Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Tipeku Wanita Yang Lembut


__ADS_3

Tidak mampu mencintai? Tapi menginginkan merasakan cinta, ingin mengetahui apa itu mengasihi. Hari ini, Hans kembali tersenyum menatap ke arah laut, air matanya yang mengalir tidak diseka olehnya.


"Kamu membunuhnya (Citra) dengan tanganmu sendiri? Apa itu menyakitkan?" tanyanya, pandangannya tidak teralih menatap arah laut.


"Jika begitu membenciku, hingga tidak memberikan ku kesempatan membawa Lery ke neraka bersamaku. Bunuh aku sekarang..." lanjutnya tanpa ekspresi, tersenyum bagaikan kekasih kecilnya saat ini berdiri di hadapannya.


Memahami perasaan orang lain? Tidak, Hans tidak dapat memahami perasaan orang lain. Namun, hatinya terlanjur luluh oleh seorang wanita naif yang mengandung anaknya. Naif, benar-benar naif hingga mati bersama anak yang dikasihinya, hanya untuk membiarkan monster sepertinya hidup.


Tidak membunuh Hyeri dengan tangannya sendiri, masih terasa sesakit ini. Bagaimana dengan dokter bedah yang berdiri di belakangnya yang membunuh istrinya sendiri? Bagaimana sebenarnya perasaan orang lain? Mungkinkah lebih menyakitkan?


"Aku ingin membunuhmu, karena putraku. Tapi, hari ini kamu membiarkannya hidup. Itu sudah cukup untukku..." ucap Gabriel, menatap putranya yang mulai dikeluarkan pengawal dari dalam mobil dalam kondisi masih tidak sadarkan diri.


Hans kembali tertawa kecil,"Putra? Kamu punya anak?"


Gabriel mengangguk,"Dia cucu angkat Taka, istriku juga belum meninggal, aku menyembunyikannya dari kalian..." ucapnya mulai mengeluarkan senjata api, berjaga-jaga jika Hans hanya berpura-pura menyerah.


"Kelihatannya, kamu tidak akan membiarkanku membunuh Lery?" tanyanya melihat ke belakang, menatap Gabriel mengeluarkan senjatanya.


Gabriel diam tidak menjawab. Tertegun, pertama kali menyaksikan pipi Hans basah dengan air mata."Aku ingin mati dalam pelukannya, jika tidak dapat membalas rasa sakitnya pada Lery. Simpan senjatamu..." ucapnya kembali tersenyum.


Melangkah mendekati laut, sapuan ombak terasa hingga pinggangnya. Dengan penuh senyuman, Hans terus melangkah. Tidak memiliki tujuan hidup lagi, teman? Keluarga? Tidak ada orang hidup yang dimilikinya, atau pernah memiliki tempat di hatinya.


Jika tidak membalas perlakuan Lery, apalagi tujuan hidupnya? Bahunya terkena hempasan ombak, benar-benar mendekati arah laut yang dalam. Matanya mulai terpejam, tubuhnya benar-benar terhempas.


Air laut yang tidak begitu dingin, tubuhnya mulai tenggelam, terbawa arus laut, menatap ke arah atas, air laut menyapu rambut panjangnya yang terikat, wajah putihnya nampak damai kali ini. Pantulan cahaya matahari menembus bayangan air.


Hangat? Begitulah perasaanku dulu, berdoa pada Tuhan yang tidak ku yakini. Menatapmu memohon sesuatu pada-Nya... Hans tersenyum membiarkan tubuhnya tenggelam, gelembung udara keluar dari mulutnya. Rasa sesak mulai terasa, membiarkan dirinya tenggelam tanpa perlawanan dalam kegelapan.


Aku sudah bisa mencintaimu, jadi menikahlah denganku, aku juga akan berusaha dapat mencintai anak kita... gumamnya dalam hati, membayangkan kekasih kecilnya mengapung diatasnya, tersenyum, kemudian menggelengkan kepalanya seakan belum membiarkan kematian pria yang dikasihinya.


'Bagiku kak Hans adalah seorang pahlawan,' kata-kata yang dulu sering diucapkan sang gadis, pada pembunuh sepertinya.


Ada orang yang mengatakan, jika oksigen dalam otak menipis, mungkin halusinasi dapat terjadi. Halusinasi yang hangat baginya, tangan kecil Hyeri memeluknya,'Jangan mati...' bisiknya, suara yang seharusnya tidak terdengar dalam air.


Jemari tangan seorang pria menarik tubuh Hans, mengeluarkannya dari dalam air yang dalam. Menghilangkan halusinasi hangat, sesuatu yang dirindukannya, mengisi sesaat kekosongan di hatinya.


***


"Bodoh!! Kenapa menenggelamkan dirimu!!" Gabriel membentak,"Seharusnya kamu mati di tanganku!! Bersikap kejamlah seperti biasanya!!"


Tubuh Hans yang basah telah berbalut pasir yang menempel pada kulitnya, pria itu kembali membuka matanya setelah berkali-kali mendapatkan CPR dari Gabriel. Air di mulutnya yang memasuki paru-parunya juga sudah keluar.

__ADS_1


Hans tersenyum miris,"Aku tidak memiliki tujuan lagi, tujuanku sudah terkubur di laut. Aku hanya ingin mengikuti tujuanku. Itu akan terasa sama saja, mati dalam laut atau mati di tanganmu..."


Gabriel mulai bangkit dari atas pasir, dengan pakaian yang basah berjalan pergi beberapa langkah,"Aku mengijinkanmu melakukan apapun pada Lery. Aku harap ini bukan rencanamu untuk membuatku tidak waspada..." ucapnya tanpa menoleh.


Namun, berjalan beberapa langkah lagi, Gabriel kembali berbalik, menendang dada Hans yang duduk di atas pasir,"Ini balasan, karena melukai lengan putraku!!" ucapnya pada Hans, menatap tajam.


***


Malam hari di dalam apartemen...


Hans menggeleng-gelengkan kepalanya heran,"Benar-benar putramu..." ucapnya kesal, menatap Farel yang menghidangkan makanan sembari mengambil sebuah sushi dari piring miliknya, memakan tanpa malu.


"Maksudnya?" tanya Gabriel meletakkan berbagai alat makan di atas meja.


"Bukan apa-apa..." Hans menghela napas kasar, memendam kekesalannya, kembali memakan sushi yang ada di piringnya.


Seorang pemuda terlihat gemetaran, duduk di sofa memilin jemarinya. Mengerikan? Itulah yang dilihatnya saat ini, Tomy mulai mencubit tangannya sendiri berharap tersadar dari mimpinya. Namun, hingga jemari tangannya membiru pun, pemandangan di hadapannya tidak menghilang.


Harimau putih yang seharusnya di hadapinya, kini duduk tenang di meja makan. Bahkan bos pelitnya yang dalam imajinasinya sudah mati, terlihat mencomot makanan dari piring harimau putih yang mengerikan.


"Minumlah..." Farel tersenyum tulus, menyodorkan segelas orange juice.


"Bukan, kamu mendoakan kematianku!?" Farel membentak kesal.


"Ti... tidak, hanya ingin memastikan apakah aku masih waras. Apa aku bermimpi? Apa sebenarnya aku masih tidur di kursi taman?" Tomy kembali bertanya, meminum sedikit minumannya.


"Ini bukan mimpi, orang yang memakai kacamata itu ayah kandungku. Bisa dibilang, aku selamat karenanya..." jawabnya.


"Ayah kandung? Ayah kandungmu, membuatmu saat dia berusia lima tahun?" Tomy tertegun tidak mengerti menatap wajah Gabriel yang terlihat seperti berusia awal 30-an.


"Tentu saja tidak!! Usianya saat ini sudah 49 tahun, tiga bulan lagi genap 50 tahun!!" bentaknya, merebut minuman Tomy yang baru masuk ke kerongkongan pemuda itu sekitar tiga teguk.


Tomy mengenyitkan keningnya... Dia memang bosku yang pelit dan tidak tau malu.


"Kalian tidak seperti ayah dan anak. Lebih seperti kakak beradik. Tapi yang terpenting sekarang, kenapa tuan masih hidup?" tanyanya kembali.


"Ceritanya panjang, nanti akan kita bahas setelah kakek datang..." jawabnya.


"Tuan..." Tomy mulai menangis lirih memeluk Farel erat, mencurahkan rasa harunya yang tertahan.


"Sudah, aku tidak apa-apa," ucap Farel menepuk punggung sahabat rangkap asistennya, berusaha menenangkan.

__ADS_1


"Aku kira tuan sudah mati. Jika tuan mati, istrimu akan jadi janda satu anak. Daniel akan mendekatinya, karena aku tidak ingin tuan yang membenci Daniel, menjadi hantu gentayangan. Aku terpaksa harus mendekati istrimu yang galak, menjadi ayah tiri dari anakmu,"


"Berpura-pura menyukai nonamu, menggantikanmu menjaganya. Mengesampingkan tipeku yang hanya menyukai wanita lembut. Setiap hari, harus berperan sebagai suami yang baik, melayaninya yang pastinya ganas di tempat tidur. Syukurlah tuan masih hidup, jadi itu tidak terjadi..." ucapnya jujur, sembari menangis dengan segala imajinasi gilanya.


Farel yang awalnya haru menatap kesetiaan sahabatnya mengenyitkan keningnya kini penuh aura kemarahan,"Menggantikan ku? Imajinasi yang bagus..."


"Maaf, itu hanya jika..." Tomy melepaskan pelukannya pada Farel,"Aku sudah lapar!!" lanjutnya ketakutan, menyadari dirinya yang salah bicara, berjalan cepat menuju meja makan.


Farel menghela napas kasar mulai tersenyum, mengambil handphone Tomy yang tertinggal diatas meja. Guna menghubungi istrinya dengan ragu.


Ragu? Apa yang akan dilakukan Jeny jika bertemu dengan Hans? Semuanya, berkutat dalam fikirannya. Hingga, suara wanita yang selalu dirindukannya terdengar.


"Tomy? Apa sudah ada kabar dari Farel? Aku tidak sengaja mendengar jika..." kata-kata Jeny yang berbicara dari seberang sana, terpotong.


"Aku tidak apa-apa..." Farel tersenyum simpul.


"Ren!? Kamu kemana saja!! Kenapa menghilang!? Seharusnya jangan meminta Tomy menjagaku!! Lindungilah dirimu sendiri!!" suara nyaring beriringan dengan tangisan haru seorang wanita terdengar.


"Aku tidak apa-apa,"Farel kembali menghela napas kasar,"Nona aku ingin menanyakan sesuatu ..." ucapnya dengan ragu.


"Tentang apa?" suara Jeny mulai terdengar normal, tidak seperti orang yang menagis lagi.


"Jika dapat menemui pembunuh ayah Doni, apa yang akan nona lakukan?" tanyanya.


"Tidak tau, memaki pun sulit, ayah sudah lama meninggal. Memaafkan juga sulit..." kata-kata Jeny terhenti sejenak, terdengar menghela napasnya.


"Suamiku, aku akan memperlakukanmu dengan lebih baik. Aku mencintaimu...muah..." ucapnya mengeluarkan suara manis yang manja. Mati-matian menahan perasaan malu dalam hatinya. Kehilangan Farel selama sehari? Mungkin itulah yang membuatnya rela melakukan apapun, asalkan suaminya kembali.


Farel menipiskan bibirnya, mati-matian menahan tawanya, sedetik, dua detik, detik ketiga... Akhirnya suara tawa itu terlepas.


"Kenapa tertawa? Menyebalkan!!" Jeny hendak mematikan panggilannya.


"Maaf, karena tertawa, jangan berubah hanya untukku. Karena aku menyukaimu apa adanya...muah..." ucapnya kembali tertawa kecil.


Hans yang melihat tingkah Farel dari jauh mengenyitkan keningnya,"Dia kenapa? Putramu sudah tidak waras ya?" tanyanya pada Gabriel.


"Itulah cinta yang membuat orang pelit, tidak waras itu menjadi lebih gila lagi..." Tomy menjawab dengan mulut penuh.


Hans diam-diam tersenyum simpul... Cinta yang membuat menjadi gila... cibirnya dalam hati.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2