Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Penculikan


__ADS_3

Hari ini skors Dimas berakhir, anak itu mulai mengikat tali sepatunya, kemudian sarapan sembari membaca buku cerita anak yang tanggung untuk ditinggalkannya.


"Katanya tidak suka!?" Jeny tertawa kecil menggoda.


"Kakak tidak mengerti, ini tentang Alice in Wonderland, petualangan, pertarungan juga ada..." sanggah Dimas membanggakan hobby barunya.


"Dasar..." Jeny menghebuskan napas kasar.


"Omong-ngomong kakak ipar, aku sudah membaca Piterpan in Neverland, kenapa Piterpan tidak kembali bersama Wendy dan teman-temannya hidup normal. Malah memilih kesepian di Neverland!?" tanyanya, kesal dengan akhir yang menurutnya tidak memuaskan.


Farel menghebuskan napas kasar,"Setiap orang memiliki tugas, dan tempat tertentu di dunia ini. Piterpan harus menjaga Neverland, dan tinggal selamanya disana," jawabnya.


"Jika begitu, seharusnya dia jangan mengantar Wendy pulang. Biarkan tinggal bersamanya di Neverland!!" Dimas mengenyitkan keningnya.


"Wendy tidak akan bahagia, dia harus tumbuh besar dan menikah suatu hari nanti, memiliki anak dan membesarkan mereka. Piterpan akan selamanya menjadi anak-anak yang mengawasi Wendy dari jauh," jelasnya sembari menyajikan beberapa makanan.


Jeny tertawa kecil, menutup mulutnya agar tawanya tidak terdengar. Ren seperti Piterpan, bermain bersamaku, saling menyukai ketika remaja. Saat aku fikir dia menghilang dari hidupku, aku mungkin mengerti perasaan Wendy. Tapi aku lebih beruntung dari Wendy, Ren yang dewasa kembali padaku, dan menemaniku selamanya. Aku mencintaimu... Piterpan-ku...


"Kenapa tertawa!?" Farel mengenyitkan keningnya.


"Tidak apa-apa, aku pergi dulu, aku mencintaimu..." Jeny masih tertawa kecil, meminum juice di mejanya kemudian pergi berlalu menuju pintu depan. Farel menghebuskan napas kasar, dengan wajah bersemu merah.


"Kakakku menjadi gila dan tidak keren lagi karena antek-antek Jepang..." gumam Dimas, menatap pasangan suami istri aneh itu.


***


Hari semakin siang, Dimas telah diberi alamat tempat khususnya yang dekat dengan sekolah, beserta kotak bekal oleh Farel. Beberapa tugas rumah tangganya telah diselesaikan pemuda itu lebih awal, menjemput stok ASI hari ini diserahkannya kepada kurir.


Pemuda itu, memakai pakaian rapi. Stelan jas, yang memiliki harga fantastis, rambutnya ditata rapi, memakai tindik di sebelah telinganya. Farel menghebuskan napas kasar menatap pantulan dirinya di cermin.


Sesosok makhluk, bagaikan artis Asia Timur keluar dari kamar, mendapatkan tatapan aneh dari bibi pengasuh,"Tuan mau ikut audisi menyanyi!? Audisi Indonesian idol sudah ditutup," tanyanya.


"Tidak, hanya ada urusan sebentar, tolong jaga Rafa," jawab Farel sedikit melirik ke belakang penuh senyuman.


"Tuan nanti kalau ikut audisi pasti lolos, bibi yakin. Nanti bibi bantu vote," ucap bibi pengasuh tertegun kagum pada penampilan Farel bagaikan idola remaja. Yang sering diteriaki penggemarnya.


"Sudahlah..." Farel enggan menjelaskan, kemudian berbalik sejenak, menatap putranya yang menggeliat tertidur, dalam pelukan pengasuh,"Papa pergi sebentar..." ucapnya tersenyum lembut.


***


Matahari sudah meninggi, Tomy segera berlari menuju pintu depan setelah mendapatkan telfon dari tuannya. Para staf yang berada di lobby penuh tanda tanya dengan turunnya orang yang paling berkuasa di perusahaan mereka, hanya untuk menunggu di pintu depan.

__ADS_1


Farel turun dari mobil, merapikan jasnya, berjalan dengan wajah angkuh. Mulai memasuki gedung pencakar langit di hadapannya.


Tomy membukakan pintu, menyambut sosok seorang pemuda yang baru pertama kali datang ke kantor perusahaan yang cukup besar itu.


Karyawan yang berada di lobby mulai berbisik-bisik.


"Apa itu adalah selebriti untuk ambasador produk terbaru kita?"


"Tampang artis setampan itu, kenapa tidak pernah masuk di televisi ya?"


"Mungkin pendatang baru,"


Begitulah kira-kira cibiran para karyawan menatap pemuda yang baru masuk, hingga satu kata keluar dari mulut Tomy yang membuat mereka tertegun.


"Tuan..." ucapnya membungkuk memberi hormat, berjalan mengikuti langkah Farel bahkan menekan tombol pintu lift untuknya.


Dua orang resepsionis yang masih tertegun tidak mengerti, dengan sigap menunduk memberi hormat,"Selamat siang tuan!!" ucap mereka serempak sudah bisa menerka-nerka sosok yang disambut oleh Tomy. Mengamati dua orang pemuda rupawan itu masuk ke dalam lift tanpa membalas sapaan mereka.


"Atasan dari pak Tomy!? Pemilik perusahaan kita!? Pemilik JH Corporation!?" salah satu staf yang baru dapat mencerna kejadian yang dilihatnya berlari penuh tanda tanya menuju meja resepsionis.


"I...iya mungkin, atau mungkin anak pemilik JH Corporation!? Gosipnya pemiliknya kan orang tua genit!?" salah seorang resepsionis, menatap kagum dengan wajah bersemu merah.


"Tuan muda pewaris JH Corporation!? Aku penggemarmu!!" lanjutnya, menyangka Farel adalah anak pemilik perusahaan. Berteriak ke arah lift yang sudah tertutup.


"Pria sesempurna seperti itu, menjadi istri keduapun aku rela..." ucap sang resepsionis.


***


Farel tidak mengeluarkan kata apapun, hingga akhirnya memasuki ruangan Tomy. Pintu segera di tutup oleh teman rangkap asistennya itu.


"Ada apa tuan!?" tanyanya.


Farel mulai berbaring di sofa, menatap ke arah langit-langit ruangan,"Kakek sudah tau tentang keberadaan Rafa. Ini lumayan sulit. Jika saat mengumumkan ahli warisku, aku tidak dapat membuktikan, aku dan Jeny bukan pasangan selingkuh. Maka, aku harus meninggalkan istriku dan JH Corporation. Tinggal di Jepang, mengurus perusahaan kakek, kemudian merebut Rafa dari Jeny untuk tinggal denganku,"


"Lalu apa yang harus kita lakukan!? Saya tidak dapat mengelola perusahaan yang tidak memiliki pemimpin terlalu lama!!" Tomy membentak.


"Kakek mungkin akan memilih orang untuk menggantikan posisiku, perusahaan ini tetap milikku. Tapi aku tidak akan diperbolehkan meninggalkan Jepang lagi..." jawabnya.


"Tuan...aku tidak ingin diperintah orang profesional yang kaku. Apa tidak ada cara lain!?" Tomy mengenyitkan keningnya.


"Ada..." Farel menghebuskan napas kasar,"Bagaimana caranya mengubah paradigma masyarakat, agar ketika keberadaan Rafa diumumkan, aku dan Jeny tidak dianggap pasangan berselingkuh!?" tanya Farel.

__ADS_1


Kedua pemuda itu sama-sama menghebuskan napas kasar serempak, menemukan jalan buntu. Mengingat mulut netizen yang akan sulit dikendalikan, apalagi Jeny resmi bercerai di usia kandungannya yang menginjak bulan ke tiga.


"Panggil istriku dulu, aku ingin bicara dengannya. Agar kedepannya lebih mudah..." Farel masih dalam posisi berbaring di sofa.


***


Jeny masih sibuk dengan beberapa laporan keuangan di kantornya. Tumpukan kertas yang seperti tidak ada habisnya. Hingga suara security terdengar, serta beberapa suara bising lainnya.


Dengan cepat Jeny keluar dari ruangannya. Terlihat wajah penuh senyuman, tanpa rasa bersalah yang dikenalnya,"Selamat siang nona ..." ucap pria berwajah tidak tau malu, dengan beberapa orang pengawalnya telah melumpuhkan security yang tidak mengijinkan mereka masuk.


Iblis ini memang senang membuat kegaduhan. Apa yang diinginkannya kali ini!? Apa dia akan membunuhku karena menginginkan hak asuh Rafa... Jeny mundur beberapa langkah ketakutan, menatap wajah pemuda rupawan dengan senyuman tulus, namun terlihat mengerikian di matanya.


"Tuanku ingin bicara dengan anda..." ucapnya menunduk memberi hormat.


"A...aku sudah menikah dan suamiku tidak akan senang jika aku bertemu tuanmu..." Jeny ketakutan dengan jemari tangan gemetaran.


"Saya tidak punya waktu untuk menjelaskan dan membujuk. Bawa dia!!" perintah Tomy pada pengawal di belakangnya. Jeny di seret di paksa keluar dari kantor.


"Helen tolong hubungi Farel!!" ucap Jeny berteriak, sembari menangis ketakutan pada karyawan kepercayaannya.


Jemari tangan Helen gemetaran, beberapa karyawan yang berada di kantor juga terdiam ketakutan. Setelah Jeny di bawa masuk ke dalam mobil, barulah Helen mulai menghubungi Farel.


"Halo, ada apa!?" terdengar suara Farel dari seberang sana.


"Nona Jeny diculik, beberapa orang yang memakai jas membawanya..." ucapnya menangis ketakutan.


Dalam bayangan Helen, respon panik dari Farel yang akan di dapatkannya. Mungkin Farel akan berlaku seperti pahlawan, menyuruh Helen menghubungi polisi. Kemudian, seperti adegan film, melacak GPS phoncell istrinya, menyelamatkan Jeny dari sarang penjahat.


"Kembalilah bekerja seperti biasanya, jangan lapor polisi. Nanti Jeny akan kembali sendiri..." ucap Farel tenang.


"Istri pak Farel di culik!! Nona Jeny diculik!!" teriak Helen emosi.


"Dia baru menghilang beberapa menit, belum dua kali 24 jam. Tunggu dua hari lagi, dia akan kembali setelah bulan madu..." Farel mematikan panggilannya.


Tangisan Helen terhenti, wanita itu mengenyitkan keningnya,"Pak Farel sudah gila..." gumamnya, meratapi nasib Jeny yang dicemaskannya.


Sementara itu...


Jeny memilin jemarinya ketakutan, dihimpit dua pengawal di dalam mobil.


Aku akan mati, aku akan mati, aku akan mati...

__ADS_1


"Ren, tolong aku!!" tangisannya terdengar memilukan.


Bersambung


__ADS_2