Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Peninggalan


__ADS_3

Simpati? Itulah perasaan Clarissa menatap Tomy yang masih disangkanya sebagai saudara sepupunya.


Pemuda itu, tetap tersenyum memotong buah mangga di hadapannya. "Apa ini hanya untuk Farel? Kenapa lumayan banyak?" tanyanya.


"Ini untuk..." kata-kata Tomy terhenti, wajahnya sedikit pucat, melirik perut Clarissa.


Jadi jika wanita hamil, ada kemungkinan pria yang menghamilinya mengalami mual dan menginginkan hal aneh... tanyanya dalam hati menyadari Farel tidak benar-benar menyukai asinan buatannya. Matanya menelisik mengamati dua wadah kosong yang disiapkannya.


Satu lagi? Tentu saja untuk Zion yang juga tiba-tiba bertingkah aneh.


"Satu lagi untuk siapa?" Clarissa mengenyitkan keningnya.


"Untukku..." ucapnya terdiam sejenak memikirkan sesuatu.


Apa aku akan mengalaminya juga? Jika iya, memiliki belasan anak, berarti aku harus menyiapkan lahan kosong khusus untuk kebun mangga di rumah mewahku yang masih dalam proses pembangunan. Mungkin jika aku yang mengalami ini kakak akan membuatkanku asinan yang banyak... gumamnya dalam hati membayangkan keluarga bahagianya, dengan banyaknya anak bangaikan tim sepakbola.


"Tomy aku..." kata-kata Clarissa terpotong, menatap Farel yang berjalan menuju dapur.


Benci? Tentu saja, pemuda yang dianggapnya sempurna dan baik hati ternyata sama mengerikannya dengan ayahnya. Wajah rupawan itu terlihat dingin dan memuakan di hadapan Clarissa.


Tangannya mengepal memendam semua amarahnya.


"Tomy, acara pertunangan tinggal empat hari lagi. Urusan projects baru yang diambil ayah apa datanya sudah dikirim?" tanyanya, mengambil botol air mineral dari lemari pendingin.


"Sudah, anda dapat bertunangan dengan tenang..." Tomy masih mengiris buah di hadapannya.


"Apa kamu puas menyakiti semua orang dengan pertunangan kita!?" bentak Clarissa.


Farel berjalan mendekat, memojokkan Clarissa pada dinding, senyuman dingin nampak di wajahnya."Dengar, anak dalam kandunganmu adalah anakku. Jadi, berpura-puralah menjadi wanita penurut, jika tidak pria penghiburmu, akan jadi sasaran di arena latihan tembak milik kakekku..."


Wanita itu membulatkan matanya, mengeluarkan keringat dingin,"Zi... Zion sudah tidak ada ditanganmu, jangan membohongiku..." ucapnya gelagapan.


Farel mencengkram kedua pipi Clarissa dengan satu tangannya,"Tidak ada yang dapat melarikan diri dari Farel..."


"Termasuk juga kamu..." lanjutnya, melepaskan cengkramannya berjalan pergi dengan wajah menyeringai, meminum air mineral kemasan.


Wajah Clarissa pucat pasi, jemari tangannya gemetar ketakutan. Sedikit melirik ke arah Tomy, dewa penyelamat yang baginya akan melindunginya dari Farel.


***


Lery tersenyum menatap tingginya gedung-gedung pencakar langit yang dilewati mobilnya.


Tujuan? Apa sebenarnya tujuan hidupnya? Dirinya masih bertanya-tanya hingga saat ini, berada dipuncak, dipuja-puja semua orang. Semua belum cukup untuknya.


Hingga sebuah telfon diangkat olehnya.


"Ada apa?" tanyanya.


"Tuan markas kita di Belgia teciduk polisi, kali ini kepolisian internasional yang bergerak," jawab seseorang di seberang sana.

__ADS_1


"Bukannya Deren (putra Lery) sedang berada di Belgia?" Lery mengenyitkan keningnya.


"Kami tertangkap karena menunggu intrupsi tuan muda, tapi tuan muda melarikan diri seorang diri meninggalkan kami. Saya sekarang sedang berusaha melarikan diri..." ucapnya, terdengar samar-samar suara sirine mobil polisi yang mengejar.


Lery memejamkan matanya sejenak, kesabarannya telah habis,"Jika kamu tertangkap berikan intrupsi pada bawahanmu, buat seolah-olah markas narkotika adalah milik putraku. Tidak ada sangkut pautnya denganku, satu lagi jangan pernah membocorkan jaringan organisasi, dan markas kita yang lain..."


"Baik tuan..." telfon ditutup sepihak oleh Lery.


Putra? Hanya putra pengecut tidak berguna yang dimilikinya. "Tidak dapat diandalkan..." gumamnya, menghebuskan napas kasar.


***


Sementara itu di tempat lain...


Fitting gaun untuk acara pertunangan dilakukan. Clarissa bersikeras membawa Jeny bersamanya. Alasan? Tentu saja merasa bersalah dan iba pada wanita itu.


Farel menyelesaikan fitting stelan jasnya dengan cepat. Duduk berdampingan dengan Jeny, menunggu tirai besar di hadapan mereka terbuka. Bersikap seolah-olah acuh tak acuh.


Tirai terbuka terlihat Clarissa mengenakan gaun cream dengan bagian punggung yang terbuka, terkesan klasik menggoda.


Wanita itu turun, meraih jemari tangan Jeny, menuntunnya menuju tirai.


"Kenapa kamu membawanya?" tanya Farel mengenyitkan keningnya.


"Apa urusannya denganmu!!" Clarissa membentak memandang sinis. Bersamaan dengan tirai yang tertutup.


Aku akan menunjukkan betapa cantiknya istrimu. Hingga kamu tidak jadi menceraikannya. Kemudian iblis sepertimu membebaskanku dan Zion untuk bersama... gumamnya dalam hati.


"Apa yang kamu lakukan!?" tanya Jeny geram, berpura-pura tidak dapat melihat bayangan dirinya di cermin.


"Membantumu kembali pada Farel..." jawabnya, tersenyum penuh maksud.


Tirai terbuka, pemuda yang duduk di sofa, terdiam menatap nonanya di dandani layaknya wanita penggoda. Namun, ini benar-benar sulit di tolak.


"Apa yang kalian lakukan!? Benar-benar jelek!!" Farel membentak dengan wajah dinginnya masih duduk di sofanya. Padahal jantungnya berdegup cepat, tangannya gemetaran ingin menyentuh tubuh nonanya.


Jelek ya? Syukurlah, aku kira jika melihatku seperti ini nanti malam Ren-ku tidak akan melepaskanku. Tapi aku lupa, Ren-ku itu jujur, lugu, baik hati, tidak akan tergoda oleh hal-hal seperti ini... Jeny menghembuskan napas kasar dengan perasaan lega.


"Aku tidak akan menyerah!!" Clarissa kembali menutup tirai, dibantu beberapa karyawan butik menggati pakaian Jeny.


Ya... Tuhan tubuhku digerayangi wanita-wanita aneh ini. Bertahanlah Jeny sedikit lagi, kamu tidak perlu berpura-pura cacat lagi... gumamnya dalam hati.


Tirai kembali dibuka, kali ini pakaian pelayan yang benar-benar terbuka, menampakkan belahan dada, paha putih mulus, dengan bando kelinci bertengger di atasnya, kedua tangannya dilengkapi aksesoris. Serta lehernya terlihat aksesoris bagaikan kerah pakaian lengkap dengan dasi kupu-kupunya. Kelinci pelayan penggoda itulah kesan yang dibuat Clarissa.


Tidak akan ada pria normal yang tahan... senyuman menyungging di wajah Clarissa.


Farel memejamkan matanya sejenak, menghembuskan napas kasar. Menatap dengan tajam, namun keringat dingin menetes di pelipis menuju pipinya. Menerkam? Mungkin jika mereka hanya berdua di kamar dirinya tidak akan dapat menahan godaan. Aku bisa gila ... teriaknya dalam hati.


"Sudah selesai? Jika sudah aku lebih baik pulang..." Farel dengan wajah dinginnya, menahan keinginannya, sembari menatap jam seakan tidak tertarik. Ekting yang sempurna kan? Padahal ingin rasanya pemuda itu menggeram saat ini. Menarik istrinya pergi menuntaskan keinginannya.

__ADS_1


Ren tidak tertarik? Apa daya tarik ku sudah lenyap. Dia bisa berekting dengan tenang tanpa sedikitpun reaksi... kesal Jeny dalam hatinya, tidak mengetahui penderitaan suaminya.


"Clarissa..." ucap Jeny dengan suara kecil, wajahnya tertegun. Tidak terima suaminya tidak tergoda sama sekali.


"Aku akan membuatnya menyukaimu..." tekad Clarissa, menutup tirai kembali.


"Apalagi rencana mereka? Ya Tuhan aku hampir gila!! Dengan penampilan nona ala wanita karier yang tertutup saja aku tidak dapat menahan diri. Apalagi ini...!?"


"Nona kenapa kamu bekerja sama dengannya, kita sedang berekting!!" gumam Farel dengan suara kecil, setelah tirai tertutup sempurna. Panas, dingin begitulah kondisi tubuhnya saat ini.


Kali ini cukup lama, beberapa belas menit berselang, tirai kembali dibuka terlihat seorang wanita memakai gaun panjang, dengan bagian atas tertutup kain brokat putih indah. Rambut palsu berwarna putih, tatarias makeup efek khusus bagaikan makhluk mistis berwajah sempurna. Hiasan rambut perak memanjang, bagaikan cost play makhluk gaib penggoda yang indah.


"Aku keluar!! Kamu terlihat memuakan!!" Farel kembali membentak berjalan keluar dari butik bagaikan kesal.


Aku menyerah, aku melarikan diri!! Jika tidak kabur, maka aku akan mencabik-cabik gaun panjangnya... Nona kenapa kamu menguji kesabaranku... ucapnya dalam merutuki nasibnya.


"Maaf ya? Mungkin pesonamu kurang menarik baginya..." Clarissa menegarkan, menepuk pundak Jeny yang masih dianggapnya buta. Membantu Jeny duduk di sofa, sementara dirinya mengganti pakaian kembali ke belakang tirai.


"A...aku tidak mempesona bagi Ren?" gumamnya dengan suara kecil tertegun."Ren, apa kamu mulai menemukan wanita yang lebih mempesona dariku, hingga dapat tidak menunjukkan ketertarikan sedikitpun?"


***


Di tempat lain...


Api berkobar melalap sebuah bangunan. Bagunan gudang tersembunyi yang terlihat luas...


Beberapa orang berteriak merintih hendak keluar dari sebuah pagar besi terkunci. Ada beberapa orang yang sanggup memanjatnya, namun lebih banyak lagi yang terjebak di dalam. Bau zat kimia tercium menyengat.


Dhuar....


Ledakan cukup besar terjadi, diikuti ledakan kecil.


"Aaaaaggghhh..." satu orang yang berhasil keluar merangkak beberapa meter, masuk ke wilayah rimbunnya pepohonan yang lebih aman baginya dari ledakan bubuk mesiu.


Seorang pria memakai masker biru, dengan topi dan stelan hitamnya berdiri di hadapannya.


"Hans..." ucapnya menemukan perlindungan, menonggakkan kepalanya. Menatap, wajah tersenyum yang melepaskan maskernya.


"Tolong beritahukan pada tuan ada penghianat diantara kita. Aku..." kata-katanya terhenti, Hans mengambil senjata apinya, menodongkan pada orang yang baru lolos dari maut itu.


"Tuan? Dia hanya sampah..." ucapnya, menembakkan senjatanya berkali-kali pada tubuh pria yang tidak berdaya.


Ditakuti? Tentu saja seseorang yang tidak mudah untuk ditaklukkan. Tangan kanan yang membuat Lery dapat dengan cepat menguasai perdagangan senjata api dan narkotika. Menghancurkan musuh besar Lery dengan bergerak seorang diri, bukanlah pekerjaan sulit untuk Hans. Pintar, kejam, bekerja secara diam-diam, penuh tipu daya.


Wajahnya tersenyum, kembali menutup maskernya. Markas salah satu gudang senjata milik Lery? Itulah yang hari ini dihancurkannya seorang diri.


Bebauan tubuh terbakar, bercampur zat kimia, tercium menyengat memenuhi area hutan.


"Sungguh bodoh, selama ini aku membantunya. Kamu ingin aku tidak membunuh lagi kan? Nyawa terakhir yang akan aku ambil adalah nyawanya..." gumamnya, duduk di atas bebatuan besar menatap peninggalan kekasih kecilnya satu-satunya. Hiasan rambut indah dari giok yang dulu pernah ditancapkan Hyeri pada lengan Hans.

__ADS_1


Ledakan terakhir terdengar, Hans turun dari batu besar yang didudukinya. Berjalan pergi, memasukkan peninggalan Hyeri kembali ke dalam sakunya.


Bersambung


__ADS_2