
Hari sudah mulai pagi, matanya masih terasa panas, kerongkongannya kering. Perlahan matanya terbuka merasakan sesuatu menempel di dahinya.
Handuk kecil yang tertempel di dahinya, disingkirkannya, matanya menelisik mengamati ruangan sempit tempatnya terbangun. Kepalanya masih terasa sakit, berusaha untuk bangkit berpegangan.
"Kalau sudah sadar suruh dia pergi!!" suara bentakan Candra terdengar dari luar.
"Iya..." Kanaya menghela napas, hanya dapat menurut. Mengingat tidak adanya pembelaan yang dapat diucapkannya tentang sosok Daniel. Gadis itu, mulai melangkah menuju kamarnya.
Pemuda yang tengah berjalan beberapa langkah, masih di dalam kamar, membulatkan matanya, tidak ingin diusir. Hatinya tidak rela pergi, masih merindukan sosok Kanaya, itulah alasannya.
Hingga akhirnya, dirinya berlari kembali, ke tempat tidur. Berbaring dengan handuk menempel di dahinya. Berpura-pura tidak sadarkan diri.
Kriet...
Suara pintu terbuka, terdengar kembali ditutup, bagaikan seseorang masuk. Handuk di keningnya, diambil jemari tangan seorang wanita. Suara perasaan air terdengar, handuk kembali diletakkannya, di atas kening Daniel.
"Pak Daniel, jangan segera sadar ya!?" Jemari itu memegang tangannya penuh harap. Tidak ingin sosok pemuda yang terbaring di atas tempat tidurnya diusir.
Kanaya menengok ke kiri dan ke kanan, bagaikan mengamati situasi, agar tidak ada orang yang melihat. Hingga, gadis itu mendaratkan bibirnya, pada bibir pemuda yang tengah berbaring dengan tenang.
Satu ciuman yang singkat, gadis itu kemudian berteriak sendiri,"Aku sudah gila!!" ucapnya histeris, kemudian menutup mulutnya tidak ingin hal gila yang baru dilakukannya didengar oleh orang lain.
Wajah rupawan yang putih pucat, beberapa bulir keringat keluar dari dahinya, perlahan diseka oleh Kanaya menggunakan handuk lainnya. Mengambil termometer, memastikan suhu tubuh sang pemuda.
"Sudah turun, kenapa belum bagun juga..." gumamnya, menatap suhu pada termometer.
"Tapi bagus, dia tidak sadarkan diri, aku bisa berbuat apa saja..." Kanaya tersenyum menyeringai.
Hal yang dilakukannya? Sesuatu yang membuat Daniel merinding, kini melihat Kanaya dengan cara yang berbeda. Karet kecil diambilnya, rambut pendek itu dipaksakan untuk terikat dua, "Sangat manis..." ujarnya gemas.
"Bibir ini harus sering-sering tersenyum, jangan terlalu dingin begitu..." lanjutnya, menaikan paksa kedua sudut bibir Daniel.
Dia aneh!! Tapi kenapa aku hanya diam diperlakukan seperti ini? Seharusnya aku marah kan... tanya Daniel dalam hati tidak mengerti akan dirinya sendiri.
Kecupan bertubi-tubi lagi-lagi mendarat di wajahnya. Tidak ada yang luput dari gadis itu.
"Pak Daniel, apa anda sudah dapat melupakan mantan istri anda?" tanyanya menghela napas kasar."Aku menyukaimu, tapi jika aku hanya akan menjadi mainan..." kata-katanya terhenti sejenak.
Nada suaranya tiba-tiba berubah, terdengar bergetar, bagaikan orang menangis,"Apa aku hanya dipermainkan? Tapi entah, karena sihir apa, aku tetap menyukaimu..." ucapnya mencium pelan kening Daniel, meneteskan air matanya.
Hingga akhirnya, kembali mengecup singkat bibir sang pemuda. Namun, saat akan mengangkat kepalanya, tangan sang pemuda menahan tengkuknya. Mata pemuda itu terbuka menatapnya. Mengecup bibirnya singkat."Aku bersungguh-sungguh padamu..." ucapnya.
"Pa..pak Daniel!!" teriaknya, Kanaya yang terkejut, segera menjauhkan tubuhnya. Penuh rasa canggung dan bersalah.
Imageku sebagai gadis polos hancur... gumamnya dalam penyesalan.
Daniel segera bangkit, masih dengan rambutnya yang diikat dua. Menutup mulut Kanaya dengan salah satu tangannya "Sssttt..." ucapnya mengacungkan jari telunjuk di bibirnya.
Dan benar saja, "Kanaya ada apa!? Apa singkong, maksud ayah bocah itu sudah sadar!?" tanya Candra berteriak dari luar sana.
Kanaya mengangguk pada Daniel, dengan hati berdebar, merasakan tangan sang pemuda yang menutup bibirnya. Perlahan bibir itu dilepaskan kembali oleh tangan Daniel.
"Belum ayah!! Tadi ada kecoak, aku terkejut!!" jawab Kanaya setengah berteriak. Tidak mendapatkan jawaban kembali dari Candra, pertanda pria itu percaya.
"Gadis nakal..." Daniel dengan suara kecil, mengacak-acak rambut Kanaya gemas.
"Maaf, akan aku lepaskan..." ucap Kanaya canggung, hendak melepaskan dua ikatan rambut di kepala Daniel.
__ADS_1
Namun, tangan pemuda itu menghentikannya, memegang pergelangan tangannya,"Apa aku terlihat manis mengenakan ini? Jika terlihat manis di matamu, biarkan saja..." ucapnya tersenyum.
"Ti... tidak, terlihat aneh," gadis setengah polos itu gelagapan, menarik tangannya, menahan perasaannya yang berdebar semakin cepat saja.
"Apa pak Daniel lapar?" tanyanya mengalihkan pembicaraan, mengambil semangkuk bubur putih yang telah mendingin. Terletak di atas meja, samping tempat tidur.
"Iya..." Daniel mengangguk, tersenyum menerima suapan gadis di hadapannya."Melupakan Jeny?" pemuda itu tertawa kecil dengan mulut penuh.
Gawat dia mendengar semuanya, mencium pria yang tidak sadarkan diri? Bagaimana ini? Aku akan dianggap agresif... fikirnya.
Wajah Kanaya memerah, menahan rasa malunya, jemarinya hendak menyuapi mulut Daniel, agar pemuda itu berhenti tertawa. Namun pergelangan tangannya dipegang, menghentikan gerakan tangannya."Aku sudah merelakannya, aku tidak mempermainkanmu. Ibuku saat ini berada di Kanada. Karena itu, dapatkah menunggu ibuku? Hanya satu bulan..." ucapnya tulus.
"Tapi ayah..." kata-kata ragu, keluar dari mulut Kanaya, disela oleh pemuda di hadapannya.
Mata itu menatap tajam, terlihat kesungguhan dalam setiap ucapannya,"Aku akan meyakinkannya, menurunkan harga diriku lebih rendah lagi di hadapannya. Jika perlu aku akan berlutut dihadapan..." kata-katanya terhenti, bibir itu dibungkam sang gadis yang tidak begitu lugu.
Hanya sebuah kecupan singkat penuh senyuman,"Aku mencintaimu..." ucapnya.
"Aku juga..." Daniel tersenyum, suap demi suap bubur putih yang hanya dibubuhi garam itu dimasukkan dalam mulut pemuda di hadapannya.
Tangan sang pemuda, mulai bergerak, menggenggam erat salah satu jemari tangan Kanaya seakan takut akan kehilangannya.
***
Beberapa jam ada di dalam kamar? Itulah yang dilakukan Daniel, setelah kepergian Kanaya, ikatan rambutnya sudah dilepaskan. Mungkin dengan pura-pura tidak sadarkan diri, pemuda itu dapat lebih lama tinggal disana.
Hingga, terdengar suara yang cukup ramai, Daniel sedikit membuka pintu, mengintip keadaan di luar sana.
Keluarga Kemal? Benar keluarga Kemal datang untuk membicarakan pernikahan. Seorang gadis yang menggunakan kebaya sederhana terlihat murung. Sedangkan Kemal, pemuda itu juga terlihat tertunduk. Pintu ditutupnya kembali, agar Candra tidak menyadari dirinya yang telah sadarkan diri.
***
"Maaf, aku tidak menyetujui pernikahan ini. Aku..." kata-kata Kanaya disela.
"Jangan dengarkan Kanaya, sebaiknya pernikahan ini dilaksanakan secepatnya..." Candra tersenyum di hadapan calon besannya.
Tangan Kemal mengepal, bukankah ini kesempatannya memiliki Kanaya? Tapi apa gunanya jika gadis yang tertunduk dengan wajah murung itu tidak akan bahagia. Mungkin saling menyakiti, itulah yang akan terjadi.
"Jadi mari tentukan tanggal baiknya," ucap ayah kandung Kemal.
"Ayah!! Sudah aku bilang, hubungan kami hanya sebatas seperti kakak dan adik!!" Kemal meninggikan intonasi bicaranya, matanya memerah, menahan semua luka hatinya.
Mata semua orang tertuju pada Kemal, Atha (ayah Kemal) menghebuskan napas kasar,"Tujuh tahun ini kamu hanya menyukainya kan? Ayah tau semuanya, keluarga kita saling mengenal dan bertetangga sejak lama. Jika saling memahami, lambat laun rasa cinta akan tumbuh..."
Kemal terdiam, memalingkan wajahnya. Matanya memerah menahan perasaannya, tidak ada keberanian baginya menatap wajah Kanaya saat ini.
Iba? Mungkin iya, tapi haruskah menikah hanya karena iba? Jemari tangan Kanaya mengerat, memegang kain batik yang dikenakannya. Tidak dapat membantah, andai saja Daniel dapat datang bersama keluarganya... Mungkin itulah harapan, yang tidak mungkin menjadi kenyataan.
Daniel, pemuda itu terdiam, masih duduk di lantai, punggungnya masih menyender di pintu. Tangannya mengepal, tidak tahu harus melakukan apa, bicarapun percuma. Dirinya hanya akan diusir. Apa aku tidak pantas bersamamu... gumamnya, tertunduk tidak dapat berbuat apapun.
Gadis yang dicintainya terlihat cantik dengan kebaya putih yang terlihat murah. Namun, bukalah dirinya yang kini berada di sampingnya.
***
Pembicaraan dua keluarga berlanjut, wajah tidak suka terlihat dari seorang wanita yang sedari tadi duduk terdiam disana.
"Pak Atha(ayah Kemal), apa bersedia menampung ayah dan ibu saya?" tanyanya, tersenyum tanpa dosa.
__ADS_1
"Apa maksudnya?" Atha mengenyitkan keningnya.
Kinara menghembuskan napas kasar,"Maaf, karena saya akan tinggal di kota dan membuka butik bersama suami saya. Saya meminta warisan lebih awal. Tanah dan rumah akan dijual, uangnya dibagi dua," ucapnya.
Sejenak dirinya melirik Kanaya,"Kasihan Kemal cuma dapat barang bekas pakai bos besar..." cibirnya dengan suara kecil, tapi masih dapat didengar semua orang.
"Kinara!!" Candra membentak, mengangkat tangannya hendak menampar putrinya yang sebenarnya hanya sekedar hadir.
"Tampar saja!! Kenapa? Tidak berani!?" ucapnya menatap tajam sang ayah,"Saat aku hamil oleh pria kota, ayah menamparku. Kanaya menjadi wanita simpanan, tapi diagungkan. Karena apa? Tentu saja karena dia cukup pintar, menggunakan pengaman saat menjual tubuhnya..."
Plak...
Tamparan yang di tahan Candra akhirnya dilayangkan juga. Wajah wanita itu memerah, namun tersenyum puas, menatap orang tua Kemal yang mimik wajahnya berubah.
Iri? Mungkin itulah yang ada di hatinya, sang kakak menikah dengan pria rupawan yang berprofesi sebagai polisi. Memiliki kekasih simpanan yang kaya, benar-benar j*lang kelas tinggi. Mungkin itulah sosok Kanaya dimata adiknya.
"Pak Candra, apa maksudnya meminta hak waris lebih awal dan kami harus menampung keluarga anda?" tanya Atha, dengan raut wajah jengkel.
Candra tertunduk menghela napasnya, berusaha menetralkan emosinya."Tanah dan rumah memang akan saya jual, tapi kami akan tinggal mengontrak, tidak akan menyusahkan Kemal nantinya..."
"Masalah menjadi simpanan!?" Atha menatap tajam, bagaikan calon menantu yang dianggapnya sempurna, ternyata hanya penjaja tubuh di kota.
"Itu hanya kesalah pahaman...kami..." kata-kata Candra disela.
"Dulu pertunangan gagal karena putrimu hamil dengan pria lain. Dan sekarang? Satunya lagi menjual tubuhnya. Benar-benar keluarga tidak beradab, pernikahan kita batalkan saja!! Keluarga miskin, rumah saja tidak akan punya," ucap Atha penuh hina.
"Maaf, tapi Kanaya tidak seperti yang kalian pikirkan. Di kota dia bekerja sebagai..." kata-kata Candra di sela putrinya.
"Tidak penting sebagai apa, yang terpenting Ega sedang sakit merindukan ibu (Sumi). Aku putuskan, ibu dapat merawat Ega, cucumu tersayang. Jika semua hasil penjualan lahan dan rumah diberikan padaku. Setengah dari penjualan kurang untuk membuka butik. Lagipula, kakak bukannya wanita simpanan pria kaya..." sinis Kirana, tersenyum duduk tanpa peduli ibunya yang sedari tadi menitikkan air matanya. Merasa sudah dipermalukan oleh putrinya.
Kanaya? Gadis itu terdiam tidak dapat membela dirinya sama sekali. Apalagi dengan pertunangannya dan Daniel yang sempat disiarkan stasiun televisi.
"Kinara, setengahnya lagi adalah hak kakakmu!!" napas Candra terengah-engah menahan emosinya.
"Pak Candra, tidak ada lagi yang dapat kita bicarakan. Jangan harap dapat memanfaatkan Kemal. Hanya karena Kemal menyukai putrimu, yang gemar menjual tubuhnya..." Atha mulai bangkit.
"Kakak menjual diri di kota bukan? Jangan hanya hidup enak sendiri. Bawa ibu dan ayah bersamamu. Hiduplah dengan cara kota..." kata-kata hinaan keluar dari mulut Kinara.
Hingga, seseorang berpakaian formal datang tanpa permisi, setelah menerima panggilan dari tuannya. Mengingat suasana ramai, dengan pintu ruang tamu yang terbuka lebar.
"Kanaya..." ucapnya pada gadis yang tengah terdiam."Tuanku dimana?" lanjutnya.
Dengan mata sembab, menenangkan ibunya, Kanaya menunjuk ke arah kamarnya.
Pintu kamar dibukanya, terlihat seorang pemuda berwajah rupawan, namun pucat duduk di tepi tempat tidur.
Keluarga kedua belah pihak mulai berbisik-bisik, mengetahui keberadaan seorang pemuda di kamar seorang gadis, mungkin membenarkan kata-kata Kinara.
"Tuan..." ucapnya tertunduk, mendekati sang pemuda.
Pemuda yang sudah sedari tadi menghapus air matanya itu tersenyum. Berjalan keluar perlahan,"Ken, sudah cukup melakukan hal baik. Agar aku menikah, kita lakukan dengan cara kota saja...." ucapnya tersenyum bagaikan iblis.
Memandang remeh orang-orang yang mencibir wanita yang dicintainya dan calon mertuanya, itulah yang dilakukannya.
"Ayah mertua(Candra), sekarang aku akan menunjukkan padamu bagaimana kekuatan uang sesungguhnya..." lanjutnya menatap iba pada pria tua di hadapannya.
Bersambung
__ADS_1