Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Tidak Pelit


__ADS_3

Dua orang pria duduk dengan perasaan canggung. Memesan dua wanita cantik yang dipilih mereka duduk di sofa menanti orang yang akan datang, berbagai jenis makanan dan minuman keras dengan harga mahal terlihat di atas meja.


Apakah ini cukup untuk menjamu orang dari JH Corporation? Mungkin begitulah pemikiran dua orang yang duduk dalam ruangan private VVIP sebuah restauran. Mengingat tender kerja sama cukup besar, apa bila dapat menyenangkan makhluk hidup yang datang.


"Direktur, tenang saja siapapun yang akan datang pasti akan puas. Mereka sudah diajari menggoda dan salah satunya masih perawan..." sekertaris sang direktur Queen Cosmetics meyakinkan.


"Semoga saja..." sang direktur mengeluarkan keringat dingin. Kemudian menyeka menggunakan tissuenya.


Pintu akhirnya mulai terbuka...


Farel terlihat tersenyum, melangkah penuh kharisma, mengenakan setelan jas, tatanan rambut rapi, sepasang sepatu kulit, lengkap dengan tindik di sebelah telinganya. Terlihat bagaikan model pakaian pria, memasuki ruangan tersebut. Tentunya lengkap dengan kereta bayi yang didorongnya.


Tomy tidak membalas pesannya, Jeny belum juga kembali dari kantor. Sedangkan pengasuh sudah pulang. Mempercayakan Rafa pada Dimas? Tidak, itu adalah pilihan yang salah, hingga akhirnya bayi yang bahkan belum berumur satu tahun itu, menemani ayahnya berbisnis untuk pertama kalinya.


"Tu...an Farel!?" kedua orang itu nampak lebih canggung lagi, tidak mengira yang datang adalah pemilik perusahaan sendiri. Dan apa itu? Membawa bayi?


"Maaf menunggu lama..." Farel mengeluarkan senyuman mautnya. Meluluhkan hati dua wanita malam yang tertegun mengira sosok pengusaha tua gendut jeleklah yang akan masuk.


"Tidak apa-apa, kami juga baru datang..." sang Direktur yang berusia paruh baya, mengedipkan sebelah matanya. Memberi kode pada dua wanita yang sudah diberi pengarahan oleh mucikari mereka.


"Tuan, anda mau minum dulu..." ucap seorang gadis yang masih baru menjajaki menjadi wanita malam, mulai membuka minuman keras.


Farel yang tengah membaca dokumen mengenyitkan keningnya, kemudian menggeledah kantong bagian belakang kereta dorong bayi. Dan keluarlah botol susu, serta susu formula yang belum di seduh.


"Kebetulan menawarkan minuman, tolong buatkan susu untuk putraku. Suhu air harus 40 derajat Celcius, ingat jangan sampai lebih dan kurang..." Farel tersenyum menegaskan.


Sang gadis malam yang masih terbilang baru hari pertamanya bekerja mengenyitkan keningnya... Aku mendapatkan bayaran mahal hanya untuk menyeduh susu bayi? Ternyata mencari uang di kota itu mudah ya? Aku kira seperti kata mami (sang mucikari) harus rela bahkan untuk ditiduri bagaimanapun rupa prianya...


"Baik!! Akan saya seduhkan!!" ucapnya dengan nada ceria.


Satu wanita lagi yang sudah termasuk penggoda berpengalaman, pria gendut jelek saja digodanya apalagi seorang pemuda rupawan. Wanita itu mulai mengganggu Farel, mendekatkan bagian dadanya yang menyembul akibat pakaian yang terlalu minim pada lengan pria yang memang konsentrasi dengan beberapa map milik Queen Cosmetics.


"Tuan tampan sekali, malam ini kita bermain ya?" tanyanya, menarik dasi Farel berucap dengan nada sensual. Bersamaan dengan Rafa yang terbangun.


"Kenapa tidak bermain disini saja..." Farel mengambilkan mainan bayi di kereta dorong putranya.


"Anak papa, main dengan tante ya?" Farel tersenyum, menatap putranya yang menggeliat baru terbangun.


"Tolong ajak putraku bermain sebentar, jika dia pup (buang air besar) tissue basah dan popoknya ada di bagian bawah kereta..." ucapnya menyerahkan mainan.

__ADS_1


Entah kenapa, anak itu terbangun di saat yang tepat. Mungkin memiliki sugesti dari ibunya agar menjauhkan ayahnya dari godaan wanita lain.


Sang sekretaris direktur Queen Cosmetics, berbisik pada atasannya,"Tuan, dua wanita dengan total harga sewa 36 juta semalam, dijadikan baby sitter..."


"Tau begini, aku bawa mbok Ijah yang ada di rumahku saja. Cuma perlu bayar 2,8 juta per bulan," sang direktur menghebuskan napas kasar.


Beberapa puluh menit berlalu, Farel membaca dokumen dengan seksama."Siapa pemilik asli perusahaan ini?" tanyanya.


"Maaf, pemilik aslinya sering ke luar negeri. Tapi karyawannya yang sering mengantar dokumen penting padanya," jawab sang direktur jujur.


"Aku setuju untuk kerjasama ini, lagipula tidak ada masalah dalam kontraknya. Besok, kita tanda tangani..." kata-kata Farel terpotong.


"Maaf, besok yang akan tanda tangan adalah pemilik perusahaan secara langsung. Beliau mengatakan ingin bertemu dengan anda..." ucap sang direktur.


"Pemilik perusahaan? Kenapa? Bukannya kalian pegawainya saja, belum pernah bertemu?" Farel mengenyitkan keningnya tidak mengerti, meletakkan kembali map yang baru selesai dibacanya.


"Tidak tau, setelah kami mengirimkan berkas tentang rencana kerjasama. Beliau ingin bertemu dengan anda secara langsung..." jawab sang direktur.


"Baik, atur saja... Omong ngomong kalian masih lapar?" pertanyaan aneh keluar dari mulut Farel, dengan wajah licik tidak tahu malunya.


Satu meja makanan seharga sekitar 14 juta belum tersentuh sama sekali. Tentu saja lapar!! Tapi akan memalukan jika mengatakan masih lapar.


"Kalian benar-benar pemborosan uang," Farel menggeleng gelengkan kepalanya, bagaikan heran."Dari pada makanannya terbuang, aku akan membawanya pulang. Pelayan!!," panggilnya.


"Iya tuan," seorang pelayan yang memang berada di luar masuk.


"Tolong bungkus, semua makanannya..." ucap Farel, tersenyum cerah.


Apa semua orang yang kayanya keterlaluan seperti ini? Beberapa klien yang memiliki perusahaan tidak begitu besar makan bersama, minum, kemudian menyewa kamar dengan wanita sewaan yang disediakan. Tapi dia seperti orang miskin, licik yang ingin menghabiskan makanan sendiri. Bahkan wanita malam dijadikannya baby sitter... cibir sekertaris direktur dalam hati, menelan ludahnya. Menatap makanan di bawa satu persatu oleh pelayan, guna untuk dibungkus.


***


Farel mendorong kereta bayinya. Rafa telah kembali tertidur, terlihat kelelahan setelah bermain dengan dua tante cantik. Bermain dalam artian sebenarnya, bukan bermain dengan artian sensual.


Kedua orang pria itu menghela napasnya, menatap Farel memasukkan beberapa kotak makanan mahal dalam bagasinya. Perut mereka berbunyi bagaikan tidak rela.


"Aku pulang dulu, terimakasih jamuannya..." Farel memasuki mobilnya, setelah memindahkan Rafa dalam box bayi berukuran kecil.


"Iya..." kedua orang itu melambaikan tangan. Menghela napasnya menatap kesal pada orang aneh yang baru saja pergi.

__ADS_1


Kriuk... kerucut... kerucut... kerucut...


Perut kedua orang itu berbunyi senada, malu dan saling menatap. Menyesal, kenapa harus menjaga etika dengan mengatakan tidak terlalu lapar di hadapan orang tidak tau malu.


"Sebaiknya kita makan sekarang..." sang direktur menghela napasnya, berjalan memasuki restoran kembali diikuti sekertarisnya, membayangkan lobster panggang, serta beberapa hidangan mahal yang dibawa Farel.


Hingga tiba-tiba handphonenya berbunyi. Terdengar suara seseorang dari seberang sana...


"Pak, selamat malam..." ucapnya mengangkat panggilan, canggung.


"Bagaimana? Apa dia sudah setuju untuk bertemu?" terdengar suara seseorang dari seberang sana.


"Sudah, untuk proyek ini..." kata-kata sang direktur yang hendak menjelaskan kerjasamanya, terpotong.


"Urus proyeknya dengan baik, besok kiriman kami alamat tempat pertemuannya," Zen mematikan panggilannya sepihak, tanpa menunggu jawaban. Kemudian menatap tuannya yang duduk menyender menatap ke arah jendela apartemen sewaannya.


"Tuan, kenapa anda tiba-tiba ingin bertemu cucu tuan Taka?" tanyanya.


"Menguji, apakah dia orang yang paling ingin membunuhku?" jawabnya menatap jendela yang mulai basah, akibat hujan yang tiba-tiba turun deras.


***


Berbagai hidangan mahal tersedia di atas meja, Dimas berkali-kali menelan air liurnya, menunggu kakaknya pulang.


"Masih berkata aku pelit?" Farel mengenyitkan keningnya.


"Tidak, kamu kakak ipar terbaik!! Kakak ipar paling royal..." ucapnya mulai mengambil garpu.


Plak...


Tangan Dimas dipukul pelan oleh Farel yang menatap tajam padanya,"Tunggu Jeny dulu, baru makan...!!" ucapnya kesal.


"Iya!! Pelit tetap saja pelit!! Entah ada angin apa, uang bisa keluar dari dompet antek-antek Jepang sepertimu!!" cibirnya.


***


Di tempat lain, Jeny menjadikan tasnya sebagai payung, berlari ke dalam mobilnya. Tidak menyadari seseorang mengawasinya dari jauh. Lengkap dengan topi dan jaket hitam, menatap mobil Jeny yang mulai melaju di tengah hujan deras penuh senyuman.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2