Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Bonus Chapter 1


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€Tamat, bukan berarti nggak ada bonus chapternya...udh 2577 kata, dua kali lipat dari biasanya, semoga nggak ngos-ngosan bcnya πŸ€­πŸ€­πŸ€­πŸ˜…πŸ˜…πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Fahri meraih surat cerai yang terjatuh di hadapannya, tangannya mengepal menatap harapannya yang pupus.


Pupus? Fahri sudah mencintai gadis tercantik di SMU tempatnya bersekolah sejak dulu. Tidak begitu rupawan, berasal dari keluarga biasa, bahkan dulu lebih miskin dari pada keluarga Kemal. Dirinya tidak memiliki keberanian mendekat, hanya menatap dari jauh, tidak mempedulikan sifat asli Kinara yang diketahuinya.


Berharap suatu hari nanti Kinara akan memandangnya sedikit saja. Hal yang dilakukannya dulu hanya dapat membantu orang tuanya meladang dan memelihara sapi sepulang sekolah. Memandang dari jauh gadis angkuh yang tidak berani didekatinya.


7 tahun yang lalu...


Fahri memakai seragam SMU-nya yang lusuh, menghela napas kasar, mengamati cuaca yang mendung. Memasukkan sebuah payung ke dalam tasnya.


Dan benar saja, saat jam pulang sekolah hujan deras mulai turun. Matanya menatap gadis cantik yang cemas, bagaimana akan pulang nantinya. Wajah putih yang menatap ke arah jendela berembun.


Hanya dua orang yang belum pulang saat itu, dirinya dan Kinara. Kemal dan Kanaya? Mereka menyabit daun talas dijadikan payung berlari di tengah derasnya air hujan.


Kemal meninggalkan Kinara, bukan tanpa alasan. Gadis itu tidak akan rela pakaiannya basah, hanya karena menjadikan daun talas sebagai payungnya.


Tangan Fahri ragu untuk mengeluarkan payung dari tasnya. Hingga pemuda itu menghela napas kasar, berusaha tersenyum, meninggalkan kelas. Payung diletakkannya di luar kelas, tepatnya dekat tiang penyangga bangunan, berharap Kinara mengambilnya dan tidak akan kebasahan saat pulang nantinya.


Pemuda itu hanya tersenyum, berjalan di tengah guyuran air hujan, mencari daun pisang, dijadikannya payung darurat.


Hal yang terjadi setelahnya? Seorang mahasiswa PKL berdiri berteduh di gedung SMU. Kinara menghela napas kasar, hendak pulang menerobos hujan. Namun, satu payung dilihatnya dekat tiang penyangga.


"Ini milikmu?" tanyanya pada sang mahasiswa.


Cantik... sang mahasiswa tertegun, kemudian mulai berbohong. "Iya itu milikku, bagaimana jika kita pergi bersama. Perkenalkan namaku Yogie..." ucapnya mengulurkan tangan.


Kinara nampak ragu menerima uluran tangannya. Terpesona? Tentu saja, mahasiswa rupawan, masih dengan jaket lambang kampusnya. Terlihat berpendidikan, bahkan baik hati.


"Baik, kita pergi bersama saja," Kinara tersenyum, membuka payung, berjalan meninggalkan sekolah berdua dengan menggunakan payung kecil. Saling mendekat berpandangan, dalam jarak dekat. Merasakan sedikit kehangatan di tengah derasnya hujan yang turun.


Tidak menyadari sepasang mata mengamati mereka dari jauh. Fahri mengepalkan tangannya, entah kenapa rasanya dapat sesakit ini. Menatap Kinara dengan pria lain lagi, dari apotek kecil tempatnya singgah membeli obat untuk adiknya.


Dengan pria lain lagi? Fahri mengetahui tentang Kemal, namun gadis yang dielu-elukan semua orang itu, dekat dengan banyak pria walaupun hanya berkedok sebagai sahabat.


Sahabat? Hanya dirinya yang bagaikan tidak ada di hadapan Kinara. Mencoba bicarapun selalu diacuhkan. Dekat dengan kekayaan dan rupa fisik, itulah kepribadian Kinara yang diketahuinya.


Maaf, aku yang memiliki banyak kekurangan ini. Jika aku sempurna, akankah kamu bersedia bersamaku? Aku akan berusaha berubah menjadi apapun yang kamu inginkan... gumamnya dalam hati, setetes air matanya mengalir menatap kepergian Kinara bersama seorang pria berseragam mahasiswa dengan payung kuning kecil miliknya.


Fahri kembali berjalan, menunduk penuh kekecewaan, dalam derasnya air hujan. Menatap air hujan yang membasahi seluruh tubuhnya. "Kenapa aku bisa mencintai wanita murahan?" ucapnya terisak, menyalahkan perasaan berdebar yang dirasakannya.


***


Hari ini untuk pertama kalinya Kinara bicara dengan Fahri. Menatap wajah rupawan itu dari dekat. Hati Fahri berdebar cepat, tangannya mengepal, berusaha untuk tenang.


"Fahri, bisa tolong aku. Aku sedang tidak enak badan, tapi aku memiliki janji dengan Kemal. Bisa tolong minta dia mengajarimu pelajaran, bermain bulutangkis atau semacamnya. Aku tidak enak jika harus ingkar janji..." ucapnya.


Apapun...Aku akan berusaha mempercayai dan melakukan apa saja keinginanmu...


"Iya, kebetulan ada materi yang tidak aku mengerti..." ucapnya berbohong dalam senyumannya, ingin mengabulkan apapun permintaan gadis di hadapannya.


"Terimakasih," Kinara membalas senyumannya, menggenggam erat tangannya. Hati Fahri entah kenapa berdebar dalam kebahagiaannya, hingga jemari itu melepaskan tangannya. Tersenyum berjalan berlalu meninggalkannya.


Aku bodoh bukan? Aku bersedia berbohong, menjadi apapun untukmu. Tanpa pernah mengharapkan perasaanku ini berbalas... Fahri berusaha tetap tersenyum, setidaknya gadis itu tertawa gembira. Walaupun bukan tertawa untuknya.


***


Hal yang dilakukan Kinara? Sepulang sekolah gadis itu berjalan menuju sebuah tanah kosong tempatnya berjanji bertemu. Mahasiswa rupawan terlihat duduk menanti dirinya, membawa satu buket besar bunga yang dibelinya. Romantis bukan? Namun membutuhkan modal yang sesuai, untuk mendapatkan keinginannya.


"Kak Yogie maaf lama menunggu..." ucapnya duduk di samping sang pemuda.


"Tidak apa-apa, ini untukmu," Yogie tersenyum lembut, mengamati gadis cantik berpakaian SMU di hadapannya.


"Terimakasih..." Kinara meraih buket bunga, mencium wewangiannya yang semerbak.


Cup...


Satu kecupan mendarat di pipinya."Maaf, aku gemas padamu..." Yogie tersenyum canggung.


"Tidak apa-apa," Kinara membalas senyumannya.


Mudah? Mungkin itulah yang ada di fikiran Yogie. Wanita lain yang memiliki harga diri tinggi, mungkin akan menamparnya, atau mendorong jika sembarangan mencium bukan? Gadis lugu yang mudah ditangani.


Jemarinya merayap, menyentuh jemari Kinara, menggenggamnya erat. "Aku menyukaimu pada pandangan pertama, bagaimana jika kita pacaran?" tanyanya.


Pacaran? Kinara menatap wajah rupawan di hadapannya. Lalu bagaimana dengan Kemal? Mungkin begitu yang ada dalam fikirannya.


"Aku..." kata-kata Kinara terpotong, pemuda di hadapannya, menangkupkan tangan di pipinya, mengecup bibir Kinara singkat.


"Kamu tidak menolak ciumanku, kamu juga merasakan hal yang sama bukan?" tanyanya menatap tajam.


"Aku..." Kinara masih ragu.


"Tenang dan rileks...Aku akan selalu menjagamu. Aku berjanji..." ucapnya terlihat penuh kesungguhan. Kembali mencium bibir Kinara, bukan ciuman singkat, seperti saat dengan Kemal. Pria di hadapannya menciumnya penuh napsu, bagaikan mengajarinya perlahan untuk saling mencari kepuasan.


Jemari tangan sang pria bergerak, meremas bagian depan tubuh Kinara yang masih berbalut seragam, sentuhan yang tidak pernah dirasakannya. Pijatan yang mungkin terasa sedikit nyaman baginya, hingga tangan itu mulai berusaha melepas kancing seragamnya.

__ADS_1


Jemari tangan Kinara menghentikannya dengan ragu,"Aku mencintaimu? Kamu tidak mempercayaiku? Setelah kegiatan kampus, aku akan membawa kedua orang tuaku untuk melamarmu. Ayahku adalah seorang pejabat, jadi aku tidak mungkin berbohong padamu..." ucap Yogie menggigit pelan leher jenjang di hadapannya, bagaikan kembali memberi nuansa yang membuat Kinara takluk.


Berhenti? Sebagian dirinya ingin berhenti, namun pemuda yang lebih rupawan dari Kemal? Bahkan mengaku anak pejabat di kota. Jika menolak, mungkin Yogie akan tersinggung kemudian meninggalkannya.


Kinara menggigit bibirnya sendiri, mempercayai pemuda yang baru dua kali ditemuinya, tidak mungkin rasanya seorang mahasiswa tampan, berpendidikan adalah seorang penipu. Mungkin begitulah fikirnya.


Helai demi helai pakaian gadis itu di tanggalkannya. Mencumbui setiap jengkal tubuhnya. Hanya beralaskan lahan kosong, dengan banyak tanaman. Sayang sekali, tubuh seindah ini, tidak dinikmatinya di hotel.


"Ugghhh..." suara lenguhan Yogie terdengar, kala berhasil menyatukan tubuhnya dengan sempurna. Menyadari sesuatu, kemudian tersenyum, membiarkan gadis itu meringis di bawahnya. Berganti dengan suara parau saat tubuh Kinara diguncang perlahan, oleh pemuda di atasnya.


Memberikan mahkotanya pada pemuda yang hanya dua kali ditemuinya. Pemuda yang bercucuran keringat di atasnya, melenguh merasakan kenikmatan.


Hingga suara racau panjang, keluar dari mulut keduanya."Terimakasih..." ucap Yogie tertengah-engah, merapikan anak rambut Kinara, dalam tubuh polos mereka yang masih saling menindih. Kinara hanya dapat mengangguk, sembari tersenyum, kehabisan tenaga.


***


Sekali? Tidak, tidak hanya sekali, hari ini juga terjadi hal yang sama. Gadis itu mendekatinya lagi, meminta bantuannya lagi.


"Fahri tolong keluar dengan Kemal ya? Aku terlanjur berjanji lagi..."


"Fahri tolong minta Kemal membantu mengerjakan tugasmu ya? Kanaya mengajakku jalan-jalan..."


Banyak lagi alasannya untuk meminta tolong pada pemuda yang hanya mengangguk penuh senyuman.


Hingga suatu saat, ketika jam sekolah berakhir, "Kemal, Kinara bilang akan piket. Kamu diminta pulang duluan dengan Kanaya..." dusta Fahri pada Kemal. Hanya dijawab dengan anggukan, kemudian berlalu pergi bersama Kanaya.


Dirinyalah yang mengerjakan pekerjaan Kinara, tidak tega menatap wajah memelas wanita yang mencuri hatinya. Menggosok kaca, menaikan kursi dan menyapu, semua dikerjakannya bersama beberapa orang yang seharusnya piket, berharap suatu hari nanti Kinara akan menganggap dirinya ada.


Tersenyum mengerjakan penuh semangat...


Cinta adalah sebuah pembodohan bukan? Aku bodoh dan takluk oleh seorang wanita bodoh...


Fahri merapikan peralatannya, sedangkan yang lain telah pulang terlebih dahulu. Berjalan melewati lorong sekolah yang sepi. Dua pasang sepatu di depan ruang penyimpanan mengalihkan perhatiannya, terdengar suara aneh dari dalam.


Dirinya tidak cukup polos untuk tidak mengetahui suara apa yang didengarnya. Namun...


"Sepatu Kinara..." gunamnya dengan air mata tertahan. Jemarinya gemetaran, mencoba membuka sedikit pintu, berharap dugaannya salah.


Dan benar saja, wanita itu terbaring melenguh tanpa busana, tubuhnya dimainkan pemuda rupawan yang pulang bersama Kinara menggunakan payung kuning kecil miliknya beberapa minggu yang lalu.


Fahri menutup kembali pintu, memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. Suara tangisannya tertahan, namun air matanya mengalir.


Aku bodoh karena mencintai wanita bodoh. Namun, betapa bodohnya aku tidak dapat berhenti mencintainya...


Hujan kembali mengguyur dengan lebat. Pemuda itu mengusap air matanya berusaha tersenyum... "Apa karena aku tidak tampan? Mulutku tidak pandai merayu?" suara gumamannya yang tidak dapat didengar dua orang didalam sana.


"Fahri, syukurlah kamu belum pulang. Aku boleh pinjam payung?" tanyanya menatap Fahri menggenggam payung hijau yang tidak begitu besar.


Tangannya gemetar, kembali berusaha tersenyum, menyerahkan payungnya, sudah menduga segalanya. "Terimakasih..." ucap Kinara menjauh mendekati pemuda rupawan yang menunggunya.


"Ayo..." Kinara tersenyum, membuka payung, berjalan berdua dengan Yogie, menggunakan payung yang didapatkannya dari Fahri. Mengeratkan tubuh mereka di tengah sempitnya jangkauan payung kecil.


Fahri tersenyum, namun air matanya mengalir.


Tersenyum, kamu hanya tersenyum untuk orang lain. Aku mohon, tersenyum sekali saja untukku...


Pulang? Hari itu Fahri tidak pulang. Pemuda itu, merenung duduk di hadapan hujan yang mengguyur semakin deras hingga malam tiba.


Harapannya, hanya ingin Kinara kembali, membawakannya payung dalam senyuman. Namun hanya harapan belaka bukan? Tidak mungkin wanita itu datang padanya.


***


"Maaf, aku harus pulang ke kota. Aku berjanji akan datang bersama dengan orang tuaku..." ucap Yogie, terlihat murung.


"Kenapa kamu murung?" Kinara mengenyitkan keningnya.


"Mungkin akan sulit, karena kamu berasal dari keluarga biasa yang tinggal di kampung. Tapi aku akan berusaha agar mereka datang," jawabnya, mengecup kening Kinara.


Wanita itu, hanya mengangguk tersenyum, mempercayai segalanya. Bukan di sinetron memang seperti itu? Masuk ke keluarga kaya tidak akan mudah, namun dengan penuh perjuangan cinta keluarga Yogie akan luluh, begitu fikirannya.


Tidak menyadari wajah Yogie yang terlihat murung memasuki bus kampusnya. Diam-diam kembali tersenyum dan tertawa seperti biasanya bergurau dengan teman-temannya di dalam bus yang sudah mulai melaju, meninggalkan desa.


***


Beberapa hari setelah hari kelulusan, sebuah undangan diantarkan ke rumah Fahri. Benar, undangan pertunangan Kinara dengan Kemal. Tidak ingin hadir, namun beberapa hari ini tanpa ke sekolah rasa rindu menerpanya. Ingin menatap wajah rupawan wanita itu lagi. Walaupun, harus menatapnya bersanding dengan pemuda lain.


Namun, desas-desus tersebar di pesta pertunangan tentang kehamilan Kinara dan digantinya calon tunangan Kemal. Dan benar saja Kanaya yang naik ke atas panggung. Sedang Kinara? Wanita yang dicintainya entah ada dimana.


Beberapa hari setelahnya, rumor menyebar dengan cepat bagaikan api? Fahri mengepalkan tangannya, tidak tega wanita yang dicintainya, digunjingkan terus menerus.


Diam-diam menatap dari jauh, Kinara duduk di teras rumah mengelus perutnya yang sedikit membuncit.


Kantung keresek diberikan Fahri pada Sumi, isinya hanya sekedar susu ibu hamil. Didapatkannya dari hasilnya bekerja di ladang.


Melamar? Fahri sudah berkali-kali melamarnya namun ditolak. Hati wanita itu terlalu keras, hanya tertarik pada kekayaan, rupa, dan sikap romantis.


Hari kelahiran Ega tiba, pemuda yang tidak pandai berkata manis itu, membelikan banyak keperluan bayi. Seperti biasa, dirinya yang kurang rupawan di tatap sinis oleh Kinara.

__ADS_1


Menyayangi Ega? Tidak aku tidak menyayanginya. Karena wajahnya mengingatkanku pada pria yang kamu pilih dulu. Pria yang tersenyum sambil menikmati tubuhmu...


Awalnya Fahri memang berpikir demikian. Namun, lambat laun dirinya luluh, menyayangi anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah. Menyayanginya? Bukannya Ega merasa asing saat tinggal dengan Fahri?


Merasa asing memang, Fahri tidak pandai berinteraksi dengan anak kecil. Dulunya hanya membelikan beberapa keperluan Ega, kemudian menyerahkannya pada Sumi.


Hari berganti bulan, kemudian berganti tahun. Perekonomian keluarga Fahri semakin meningkat, bahkan ayahnya menjabat sebagai kepala desa.


Lamarannya akhirnya diterima oleh Kinara. Fahri tersenyum penuh harap, menatap wajah Kinara yang memaksakan diri tersenyum padanya.


Dapatkan kamu mencintaiku sedikit saja? Namun, terimakasih sudah memberikanku kesempatan, berjalan di altar bersamamu. Aku akan berubah menjadi apa saja sesuai keinginanmu. Asalkan jangan pernah meninggalkanku...


Fahri tersenyum, memiliki raga wanita di hadapannya walaupun belum memiliki hatinya, menyematkan jemari tangan Kinara dengan cincin emas yang terlihat cantik.


***


Kamar pengantin yang dihias indah, namun pengantin wanitanya berbaring di tempat tidur.


"Aku ingin tidur sendiri..." Kinara menatap sinis.


"Tidurlah..." Fahri tersenyum simpul, mengambil sebuah bantal. Membuka karpet, kemudian tidur dilantai.


Sampai kapan hatiku yang bodoh akan tegar, mencintai makhluk sepertimu... Fahri tersenyum, namun air matanya kembali menetes. Mencoba memejamkan matanya agar segera tertidur.


***


"Benar-benar jallang!!" umpatnya menatap pertunangan Kanaya yang disiarkan di salah satu stasiun televisi.


"Fahri, bantu aku, aku ingin membuka butik, bujuk ayah dan ibuku agar memberikan warisannya lebih awal..." lanjut Kinara memelas.


Fahri hanya mengangguk, bingung harus berkata apa, ingin mempertahankan wanita di hadapannya, agar belajar mencintainya.


Jallang? Kanaya adalah wanita murahan? Fahri hanya dapat mengikuti pemikiran istrinya. Tidak ingin rumah tangga yang dibangun tanpa pondasi rusak, hanya karena tidak sepaham.


Bodoh bukan? Namun, itulah cinta yang membuatnya menjadi orang paling bodoh.


***


Brak...


Kinara membuka pintu dengan kasar setelah dipermalukan oleh Daniel. "Ibu dan ayah mendapatkan villa!! Kanaya sialan!!" bentaknya.


"I...ibu," lirih Ega keluar dengan wajah pucat, membawa sepiring nasi."Aku ingin bubur, tenggorokanku sakit," lanjutnya, dengan perut lapar namun kesulitan menelan.


"Anak sialan!! Jika saja kamu tidak ada, aku yang akan..." bentaknya mendorong tubuh Ega.


"Akan apa!?" Fahri membentak balik.


"Nenek... Kakek..." Ega menangis lirih, menatap wajah ibunya yang penuh emosi.


Fahri menghela napas kasar, bingung harus apa, tidak terbiasa mengurus seorang anak. Tubuh Ega dibantunya berdiri, hingga panas terasa menerpa kulitnya yang bersentuhan dengan kulit Ega.


"Kinara panggil mantri!! Ega panasnya semakin tinggi!!" ucap Fahri meraba-raba tubuh anak yang menangis semakin kencang itu.


***


Hanya demam biasa, Fahri menghela napas lega, tidak tega menatap anak yang tertidur di hadapannya. Setelah diberikan obat oleh tenaga medis.


Sementara, Kinara terus meracau tentang kekesalannya.


"Biarkan ayah dan ibumu mengasuh Ega, mereka akan merawatnya lebih baik dari pada kita..." ucapnya iba, tidak ingin menyakiti psikis anak yang baru berusia 6 tahun itu.


"Memang, tapi aku ingin lebih, aku ingin villa yang akan diberikan pada mereka..." Kinara menghela napas kasar.


"Setelah keadaannya lebih baik, mintalah Ega kembali. Bagaimanapun dia anak kita, jangan pernah memberikan hak asuhnya..." Fahri mulai bangkit, matanya tidak hentinya menatap wajah putih pucat seorang anak yang sana sekali tidak mirip dengannya.


***


Tahukah kalian hal yang terjadi setelah kepergian Ken dan Candra? Fahri masuk ke kamarnya meninggalkan Kinara yang segera pergi entah kemana.


Jemarinya gemetaran, untuk pertama kalinya dirinya menampar Kinara. Wanita yang dicintainya, melihat kepergian Ega, anak malang yang harus besar tanpa kedua orang tuanya.


"Suami tidak berguna? Aku memang tidak berguna karena terlalu miskin dan jelek untukmu. Wanita yang terlalu tinggi untuk bersanding denganku..." Fahri menangis lirih, memukul tembok berkali-kali, hingga jemari tangannya mengeluarkan darah.


"Tidak dapatkah kamu mencintai orang sepertiku?" tanyanya mulai duduk di lantai, telah terlalu lama menyembunyikan semua emosinya.


Jemarinya mengepal darah mengalir dari luka di tangannya. Mungkin menghukum dirinya sendiri karena sudah menampar istri yang dicintainya.


***


Hari ini surat cerai dilemparkan oleh Kinara, istri yang bahkan tidak rela untuk disentuhnya.


...Buruk rupa? Apa aku seburuk itu? Satu-satunya orang yang berani membenarkan semua tindakan salahmu. Satu-satunya orang yang menggengam tanganmu, yang dikatakan menjijikkan oleh orang lain....


...Apa orang kaya dan rupawan itu dapat mencintaimu sebaik aku mencintaimu? Mungkin iya mereka dapat, jika begitu anggapanmu......


Pintu depan rumah ditutup dengan kasar. Air mata Fahri mengalir deras, menyimpan surat cerai yang sudah ditandatangani istrinya. Ingin meyakinkan hatinya untuk bertahan sedikit lebih lama lagi. Bertahan untuk menyerah suatu hari nanti pada perasaan cinta yang hanya dapat melukai hatinya...

__ADS_1


__ADS_2