
"Arrrgghh...!!"
Teriakan sang calon mempelai pria terdengar menggema di ruangan kantor. Beberapa karyawati terlihat ketakutan, sementara karyawan lainnya yang berusaha mendekat, mengurungkan niatnya.
"Aku akan melaporkan EO kalian ke kantor polisi!!" ucapnya menahan rasa sakit dengan jemari tangan yang masih terinjak.
"Bodoh, jika kasus ini diperkarakan kalian akan masuk penjara karena penipuan dan harus mengembalikan uang sidang. Kamu fikir siapa yang akan menang!? Kalian berdua hanya orang bayaran Pioner Corporation, seharusnya sebagai direktur yang berpendidikan. Tidak menelan mentah-mentah perintah tuanmu!!" ucapnya dengan nada mengancam.
"Tapi kami bisa menuntutmu atas tuduhan penganiayaan!!" sang wanita membentak.
"Kalian punya bukti!? Aku memiliki banyak saksi. Apa kalian melihat aku menginjak tangannya seperti ini!?" Farel bertanya pada para orang yang menyaksikan, kemudian menginjak lebih kencang, sang pemuda kembali terdengar menjerit kesakitan.
"Dan menampar wanita ini!?" Farel membentak kembali menampar sang wanita, kali ini dengan cukup keras, hingga ikut tersungkur di lantai dekat dengan sang pemuda.
Farel menoleh dengan ekspresi wajah tersenyum pada para karyawan,"Atau kalian hanya melihat mereka berkelahi dan tangan pria ini terluka karena menampar calon istrinya!?" tanyanya memberi pilihan.
Para karyawan saling melirik, kemudian salah satu karyawan berucap,"Mereka bertengkar, dan pria ini memukul calon istrinya. Itu yang kami lihat."
"Benar!! Itu yang kami lihat!!"
"Benar..." ucap para karyawan menatap penuh kebencian pada dua orang yang ingin menjebak dan menghina bos mereka.
"Kalian dengar sendiri kan!? Aku tidak pernah melukai kalian ..." Farel kembali tersenyum ramah.
"Security, hapus rekaman CCTVnya!! Kemudian lepaskan CCTV secara paksa!! Hubungi polisi sekarang, laporkan ada dua penipu yang berkelahi di sini..." perintah Farel.
"Br*ngsek!!" sang pemuda mengumpat, sambil berusaha duduk, memegangi jemari tangannya yang masih terasa sakit
Farel mendekat, berjongkok di hadapan sang pemuda,"Dengar, jika kalian menggunakan cara murahan seperti ini lagi, aku tidak akan mengampuni kalian. Katakan itu pada orang yang membayar kalian," ucapnya masih setia tersenyum.
Menatap wanita yang wajahnya bengkak akibat tamparannya dan pemuda yang masih memegangi tangan kanannya itu diseret keluar oleh security.
***
Farel menghebuskan napas kasar, perlahan berjalan mendekati Jeny,"Nona tidak apa-apa!?" tanya cemas.
__ADS_1
"Tidak, aku baik-baik saja..." Jeny mengeleg gelengkan kepalanya sembari tersenyum. Selama belasan tahun, semenjak berita kematian Ren, tidak pernah ada yang benar-benar memperhatikan dan membelanya. Dea segera pergi ke Australia, kemudian kembali hanya karena menikah dengan Jony.
"Terimakasih," lanjut Jeny tersenyum dengan tulus.
"Tidak perlu sungkan," Farel meraih Rafa yang menangis akibat terkejut. Perlahan mencium kening bayi mungil itu, dalam senyuman. Jemari tangan Rafa naik menyentuh wajah Farel, tangan kecil yang terasa lembut, berhenti menangis seakan merasakan perlindungan ayahnya.
"Aku akan memberinya ASI," Jeny kembali meraih putranya, membawa Rafa ke dalam ruangannya.
Anak papa, jadilah anak yang baik. Papa akan berusaha untuk merebut hati ibumu, bersabarlah dulu, sebentar lagi kita akan bersama layaknya keluarga yang lengkap... Farel menghebuskan napas kasar menatap kepergian wanita yang dicintai serta putranya.
***
Di tempat lain, Jony kini tengah berada di kantornya, melonggarkan dasinya setelah mendapatkan telfon dari anak buahnya. Perlahan terdengar suara ketukan pintu, seorang wanita cantik memasuki ruang kerjanya.
"Selamat pagi tuan..." seorang wanita berpakaian kantor yang lumayan ketat dan minim memasuki ruangan, kemudian mengunci pintunya dari dalam. Tanpa diduga Jony menarik tangan wanita itu, agar jatuh ke pangkuannya.
"Sudah bertahun-tahun rencana kita belum berhasil juga. Bagaimana jika kita lupakan perusahaan kakekmu yang di Australia!? Kita menikah dan hidup bahagia dengan Dimas..." ucap Jony berbisik mengecup pelan bibir wanita dalam pangkuannya.
"Tapi perusahaan yang ada di Australia seharusnya menjadi milikku. Andai saja, tante Dea tidak melaporkan pada almarhum kakek, aku menggunakan obat-obatan, dan Jeny yang dibanggakan kakek itu tidak ada..." Nana (sepupu Jeny) tertunduk, menghela napasnya.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan!? Aku sengaja menerima perjodohan Jeny dan Daniel. Walaupun, sudah mengetahui keberadaan Renata, agar setidaknya Jeny mati pelan-pelan atau mengalami depresi. Supaya, lebih mudah nantinya menangani Dea. Tapi dia sekarang malah memilih bercerai," Jony menghela napas kasar.
"Apa Dea mencurigaimu karena pindah berkerja dari perusahaannya kemari!?" Jony mengenyitkan keningnya.
"Tidak, tante Dea berfikir semuanya berjalan sesuai rencananya. Menahan pergerakanku dengan menjauhkan dari perusahaan milik almarhum kakek, berharap empat tahun ini kamu dapat mengawasiku. Siapa yang tau kita akan saling jatuh cinta, aku harus berterimakasih pada tante Dea. Karena dipertemukan dengan Dady Jony-ku," ucapnya tersenyum berbisik.
"Sekarang apa rencanamu!?" Jony mengenyitkan keningnya.
"Entah memakai cara apa, Jeny harus kembali pada Daniel. Aku mendengar rumor, anak yang dilahirkannya, adalah putra dari pemilik JH Corporation. Jika memaksanya kembali pada Daniel. Daniel dapat kita jadikan pion untuk memancing kemarahan pemilik perusahaan JH Corporation,"
"Dapat dipastikan orang tua mesum, yang dikenal sebagai iblis paling kejam di dunia bisnis itu akan menghancurkan Jeny, Daniel, serta keluarga Ananta. Kita hanya tinggal mengurus Dea agar Dimas menjadi pewaris tunggal," jelasnya, tidak mengetahui tentang sosok Farel sebenarnya.
"Sayangku memang yang paling pintar," ucap Jony mulai mengecup bibir wanita dalam pangkuannya, melepaskan satu persatu kancing kemejanya.
Nana menutup matanya, merasakan setiap sentuhan yang menurutnya memuakkan. Menahan segalanya dalam hati, rasa dendam pada Dea dan iri pada sepupunya membuatnya memiliki ambisi untuk menghancurkan Dea dan Jeny sepenuhnya.
__ADS_1
***
Malam mulai menjelang, Rafa telah tertidur di kereta bayinya. Jeny baru selesai menyerahkan beberapa dokumen dan memberikan beberapa tugas pada Farel. Semua karyawan sudah mulai pulang ke rumahnya masing-masing.
Hanya tinggal bos dan asistennya itu...
"Sudah mengerti!?" Jeny mengenyitkan keningnya.
"Belum, jadi ini daftar nama butik dan catering. Tapi jika ada yang meminta jamuan ala Korea atau Jepang bagaimana!?" tanyanya secara terperinci, ingin menahan waktu agar wanita itu tidak segera pulang.
Jeny menatap jenuh, kemudian menghebuskan napas kasar,"Itu bisa diatur di kemudian hari, kamu sebelumnya bahkan menanyakan tentang warna bunga arti filosofi dari bunga!! Jangan-jangan nanti kamu akan bertanya, bagaimana cara membersihkan sendok dan garpu, apa merek pencuci piring yang akan dipakai," ucapnya jengkel.
"Kenapa nona bisa tau!? Apa fikiran kita terhubung!? Kita mungkin adalah jodoh yang ditakdirkan..." ucap Farel antusias.
"Berjodoh apanya!? kamu jangan mencoba bercanda denganku lagi!! Dasar playboy..." Jeny menggeleng gelengkan kepalanya heran.
"Aku playboy!?" Farel tertawa kecil,"Darimana nya aku terlihat seperti play boy,"
"Wajah, penampilan, gombalan, bahkan dalam satu hari fansmu di kantor ini sudah menumpuk," Jeny menghembuskan napas kasar, menatap jenuh pada Farel.
"Jika aku katakan aku menyukai nona, apa nona juga akan menyukaiku!?" tanyanya.
"Tentu saja tidak," ucap Jeny terdengar yakin.
Farel bangkit berjalan mendekat, memegang kursi putar yang diduduki Jeny, kemudian sedikit membungkuk.
"Kita lihat saja!!" pemuda itu mengeluarkan suara berat, dengan senyuman yang menyungging di wajahnya, tiba-tiba mencium bibir Jeny.
Jeny awalnya hendak melawan, mendorong tubuh pemuda itu. Namun entah kenapa, semua pertahanan dirinya runtuh, tangannya yang hendak mendorong lengan Farel, malah mencengkram jas yang dikenakan pemuda itu.
Terhanyut akan perasaan nyaman dan debaran yang sebenarnya tidak asing baginya. Perlahan, mulutnya yang dibuai untuk terbuka oleh Farel, akhirnya memberikan jalan untuk terbuka, berciuman lebih dalam, saling memilin dan bertaut. Memejamkan matanya, bagaikan terpaku melupakan semuanya.
Apa yang terjadi!? Tidak boleh seperti ini, aku bukan wanita murahan. Aku memiliki prinsip, selamanya tidak ada pria yang akan ada di hatiku, hanya akan ada Ren... Jeny menahan perasaan berdebar dalam hatinya, perasaan yang sama saat Ren berada di dekatnya. Mendorong tubuh pemuda itu.
"Dasar mesum!! Beraninya kamu!!" Jeny membentak, dengan napas tidak teratur.
__ADS_1
"Aku hanya meminta gaji bulananku lebih awal," ucap Farel, tersenyum seakan bercanda, menggigit bibirnya sendiri, gemas dengan tingkah Jeny.
Bersambung