Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Nyonya Dea


__ADS_3

Farel berucap dengan serius menunggu respon dari Jeny. Wanita itu mengenyitkan keningnya,"Minggir!!" ucapnya mendorong tubuh Farel.


"Tapi, aku ayah kandung Rafa!!" ucapnya dengan nada tinggi tidak mengerti dengan respon aneh dari Jeny.


"Magsudmu pemilik JH Corporation!? Jangan bercanda!!" Jeny mulai membentak, kembali memakan dengan tenang.


Jika ayah kandung Rafa setampan ini, alias berwajah playboy, dia tidak perlu repot-repot menyuruhku ke Singapura dengannya. Tinggal pilih menikah dengan anak pengusaha dari negara lain, atau putri bangsawan sekalian, kemudian membuat keturunan dengan mereka... Jeny menggeleng gelengkan kepalanya heran dengan pernyataan tidak logis dari Farel.


"Tapi aku benar-benar pemilik JH Corporation. Tomy adalah asisten kepercayaanku!!" ucap Farel mulai berdiri meyakinkan. Jika dengan identitasnya sebagai asisten tidak dapat merebut hati Jeny. Setidaknya dengan statusnya sebagai ayah kandung Rafa, Jeny mungkin akan mulai belajar menyukainya itulah harapannya.


Namun, Jeny mengenyitkan keningnya terlihat kesal,"Jangan-jangan besok kamu akan mengatakan kamu adalah pacarku yang meninggal saat kecelakaan. Kemudian mengalami amnesia selama beberapa tahun seperti drama TV!!" Jeny menusuk daging di piringnya menatap tajam pada Farel.


"Jika aku mengatakan itu, apa kamu akan menyukaiku!?" tanyanya lagi penasaran.


"Tidak, tapi aku akan melaporkanmu kepada polisi. Karena menjiplak beberapa karya sinetron dan novel..." jawab Jeny mengenyitkan keningnya mulai memakan kembali makanannya.


Sial!!! Siapa sebenarnya tikus yang disukai nona, sampai sudah matipun berani menghalangi jalanku... Farel menghembuskan napas kasar. Berjalan beberapa langkah hendak keluar dengan raut wajah kekecewaan.


"Farel!! Karena sudah membuatkanku makanan, buatkan aku minuman ya!?" Jeny berucap dengan nada ceria.


"Ice chocolate dengan toping meses coklat..." ucap mereka serempak.


"Kenapa kamu bisa tau!?" Jeny mengenyitkan keningnya.


"Karena kita sehati..." Farel kembali sedikit tersenyum melirik ke arah Jeny.


"Aku akan mati terkena diabetes mendengar kata-kata dari mulutmu setiap hari," Jeny mengenyitkan keningnya.


"Sebaiknya kita makan yang banyak, besok kita akan bertarung. Melawan ibu!!" lanjutnya menggebrak meja penuh semangat.


Farel membalikkan tubuhnya, tangannya yang hendak membuka hendel pintu, malah menguncinya rapat-rapat.


"Aku juga perlu makan, sekaligus isi ulang..." ucapnya, tersenyum menyeringai.


"Benar, kamu harus..." ucapan Jeny tiba-tiba terhenti mengamati senyuman aneh di bibir Farel.


Gawat, dia akan meminta imbalannya... Jeny menjatuhkan sendok dan garpunya.


Farel tersenyum menarik Jeny untuk berdiri,"Aku lapar, bateraiku sudah habis..." kali ini bukan ciuman lembut, namun bibir bersentuhan penuh hasrat. Jeny yang awalnya meronta, mulai menikmatinya, bagaikan tersihir dengan pemuda di hadapannya.

__ADS_1


Wanita yang sudah terbuai, tidak terasa dirinya telah dibimbing menuju tempat tidur, membaringkan tubuh Jeny, tanpa melepaskan tautan bibirnya. Tubuh Jeny bagaikan kesemutan tidak dapat merasakan apapun. Sesekali ciuman panas itu terlepas, hanya untuk menghirup napas.


Namun, bibir Farel mulai turun menuju leher Jeny."Hentikan, ini berlebihan..." suara Jeny bergetar menahan hasratnya.


"Jika ada banyak tanda aneh... semua orang akan percaya jika kita adalah suami istri sesungguhnya..." nafas Farel terdengar sedikit berat, terengah-engah.


"I...iya..." Jeny menjawab dengan ragu. Satu persatu tanda keunguan mulai diciptakan pemuda yang berada di atasnya.


Aku tidak menyukainya...Aku tidak menikmatinya... Jeny meyakinkan dirinya dalam hati. Namun tubuhnya bereaksi sebaliknya, tangannya mengalung di bahu Farel, bahkan menjambak rambut pemuda itu pelan. Menikmati sensasi aneh di tubuhnya.


"Boleh aku menjadi suamimu seutuhnya!?" tanyanya kesulitan mengatur napas dari hasrat yang ditahannya.


"Aku tidak mencintaimu, maaf..." jawab Jeny dengan bimbang, menahan semua perasaannya.


Farel menghembuskan napas kasar, mulai bangkit dari atas tubuh Jeny, "Aku akan membuatkanmu minuman..." ucapnya, berjalan keluar tanpa menoleh.


"Farel, mengertilah!! Aku tidak mungkin dapat mencintai orang lain..." Jeny berucap kelihatan untuk meyakinkan Farel, namun sebenarnya untuk meyakinkan dirinya sendiri yang ragu akan perasaannya pada Farel.


"Aku tau..." Farel tersenyum ramah, kemudian pergi keluar dari kamar.


"Dia orang yang terlalu baik, bahkan terlalu baik untukku..." Jeny tersenyum menatap pintu yang tertutup.


***


"Obat tidur...!!" ucapnya mengingat setiap kotak obat di villa atau rumahnya terdapat obat tidur dosis rendah.


Dengan tangan gemetar, Farel hendak memasukkannya ke dalam minuman Jeny. Namun, jemari tangannya terhenti,"Tidak boleh!! Ini namanya pelecehan seksual!! Mana mungkin, aku tidak dapat menahan napsu, hanya karena pernah melakukannya sekali dengan nona," malaikat baik bagaikan berbisik padanya.


Sejenak kemudian, fikirannya berubah mengingat malam pertamanya yang panas, beberapa bulan yang lalu bersama Jeny,"Ini harus dilakukan, supaya nona belajar menyukaiku!!" ucapnya kembali menunjukkan seringai mengerikian.


Dengan langkah cepat penuh harap, Farel membuka pintu. Ini seperti berbohong saat mengecoh pesaing bisnis dalam memperebutkan tender, lagipula aku adalah suami nona, ini bukan termasuk pelecehan seksual... ucapnya dalam hati meyakinkan dirinya sendiri, jika yang dia lakukan bukanlah sebuah kesalahan.


Namun Farel menghembuskan napas kasar sembari tersenyum. Terlihat wajah tenang Jeny yang telah tertidur, perlahan Farel mendekat,"Selamat tidur nona..." ucapnya mencium pelan kening Jeny. Di luar dugaan, lengan Farel ditarik Jeny, memeluk lengannya erat. Hasrat yang tadinya menghilang kembali lagi.


"Mungkin memang seharusnya aku yang meminum obat tidurnya..." Farel kembali menghembuskan napas kasar, kali ini benar-benar tidak tega menatap Jeny. Pemuda itu, meminum ice chocolate dengan toping meses, bercampur obat tidur. Masuk ke selimut yang sama dengan nonanya berharap dirinya dapat segera tertidur.


"Nona, aku menyayangimu..." ucapnya memeluk Jeny dengan erat, sembari tersenyum, tidur dengan wajah damai seakan menemukan kebahagiaannya.


***

__ADS_1


Udara pagi masih terlalu dingin, phoncell Farel berbunyi, pemuda itu duduk menyender di ruang tamu, menunggu nonanya yang tengah bersiap-siap turun, setelah pakaian ganti mereka diantar salah seorang pegawai EO.


"Halo ada apa!?" tanyanya pada seseorang di seberang sana.


"Bagaimana rasanya malam kedua anda!? Saya sudah menyiapkan banyak pakaian menggoda..." terdengar suara Tomy dari seberang sana.


"Menyenangkan, sangat erotis, aku bahkan sampai-sampai meminum obat tidur. Agar tidak membuatnya lebih kelelahan..."ucap Farel ambigu.


"Wah, anda keren... berapa kali anda melakukannya semalam, nona sampai lemah tidak berdaya!? Jangan-jangan baju tidur yang aku siapkan habis anda cabik-cabik," tanyanya antusias.


"Aku ditolak mentah-mentah, karena masih menyukai mantannya yang sudah meninggal!! Sial!! Jika dia masih hidup, aku benar-benar ingin mengikatnya dan membuat perhitungan padanya..." Farel mengumpat kesal.


"Mungkin rohnya masih bergentayangan di dunia ini dan dialah yang mengganggu malam pengantin anda," terdengar suara Tomy menahan tawanya.


"Kamu punya kenalan pengusir hantu tidak!?" tanya Farel antusias.


"Ada...kita undang Roy Kyoshi," Tomy tertawa lepas.


Farel menghembuskan napas kasar,"Aku akan ke rumah nyonya Dea pagi ini, bersama nona. Aku akan tinggal disana sementara, mencari fakta kematian mantan kekasihnya,"


"Perlu saya bantu mencari informasi!?" Tomy kembali bertanya.


"Tidak, biarkan saja, lebih lama nona tau. Maka dia akan lebih lama membutuhkanku sebagai tameng menentang nyonya Dea..." Farel menyunggingkan senyuman di bibirnya


***


Deru suara mesin mobil terdengar berhenti di depan sebuah kediaman, setelah melewati pos security.


"Akhirnya menantu tidak ada gunanya datang juga..." Dea mengumpat setelah mendengar suara mesin mobil, tentunya setelah dihubungi sebelumnya oleh Jeny. Wanita paruh baya itu, bangkit dari sofa diikuti Nana yang sedikit penasaran tentang rupa suami sepupunya.


Sinar matahari tipis sudah terasa, kedua wanita beda usia itu mengenyitkan keningnya, menunggu dua orang yang turun dari mobil.


Seorang pemuda rupawan, bagaikan selebritis Asia Timur turun bersamaan dengan Jeny. Menggandeng wanita yang bersetatus istrinya itu mesra.


"Lumayan juga selera Jeny, tapi sayangnya setelah ini kalian harus bercerai," gumam Nana dengan suara kecil, mengingat niatnya menyatukan kembali Jeny dengan Daniel.


Namun respon berbeda dari Dea, wajahnya seketika pucat pasi,"Ke... kenapa Ren ada disini!?" ucapnya dengan suara kecil.


Nana membulatkan matanya, mendengar kata-kata yang tidak sengaja keluar dari mulut Dea.

__ADS_1


Dia Ren!?... Nana tertegun, tidak mengerti dengan hal yang terjadi.


Bersambung


__ADS_2