
Farel menghebuskan napas kasar penuh kecemasan, meninggalkan Jeny di rumah sakit dengan Indra dan beberapa pengawal ibunya.
Mobilnya melaju menuju sebuah villa, membutuhkan sekitar 6 jam perjalanan hingga sampai pada villa yang berdampingan dengan sanatorium itu. Hanya untuk menandatangani kontrak dengan Queen Cosmetics. Jenuh dan kesal begitulah perasaannya saat ini.
Namun, pekerjaan tetaplah pekerjaan, Tomy tengah sibuk dengan tugas dari Taka saat ini. Sedangkan, belum banyak karyawan yang dapat dipercayainya di negara ini, mengingat JH Corporation baru sekitar satu setengah tahun melebarkan sayapnya di negara ini.
Gerbang villa terbuka, hari sudah mulai larut. Farel melangkah turun dari mobilnya yang sudah terparkir di area depan villa.
Seorang pria berpakaian security berlari membukakan pintu. Pemuda itu mulai masuk, matanya menelisik mengamati villa yang terlihat cukup besar.
Perlahan mulai duduk, beberapa menit kemudian pelayan datang membawakan dua cangkir teh melati serta kue kering.
Seorang pria pria datang dengan langkah terburu-buru memakai sarung tangan karet, bahkan lengkap dengan sepatu boot. Berlari dengan cepat, ingin segera menemui pemuda yang tengah menunggunya di ruang tamu.
Farel meminum teh melati hangat perlahan, kemudian...
Byur...
Pemuda itu terbatuk batuk menyemburkan tehnya menatap orang yang paling dibencinya memasuki ruangan... Ayah, kenapa dia... gumamnya dalam hati.
"Maaf lama menunggu, tadi aku harus mengurus beberapa tanaman..." Gabriel mulai duduk.
Marahlah, kutuk dan hujat aku, pukulpun boleh, agar aku yakin kamu adalah Lendra... pinta Gabriel penuh harap.
"Tidak apa-apa," ucap Farel tersenyum ramah.
Apa dia benar-benar ayahku, memakai sarung tangan dan sepatu boot untuk menemui klien. Memalukan!! Syukurlah aku tidak meniru sifatnya... ucapnya dalam hati, tidak sadar diri, sebagai pria yang kemana-mana sering memakai celemek.
Gabriel tertunduk kecewa, menatap senyuman Farel,"Omong ngomong, selain Dilen apa kamu memiliki ayah atau keluarga lain?" tanyanya tidak menyerah.
"Ada, ayahku adalah seorang polisi yang gugur saat menjalankan tugasnya..." jawabnya, mulai kembali meminum teh melatinya. Sedikit melirik Gabriel penuh dendam, tanpa disadari pria itu.
Jadi dia bukan Lendra? Dia memiliki dan ingat ayah kandungnya... Gabriel menghela napas kecewa, salah sangka dengan pernyataan putranya tentang almarhum Doni.
"Omong ngomong, ini kontraknya, aku sudah tanda tangan. Tinggal tanda tangan anda..." lanjutnya, mengeluarkan pena dan kertas dari ranselnya.
Gabriel menghela napas kecewa mulai melepaskan sarung tangan karetnya, mungkin hanya pemikiran konyolnya saja. Namun, tetap saja, pria itu merasa begitu dekat dengan putranya.
"Sudah..." ucapnya mengembalikan pena pada Farel.
__ADS_1
"Terimakasih, sebaiknya saya pulang sekarang," Farel menghebuskan napas kasar, memasukkan map hijau dan penanya ke dalam tasnya. Mulai bangkit dari sofa.
Tidak mungkin, dia adalah Lendra... pada akhirnya, perasaan Gabriel mengalahkan logika.
"Tunggu, ini sudah larut malam, menginaplah..." ucapnya.
Farel yang hendak melangkah pergi, menghentikan langkahnya. Haruskah hari ini aku membalas perbuatanmu pada ibu... tanyanya dengan tangan mengepal.
"Benar, sudah gelap..." Farel menghebuskan napas kasar tersenyum ramah.
***
Dua pria mundar-mandir di tempat yang berbeda, Farel mengambil stik golf. "Aku akan membunuhnya," tekadnya. Namun, seketika langkahnya terhenti, menaruh kembali stik golfnya."Bagaimanapun dia ayahku, benda ini terlalu menyakitkan, harus memukul berkali-kali baru mati. Harus cari benda yang dapat membunuh tanpa rasa sakit..."
Sedangkan di lorong kamar yang ditempati Farel, Gabriel tidak tenang, hendak mengetuk,"Bagaimana caranya mengambil sampel rambut atau darahnya?" gumamnya membawa gunting, alat suntik serta pisau bedah.
Gabriel melangkah kembali ke kamarnya, menghela napasnya, menemukan jalan buntu.
'Bagaima?' Citra yang baru terbangun, berucap dengan menggunakan bahasa isyarat.
"Dia bukan Lendra, ayahnya sebelum dia diadopsi Dilen adalah seorang polisi, mungkin kamu benar..." Gabriel menghebuskan napas kasar.
"Jangan memelukku terlalu erat..." Gabriel bergumam.
'Kenapa?' Citra menggerakkan tangannya, mengenyitkan keningnya.
"Inilah sebabnya," Gabriel mencium perlahan bibir istrinya. Jemari tangan Citra, membuka pelan kancing piyama suaminya.
"Aku merindukanmu..." ucapnya penuh senyuman, menarik tali piyama Citra.
Bibir pasangan suami istri itu kembali bertaut, pakaikan mereka mulai tertanggal satu persatu. Terjatuh berantakan di lantai. Gabriel terus bergerak, membimbing istrinya menuju tempat tidur. Mulai merebahkan tubuhnya tanpa busana.
Mata Citra nampak sayu, suara Gabriel memenuhi ruangan menikmati permainan mereka. Sesekali menikmati bibir istrinya.
Sedangkan di luar kamar...
Putra mereka membawa sebuah pisau tajam, menutup mulutnya sendiri. Sembari menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Apa yang dilakukan ayahku di dalam sana... tanyanya dalam hati.
***
__ADS_1
Dari 30 menit yang lalu, suara erotis ayahnya telah terhenti. Farel menghebuskan napas berkali-kali. Hendel pintu mulai dibukanya, membawa pisau buah yang telah diasahnya tajam.
Gabriel tertidur tanpa pakaian, berbalut selimut putih hangat, di sampingnya seorang wanita tertidur memunggunginya berbalut selimut putih yang sama.
Dalam ruangan itu cukup gelap, hanya lampu tidur yang menyala. Kaki Farel melangkah masuk, Hanya tikam sekali di bagian jantung, ketika ayah tidur. Ayah tidak akan merasakan sakit sama sekali. Dan dendam ibu akan terbalaskan...
Farel mengangkat pisaunya ke atas, hendak menikam. Namun, wajah Gabriel nampak tersenyum, tertidur lelap. Wajah yang seumur hidupnya dirindukan Farel, wajah ayah yang tidak pernah memeluknya, wajah ayah yang selalu ada di mimpinya ketika kecil.
Tangannya gemetaran, pisaunya terjatuh ke lantai. "Ayah..." ucapnya dengan suara kecil, air matanya mengalir. Seberapapun dendamnya tidak dapat menikam ayahnya sendiri.
Perasaannya saat ini bimbang, namun tidak dipungkiri tidak dapat membunuh wajah pria yang dulu paling ingin ditemuinya.
"Ibu maaf...aku tidak dapat membunuhnya..." ucapnya terduduk di lantai. Hatinya terluka, mengingat bagaimana wajah dingin ayahnya menikam ibunya.
Tapi senyuman hangat, pria yang tertidur pulas saat ini dilihatnya, berbeda dengan wajah dingin yang membunuh ibunya.
Farel menghebuskan napas kasar,"Kamu ayah dan suami yang buruk, aku mengampunimu, kamu bahkan membawa wanita lain menggantikan ibuku ..." gumamnya, menatap punggung wanita dengan rambut panjang yang berbalut selimut.
Sejenak wanita itu menggeliat, mengubah posisi tidurnya, menghadap Gabriel. Wajah yang dikenali Farel.
Entah kenapa pasangan suami istri itu cukup awet muda, hingga putranya dapat mengenali mereka dengan mudah.
"Ibu!!" Farel menutup rapat mulutnya dengan kedua tangannya.
Apa yang terjadi? Kenapa ibu masih hidup, dan tinggal dengan ayah... wajahnya pucat pasi, menahan suaranya. Melangkah perlahan keluar dari kamar, dengan wajah memerah menahan malu.
Seorang anak memergoki orang tuanya di tempat tidur bersama, itulah dirinya saat ini...
***
Suara kicauan burung terdengar, Citra menatap suaminya penuh senyuman. Memakan sarapan bersama pasangan penuh kasih, itulah yang dilakukan Farel.
'Wajahmu memang sedikit mirip dengan almarhum putra kami, jadi suamiku sempat mengira kamu adalah putra kami,' ucap Citra dengan bahasa isyarat, hatinya memang merasakan perasaan aneh pada Farel. Namun, fakta membuktikan, Farel sendiri yang mengatakan ayahnya sebelum diadopsi Dilen adalah seorang polisi.
"Benar, aku minta maaf, sudah menyangka kamu adalah almarhum putra kami..." Gabriel berucap penuh senyuman. Sejenak kemudian pria itu tersenyum kecil, mengambil tissue menyeka kotoran pada bibir istrinya.
Rambut Farel acak-acakan, matanya menghitam bagaikan panda. Karena tidak dapat tidur semenitpun. Pemuda itu menggebrak meja, menatap kesal. Mengagetkan pasangan suami istri yang masih terlihat memamerkan kemesraan mereka.
Bersambung
__ADS_1