Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Melindungi Tersangka


__ADS_3

Nyala api unggun mulai padam, alunan suara nyanyian seorang pemuda juga telah menghilang. Perlahan tubuh Clarissa diangkatnya, dibaringkan di kursi penumpang bagian depan.


"Dasar berat..." umpatnya merenggangkan otot-ototnya duduk di kursi pengemudi. Sejenak mengutak-atik handphone milik wanita yang tengah tidak sadarkan diri itu.


Mobil mulai melaju, diikuti mobil hitam di belakang mereka. Wajah Clarissa nampak tertidur lelap, Farel menghembuskan napas kasar, meraba bagian lehernya sendiri."Bagaimana menyembunyikannya dari nona?" gumamnya cemas.


Beberapa puluh menit perjalanan, mobil mulai terparkir di area rumah yang lumayan besar dengan penjagaan ketat."Apa tuan Lery ada?" tanyanya pada penjaga.


"Beliau didalam..." jawab sang penjaga.


"Clarissa tidur dalam perjalanan, tolong antar aku ke kamarnya..." ucap Farel pada sang penjaga, sembari meraih tubuh Clarissa. Melanjutkan drama romantisnya, membuat kesan cinta sejati di hadapan semua orang.


"Baik..." sang penjaga segera berjalan cepat, memimpin perjalanan mereka menuju kamar Clarissa.


***


Perlahan tubuh itu dibaringkannya, bersamaan dengan kedatangan Lery yang kini berada di ambang pintu."Farel, terimakasih sudah mengantar Clarissa berkeliling..."


"Tidak apa-apa, jangan sungkan..." pemuda itu tersenyum, mulai bangkit dari tepi tempat tidur.


"Bagaimana jika kita main catur sebelum kamu pulang?" tanyanya pada sosok pemuda di hadapannya.


***


"Skakmat..." Lery tertawa kecil, memindahkan bidak menterinya.


"Aku salah langkah lagi, anda sangat pandai bermain catur," Farel menghembuskan napas kasar bagaikan kecewa, namun diam-diam senyuman menyungging di wajahnya, menatap wajah bahagia Lery.


Strategi untuk disukai orang lain, jika melakukan permainan apapun, mengalahlah. Menunduk, jangan membanggakan diri, berusaha terlihat dapat diandalkan, jika dia kesulitan, jadilah ulat parasit tidak terlihat.


Seorang pemuda berjalan terhuyung, merangkul seorang wanita di sebuah lorong, sejenak kemudian mengenyitkan keningnya menatap ke arah sepasang pria beda usia yang tengah kembali mengatur ulang pion mereka."Ayah? Dia siapa?" tanyanya.


Farel tersenyum ramah, sedikit menunduk memberi hormat,"Perkenalkan, aku Farel..."


"Pecundang mana lagi ini? Kamu bawahan ayahku yang baru ya!?" ucapnya dalam kondisi setengah sadar, akibat pengaruh alkohol.


Plak ...


Satu tamparan mendarat di pipi putranya,"Deren!! Dia adalah rekan bisnis ayah!! Sahabat kakakmu!! Pulang dalam kondisi mabuk!! Seharusnya kamu mencontoh kakakmu, membantu ayah mengurus perusahaan..." kata-kata Lery terhenti.


Deren mendekati Farel,"Saat tidur kakakku (Clarissa), jangan lupa memakai pengaman..." menepuk pundaknya, berjalan menuju lorong lain diikuti wanita yang disewanya.


Memakai pengaman? Diciumpun aku tidak sudi, dari awal tubuhku hanya untuk nonaku... gumam Farel dalam hatinya.


Lery mengepalkan tangannya kesal, berusaha untuk bersabar, tujuannya saat ini meyakinkan Farel jika putrinya wanita baik-baik tidak terjamah,"Jangan dengarkan dia, Deren memang tidak begitu akur dengan Clarissa. Kata-katanya tadi hanya gurauan..." ucapnya pada Farel.


"Aku mengerti, Clarissa gadis yang baik..." Farel tersenyum ramah, matanya menelisik mengamati foto keluarga yang terpajang di meja. Foto yang sebelumnya tidak begitu diperhatikannya.


"Ini?" ucapnya seakan bertanya, meraih foto yang terpajang di atas meja.

__ADS_1


"Ini keluarga kami, Clarissa, Deren, istriku Sasha, dan adik tiriku Gabriel..." Lery tersenyum, meraih foto yang berukuran tidak begitu besar itu dari tangan Farel.


"Adik tiri? Apa Clarissa memiliki sepupu?" tanyanya, ingin mengetahui lebih banyak. Belum mendengar penjelasan apapun dari ayahnya.


"Tidak, istri Gabriel sudah meninggal, dia tidak pernah menikah lagi hingga sekarang. Padahal, aku sudah beberapa kali menjodohkannya, tapi dia terlalu mencintai istrinya..." dustanya.


"Begitu ya?" Farel menghebuskan napas kasar, tidak dapat bertanya lebih banyak lagi, tidak ingin menimbulkan kecurigaan."Aku pamit pulang dulu, sudah terlalu larut..." ucapnya.


"Hati-hati di jalan, maaf paman tidak mengantar ke depan..." Lery berucap penuh senyuman.


"Tidak perlu sungkan..." Farel tersenyum, mulai melangkah meninggalkan ruang tamu rumah tersebut.


Sepupu? Jadi dirinya adalah sepupu Clarissa dan Deren? Pertanyaan yang enggan di ajukan Farel pada ayahnya kini terjawab. Menjaga Jeny dari Clarissa, mengirim pengawal. Ini karena Gabriel adalah salah satu orang dari keluarga Lery. Namun, tidak berpihak pada Lery.


Mobil mulai melaju, hari ini Farel tidak pulang dengan tangan kosong. Nomor kontak semua orang yang ada di handphone Clarissa telah di copy-nya, ketika wanita itu tertidur. Mobilnya melaju dengan kecepatan sedang.


Pemuda itu menghembuskan napas kasar, mulai berjalan menapaki tangga. Berpapasan dengan sosok asisten rangkap sahabatnya di lorong menuju kamarnya.


"Tuan..." Tomy tertunduk lemas.


"Kenapa layu begitu?" Farel mengenyitkan keningnya.


Pemuda itu berusaha tersenyum, mengeluarkan buku catatan kecilnya,"Setelah ini aku akan ke Jepang. Jadi menanyai saksi yang ada di sini terlebih dahulu..."


"Saksi?" Farel mengenyitkan keningnya.


"Apa yang anda ketahui tentang bibi anda yang sudah meninggal?" tanyanya.


"Iya, mungkin saja anda adalah tersangka yang membuat bibi anda bunuh diri. Coba fikirkan dari motifnya, dia tengah hamil dan kakaknya yang hanya memiliki anak angkat,"


"Bos pelit dan licik!! Anda mempengaruhi bibi anda untuk bunuh diri agar dapat menguasai harta kakek anda kan!?," bentak Tomy dengan nada tinggi mengeluarkan sembarang prediksi.


"Kamu sudah gila ya!? Bibi Hyeri meninggal 29 tahun yang lalu!! Aku bahkan belum diadopsi!! Lahir saja belum!!" bentak Farel jengkel.


"Tuan, walaupun anda tidak bersalah, aku mohon mengakulah. Aku bosan bermain menjadi detektif, aku tidak ingin tinggal di Jepang hanya untuk menyelidiki kasus..." Tomy memelas, dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak itu masalahmu sendiri..." Farel tersenyum lebar, berjalan menuju kamarnya.


"Aku doakan, masalah lebih besar akan menimpa hidupmu!!" sumpah serapah keluar dari mulut Tomy.


Pintu kamar mulai tertutup, bagaikan petir yang menyambar dengan cepat. Karma segera berjalan, terdengar suara berisik dari kamar Farel.


"Ren br*ngsek!! Apa saja yang kamu lakukan dengannya!? Kenapa dengan lehermu!!" terdengar suara Jeny menangis, dan beberapa barang berjatuhan.


Pintu kembali terbuka, tubuh Farel di dorong istrinya,"Jeny dengarkan dulu penjelasan..." selimut dan bantal melayang ke arah Farel.


Brak...


Pintu langsung dibanting, dikunci dari dalam, Farel menghembuskan napas kasar, menenteng bantal dan selimutnya.

__ADS_1


"Tuan..." Tomy menahan tawanya, tertunduk memberi hormat.


"Taukah kamu rasanya setelah melepaskan keperjakaan, kemudian diusir dari kamar!? Seperti hasrat yang tidak tersalurkan. Cepat-cepatlah lepas keperjakaanmu, agar kamu merasakan tebang ke langit ketujuh..." gumamnya, berjalan menuju ruang keluarga yang terdapat di ujung lorong lantai dua, hendak tidur di sofa.


"Terbang ke langit ke tujuh? Walaupun masih perjaka, untuk terbang saja, aku bisa menyewa pesawat jet!! Jika perlu aku akan belajar menebangkan pesawat sendiri..." cibir Tomy kesal.


***


Jepang...dua minggu kemudian...


Seorang pemuda menatap rumah yang terlihat terbengkalai di kota yang tidak begitu besar. Pemuda itu menghela napas kasar, banyak tanaman rambat yang menutupi sisi luarnya.


Kriet...


Suara lantai kayu berdecit, barang-barang bergeletakan acak. Adrenalinnya seperti terpacu, bulu kuduknya berdiri. Bekas rumah dengan peristiwa bunuh diri di dalamnya? Tentu saja terasa menyeramkan.


Ruangan cukup lembab, baru saja ruang tamu tanpa penerangan yang dilewatinya, hanya sebuah senter sebagai satu-satunya sumber cahayanya saat ini. Foto tua berdebu tidak sengaja tersorot senternya.


Foto seorang pria ditemani dua anak gadisnya, salah satunya berpakaian SMU. Cantik, wajah itu nampak cantik, namun mengingat sang gadis telah tiada dalam kondisi hamil. Tentu saja, kita akan menganggap ganjil pada foto itu.


Pemuda yang memakai kacamata, lengkap dengan dasi kupu-kupunya itu, mulai bernyanyi kencang memendam rasa takutnya, mengingat wajah gadis SMU dalam foto berdebu yang baru diletakkannya."Seluruh kota, merupakan tempat bermain yang asik. Oh senangnya...aku senang sekali... Kalau begini akupun jadi sibuk, berusaha mengejar-ngejar dia. Matahari menyinari semua perasaan cinta, tapi mengapa hanya aku yang dimarahi..."


Benar, lagu krayon Sinchan lah yang dinyanyikannya. Tangannya semakin gemetar, tatkala, ketika menyentuh sebuah pintu, terdengar suara benda terjatuh dari dalamnya.


Nyanyiannya terhenti, tangan dinginnya mulai menggeser pintu bergaya Jepang itu, keringat dinginnya bercucuran. Tidak ada apa-apa dalam ruangan kecuali seekor kelelawar yang terbang kearahnya.


"Kamar Taka..." gumamnya lega, menatap kamar dengan dekorasi katana sebagai pajangannya.


Perjalanannya berlanjut, hawa dingin semakin terasa. Menemukan kamar korban, adalah tujuannya.


Hingga terlihat sebuah kamar, dengan tepat tidur tidak begitu besar. Rapi walaupun berdebu, dekorasi simpel yang cantik, walaupun cat temboknya mengelupas dan berlumut. Senter Tomy mengarah ke atas, tangannya gemetar,"Kamar korban..." ucapnya, menatap bekas goresan aneh pada kayu bangunan, seperti bekas tali atau sejenisnya.


Aku berani, aku berani, aku adalah pahlawan bertopeng... begitulah ucap Tomy dalam hatinya, mulai membuka laci demi laci meja belajar di kamar tersebut. Tidak berani menatap cermin yang berada di meja rias.


Sus...


Angin berhembus melalui jendela kaca yang pecah, bulu kuduk Tomy semakin berdiri. Benda-benda diraihnya asal, dengan tangan gemetaran, tidak ingin melihat kebelakang.


Semilir angin kembali terasa,"Bibi, detektif Tomy tidak bermaksud mencuri, ini permintaan ayahmu yang menyeramkan...!!" gumamnya, berteriak, berlalu pergi, entah apa saja yang dapat dibawanya. Tidak sempat diperiksanya.


Napas Tomy terengah-engah, mulai duduk di halte bus terdekat setelah membeli minuman. Tidak ada benda istimewa, bahkan diary pun tidak ada, hanya beberapa buku pelajaran. Namun, hal ganjil ditemukannya, panggilan dari kantor kepolisian untuk Hyeri, dalam kasus menghilangnya seseorang bernama Jimy (guru privat yang hampir melecehkan Hyeri).


"Apa ada hubungannya? Coba selidiki dulu sajalah..." gumamnya, menyedot minuman dengan banyak bakteri baik (Yakult)


Menggunakan surat kuasa yang diberikan Taka, Tomy mulai menyelidiki dari kantor polisi.


Data aneh ditemukannya, polisi sempat ingin kembali memanggil Hyeri, karena 15 tahun yang lalu, kerangka tubuh Jimy ditemukan dekat aliran sungai. Namun, wanita itu sudah meninggal bunuh diri, kasus pembunuhan guru privat yang menemukan jalan buntu, karena satu-satunya saksi sudah meninggal.


Kesaksian Hyeri yang tercatat 30 tahun yang lalu, sebelum kerangka guru privat ditemukan dalam data lama, mulai dibaca Tomy. Kesaksian yang mengungkapkan jika sang guru pulang terlebih dahulu. Tersangka? Kenapa Hyeri tidak ditetapkan sebagai tersangka? Tubuhnya terlalu kecil dan lemah untuk menyeret atau membunuh seorang pria yang berberat badan 90 kg.

__ADS_1


"Hyeri mengetahui pelakunya, tapi melindunginya!? Dia melindungi pembunuh?" Tomy mengenyitkan keningnya, sambil menemukan sisi gelap dari kasus yang diselidikinya. Duduk terdiam, di halaman kantor polisi, membaca fotocopy dari file-file yang ditemukannya.


Bersambung


__ADS_2