menembak pria di hadapannya.


"Aaaa..." suara memekik terdengar, Jeny yang untuk pertama kalinya menyaksikan pembunuhan berteriak ketakutan, menutup matanya.


"Di lantai atas akan menjadi lebih mengerikan lagi. Kamu ingin suamimu tetap hidup? Jika iya jangan menjadi benalu..." ucapnya, menembak setiap pengawal Lery yang berpapasan dengannya.


Tepat di jantung dan kepala? Tentu saja untuk menghemat jumlah pelurunya. Jeny yang ketakutan, hanya mengikuti langkah Hans tanpa membantah.


Sebuah senjata api milik pengawal Lery yang telah meninggal dipungut wanita itu dengan tangan gemetar. Menggeledah peluru yang disimpan orang yang sudah meninggal tersebut.


Hans berjalan dengan cepat menuju lantai berikutnya diikuti Jeny, tepat mereka keluar adalah area kasino (tempat perjudian). Beberapa orang-orang Lery masih berada disana, menatap keberadaan Jeny dan Hans.


"Hans, kamu..." belum sempat orang itu bertanya, tubuhnya di tikam oleh Hans.


Penumpang kapal serta pegawai kasino mulai panik. Suara letupan senjata terdengar, menyadari Hans adalah penghianat. Meja besi dibaliknya, berlindung dengan Jeny disana, membalas tembakan beberapa orang tersebut.


"Sial!!" umpatnya menyadari senjatanya kehabisan peluru.

__ADS_1


"Ini, aku bukan benalu..." Jeny menyerahkan senjata dan peluru yang di ambilnya dari mayat pengawal lantai sebelumnya.


"Lumayan berguna..." Hans tersenyum mencibir. Kembali membalas tembakan beberapa pengawal tersebut.


Hampir semua tembakan tepat sasaran, ruangan berhamburan berantakan. Para pengunjung dan pegawai telah melarikan diri sedari tadi.


Dor...dor ...dor ...


Suara tembakan saling bersahutan berbunyi nyaring. Hingga suara tembakan terakhir mengenai kepala salah seorang pengawal.


Hans, bangkit dari meja besi tebal tempat mereka berlindung. Menarik wanita berwajah pucat, untuk pertama kalinya Jeny melihat begitu banyak mayat. Jemari tangannya gemetaran. Menggeledah mayat hal pertama yang mereka lakukan, mengambil persenjataan dan peluru.


"A...apa Farel akan selamat?" tanyanya, pada pria yang melangkah dengan cepat.


"Jika semua sesuai rencana, seharusnya Lery sedang kewalahan saat ini," jawabnya tanpa menoleh.


Jeny terus melangkah, mengikuti langkah kaki Hans. Air mata mengalir di pipinya, entah kenapa. Bayangan Farel yang mengeluarkan darah dari mulut, pelipis dan dadanya terus berkutat di fikirannya.


Jeny... suara lirih yang di dengarnya samar-samar, berjalan di lorong yang masih jauh berada di dalam kapal. Masih harus menaiki beberapa lantai lagi untuk mencapai ballroom.


Langkahnya terhenti, menengok ke arah belakang...


"Ada apa?" Hans mengenyitkan keningnya.


"Tidak, bukan apa-apa..." ucapnya ragu, jemarinya gemetaran. Mengetahui firasat ganjil yang dirasakannya.


Memaksakan diri melangkah mengikuti Hans itulah yang dilakukannya, mengeratkan tangannya berusaha untuk terus dapat melangkah.


***


"Kenapa tidak menghadapi mereka?" tanyanya tidak mengerti.


"Ada yang aneh. Perhitungan kita salah..." Hans menghela napas kasar, memberikan senjata berukuran kecil pada Jeny."Ini adalah pelatuk, tarik pelatuknya. Terakhir arahkan, tekan pemicunya. Aku tidak pandai melindungi orang lain, lindungilah dirimu sendiri..." ucapnya.


Tangannya gemetar, mendengar intrupsi. Mengerti? Tentu saja, kata-kata sederhana namun sulit dilakukan.


Pria itu meninggalkannya, satu-satunya perlindungan Jeny di tengah situasi yang tidak dimengerti olehnya.


"Kamu siapa!?" tanya tentara bayaran yang baru pertama kali melihat Hans.


"Pengantar peti jenazah..." ucapnya tersenyum, menembak tentara bayaran, kemudian berlari menjadikan dirinya sebagai umpan di ballroom luas yang hanya terdapat tentara bayaran milik Lery.


Dor...dor...dor...


Suara tembakan kembali terdengar jemari tangan Jeny masih gemetaran menatap Hans hampir kewalahan, bersembunyi sambil menembak dari tempat lain beberapa belas meter berjarak dengannya, namun wajah pria itu masih terlihat.


Hans menggelengkan kepalanya, seolah memberi interupsi agar Jeny, mencari kesempatan melarikan diri.


Wanita yang jika bertindak dalam kehidupan nyata tidak begitu pintar, namun IQnya tinggi itu mulai berpikir.

__ADS_1


Air di akuarium berukuran dua kali tiga meter dekat tentara diperhatikannya. "Akan aku coba..." gumamnya.


Dor...dor...


Dua tembakan, sukses membuat Jeny jatuh tersungkur akibat baru pertama kali menggunakan senjata. Kaca akuarium pecah membasahi lantai. Wajah Jeny nampak tersenyum.


Para tentara yang menyadari keberadaan Jeny mulai menembak ke arahnya. Wanita yang tengah hamil muda itu hanya dapat bersembunyi.


Tembakan diarahkannya ke atap, bagaikan tembakan sembarang.


"Bodoh..." mimik wajah Hans yang berdiri jauh di belakang tiang penyangga terlihat kesal, karena keberadaan Jeny diketahui akibat tembakan asal wanita itu.


Jeny mengenyitkan keningnya menunjuk ke arah lampu kristal yang berada di atas. Senyuman menyungging di wajah Hans mengerti dengan intrupsi Jeny.


Dor...


Satu tembakan dilayangkannya ke arah atas. Rantai lampu kristal lepas, jatuh ke atas air, kabel listrik yang semula melilit rantai lampu kristal menjuntai ikut jatuh ke dalam air. Listrik mengaliri air, menyengat belasan tentara disana yang sebelumnya kakinya telah basah akibat air akuarium yang melumber ke mana-mana.


Hans tertawa kecil, menatap wanita yang awalnya ketakutan kini tersenyum penuh kelegaan, menatap tentara yang hampir membunuh mereka hampir mati tersengat arus listrik tegangan tinggi.


"Anak pintar..." pria paruh baya itu tersenyum padanya. Memimpin jalan mengamati situasi lebih banyak lagi, berjalan menuju lorong yang langsung menuju geladak kapal.


Angin laut menerpa wajah mereka...


Ceceran darah terlihat, seorang pemuda tetap setia tersenyum. Darah memenuhi setelan jasnya. Sedikit melirik ke arah Jeny yang baru datang.


"Ren..." langkah wanita itu gontai, berusaha mendekati Farel. Tangan Hans yang berdiri di hadapannya menghadangnya.


***


Tomy berlari menelusuri lorong melalui jalur lain, mengingat banyaknya tentara di ballroom.


"Bos pelit bertahanlah..." gumamnya penuh harap. Hingga akhirnya sampai di depan ruangan tempatnya meninggalkan Jeny. Aroma amis menyengat tercium dari darah yang berceceran dimana-mana.


"Jeny!!" ucapnya ketakutan, membuka pintu dengan cepat.


Noda darah terlihat dimana-mana sosok wanita terikat dicarinya, namun tidak ditemukan, "Apa dia mati?" gumamnya ketakutan.


Bagaimana jika bos pelit meminta ganti rugi istri baru, aku harus cari dimana nona tukang perintah sepertinya... cemasnya.


Tomy saat ini berada dalam kepanikan, mengikuti noda darah, hingga sampai ke beberapa kotak kayu besar. Dengan ragu kotak dibukanya, terlihat tumpukan mayat disana.


"Yang mana Jeny..." gumamnya menggeledah kotak kayu satu persatu, seakan melupakan rasa takut akan ruangan sepi dipenuhi mayat.


"Kapal Ferry mewah, kakak cantik kalian dimana?" ucapnya, mencari mayat istri majikannya.


Aku tidak ingin menjadi hantu perjaka jika Jeny tidak ditemukan. Tapi yang mana mayatnya... Tomy masih kebingungan, menangkat mayat ala bridal style satu persatu agar mempermudah pencariannya.


"Anggap saja ini latihan mengangkat kakak cantik ke kamar pengantin..." kapten Tomy masih memindahkan mayat satu persatu menggunakan gaya bridal style bagaikan pengantin baru.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2