Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Salah Paham


__ADS_3

Farel masih tertegun mengenyitkan keningnya,"Kamu siapa!? Aku tidak mengenalmu!?"


"Kita baru saja tidur bersama beberapa hari yang lalu!!" Kanaya menangis terisak, menyempurnakan sandiwaranya.


"Aku tidak pernah..." kata-kata Farel terpotong, gadis tidak dikenal itu berucap lebih cepat.


"Kamu melarikan uang tabunganku. Bahkan setelah kita tidur bersama, kamu mengatakan akan menikahiku..." Kanaya menangis lebih kencang lagi.


Mata semua orang menatap mengintimidasi pada Farel yang tidak tau apa-apa. Pemuda itu, belum dapat mencerna situasi aneh di hadapannya. Meniduri wanita lain? Kapan? Bahkan malam pertamanya diambil Jeny. Setelah itu menikah, dan hanya menyentuh nonanya saja.


Jeny mengenyitkan keningnya,"Ren, kamu mengenalnya!?"


"Tidak...ini pertama kalinya aku melihatnya. Tapi aku benar-benar tidak pernah tidur atau melarikan uangnya," jawabnya jujur.


Jeny menghembuskan napas kasar,"Kapan Ren tidur denganmu!?" tanyanya pada gadis yang baru pertama kali ditemuinya.


"Seminggu yang lalu..." Kanaya tertunduk menjawab, sembari menyeka air matanya merasa rencananya sudah berhasil.


"Berapa uang tabunganmu yang dilarikan oleh Ren?" Jeny kembali bertanya penuh senyuman.


"Sepuluh juta," jawabnya asal.


"Mata uangnya apa!?" Jeny kembali mengenyitkan keningnya.


"Mata uang!?" Kanaya bertanya tidak mengerti.


"Tarif Ren perjamnya adalah 10.000, aku sampai sekarang tidak mampu membayarnya seharian..." Jeny menjawab penuh senyuman.


"Sepuluh ribu? Jadi dia g*golo dengan harga murah?" tanyanya kembali menyeka air matanya, tidak mengerti dengan sifat Jeny yang dalam anggapannya wanita baik hati, jujur dan lugu. Tapi menyewa seorang g*golo? Wajah pemuda itu memang sama tampannya, bahkan lebih tampan dari Daniel. Tapi apa gunanya? Kenapa tidak bersedia kembali bersama Daniel demi seorang g*golo dengan harga tarif aneh.


Sepuluh ribu rupiah!? Aku pun dapat menyewanya seumur hidup... cibir Kanaya dalam hatinya.


"Murah!? Untuk membantuku mengepel, aku harus membayarnya sepuluh ribu dolar (150 juta rupiah) perjamnya," Jeny menghembuskan napas kasar.


"Dolar!?" Kanaya mengenyitkan keningnya, membulatkan matanya.


"Sayang, bukannya aku memberimu keringanan, membayar dengan ciuman..." Farel menyela, hendak mencari kesempatan mencium istrinya di depan umum. Namun, wajah Farel yang mendekat di dorong oleh Jeny.


"Diam dulu!! Ini penting...!!" Jeny menghembuskan napas kasar, membentak Farel.


"Dia memiliki usaha sendiri!! Sepuluh juta rupiah, mungkin hanya uang kecil untuknya!! Buat apa mencuri uangmu!?" tanyanya.


"Dengar, kami mempunyai anak yang berusia 6 bulan. Setiap malam bergantian menjaganya. Siang hari, dia harus bekerja sambil mengerjakan pekerjaan rumah," wajah Jeny nampak kesal.


"Jadi kapan dia sempat meniduri wanita lain!? Apa dia menidurimu sambil menggendong anaknya!!" bentak Jeny dengan nada tinggi.


Nona marah... Benar-benar menyeramkan, sudah aku duga akan jadi seperti ini... Farel mulai kembali duduk, meminum sisa minuman Jeny yang belum habis.


"A...aku... dia..." Kanaya terlihat gelagapan, menatap singa betina mengamuk di hadapannya.


"Aku, dia apa!? Kalian ada hubungan!? Jangan mimpi!! Aku menunggu dalam keputusasaan selama 13 tahun hanya untuk mendapatkannya!! Walaupun, jika suatu hari nanti dia berselingkuh, aku akan mengubur selingkuhannya hidup-hidup!! Dan mengurung Ren denganku di gudang selamanya!!" Jeny meninggikan intonasi suaranya, tidak peduli dengan orang-orang yang mulai ketakutan menatap amarahnya.

__ADS_1


Itulah nona, dia akan menyiksaku jika berani-berani berselingkuh... Entah kenapa aku hanya bisa mencintainya saja, sifat protektif nonaku sangat menggemaskan, aku tidak sabar di kurung dalam gudang bersamanya... Farel berucap dalam hatinya, tersenyum memakan sisa makanan Jeny yang belum habis.


Jeny menatap mengintimidasi,"Jadi apakah kamu selingkuhannya!? Karena aku akan menguburmu hidup-hidup..." tanyanya tersenyum mengerikian.


"Aku tidak mengenalnya!!" Kanaya berteriak ketakutan.


Nyonya Jeny sangat menyeramkan, tipe pak Daniel sangat unik. Awalnya aku kira wanita baik hati yang teraniaya saat pernikahannya. Tapi seekor singa betina... tangan gadis itu gemetaran, takut akan ancaman wanita yang baru pertama kali ditemuinya.


"Hanya penipu!? Aku tidak tau siapa yang menyuruhmu, tapi jangan berharap dapat memisahkan aku dengan Ren..." ucap penuh ancaman.


"Ren, ayo kita pergi..." Jeny menarik tangan suaminya, agar bangkit dari tempat duduknya.


"Tunggu sebentar, masih tersisa sedikit lagi, satu butir nasi perlu waktu berbulan-bulan untuk petani menanamnya. Kita harus menghargainya..." ucapnya dengan mulut penuh, tidak membiarkan makanan di piring bekas Jeny tersisa.


Manusia pelit bin serakah... Astaga ganteng-ganteng tidak tau malu... Kanaya tertegun heran.


"Kita pulang ya!?" Jeny mengenyitkan keningnya, menahan rasa malunya.


"Tidak, ini ajaran kakekku. Kita harus menghormati petani, karena aku terlanjur memakannya. Aku akan menghabiskannya..." Farel melanjutkan kunyahannya.


Jeny yang bersiap-siap pergi dengan keren, kembali duduk menatap Farel menghebuskan napas kasar untuk kesekian kalinya. Aku tidak masalah, Ren adalah orang kaya atau miskin. Tapi kenapa dia jadi seperti ini? Apa benar dia pemilik perusahaan raksasa seperti JH Corporation... tanyanya dalam hati, menatap wajah ayah dari putranya, seorang pemilik perusahaan yang cukup dikagumi di kalangan pebisnis. Namun, tidak membiarkan sebutir nasipun tersisa di piringnya.


Antara kikir, hemat, atau menghormati petani... Jeny menyenderkan tubuhnya di kursi.


Kanaya mulai berjalan mengendap-endap hendak pergi, tidak ingin memprovokasi singa betina yang mengamuk itu lagi.


"Tunggu!!" Jeny menghembuskan napas kasar. Kanaya menghentikan langkahnya, sedikit melirik ke arah belakang.


***


Malam menjelang, gadis itu tertunduk diam di balik jeruji besi. Membuat keributan, mencemarkan nama baik, dia tidak mempunyai uang menyewa pengacara atau keluarga yang tinggal di kota untuk membelanya. Meminta tolong pada Daniel atau teman sekantornya terasa sungkan baginya.


Namun, jeruji besi di hadapannya tiba-tiba terbuka. Terlihat seorang pria paruh baya berpakaian polisi,"Kanaya, kamu dibebaskan..." ucapnya.


Gadis itu tertegun diam penuh tanda tanya dalam hatinya, mulai bangkit mengikuti langkah polisi. Hingga terlihat seorang pemuda bersweater putih, memakai earphone mendengarkan musik.


Pemuda itu tersenyum padanya, kemudian melepaskan earphonenya,"Maaf, istriku melakukan ini karena tingkah posesifnya yang manis padaku," ucap Farel


Dia yang membebaskanku? Bukannya seharusnya dia membenciku... Kanaya bertanya-tanya dalam hatinya, tidak mengerti dengan jalan fikiran pemuda di hadapannya.


Farel tersenyum tanpa henti, setelah mendapatkan informasi dari Tomy wanita di hadapannya adalah kekasih Daniel. Motif untuk menuduhnya? tidak penting lagi baginya. Pernikahan Daniel lebih penting, agar Tirta dapat mengunci mulutnya rapat-rapat.


"Aku akan mengantarmu, di luar hujan," ucap Farel menunjukkan dua buah payung.


"I...iya," Kanaya nampak sungkan.


"Lelet..." Farel mengenyitkan keningnya, menarik tangan Kanaya keluar dari kantor polisi.


Gadis itu tertegun diam, berjalan mengikuti langkah pemuda yang terlihat ceria.


Sragggg...

__ADS_1


Terdengar suara payung terbuka, Farel memberikan salah satunya pada gadis yang terlihat gugup itu.


Langkah demi langkahnya berjalan bersama menuju halte. Kanaya sedikit melirik ke arah pemuda yang berjalan di sampingnya. Terlihat wajah yang hangat, tersenyum penuh ketulusan, mendengarkan sesuatu diearphonenya.


Jantung Kanaya berdegup lebih cepat, sedikitpun tidak menyentuh pemuda yang sudah beristri itu. Namun, rasanya begitu canggung dan bahagia berjalan dengannya.


Hujan deras yang mengguyur membasahi sepasang payung yang berjalan sejajar. Tetesan air, bau tanah, terlihat selaras dengan wajah teduh pemuda yang berjalan penuh ketenangan.


Langkah mereka terhenti di sebuah halte bis, seorang nenek dan cucunya yang berteduh di sana, sang nenek memeluk cucunya sambil duduk dengan kedinginan.


Farel melepaskan earphonenya,"Nenek dari mana? Mau kemana? Apa rumah nenek dekat?" tanyanya.


Sang nenek menjawab pertanyaan Farel dengan bahasa isyarat, menggunakan gerakan tangannya,'Rumah saya di dekat sini, tapi jika kembali sekarang, cucu saya akan kehujanan. Saya tidak ingin dia sakit,'


Farel menggerakkan tangannya, ikut menggunakan bahasa isyarat,'Jika dekat, nenek bisa menggunakan payungku...'


Pemuda itu, menyerahkan payungnya yang berukuran cukup besar. Mengacak-acak gemas rambut cucu nenek bisu itu yang mungkin berusia 5 tahun.


Sang nenek kembali menggerakkan tangannya,'Terimakasih, dimana rumahmu? Besok akan nenek kembalikan'


'Tidak perlu, payung ini untuk cucu nenek,' Farel menggerakkan tangannya sembari tersenyum.


Sang nenek membalas senyumannya, membuka payungnya berjalan bersama sang cucu, di tengah derasnya hujan. Kanaya tertegun kagum pada sosok pemuda yang kembali memakai earphonenya itu.


Waktu bagaikan terhenti untuknya, senyuman lembut dari pemuda yang tengah mendengar suara musik menatap pada rintikan hujan yang turun, tidak henti-hentinya menarik perhatiannya.


Jantungnya berdegup kencang tidak dapat dikendalikan olehnya. Hanya rasa kagum? Terasa lebih dari itu, hingga suara tenang keluar dari pemuda yang berdiri di sampingnya.


"Namamu Kanaya kan!? Kamu mirip denganku ketika kecil," Farel melirik ke arah gadis itu, memang ada kemiripan sifat yang rela berkorban dan kacamata yang dipakainya.


Kanaya terdiam tidak dapat menjawab, mengatur debaran dalam hatinya.


"Bismu sudah datang..." lanjut Farel, menatap sebuah bus berhenti di hadapan mereka.


"Silahkan masuk..." Farel, berucap penuh senyuman. Kanaya mulai naik ke dalam bus, sedikit kecewa, ingin rasanya bus tidak segera datang. Agar dapat tetap menatap wajah pemuda yang masih terdiam di halte.


"Jika mencintainya, kejarlah dan jaga dia, selepas bagaimanapun kedudukan dan statusnya..." Farel masih setia tersenyum, berharap hubungan Kanaya dan Daniel akan berhasil.


Namun, gadis itu tertegun, memikirkan hal yang berbeda. Apa jatuh cinta pada pandangan pertama dengan sosok pria yang sudah menikah itu salah? Mungkin begitulah, pertanyaan dalam hatinya. Menatap bayangan Farel di jendela berembun dari dalam bis yang mulai melaju.


"Tirta!! Aku sudah melepaskan calon menantumu dari penjara!! Jadi jangan mengganggu kehidupanku dan nona lagi!!" gumamnya penuh tawa, masih di halte bus.


Sementara itu, seorang pria yang tidak berusia muda lagi mengamatinya dari mobil,"Farel, tersenyum karena wanita tadi. Mungkin jika dia (Kanaya) menjadi cucu menantuku, menggantikan wanita yang dapat merusak nama Farel (Jeny) akan lebih baik."


Jika mendapatkan pengganti Jeny, Farel dapat tinggal di Jepang bersamaku dan putranya, tanpa menyimpan rasa kesal atau dendam. Tidak akan berusaha untuk menemui wanita itu lagi. Farel, kembalikanlah wanita itu pada suaminya, dia bukan milikmu...


"Selidiki orang yang tadi naik ke dalam bus..." Taka memberi perintah pada orang yang berada di kursi depannya, menyangka cucunya tertarik pada gadis lain.


"Baik tuan..."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2