Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Cara Yang Sama


__ADS_3

Sinar matahari tipis menerpa wajahnya, seorang pemuda mulai masuk ke gedung perkantoran. Berjalan melewati loby hingga sosok seorang pemuda berpakaian rapi, terlihat menyambutnya. Kemudian berjalan di belakangnya.


"Tuan, tuan besar memanggil anda ke ruangannya," ucapnya mulai menekan tombol lift untuk Daniel.


"Ayah? Ada apa lagi..." gunam Daniel menghembuskan napas kasar. Selang beberapa menit pintu lift kembali terbuka. Daniel berjalan menelusuri lorong panjang, menuju ruangan ayahnya.


Perlahan pintu dibuka olehnya, terlihat sosok Tirta tengah mengerjakan beberapa dokumen.


"Ayah..." panggilnya.


"Duduk," ucap Tirta tanpa mengalihkan perhatian dari berkas di hadapannya.


Daniel menurut duduk di sofa, menunggu Tirta menyelesaikan pekerjaannya. Hingga akhirnya, dokumen ditutup, perhatian pria paruh baya itu teralih pada putranya.


"Kamu bertemu dengan Renata?" tanyanya, memulai pembicaraan.


"Iya, aku hanya ingin memanfaatkannya untuk membantuku merebut Jeny," jawab Daniel penuh senyuman.


Tirta menghebuskan napas kasar, memijit pelipisnya sendiri,"Kamu tau sifat Renata?" tanyanya.


"Apa maksudnya?" Daniel balik bertanya.


"Bukannya berusaha merebut Farel, dia malah berminat membunuh Jeny. Taka marah, bagaimanapun dia tidak senang dengan orang yang bermain-main dengan nyawa orang lain," jawabnya.


"Membunuh Jeny? Lalu bagaimana keadaan Jeny sekarang?" Daniel terlihat cemas.


"Jeny baik-baik saja, ada Farel dan Taka. Tentu saja tidak akan mudah membunuh orang di hadapan mereka," Tirta bangkit, membuka laci mejanya,"Aku sudah berbuat kesalahan..." ucapnya menghembuskan napas kasar.


"Ayah, aku akan berusaha agar Jeny kembali," Daniel meyakinkan.


Tangan pria yang sudah tidak berusia muda lagi, mengambil sebuah foto. Terlihat foto lama seorang pemuda dengannya yang masih berusia muda.


"Aku harus berterimakasih pada Doni, karena menolak perjodohan dengan Gina. Dan membiarkan kami kawin lari, walaupun hidup susah selama bertahun-tahun, kami bisa bersama dan memilikimu," Tirta menghembuskan napas kasar.


"Awalnya, perjodohan kalian karena rasa terimakasih ayah pada Doni. Karena tipuanmu dan Renata, ayah memandang rendah pada Jeny mengira dia hanya akan menjadi benalu. Teryata kamulah suami yang tidak becus!!" lanjutnya menatap sinis ke arah putranya.


"Maaf, ini salahku..." ucap Daniel.


Tirta menghembuskan napas kasar, satu pertanyaan keluar dari mulutnya,"Apa kamu benar-benar mencintai Jeny? Dan akan menjaganya dengan baik jika dia kembali?"


"Iya, dulu aku berbuat kesalahan tidak menyadari perasaanku. Tapi sekarang, tidak akan lagi..." ucapnya berusaha untuk tetap tersenyum.


"Doni, orang yang baik, orang yang membuatku dapat bersama dengan ibumu. Ayah, akan membuat kesempatan terakhir untukmu. Jaga dan cintai dia..." ucapnya, menepuk pundak putranya.

__ADS_1


"Aku akan menjaganya, bahkan menyayangi putranya. Selayaknya, itu adalah putraku..." janjinya.


***


Sementara itu Farel yang sudah kembali ke rumah kecil milik Jeny, menghidangkan makanan makanan yang baru dimasaknya satu-persatu, sejenak mengenyitkan keningnya, menatap pesan dari Tomy.


'Tuan, Renata ingin bertemu dengan anda,' itulah isi pesannya.


'Dimana? Kamu yang atur tempat dan waktunya,' Farel membalas.


Tidak lama kemudian, sebuah pesan kembali masuk,'Gold hotel, kamar nomor 301, malam ini. Renata menyangka anda cucu pemilik JH Corporation,'


'Baik, aku akan menemuinya,' Farel menyunggingkan senyuman di wajahnya.


Namun, suara seorang wanita terdengar mengalihkan perhatiannya,"Kenapa senyum-senyum sendiri?" Jeny mengenyitkan keningnya.


"Aku akan bertemu selebriti idola malam ini," jawabnya masih tersenyum berseri-seri.


"Siapa!?" Jeny membentak, dengan nada dingin.


"Nona cemburu?" tanyanya. Jeny tidak menjawab menatap tajam pada Farel, mulai makan dengan bringas.


"Kakak ipar berselingkuh!?" Dimas menggebrak meja.


Dimas menadahkan tangannya,"250.000, biaya untuk menenangkan tangisan kakak malam ini..."


Farel kali ini merogoh sakunya. Dengan penuh harapan Dimas menanti uang yang akan keluar dari manusia yang sama pelitnya dengan dirinya.


Dan benar saja, keluarlah sebungkus coklat snickers,"Mungkin Jeny lapar...!? Ini lebih ampuh dari pada uang 250.000, aku pernah menonton iklannya,"


Dimas mengenyitkan keningnya, menatap sebungkus coklat di tangannya, kemudian beralih bergantian menatap wajah kakak iparnya yang tidak tahu malu,"Kakak ingin diceraikan ya!?" tanyanya membentak.


"Sudahlah, malam ini aku akan berdandan yang tampan dan rapi ..." ucap Farel penuh senyuman, berlalu menuju kamar, mengundang amarah dari dua orang yang melihatnya.


"Kakak akan membiarkan budak Jepang yang pelit itu berselingkuh?" Dimas bertanya memprovokasi kakaknya.


"Aku tidak memiliki bukti, cuma kata-kata saja. Mungkin dia tidak..." ucapan Jeny terhenti, Dimas mulai memprovokasi lebih dalam.


"Selebriti cantik, dengan pengusaha muda tampan yang sukses. Berdua membahas urusan bisnis, perlahan dasi kakak ipar ditarik dengan jarak dekat saling berpandangan...aduh!!" suara Dimas memekik, telinganya ditarik.


"Kamu menonton hal begitu dari mana!?" tanyanya membentak.


"Film Korea di YouTube..." jawabnya jujur, mengusap usap telinganya yang baru dilepaskan Jeny."Kakak, apa kakak tidak akan mengikutinya!? Kakak pernah diduakan oleh kak Daniel, kenapa kak Farel tidak bisa!?" tanyanya.

__ADS_1


Jeny menatap penuh amarah pada kamar yang dimasuki suaminya, yang tengah bersiap-siap,"Aku akan membunuh selingkuhnya, lalu mengurung Ren selamanya," ucapnya menusuk daging sapi di hadapannya dengan garpu.


Dimas yang ketakutan menatap ekspresi kakaknya mengeluarkan sebungkus coklat snickers, menyuapi mulut kakaknya,"Kakak terlihat lapar, jangan marah lagi karena lapar..."


"Aku tidak lapar!! Bodoh!!" Jeny memukul pelan belakang kepala adiknya.


"KDRT!! Aku akan melaporkannya pada kak Seto!!" ucapnya membentak, mengusap-usap kepalanya yang kebas.


***


Farel menghela napas kasar, membuka pintu kamar bertuliskan 301, perlahan terlihat seorang wanita cantik duduk meminum segelas wine.


"Kamu mau!?" ucapnya, berjalan menuju tempat lain, menuangkan minuman yang ditaburi afrosidac. Berharap dapat menggunakan cara yang sama untuk kedua kalinya.


Renata, kembali mendekati Farel,"Terimakasih..." ucapnya menerima segelas wine yang disuguhkan Renata tanpa memandang curiga.


"Omong ngomong, aku bersusah payah, bahkan menahan rasa takutku untuk menanyakan tentangmu pada Tomy," Renata mulai duduk berdampingan dengan Farel.


"Benarkah? Artis sepertimu bersusah payah ingin menemuiku, merupakan suatu kehormatan," Farel tersenyum, mengarahkan bibirnya pada bibir gelas wine.


"Apa minumannya enak, angka tahunnya 1991, kamu pasti menyukainya?" tanyanya menunggu reaksi, bertanya sambil mengulur waktu.


"Lumayan, aku juga memiliki koleksi di Singapura, makin tua angka tahunnya maka makin mahal. Ini juga termasuk investasi," Farel tersenyum, menggoyangkan gelas winenya.


"Omong-ngomong kenapa kamu bisa dibawa ke villa kakekku? Maaf sebelumnya, aku cukup tidak suka kakekku membawa wanita. Apalagi, belakangan ini aku mendengar dia memiliki anak dengan wanita lain. Jika begini JH Corporation, warisan kakek untukku, harus dibagi dengan bayi itu!!" ucapnya kesal penuh sandiwara. Menahan tawanya dalam hati, sembari mengangkat gelas wine, kembali menyesapnya.


"Aku dulu menyelamatkan pimpinan JH Corporation, yang meminum afrosidac dosis tinggi. Dengan kata lain, aku yang mendekatkan Jeny dengan kakekmu..." Renata tertawa kecil, merasa Farel sepemikiran dengannya serakah dengan kekuasaan dan uang.


"Tapi bukannya Jeny saat itu sudah memiliki suami ya!?" tanyanya tidak mengerti.


"Iya, aku dan suaminya sepakat untuk menjualnya pada pemilik JH Corporation, untuk sebuah proyek," Renata tersenyum, menghebuskan napas kasar menjelaskan.


"Pintar dan licik...Aku menyukai sifat itu..." Farel bertepuk tangan,"Tapi bagaimana bisa orang tua menyebalkan itu meminum afrosidac?" tanyanya lagi.


"Aku menyuap pelayan untuk memberikannya. Jika kamu mau, aku dapat menyingkirkan Jeny dan bayi yang akan menjadi pamanmu," Renata tersenyum menggoda, mulai duduk di pangkuan Farel.


Senyuman di wajah Farel menghilang, wajahnya pias, menjatuhkan segelas wine yang ada di tangannya. Pecahan gelas berceceran di lantai, dengan red wine yang menyebar di bawah kakinya bagaikan darah.


"Apa kamu menginginkanku!?" tanya Renata, mendekatkan wajahnya pada Farel, menghembuskan napas menggoda pada lehernya.


"Tidak tau kenapa, kamu terlihat seperti nonaku..." racaunya, sembari mengusap lembut pipi Renata.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2