
Hans berjalan menuju kamar hotel yang disewakan Lery untuknya. Membuka topi dan jeketnya penuh senyuman. Kotak berukuran lumayan besar dikeluarkannya, terlihat tumpukan foto yang jumlahnya mungkin mencapai ratusan.
Foto artikel sebuah majalah yang dibelinya dalam perjalanan kembali ke hotel diguntingnya hanya untuk mendapatkan foto Renata.
Potongan foto yang diambilnya dari majalah itu, kemudian dimasukkan ke dalam kotak. Foto-foto orang yang mati ditangannya, bahkan salah satunya, foto seorang polisi yang tersenyum menggunakan seragamnya. Doni? benar itulah foto Doni salah satu polisi yang meninggal ketika menjalankan tugasnya.
......Tidak ada yang namanya rasa kasih atau cinta untuk iblis. Namun, sebelum menjadi iblis, tentu cinta itu tetap masih dapat ada......
Author...
Apakah seorang psikopat dapat mencintai seseorang? Banyak yang masih meragukannya, bahkan psikolog sekalipun. Psikopat memiliki rasa narsistik yang tinggi, kecerdasan intelektual, serta rupa yang tentunya di atas rata-rata.
Dibalik kelebihannya, seorang psikopat memiliki struktur otak yang berbeda. Memiliki ***** seksualitas yang tinggi. Namun, sulit untuk bertahan pada satu pasangan, karena rasa narsistik, merasa yang terhebat dan banyak rahasia kelam yang disimpannya dalam kebohongan.
Tidak dapat merasakan empati atau rasa kasih, meninggikan dirinya sendiri. Perlahan menikmati penderitaan orang lain, menjadikan orang lain sebagai pijakannya. Tapi, mungkin ada suatu tahap, dimana perbedaan struktur itu dapat dikendalikannya atau tidak. Tahap, dimana dirinya belum menjadi predator, masih belajar untuk memiliki emosi.
Tahap dimana dirinya masih dapat berusaha menekan sisi gelap yang tersembunyi.
Hans terdiam sejenak menatap langit-langit kamar, kemudian mulai bangkit mengambil tusuk konde perak dengan ukiran bunga di bagian ujungnya di dalam laci kamar. Benda yang dulu pernah menancap melukai lengannya.
"Hyeri..." gumamnya tersenyum tertawa kecil, menatap cermin.
Apakah membunuh orang itu salah? Lalu apa bedanya aku denganmu? Kamu membunuh diri sendiri, dan anakku yang ada di kandunganmu... fikirnya, tidak dapat lagi merasakan empati.
"Menyebalkan..." umpatnya tersenyum, tidak menyadari setetes air matanya mengalir.
***
Di tempat lain, Ayana menatap Rafa yang telah tertidur lelap. Mungkin jauh dari bayi mungil itu terlalu sulit untuknya.
Perlahan tangannya meraba sebuah frame foto lama, seorang gadis SMU yang tersenyum ceria, berfoto bersama dirinya dan Taka. Ayana menghembuskan napas kasar menatap ke arah langit yang berselimut awan gelap,"Kenapa kamu memutuskan untuk bunuh diri? Bahkan aku tidak tau siapa ayah dari bayimu?" gumamnya, merahasiakan dari Taka. Kehamilan almarhum adiknya bukan karena pemerkosaan.
Membuat kebohongan selama bertahun-tahun, seumur hidupnya menutup mulut. Itulah yang diinginkan Hyeri. Entah kenapa Hyeri ingin membesarkan anaknya seorang diri tanpa meminta pertanggungjawaban kekasihnya.
Namun, suatu malam Hyeri yang tengah hamil keluar dari rumah. Pulang dalam keadaan murung, beberapa jam tidak keluar dari kamar. Hingga, Taka sendiri melihat mayat putrinya tergantung.
Beberapa orang mencibir bahkan membicarakan hal buruk tentang Hyeri. Karena cibiran orang-orang? Mungkin saja itu salah satu alasannya. Namun, mungkin ada alasan lain yang disembunyikan almarhum adiknya.
***
Undangan? Taka menghela napasnya menatap ke arah jendela mobilnya yang melaju, memenuhi undangan aneh dari seseorang yang meretas sistem keamanan perusahaan milik cucunya.
__ADS_1
Mobil melaju ke daerah pelosok, seperti villa yang rangkap dijadikan sanatorium. Kakek tua itu perlahan masuk melalui jalur masuk pasien sanatorium.
Sang resepsionis mengenyitkan keningnya, menatap identitas Taka."Dokter Gabriel, akan segera memeriksakan kesehatan anda, mohon tunggu sebentar lagi," ucapnya. Kemudian menghubungi seseorang melalui telfon di mejanya.
Taka mulai duduk, menghirup udara segar, khas pegunungan. Hingga, sang resepsionis kembali memanggilnya, mengantarkannya langsung ke dalam ruang pemeriksaan.
Seorang pria berpakaian dokter tersenyum menatapnya,"Tuan Taka, sebaiknya anda berbaring terlebih dahulu,"
Taka menatap sinis, mulai membaringkan tubuhnya,"Apa ini hanya promosi untuk rumah sakit kecil?" tanyanya, saat Gabriel mulai tersenyum mengenakan stetoskopnya.
"Anggap saja begitu," jawabnya, menekan sedikit perut Taka, mulai mengarahkan stetoskopnya pada bagian dada, dan perut.
"Hirup napas, tahan... kemudian hembuskan..." ucapnya dengan stetoskop masih berada di dada pria yang tidak berusia muda lagi.
Taka menuruti perintah dokter yang terlihat ramah itu. Gabriel menghebuskan napas kasar, mencatat hasil pemeriksaannya.
"Sebenarnya apa tujuanmu?" Taka mengenyitkan keningnya.
"Buka mulutnya...aaaa..." ucapnya dengan membawa senter kecil serta stik, memeriksa rongga mulut Taka,"Bertukar informasi, dan saling bekerjasama..." lanjutnya, sembari kembali mencatat.
"Kalian semua sama saja, bahkan datang kemari karena mendengar aku keluar dari Jepang kan..." ucap Taka, matanya yang kini diperiksa dengan senter kecil.
"Aku akan tetap ke negara ini, walaupun hanya sebulan sekali. Karena almarhum ibuku berasal dari negara ini, selain itu aku menyembunyikan istriku disini," Gabriel mulai tersenyum, duduk di kursi putar meja kerjanya.
"Kirimkan hasil pemeriksaan kesehatanku, kamu hanya seorang dokter, mana mungkin memiliki informasi berharga..." Taka tersenyum menghina, hendak bangkit.
"Putri anda Hyeri, aku pernah melihatnya secara langsung..." ucap Gabriel, dengan senyuman menghilang di wajahnya.
"Bagaimana jika Hyeri bunuh diri, demi ayah dari anaknya?" tanyanya.
"Jangan bicara yang bukan-bukan, jika tidak memiliki bukti" Taka menatap tajam.
"Aku tidak memiliki bukti, tapi melihatnya sediri berlutut agar kekasihnya tidak akan dibunuh... Cara yang sama untuk membuatku menyembunyikan istriku..." ucapnya penuh senyuman.
"Informasi apa yang kamu inginkan?" Taka mengenyitkan keningnya.
"Tentang cucu angkat anda, Farel..." jawabnya.
"Berikan aku informasi terlebih dahulu," Taka menghembuskan napas kasar.
"Seorang psikopat dapat mewarisi gen pada anaknya. Itu disadari kakakku Lery, dia menjadikan dirinya satu-satunya orang yang dipercayai Hans, kekasih Hyeri. Ayah kandung Hans adalah tersangka hukuman mati untuk kasus pembunuhan berantai,"
__ADS_1
"Kakakku merekrutnya menjadi pelayan dari muda. Menyiksa orang di hadapannya, seolah memang mempersiapkan Hans untuk membangkitkan sifat hilang kendalinya," Gabriel menghebuskan napas kasar.
"Lalu apa hubungannya dengan kematian putriku?" tanya Taka lagi.
"Bukankah saat itu anda belum sesejahtera sekarang? Lery melihat perubahan dalam prilaku Hans dan itu karena putri anda. Saat Hyeri mengandung, Hans yang belum siap dan merasa tidak ingin berkomitmen menolak bertanggung jawab. Tapi tetap saja, Hans tidak ingin berpisah dengan Hyeri, perlahan mulai sedikit menuruti perintah Hyeri. Berhenti untuk membunuh,"
"Pada akhirnya, tanpa sepengetahuan Hans, Lery meminta Hyeri memilih nyawa Hans atau nyawanya. Bagaimanapun Hans adalah pion berharga kakakku. Jika memilih nyawanya, maka Hans yang sudah tidak berguna harus mati. Tapi jika memilih nyawa Hans, dalam satu minggu Lery ingin mendengar berita kematian Hyeri,"
"Sayangnya, Hyeri masih terlalu naif mengira cinta adalah segalanya. Memilih mati bersama anak di kandungannya, hanya agar seorang psikopat tidak berguna dapat hidup," jelasnya, menatap Taka yang termenung meneteskan air matanya.
"Apa ini kebenaran?" Taka masih tidak yakin.
"Selidiki dulu, dan buktikan kata-kataku..." Gabriel terlihat tersenyum cerah.
"Informasi apa yang kamu inginkan?" tanyanya, menyeka air matanya.
"Farel, dimana Ayana mengadopsinya?" tanyanya antusias.
"Aku tidak begitu tau, yang jelas sebuah panti asuhan daerah terpencil..." jawabnya, menghebuskan napas kasar masih berusaha untuk tenang.
"Sifatnya? Bagaimana sifat Farel?" Gabriel kembali bertanya.
"Dia pintar, baik, berbakti, bahkan berbakat dalam bela diri. Rela berkorban, bisa dibilang cucu yang sempurna..." Taka kembali menjawab memandang curiga.
Dia memang putraku, 100% seperti sifatku. Memang DNA unggulan... gumam Gabriel dalam hati.
"Tapi dalam hal pelit dia juga patut dibanggakan. Bahkan jika kaos kakinya berlubang pun akan dijahitnya, tidak ingin membeli yang baru sebelum benar-benar tidak bisa diperbaiki..." lanjutnya.
Wajah Gabriel pucat... Bukan, dia bukan Lendra, aku dan Citra sama sekali tidak pelit... kembali bergumam dalam hatinya, melupakan kutukannya pada putranya sendiri.
"Tentang kecerdasannya?" Gabriel mengenyitkan keningnya.
"IQ-nya saat ini sekitar 190-an. Licik dan memiliki banyak rencana, hingga dapat mendirikan perusahaan sebesar JH Corporation di usia muda..." jawab Taka jujur, belum mengerti tujuan Gabriel menanyakan tentang cucunya.
Dia benar-benar putraku, ber-IQ tinggi, cerdas, licik, dapat diandalkan. Sifatku menular padanya... Gabriel tersenyum penuh keyakinan.
"Tapi sayangnya, sampai saat ini seperti sangat rakus. Sering memakan makanan sisa orang lain, bahkan makanan sisa istri dan asistennya..." Taka menghela napasnya mengingat kelakuan cucunya yang tidak terkendali.
Senyuman keyakinan di wajah Gabriel menghilang... Sangat memalukan dan tidak higienis, rakus. Benar-benar bukan DNA-ku, sifatnya tidak mirip dengan ku, jadi mungkin Citra benar, dia bukan Lendra... pria itu, mengacak-acak rambutnya frustasi, tidak sadar diri dengan sifatnya sendiri, yang menular pada keturunannya.
"Kenapa menanyakan tentang cucuku?" Taka mengenyitkan keningnya.
__ADS_1
Bersambung