Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
250 Juta Dolar?


__ADS_3

Lorong yang cukup sepi dan gelap, minim penerangan.


Alasan? Kenapa aku harus melakukan ini? Dia terlalu sempurna, terlalu sempurna untuk p*lacur kecil seperti Clarissa. Kenapa wanita keji seperti Clarissa diijinkan Tuhan untuk bahagia? Kenapa pacar kecilku yang naif malah mati dalam penderitaan? Tentunya karena Tuhan itu tidak ada.


Jalan fikiran? Sulit untuk memahaminya. Hans, tersenyum bergerak cepat tanpa suara, menancapkan jarum suntiknya pada leher pemuda yang membelakanginya.


Farel melawan, berhasil membalikkan badannya,"Ka...kamu..." ucapnya memegangi area sekitar lehernya, pandangannya mulai kabur. Melawanpun bagaikan percuma, tubuhnya tanpa tenaga, tidak dapat melihat dengan jelas.


Hans terlihat masih tersenyum merogoh sakunya mengeluarkan sebuah garpu yang diambilnya dari tempat pesta, menikam lengan Farel menggunakannya. Menyiksa, merupakan kesenangan tersendiri baginya, menikmati penderitaan seorang pemuda yang kini terduduk lemas di lantai memegangi lengannya.


Darah mulai mengalir, rintihan dari mulut Farel dengan tubuh lemas terdengar. Darah dari lengannya menetes, membasahi lantai, tubuhnya roboh. Hal terakhir dilihatnya dari sekat kaca besar yang menghadap langsung ke kolam renang, mungkin bagaikan cahaya kecil yang membuatnya bahagia sesaat. Nonanya terduduk, terlihat tidak senang, mungkin merajuk.


"Maaf..." ucapnya pelan.


Aku berjanji akan menjaga dan membuatmu bahagia... Apa ini batasku untuk menepatinya... tanyanya, pandangannya menjadi lebih kabur lagi, perlahan matanya tertutup.


Hans mengenyitkan keningnya, "Menyusahkan..." cibirnya, mengelap tangannya yang berlumuran darah Farel pada jas pemuda yang tergeletak di lantai.


Lahan kosong di belakang hotel, sebuah mobil sudah terparkir disana, seorang pria menarik tempat sampah berukuran sedang. Semacam tempat sampah yang memiliki roda untuk memindahkannya. Tubuh Farel di keluarkan dari dalam sana, diletakkannya pada kursi penumpang bagian belakang, diselimuti seolah-olah tengah tertidur akibat kelelahan.


Selimut tebal bertujuan untuk menutupi darah yang terus menetes dari lengan pemuda yang berwajah semakin pucat itu. Menghindari kemungkinan razia kepolisian. Melakukan segalanya dengan rapi? Itulah Hans, tidak akan meninggalkan sedikitpun jejak.


Tempat sampah dibersihkannya menggunakan tissue basah, sedikit darah yang mengalir di lantai di pelnya. Meletakkan kembali tempat sampah ke tempatnya, tugas terakhirnya membawa tubuh yang tidak sadarkan diri akibat pengaruh obat bius itu, pergi jauh menggunakan mobilnya.


***


Dalam 20 menit, Hans dapat kembali ke ruang pesta menunjukkan dirinya pada Lery dan Clarissa dari jauh. Memiliki alibi, adalah hal yang terpenting saat ini.


Tidak ada yang menyadari seseorang telah menghilang dari pesta. Hingga, putra mahkota dalam acara ini pun tiba. Deren melangkah menuruni tangga, mendapatkan tepukan tangan dari semua orang yang hadir.


Kue besar mulai dipotongnya, tentunya potongan pertama untuk ayah dan ibunya yang baru kembali dari California.


Gabriel, meminum segelas wine menatap adegan keluarga bahagia dari lantai dua. Tidak ada kecurigaan sama sekali, pasalnya seluruh hotel dijaga ketat oleh pegawai-pegawai kepercayaan putranya. Mengusulkan mengadakan pesta ulang tahun di hotel milik JH Corporation merupakan suatu keuntungan.


Namun, tiba-tiba tangannya gemetaran, merasakan ada yang janggal. Tidak tenang? Mungkin begitulah dirinya saat ini. Matanya menelisik arah sekitar sedikit panik, terlihat Jeny baru masuk di ambang pintu bersama seorang pemuda, menyaksikan acara pemotongan kue dari jauh. Seorang pemuda yang memiliki perawakan serupa dengan putranya.


Gabriel memejamkan matanya sejenak, menghebuskan napas kasar, menduga sosok Tomy yang tidak menghadap dirinya adalah Farel."Tidak akan terjadi apa-apa..." gumamnya menetralkan fikiran.


***


Alunan musik jazz yang lembut terdengar, Jeny menghebuskan napas kasar. Dilarang menengok, dilarang berkeliaran, merupakan kerugian dari berpura-pura tidak dapat melihat.


"Dimana Ren?" tanyanya, melihat ke arah depan, dengan Tomy berada di sampingnya.


Tomy tersenyum hangat,"Tuan tengah mengabulkan keinginan anda..." ucapnya ambigu.


Tujuan? Kenapa tiba-tiba ingin menemukan Hans? Memang sesuatu yang sangat berbahaya, namun tetap saja Farel mungkin ingin mengabulkan keinginan Jeny. Menyelidiki kasus kematian Doni, polisi muda yang meninggal saat menjalankan tugasnya.


"Apa dia bersama Clarissa? Boleh aku tidak melihat lurus?" tanyanya dengan suara kecil.

__ADS_1


"Farel sedang menangani hal lain, tidak bersama Clarissa. Tetap menatap lurus, jangan menengok, tetaplah berpura-pura tidak berdaya," jawab Tomy menghela napasnya.


"Tuan sangat mencintai anda, biasanya saya akan mengikutinya kemana-mana jika ada perjamuan besar seperti ini..." lanjutnya.


"Kenapa mengikutinya?" Jeny masih melihat ke arah depan.


"Asisten, tugasnya tidak hanya membantu tugas kantor seperti seorang sekretaris. Terkadang, di perjamuan besar seperti ini jika berkeliaran sendiri terlalu berbahaya. Ini seperti hutan yang dipenuhi pemangsa, tidak semua orang senang dengan tuan Taka, tidak semua orang juga mendukung perusahaan kami,"


"Meletakkan racun atau afrosidac dalam minuman, mencari kelemahan lawan, dengan mengajaknya mabuk. Transaksi penyuapan, untuk banyak proyek, semuanya dapat terjadi," jelasnya, dengan matanya menelisik mengamati sekitar.


"Afrosidac!? Seperti yang diberikan Renata?" tanyanya sedikit menghadap Tomy.


"Jangan menoleh, lihat saja ke depan...!!" bentaknya menghela napas, Jeny segera kembali mengalihkan pandangannya ke depan, mengikuti perintah Tomy.


"Sejenis, karena itu kalangan atas selalu membawa sekertaris atau asistennya ke pesta perjamuan besar. Hanya untuk menyelamatkan mereka, dari kemungkinan terburuk."


Jeny mengenyitkan keningnya,"Oh, aku kira karena kalian sedikit memiliki penyimpangan seksual..." ucapnya datar.


Penyimpangan seksual kepalamu, semenjak bertemu kembali dengan cinta pertamanya. Sosok pertapa menghilang, menjadi Casanova, dengan tanda aneh bertengger di lehernya setiap hari. Untung saja, tuan selalu mengancing kemejanya sampai atas... gumam Tomy dalam hati.


"Tapi tunggu dulu, mungkin saja Clarissa menggunakan trik yang dilakukan Renata!! Kalau dia tidur dengan Ren dan mengaku hamil bagaimana!?" bentaknya panik.


Orang ini kecanduan sinetron kejar tayang... Tomy menatap jenuh.


"Begini, tuanku tidak akan makan atau minum dalam perjamuan jika, aku tidak ada di dekatnya. Saat peristiwa Renata, itu kecerobohanku aku fikir minuman yang dipesan melalui room service akan aman,"


Tomy menghela napasnya, tersenyum tulus pada Jeny,"Kamu beruntung, memiliki hati tuan. Orang pelit itu bahkan memberikan aku, satu-satunya perisainya dalam perjamuan hanya untuk melindungimu..."


"Aku harap..." jawabnya ambigu, belum melihat sosok tuannya.


***


Malam semakin larut, kejanggalan mulai terasa, Tomy menghela napas kasar."Jeny, tetap melihat ke depan dan jangan menoleh!! Berpura-puralah masih tidak dapat melihat, aku akan mencari tuan..." perintahnya.


"Tolong temukan Ren..." pinta Jeny.


Beberapa puluh menit setelah kepergian Tomy. Sesosok wanita menatap Jeny dari jauh, matanya menelisik tidak menemukan kebenaran Farel di dekat sana.


Menghina dan mengancam Jeny? Lebih baik, dilakukannya sekarang. Datang bersama teman-temannya yang sebagian besar dari kalangan sosialita.


"Istri buta tidak berguna..." ucapnya tersenyum di hadapan Jeny.


"Wanita gratisan?" tanya Jeny berpura-pura menerka suara Clarissa.


Teman-teman Clarissa tidak dapat menahan tawanya lagi. Wanita gratisan? Ejekan aneh paling hina yang pernah mereka dengar.


"Wanita gratisan?" tanya salah satu teman Clarissa.


"Benar jika j*lang di bayar untuk servisnya. Dia malah ingin menyuapku untuk mendapatkan service suamiku. Jika bukan gratisan berarti bernilai minus..." jawab Jeny, tanpa menoleh mereka.

__ADS_1


"Minus?" teman-teman, Clarissa kembali tertawa kencang.


"Diam!!" Clarissa geram, menatap tajam. Ketiga temannya mulai berhenti tertawa, ketakutan dengan jemari gemetaran.


Seorang anak tiba-tiba datang entah dari mana, menyaksikan kakak perempuannya hendak di bully. "Kakak..." ucapnya mendekati Jeny.


Benar itu adalah Dimas, Jony tidak mempunyai banyak waktu untuk putranya belakangan ini. Hingga sebuah ide aneh tercetus di fikirannya, membawa Dimas kemanapun dirinya pergi, berusaha mengajari anak itu dari dini tentang dunia bisnis sesungguhnya, di luar jam sekolahnya. Mendatangi perjamuan besar seperti ini salah satunya.


"Mereka siapa?" tanyanya iba pada kakaknya.


"Dimas?" tangan Jeny meraba-raba sosok adiknya, masih berpura-pura tidak melihat.


Dimas memeluk Jeny erat bagaikan iba,"Kakak berpura-pura buta, kemudian di bully? Bagaimana jika aku balik membully mereka, tapi aku minta imbalan?" bisiknya.


"Lima ratus ribu..." Jeny berbisik.


"Deal..." Dimas mulai, tersenyum melonggarkan pelukannya.


"Adik dari wanita rendah, tentunya juga dari kalangan rendah. Mintalah kakakmu yang buta bercerai, dari pada mengharap belas kasih suaminya..." Clarissa tersenyum menghina.


Dimas tersenyum menadahkan tangannya,"Berani berapa?" tanyanya.


"Maksudnya?" Clarissa mengenyitkan keningnya.


"Begini, mental saat proses perceraian akan terguncang. Aku juga terlalu kecil untuk menyaksikan kakakku bercerai, biaya untuk ke psikiater dan perawatan lanjutan. Ongkos transportasi setiap konsultasi, biaya sidang perceraian, busana saat menjalani sidang, ongkos transportasi saat akan mendatangi tempat sidang. Bagaimana jika 250 juta aku akan mulai membujuk kakakku..." ucapnya.


"Hanya segitu saja? berapa nomor rekeningmu?" tanya Clarissa, mulai mengambil phoncell pintarnya dari tas tangan yang dibawanya.


Pergaulan antek-antek Jepang (Farel) memang tidak dapat dianggap remeh. Tidak aku tidak boleh mempermalukan nama kak Jeny... gumam Dimas dalam hatinya, mulai berpikir keras, untuk mempermalukan Clarissa.


"Maaf, maksudku bukan rupiah, tapi dolar..." ucapnya ragu, tidak tau menahu tentang nilai mata uang. Tidak mengetahui 250 juta dolar, merupakan jumlah yang fantastis.


"Anak kecil, kalau memeras jangan keterlaluan!!" bentak Clarissa, hendak mengayunkan tangannya, memukul Dimas.


"Kakak..." ucapnya berlindung mulai menangis, merengek, mendapatkan perhatian dari para tamu di sekitar mereka. Mulai berbisik-bisik ingin mengetahui hal yang terjadi.


Jeny tersenyum sesaat, mendapatkan celah mengusir Clarissa,"Clarissa!! Adikku terlalu kecil, dia polos, naif dan tidak tau apa-apa!! Aku buta dan berasal dari keluarga biasa. Kamu boleh memakiku, tapi aku mohon jangan libatkan adikku..." ucap Jeny menitikkan air matanya, tangannya meraba-raba memeluk Dimas erat, bagaikan menenangkan adiknya.


"Kakak, antek-antek Jepang dimana?" bisiknya tidak menemukan dua makhluk yang seharusnya menjaga kakaknya.


"Mereka sedang sibuk, aku tambah dua ratus ribu lagi. Jika kamu bisa mempermalukan dan memeras uangnya..." Jeny menitikkan air matanya, berbisik pada adiknya.


"Akan aku lakukan, tapi rahasiakan dari ayah (Jony) dan kakak ipar..."


***


Sementara itu, di tempat lain...


Salah satu antek-antek Jepang, menghela napas kasar, menatap ke arah monitor CCTV. Farel terakhir terlihat memasuki lorong sepi, minim penerangan tanpa satupun kamera pengawas disana.

__ADS_1


"Sial!!" umpat Tomy panik, menghubungi Gabriel dan Taka.


Bersambung


__ADS_2